Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Rambu-Rambu Interaksi Keluarga Menurut Surat At-Tahrim

Rambu-Rambu Interaksi Keluarga Menurut Surat At-Tahrim

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Keluarga. (zawaj)
Ilustrasi – Keluarga. (zawaj)

dakwatuna.comKeluarga sakinah, mawaddah dan rahmah merupakan dambaan setiap manusia. Untuk mencapainya dibutuhkan rambu-rambu yang akan menaungi kehidupan manusia. Riak-riak gelombang kehidupan pasang surut silih berganti. Selama ada kehidupan manusia akan saling berinteraksi dengan sesama makhluk yang sering kali menimbulkan konflik. Manusia tidak bisa menghindari konflik namun konflik tersebut harus dikelola dan diselesaikan dengan mengacu kepada aturan-aturan Allah, bukan menurut kemauan hawa nafsu manusia.

Sistem berkeluarga dalam Islam adalah system langit yang diturunkan Allah untuk kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat. Karena Allah adalah Al-Khaliq yang paling tahu kebutuhan makhluk-Nya, dengan kasih sayangnya diturunkan Al-Quran sebagai aturan hidup untuk kebaikan dan kemaslahatan manusia.

Ada tiga tema utama dalam surat At-Tahrim yang menggambarkan kondisi riel kehidupan manusia. Yaitu:

  1. Kehidupan keluarga nabi Muhammad saw beserta riak-gelombangnya (ayat 1-5).
  2. Kehidupan keluarga orang mukmin secara umum (ayat 6-9).
  3. Kehidupan keluarga para nabi terdahulu yaitu keluarga nabi Nuh dan nabi Luth sebagai contoh buruk serta kehidupan Maryam dan Asiyah sebagai contoh baik (ayat 10-12).

Semuanya bertujuan menjadi cermin agar manusia mengambil pelajaran dari setiap masalah sebagai proses pendewasaan.

Keutuhan keluarga menjadi syarat utama ketenangan jiwa anggota keluarganya. Keutuhan keluarga bukan datang sendiri, namun harus diupayakan dan dipelihara. Rumah tangga yang harmonis bukan berarti rumah yang tidak pernah ada konflik. Namun cara menghadapi dan menyelesaikan konflik itu yang menjadi kunci keharmonisan sebuah keluarga.

Rumah tangga yang kokoh akan melindungi para penghuninya dari godaan maksiat. Keluarga yang kokoh akan menjadi sumber energy besar yang menjalar ke seluruh anggotanya sehingga mereka dapat menggali potensinya untuk meraih prestasi besar dan amal-amal utama untuk kebaikan umat.

Sebaliknya rumah tangga yang rapuh akan menjadi sumber masalah dan melemahkan potensi penghuninya, menguras seluruh energinya sehingga menimbulkan kerusakan yang bisa menjalar menjadi kerusakan masyarakat. Karena sebuah keluarga adalah inti dari masyarakat dan Negara. Keluarga yang rapuh akan menyebabkan masyarakat yang sakit dan melemahkan sendi-sendi Negara. Maka sebaliknya keluarga kuat akan melahirkan Negara kuat.

Peran dan kerjasama suami istri menjadi tulang punggung dalam membentuk keluarga yang kokoh. Maka para suami harus menjadi contoh teladan dalam memimpin keluarganya mengarungi bahtera kehidupan.

Demikian juga peran istri sangatlah penting. Pepatah Arab mengatakan wanita adalah tiang Negara, apabila baik wanitanya baiklah negaranya, apabila rusak wanita, maka rusak pula negaranya.

Dinamika keluarga Nabi Muhammad saw (ayat 1-5)

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ ۖ تَبْتَغِي مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿١﴾ قَدْ فَرَضَ اللَّهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ أَيْمَانِكُمْ ۚ وَاللَّهُ مَوْلَاكُمْ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ ﴿٢﴾ وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَىٰ بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَن بَعْضٍ ۖ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنبَأَكَ هَٰذَا ۖ قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ ﴿٣﴾ إِن تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا ۖ وَإِن تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلَاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ بَعْدَ ذَٰلِكَ ظَهِيرٌ ﴿٤﴾ عَسَىٰ رَبُّهُ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِّنكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُّؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا ﴿٥﴾

Artinya:

  1. Hai nabi, Mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[1]
  2. Sesungguhnya Allah Telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu[2] dan Allah adalah Pelindungmu dan dia Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
  3. Dan ingatlah ketika nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang istrinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: “Siapakah yang Telah memberitahukan hal Ini kepadamu?” nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
  4. Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, Maka Sesungguhnya hati kamu berdua Telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan nabi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.
  5. Jika nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.

