Home / Dasar-Dasar Islam / Fiqih Islam / Fiqih Ahkam / Mau Berqurban Tapi Pakai Utang, Bolehkah?

Mau Berqurban Tapi Pakai Utang, Bolehkah?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

Pertanyaan:

Bolehkah berutang untuk berqurban? Bagaimana dengan arisan qurban?

(Beberapa SMS)

Jawaban:

dakwatuna.com Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d:

Kami akan jawab menjadi dua bagian sesuai pertanyaannya.

Pertama. Berqurban dengan biaya dari utang.

Tidak ada larangan dalam nash, tentang melakukan amal shalih yang sifatnya maaliyah (harta) seperti qurban, aqiqah, dan haji[1], yang pembiayaannya berasal dari utang. Maka, dia kembali pada bab utang piutang yang memang dibolehkan syariat. Dengan catatan:

  • Ketika dia berutang mesti dalam keadaan yakin mampu membayarnya
  • Utang tersebut tidak menambah beban berat utang lama yang masih banyak dan belum dilunaskan, sebab, semua ibadah qurban ini memang dianjurkan bagi mereka yang sedang dalam keadaan lapang rezeki dan istitha’ah (mampu).

Para ulama salaf pun melakukannya, dan mereka tidak memandang masalah dengan berutang untuk berqurban (atau juga aqiqah). Dalam Tafsir-nya, Imam Ibnu Katsir menceritakan dari Imam Sufyan Ats Tsauri tentang Imam Abu Hatim (riwayat lain menyebut Imam Abu Hazim) yang berutang untuk membeli Unta buat qurban.

وقال سفيان الثوري: كان أبو حاتم يستدين ويسوق البُدْن، فقيل له: تستدين وتسوق البدن؟ فقال: إني سمعت الله يقول: { لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ }

Berkata Sufyan Ats Tsauri: Dahulu Abu Hatim berutang untuk membeli Unta qurban, lalu ada yang bertanya kepadanya: “Anda berutang untuk membeli unta? Beliau menjawab: Saya mendengar Allah Ta’ala berfirman: Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya (unta-unta kurban tersebut).” (Q.s. Al Hajj: 36). (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 5/426)

Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah menceritakan dari Al Haarits tentang dialog antara Imam Ahmad bin Hambal dan Shalih (anaknya), katanya:

وقال له صالح ابنه الرجل يولد له وليس عنده ما يعق أحب إليك أن يستقرض ويعق عنه أم يؤخر ذلك حتى يوسر قال أشد ما سمعنا في العقيقة حديث الحسن عن سمرة عن النبي كل غلام رهينة بعقيقته وإني لأرجو إن استقرض أن يعجل الله الخلف لأنه أحيا سنة من سنن رسول الله واتبع ما جاء عنه انتهى

Shalih –anak laki-laki Imam Ahmad- berkata kepadanya bahwa dia kelahiran seorang anak tetapi tidak memiliki sesuatu buat aqiqah, mana yang engkau sukai berutang untuk aqiqah ataukah menundanya sampai lapang keadaan finansialnya. Imam Ahmad menjawab: “Sejauh yang aku dengar, hadits yang paling kuat anjurannya tentang aqiqah adalah hadits Al Hasan dari Samurah, dari Nabi bahwa, “Semua bayi  tergadaikan oleh aqiqahnya,” aku berharap jika berutang untuk aqiqah semoga Allah segera menggantinya karena dia telah menghidupkan sunah di antara sunah-sunah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan telah mengikuti apa-apa yang Beliau bawa. Selesai. (Tuhfatul Maudud fi Ahkamil Maulud, Hal. 64. Cet. 1, 1971M-1391H. Maktabah Darul Bayan)

Demikianlah kebolehan berutang untuk berqurban, namun “boleh” bukan berarti lebih utama, sebab lebih utamanya adalah justru membayar utang dahulu, bukan menambah dengan utang baru. Membayar utang adalah wajib, dan tidak ada khilafiyah atas kewajibannya, sedangkan berqurban adalah sunah muakadah bagi yang sedang lapang rezeki menurut jumhur ulama, kecuali Imam Abu Hanifah yang mengatakan wajib. Maka, wajar jika sebagian ulama justru menganjurkan untuk melunaskan utang dulu barulah dia berqurban jika sudah lunas utangnya.

Bagaimana dengan utang yang jangka waktunya panjang, seperti cicilan mobil atau rumah yang mencapai belasan tahun? Apakah orang seperti ini harus menunggu belasan tahun dulu untuk berqurban?

Tidak juga demikian, dia bisa dan boleh saja berutang untuk qurban selama memang dia mampu untuk melunasinya dan tidak mengganggu cicilan lainnya. Tetapi, bukan pilihan yang bijak jika dia tetap ngotot berutang tetapi keluarganya sendiri sangat merana hidupnya, atau ada kebutuhan mendesak seperti biaya sekolah yang besar, rumah sakit, dan semisalnya.

Wallahu A’lam.

Kedua. Arisan untuk Qurban.  

Arisan adalah beberapa orang mengumpulkan uang, lalu diundi atau dengan menggunakan nomor urut, maka siapa yang keluar namanya atau namanya lebih dahulu dalam urutan, maka dialah yang mendapatkan uang tersebut untuk membeli hewan qurban.

