Home / Narasi Islam / Ekonomi / Sikap Terhadap Harta (Tadabbur Surah Al-Qashshash: 79-80)

Sikap Terhadap Harta (Tadabbur Surah Al-Qashshash: 79-80)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi, ujian dan fitnah (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Qarun adalah sosok kaya raya yang hidup pada zaman Nabi Musa as. Dia memiliki kekayaan yang melimpah ruah sehingga kunci-kunci tempat penyimpanan hartanya dilukiskan dalam redaksi ayat, “sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat” (QS. 28:76). Bisa dibayangkan, kuncinya saja sebanyak dan seberat itu, apatah lagi harta kekayaan dan perhiasan yang tersimpan di dalamnya. Namun karena kesombongannya, Qarun akhirnya ditenggelamkan Allah ke dasar bumi beserta seluruh harta kekayaannya itu.

Dalam konteks kisah Qarun ini, Allah menampilkan sikap dua kelompok manusia dalam memandang harta kekayaan sebagaimana tercantum dalam surah Al-Qashshash, 28:79-80. Kelompok pertama memandang harta sebagai sumber kesenangan dan kebahagiaan dan mereka berangan-angan dapat memiliki harta yang mewah dan berlimpah sebagaimana yang dimiliki Qarun. Tetapi, tatkala mereka menyaksikan kesudahan yang buruk dari episode kehidupan Qarun, mereka pun segera insaf dan menyadari kesalahannya lalu berkata, “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Allah).”

Sedangkan kelompok kedua, yaitu orang-orang yang dianugerahi ilmu, tidak tertipu dengan gemerlapnya harta dan meyakini bahwa pahala dari Allah adalah lebih baik bagi orang beriman dan mengerjakan kebajikan. Menariknya, ayat ke-80 ini ditutup dengan ungkapan “dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar.” Ini secara gamblang menggarisbawahi tentang pentingnya sikap kesabaran dalam berinteraksi dengan harta, baik ketika “disempitkan” oleh Allah maupun tatkala “diluaskan”-Nya.

Orang yang tidak sabar dengan kesempitan harta cenderung bertindak melanggar aturan dengan melakukan segala cara untuk mengejar kekayaan, sedangkan orang yang tidak sabar dengan keluasan harta rentan terhadap kesombongan dan kemewahan. Orientasi hidup orang yang tidak sabar ini sebatas duniawi belaka sehingga mereka selalu berusaha mengejar kekayaan dengan cara apa pun lalu menikmatinya sepuas-puasnya selama hidup di dunia.

Sementara itu, orientasi orang yang sabar lebih berdimensi akhirat, meskipun bukan berarti melupakan dunia (QS. 28:77). Bagi mereka, dunia sekadar tempat transit sementara menuju kehidupan akhirat. Kegemerlapan harta tidak menyilaukan mata karena mereka meyakini pahala dan ganjaran dari Allah jauh lebih baik dan lebih layak untuk dikejar.

Orang yang sabar dan berorientasi ukhrawi ini lebih suka berbagi dengan sesama daripada menikmatinya sendiri. Mereka memilih mendatangi masjid untuk shalat karena seruan hayya ‘ala al-falah (mari menuju kemenangan) daripada sibuk menunggui barang dagangannya. Mereka lebih mengejar pahala shalat Subuh berjamaah yang pahala shalat sunnah qabliyahnya saja lebih baik dari dunia beserta seluruh isinya. Mereka sengaja memilih berlapar-lapar dengan puasa daripada memenuhi perutnya dengan beraneka makanan dan minuman.

Mereka inilah orang-orang yang beruntung karena memilih menjalin ‘perniagaan dengan Allah’, perniagaan yang tidak pernah merugi (QS.35:29). Bagi mereka, harta adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan justru menjauhkannya sebagaimana yang terjadi pada Qarun.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 9,17 out of 10)
Loading...Loading...
Mochammad Arif Budiman
Mengenyam bangku sekolah di MAPK Martapura, Kalimantan Selatan, kemudian melanjutkan studi ke Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta dan Program Magister IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Saat ini, penulis mengambil Program Doktor Ekonomi Islam di International Islamic University Malaysia (IIUM). Penulis bekerja sebagai dosen di Program Studi Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah (ALKS), Politeknik Negeri Banjarmasin (Poliban).

Lihat Juga

memberi1

Dermawan Tak Harus Hartawan