Kehidupan rumah tangga nabi menjadi contoh sampai hari kiamat. Maka Nabi tidak mungkin menyimpan sendiri masalah rumah tangganya karena Allah menghendaki pelajaran bagi segenap manusia hingga akhir zaman. Inilah system langit yang diturunkan ke bumi sebagai petunjuk dalam menyelesaikan masalah.

Sebagaimana layaknya kehidupan manusia biasa, kehidupan rumah tangga Rasulullah saw juga diwarnai oleh persaingan dan cemburu di antara para istrinya. Hal itu sangat manusiawi karena Allah hendak mendidik manusia dengan contoh langsung dalam kehidupan riel hamba yang paling mulia Rasulullah saw.

Di antara istri -istri nabi yang sebagian besar dinikahi beliau berstatus janda, ada beberapa yang membuat Aisyah merasa cemburu karena kecantikannya yaitu Zainab binti Jahsy yang masih kerabat Nabi anak dari bibi beliau yang memiliki kedudukan tinggi di kalangan kaumnya, dan Juwairiyah binti Al Harits anak dari pemimpin bani Mustalik yang ditaklukkan, pernikahan Rasulullah dengan Juwairiyah menyebabkan masuk Islamnya seluruh bani Mustalik.

Aisyah adalah istri yang paling dicintai, secara naluri kejiwaan seorang wanita ada rasa cemburu kepada dua istri nabi di atas yang juga muda dan cantik.

Ada beberapa riwayat yang berkenaan dengan turunnya ayat ini, di antaranya yang diriwayatkan Imam Bukhari bahwa Aisyah berkata: Hampir setiap hari Rasulullah menemui istrinya dan menciumnya hingga istri terakhir. Jika tiba jatuh gilirannya Rasulullah akan duduk di sampingnya, jika tidak gilirannya Rasulullah melakukannya sambil berdiri. Akan tetapi jika tiba di rumah Zainab, Rasulullah sering berlama-lama (meskipun bukan jatuh gilirannya) sehingga membuat Aisyah dan Hafsoh cemburu. Maka diutuslah seseorang untuk mengamati apa yang dilakukan Rasulullah di rumah Zainab. Ternyata setiap Rasulullah ke rumah Zainab, selalu dihidangkan madu karena Zainab tahu kesukaan Rasulullah.

Maka bersekongkollah Aisyah dan Hafsoh jika keluar dari rumah Zainab lalu Rasulullah mengunjungi Aisyah mereka maka katakanlah:”Aku mencium sesuatu bau yang tidak sedap”. Tentu Rasulullah menjawab aku minum madu di Rumah Zainab”. Lalu katakanlah:”mungkin lebahnya menghisap bunga maghofir.” Demikian juga yang dikatakan Hafsoh ketika Rasulullah mengunjungi nya.

Setelah itu Rasulullah mengerti bahwa kedua istrinya cemburu kepada Zainab, maka demi menyenangkan kedua istrinya Rasulullah mengatakan: “Mulai sat ini aku haramkan bagiku madu Zainab”. Maka turunlah ayat ini.

Riwayat yang lain mengatakan ketika Hafsoh mengunjungi orang tuanya, maka Rasulullah menggauli Maria di kamar Hafsoh. Maria adalah istri Rasul yang berasal dari budak yang dihadiahkan oleh gubernur Qibti Mesir.

Setelah Maria pulang Hafsoh menangis di kamarnya dan berkata:” Tadi aku melihat seseorang bersamamu di sini. Demi Allah engkau telah melukai perasaanku.”

