Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menikmati Sambal Kritikan

Menikmati Sambal Kritikan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comKita menikmati santapan sambal, menelannya meski terasa pedas. Sedang kita kerap mempermasalahkan kritikan yang juga rasanya pedas. Kritikan itu layaknya sambal yang harus kita telan walau rasanya ringan ataupun sangat pedas. Nikmatilah kritikan itu sebagaimana kita menikmati pedasnya sambal. Orang yang memberi kritikan pada kita juga bervariasi tingkatannya. Perbedaan daerah, wawasan, sifat, akhlak, latar belakang, jenis kelamin, usia, agama, tingkat ekonomi dan pendidikan mempengaruhi tingkat kepedasan kritikan.

Sebagai orang yang dikritik, bersyukurlah karena masih banyak orang yang mau peduli dengan kita. Terlepas dari kritikan itu datang dari sahabat atau dari musuh kita. Musuh atau lawan itu adalah orang yang paling tau kelemahan dan kekurangan kita. Mereka biasa mengumbar-umbar kritikan yang keras lagi pedas. Hati pun seringkali dibuatnya gerah dan panas. Dengarkan baik baik apa yang dikatakannya. Karena kita tidak akan mendapatkannya dari teman-teman atau sahabat karib kita karena mereka tidak akan pernah suka menyampaikan itu. Nikmatilah! Kita pun sering merasa gerah, panas dan bahkan bercucuran keringat saat menikmati pedasnya sambal.

Hasan Al-Banna, sang pembangun pernah berujar, “Berterimakasihlah terhadap musuh atau lawan-lawanmu. Mereka tentu akan selalu mencari kelemahan dan kejelekanmu. Jika engkau mengetahui bahwa mereka sedang melakukan hal itu kepadamu, maka kamu tidak perlu marah. Namun justru pujilah Allah, karena Dia telah menjadikan untukmu orang lain yang dapat mengerti kekuranganmu, sebab kamu sendiri tidak mengerti kekurangan itu.

Sebagai orang yang memberikan kritikan. Berilah kritikan yang bersifat membangun. Jangan jatuhkan saudara seimanmu di hadapan banyak orang. Nasihatilah ia di kala sepi. Itu mencerminkan kejernihan hati si pemberi kritik. Karena orang yang keruh hatinya sajalah yang lisannya bertabur kritikan melecehkan, menghina akibat dengki, menjatuhkan serta membongkar aib saudaranya di hadapan umum. Karena keinginan hatinya bukan untuk merubah perilaku dan sikap saudaranya, akan tetapi ingin merendahkan serendah-rendahnya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dede C Habibillah
Mahasiswa PSKG, FK Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Lihat Juga

Ilustrasi. (haikudeck.com)

Kritik yang Membangun, Tidak Membully

Organization