Ini bukanlah judi, karena semua peserta akan mendapatkan gilirannya, dan tidak ada yang dirugikan. Ada pun judi, bisa jadi ada orang yang menang berkali-kali, sementara yang lain sama sekali tidak dapat undian sampai judi itu selesai. Dan, arisan menjadi judi jika sekali kocok keluar satu atau beberapa nama, setelah itu bubar, padahal masih banyak orang lain yang tidak dapat.

Nah, arisan secara substansi adalah SAMA dengan berutang, karena uang yang dia dapatkan merupakan hasil kumpulan dari uang peserta lainnya, sehingga dia memiliki utang kepada peserta lainnya. Jika demikian, maka boleh-boleh saja arisan qurban sebagaimana utang untuk berqurban. Wallahu A’lam

 


Catatan Kaki:

[1] Dari Abdullah bin Abi Aufa Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

سألته عن الرجل لم يحج ، أيستقرض للحج ؟ قال : « لا »

“Aku bertanya kepadanya, tentang seorang yang belum pergi haji, apakah dia berutang saja untuk haji?” Beliau bersabda: “Tidak.”  (HR. Asy Syafi’i, Min Kitabil Manasik, Juz. 1, Hal. 472, No. 460. Al Baihaqi, Ma’rifatus Sunan wal Atsar, Juz. 7, Hal. 363, No. 2788.  Syamilah)

Imam Asy Syafi’i berkata tentang hadits ini:

ومن لم يكن في ماله سعة يحج بها من غير أن يستقرض فهو لا يجد السبيل

“Barangsiapa yang tidak memiliki kelapangan harta untuk haji, selain dengan utang, maka dia tidak wajib untuk menunaikannya.”  (Imam Asy Syafi’i, Al Umm, Juz. 1, Hal. 127. Syamilah)

Namun, demikian para ulama tetap menilai hajinya sah, sebab status tidak wajib haji karena dia belum istitha’ah, bukan berarti tidak boleh haji. Ada pun larangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena Beliau tidak mau memberatkan umatnya yang tidak mampu, itu bukan menunjukkan larangannya. Yang penting, ketika dia berutang atau kredit, dia harus dalam kondisi bahwa dia bisa melunasi utang atau kredit tersebut pada masa selanjutnya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (16 votes, average: 8,38 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Farid Nu'man Hasan
Lahir di Jakarta, Juni 1978. Alumni S1 Sastra Arab UI Depok (1996 - 2000). Pengajar di Bimbingan Konsultasi Belajar Nurul Fikri sejak tahun 1999, dan seorang muballigh. Juga pengisi majelis ta'lim di beberapa masjid, dan perkantoran. Pernah juga tugas dakwah di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, selama dua tahun. Tinggal di Depok, Jawa Barat.
  • okabasi doma

    Mengapa harus utang demi menjalankan perintah agama? kalau anda belum/tidak mampu saat itu/ini, tidak usah memaksakan diri untuk berhaji atau berqurban. Niat baik/ tulus iklas anda sudah mencukupi, kelak anda mampu laksanakan. Islam itu agama yg tidak bertele-tele, ringkas dan bernas. Justru yg membuat rumit dan bertele tele manusianya sendiri, sehingga menjadi keblinger dan tersesat.

    • adhan

      Mengapa harus berhutang untuk membeli motor? Apalagi biasanya dibarengi sistem riba. Mengapa ‘hanya’ sebuah motor saja sampai MAU dan RELA berhutang, padahal itu hanyalah bentuk perniagaan (jual beli) antar manusia yg pahalanya belum tentu ada di sisi Allah SWT. sedangkan sudah pasti haramnya apabila menggunakan sistem riba (melalui sistem cicilan perusahaan finance). Mengapa MAU dan RELA berhutang demi modal usaha?

      Islam itu tidak bertele-tele, ringkas dan bernas, namun bagi penganutnya yg senantiasa merindukan ridha Allah SWT. maka mereka akan berusaha sekuat tenaga, jiwa dan harta (bukan hanya niat) untuk memberikan yg terbaik untuk-Nya. Bahkan kalau perlu berhutang (selama masih bisa terjangkau/tidak menyebabkan mudharat-seperti penjelasan Ust. Farid) demi mendapat apa yg dijanjikan Allah SWT. kepada hamba-Nya yg memilih untuk berniaga dengan-Nya (bukan dengan dealer motor).

      Tentu saja kalau seseorang memilih untuk berusaha cukup sampai ‘niat’ dan berdalih belum mampu, mungkin Allah SWT. akan memaklumi, tapi alangkah ruginya. Itu saja. (saya tidak merujuk kepada golongan yg fakir-miskin, yg untuk kebutuhan sehari-hari pun sulit, tapi untuk golongan kira-kira mampu untuk berqurban, hanya saja saat itu uangnya sedang terpakai)

Lihat Juga

Maksimalkan layanan Kurban, PKPU Jalin kerjasama dengan Tokopedia. (Putri/PKPU)

Permudah Layanan Qurban, PKPU Jalin Kerjasama dengan Tokopedia