Ucapan tersebut terdengar pedih oleh Rasulullah, untuk menyenangkan Hafsoh Rasulullah berkata:”Mulai sekarang ku haramkan Maria bagiku (tidak akan digauli lagi oleh Rasulullah)”. Namun Rasulullah meminta Hafsoh tidak menyiarkan berita itu kepada istri yang lain. Namun Hafsoh tidak bisa menahan diri dan esok harinya menceritakannya kepada Aisyah. Maka turunlah ayat ini (Wahai Nabi mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu hanya demi menyenangkan istri-istrimu. Dan seterusnya).

Hafsoh dan Aisyah menghasut istri-istri nabi yang lain agar membenci Maria. Hal yang membuat istri-istri nabi cemburu dan tidak menyukai Maria adalah karena satu-satunya istri Rasulullah yang mengandung darah daging Rasulullah setelah Khadijah adalah Maria.

Tentu saja Rasulullah merasa kecewa dan marah. Maka beliau memutuskan mengisolasi mereka selama sebulan, sehingga tersiar kabar bahwa Rasulullah menceraikan istri-istrinya.

Umar bin Khattab bercerita, dahulu kami bangsa Quraisy biasa menundukkan istri-istri kami, ketika kami berhijrah ke Madinah kami dapatkan para suami dikalahkan istri-istrinya, sehingga istri-istri kami belajar dari mereka. Suatu hari ketika saya memarahi istri saya, tiba-tiba dia membantah. Ketika aku bertambah marah karena bantahannya dia menjawab. Kenapa kamu marah padaku, demi Allah istri-istri Rasulullahpun membantah beliau, bahkan ada yang berani memboikotnya sehari semalam.

Mendengar itu Umar langsung ke rumah Hafsoh anaknya yang menjadi salah satu istri Rasulullah dan bertanya:” Benarkah ada kalanya kalian membantah Rasulullah?” Hafsoh menjawab:” Benar”

Berkata Umar:”Sungguh kecewa orang yang berbuat demikian dan akan rugi, apakah kalian tidak khawatir dengan murka Allah disebabkan kalian membuat Rasulullah murka? Jika sampai demikian berarti telah binasa.”

Wahai Hafsoh, kamu jangan merasa iri dengan tetanggamu yang lebih muda, lebih cantik, dan lebih dicintai Rasulullah (maksudnya Aisyah), Jangan minta apapun kepada Rasulullah, Jika kamu ingin sesuatu mintalah kepadaku.

Dikisahkan suku Gossan yang merupakan sekutu Romawi di perbatasan sudah menyiapkan kuda perangnya untuk menyerang Madinah. Penyerangan yang mungkin dilakukan oleh tentara Ghossan adalah perkara dan masalah yang besar pada saat itu. Sehingga masyarakat Madinah sudah bersiaga kalau suatu waktu Rasulullah mengumumkan berangkat jihad.

Umar bin Khattab tinggal di pinggiran agak jauh dari Madinah, karena itu Beliau bergantian dengan tetangganya untuk datang ke masjid Rasulullah guna mendapatkan ilmu dan berita, kalau-kalau ada wahyu baru yang turun, atau berita penting dan mereka akan saling memberi kabar berita yang didapatkan dari Rasulullah.

Suatu malam datanglah tetangga Umar mengetuk pintu sambil berseru:” Ada kabar buruk yang menggemparkan?”

Umar segera membuka kan pintu dan bertanya, “apakah pasukan Ghossan menyerang?” jawab tetangganya:”Bahkan lebih dahsyat dari itu”

Umar penasaran:” Apa yang terjadi?”

“Rasulullah menceraikan istri-istrinya” jawab tetangganya.

“Aduhai… kecewa dan rugilah Hafsoh… aku sudah menduga hal ini kan terjadi” jawab Umar.

Esok paginya Umar bergegas datang ke Madinah untuk menemui Hafsoh dan mendapat kejelasan akan peristiwa yang terjadi. Sampai di rumah Hafsoh Umar mendapati nya sedang menangis, ia pun bertanya: “benarkah Rasulullah menceraikan istri-istrinya?”

“Aku tidak tahu… sekarang Rasulullah menyendiri di biliknya” jawab Hafsoh sedih. Umar pun bergegas menuju bilik Rasulullah, didapati pelayan berkulit hitam menjaga di luar bilik. Umar meminta agar diizinkan untuk bertemu Rasulullah, pelayan itu masuk kemudian keluar lagi menemui Umar, mengabarkan bahwa Rasulullah tidak menjawab. Umar gusar, ia menuju kerumunan orang yang menangis di dekat mimbar, namun segera ia kembali lagi memohon diizinkan bertemu Nabi, Tiga kali Umar berusaha memohon izin, barulah pelayan tersebut memberi tahu bahwa Rasulullah memberi izin.

Umar meminta jawaban secara tegas tentang berita yang didengarnya, benarkah Rasulullah menceraikan para istrinya? Ternyata Rasulullah tersenyum dan menjawab “tidak.” Mendengar itu Umar langsung bertakbir melampiaskan kelegaan hatinya.

Ternyata perkara rumah tangga Rasulullah menjadi perkara yang lebih dahsyat dari bahaya penyerangan tentara Ghossan.

Pelajaran yang dapat dipetik dari ayat ini adalah:

  1. Wanita memiliki potensi untuk mempengaruhi laki-laki baik pengaruh positif atau negative. Dibalik prestasi seorang pria, pasti ada jasa wanita yang di belakangnya yaitu ibu yang melahirkannya dan istri yang setia mendampinginya. Karena itu penting untuk mendidik para istri agar bisa mempengaruhi suami kepada hal-hal yang positif…
  2. Urusan halal haram bukan hak Rasulullah, namun menjadi hak prerogative Allah. Sesuatu yang Allah halalkan tidak bisa dirubah menjadi haram. Karena perbuatan nabi adalah teladan yang menjadi landasan hokum generasi selanjutnya.
  3. Peristiwa ini membuktikan bahwa Qur’an adalah dari sisi Allah, bukan karangan Rasulullah. Sebab ketika Rasulullah salah Allah segera mengoreksinya.
  4. Riak-riak rumah tangga adalah manusiawi dan wajar terjadi dalam kehidupan, maka kembalikanlah masalah kepada hokum Allah, bukan hokum menurut hawa nafsu. Kalau menurut hawa nafsu, Rasulullah bermaksud meredam konflik dengan mengharamkan sesuatu yang halal, namun Allah tidak berkenan dan segera meluruskannya.
  5. Jika rumah tangga menghadapi masalah, cerai bukan satu-satunya pintu keluar, ada banyak pintu lain yang mesti dilalui, maka didiklah istri salah satunya dengan pisah ranjang, untuk memberinya kesempatan berfikir dan untuk menimbulkan kerinduan dengan pasangan.

Memelihara diri dan keluarga dari siksa api neraka.

Tanggung jawab kepala keluarga sangat berat dalam kehidupan. Jika mereka tidak mendidiknya dengan bekal agama yang cukup menyebabkan mudah tergelincir ke jurang neraka. Karena itu Rasulullah bersabda:”Suruhlah anakmu shalat jika berumur tujuh tahun dan bila tidak mau shalat sampai umur 10 tahun maka pukullah mereka” (HR. Ahmad, Abu Dawud At-Tirmidzi)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ﴿٦﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَعْتَذِرُوا الْيَوْمَ ۖ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ﴿٧﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴿٨﴾ يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ ﴿٩﴾

Artinya:

  1. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
  2. Hai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan uzur pada hari ini. Sesungguhnya kamu Hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan.
  3. Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan nabi dan orang-orang mukmin yang bersama Dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah Kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
  4. Hai nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah Jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.

Selagi hayat masih dikandung badan, peliharalah diri dan keluarga dari api neraka, dengan membentengi anak dengan pendidikan agama sebagai basic. Jika bersalah segeralah bertobat dengan tobat nasuha. Supaya segera kembali dan ingat Allah. Karena tobat akan menjernihkan hati, memudahkan hidayah masuk dan mendorong berbuat kebaikan yang memudahkan menuju surge. Banyak berdoa untuk mendapat ampunan dan cahaya.

Sesungguhnya rumah tangga muslim merupakan benih masyarakat muslim yang akan membentengi penghuninya dari serbuan jahiliyah yang mengajak kepada kesesatan dan maksiat. Benteng inilah yang terus menerus digempur musuh dengan berbagai media dan segala cara agar pertahanan keluarga jebol sehingga kerusakan masyarakat menyebar ke segala lini kehidupan, na’udzubillah.

Masyarakat yang rusak menyebabkan Negara lemah dan rusak. Negara yang lemah mudah dikuasai oleh musuh baik sumber alamnya, maupun sumber manusianya. Mereka bisa menjadi robot-robot pelayan kaum kafir di negeri muslim. Tanpa disadari mereka merusak tatanan kehidupan keluarga dengan sarana media yang dikuasai dan menjauhkan Islam dari umatnya.

Kewaspadaan inilah yang diinginkan ayat ini, menjaga diri dan keluarga dari kerusakan.

Berjuang melawan musuh (At-Tahrim ayat 8)

Ayat ini merupakan selipan yang tinggi makna dan nilai supaya tidak meremehkan unsure-unsur yang merusak. Kewaspadaan yang tinggi dengan pergaulan anak istri supaya bisa selektif memilih teman menajamkan kepekaan akan bujukan yang membuai dan membuat terlena dan lalai dari mengingat Allah. Musuh-musuh Islam senantiasa mengintai mencari saat-saat muslim lalai untuk masuk secara halus tanpa disadari.

Mereka berkedok feminism, kebebasan, hak asasi manusia dan sebaginya. Mereka menanamkan konsep pemikiran yang meragukan kemuliaan Islam dan ketinggian syariat. Sehingga umat Islam digiring untuk menganggap syariat Islam “ketinggalan zaman”. Hukum Islam “sadis melanggar HAM”. Sementara itu mereka menjadikan hiburan sebagai media yang paling efektif untuk mempengaruhi jiwa manusia supaya lemah dan malas. Pornografi, narkoba, miras menjadi barang sehari-hari yang disuguhkan di televisi seolah menjadi barang yang biasa.

Tujuan musuh-musuh Islam menghancurkan keluarga agar tumbuh generasi yang malas, kerjanya hanya bersenang-senang menikmati hidup. Tidak mau membela dan memperjuangkan kemuliaan Islam. Hidup dipenuhi dengan kenikmatan semu yang menghancurkan.

Jika generasi yang lahir seperti ini mudah sekali suatu Negara dikuasai secara ekonomi, dikuras sumber daya alamnya, dihancurkan fondasi akhlaknya, dijauhkan dari nilai-nilai kebanggaan sejarah kemuliaan Islam. Umat Islam menjadi bangsa pengekor, kehilangan jati diri, kehilangan inovasi, bekerja menjadi budak orang kafir di negeri sendiri.

Karena itu melalui institusi keluarga kita bangun kualitas manusia Indonesia yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, meneladani Rasul dan para sahabat. Bangga dengan identitas Islamnya, Hingga tumbuh masyarakat yang bermanfaat bagi orang lain, rela berkorban, suka bekerja keras semangat memuliakan Islam.

Contoh Istri yang tidak baik, ayat 10

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ ﴿١٠﴾

Artinya:

  1. Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat[3] kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)”.

Contoh keluarga yang buruk ada di sekitar kita. Maka kewaspadaan menjadi penting untuk membentengi keluarga kita agar tidak menjadi seperti keluarga Nuh yang anak dan istrinya kafir dan Luth yang istrinya kafir. Sedangkan keluarga Ibrahim ayahnya kafir. Keluarga Rasulullah Muhammad pamannya kafir. Keluarga Asiah suaminya kafir. Semua contoh di atas adalah riel terjadi dalam kehidupan kita, maka kita mesti mengambil pelajaran.

Contoh istri yang baik (ayat 11-12)

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِندَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ ﴿١١﴾ وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ ﴿١٢﴾

Artinya:

  1. Dan Allah membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu[4] dalam firdaus, dan selamatkanlah Aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah Aku dari kaum yang zhalim.
  2. Dan (Ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, Maka kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.

Kemewahan dunia berupa istana megah, kekuasaan tak terbatas tidaklah membuat Asiah istri firaun terbuai. Ia tetap istiqamah dalam agamanya tak ingin ditukar dengan kemegahan dunia.

Berapa banyak kita dapati di masyarakat saat ini orang yang menukar aqidahnya dengan Supermie, bantuan modal usaha, bantuan pengobatan, bantuan pendidikan yang menyebabkan mereka rela menukar agamanya dengan dunia.

Pelajaran yang ingin diberikan Allah dalam ayat ini adalah bahwa semua kemegahan dunia akan hancur sebagaimana kehancuran Firaun sedangkan aqidah Islamlah yang akan menyelamatkan manusia dari siksa neraka. Maka istri Fir’aun rela menerima hukuman dan siksaan demi mempertahankan aqidahnya dan berdoa minta dibangunkan rumah di surge.

Bagi kita yang membangun keluarga harus mempunyai visi jauh ke depan seperti visi Asiyah. Kita buat program KB, yaitu KB5S=Keluarga Berencana yang Sehat, Sejahtera Setia Sampai di Surga.

Adapun Maryam adalah wanita luhur yang menjaga kesuciannya. Namun wanita beriman senantiasa akan mendapat ujian. Ujian yang akan menaikkan derajat manusia mencapai kemuliaan. Itulah yang diperankan oleh Maryam hingga Allah memilihnya menjadi Ibu Nabi Isa.

Dua sosok wanita mulia ini Allah pilih menjadi penutup surat ini. Pelajaran yang dapat diambil adalah bahwa kemuliaan seorang wanita justru dengan ujian yang menimpanya. Bukan kehidupan yang lurus, mulus tanpa riak dan gelombang, karena kita adalah jamaah manusia.

Diriwayatkan oleh Anas Rasulullah bersabda:”Wanita-wanita mulia sepanjang sejarah adalah Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad dan Asiyah istri Fir’aun.

Diriwayatkan oleh Ahmad, dan abu hatim dari Abi Hurairah bahwa: “sebaik-baik wanita penghuni surge adalah Khadijah binti khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun.

Tidak ada lagi alasan bagi manusia untuk membiarkan dirinya bersedih dalam menghadapi problema kehidupan. Karena sejatinya setiap ujian dan problema adalah cara Allah mendidik kita untuk memuliakan kita seperti yang dialami para wanita mulia ahli surga.

Daftar pustaka:

  1. Al-Quran Depag
  2. Tafsir ibnu Katsir, jilid 8, terj. PT bina Ilmu, Surabaya 1992
  3. Sayyid Qutub. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an jilid 2, terj, Gema Insani Press. Jakarta 2004
  4. Abdul Mu’min Muhammad, Khadijah Tre True Love Story of Muhammad. Pena Ilmu dan Amal, cet 2, Jakarta. 2007.
  5. DR. Abdurrahman Umairoh. Tokoh-Tokoh yang diabadikan Al-Qur’an jilid 2. Gema Insani press. Jakarta. 2000.

Catatan Kaki:

[1] Bukhari dan muslim meriwayatkan bahwa nabi Muhammad saw pernah mengharamkan dirinya minum madu untuk menyenangkan hati istri-istrinya. Maka turunlah ayat teguran Ini kepada nabi.

[2] Apabila seseorang bersumpah mengharamkan yang halal Maka wajiblah atasnya membebaskan diri dari sumpahnya itu dengan membayar kaffarat, seperti tersebut dalam surat Al Maaidah ayat 89.

[3] Maksudnya: nabi-nabi sekalipun tidak dapat membela istri-istrinya atas azab Allah apabila mereka menentang agama.

[4] Maksudnya: sebaliknya sekalipun istri seorang kafir apabila menganut ajaran Allah, ia akan dimasukkan Allah ke dalam jannah.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ibu dengan 4 putra putri, 3 di antaranya sedang memasuki usia remaja. Mahasiswa STIU (Sekolah Tinggi Ulmu Usuluddin) jurusan tafsir hadits semester 3. Aktif mengajar majlis taklim, punya usaha rias muslim. Beberapa tulisan pernah dimuat di Tarbawi di rubrik kiat.

Lihat Juga

Keluarga, Belakang Panggung Sandiwara