Home / Pemuda / Essay / Nyanyian Ombak Sang Pemuda, Ketika Pergerakan Menata Negara

Nyanyian Ombak Sang Pemuda, Ketika Pergerakan Menata Negara

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Sebuah fakta umum bahwa sebuah harakah itu galibnya didominasi oleh kalangan pemuda. Kalaupun ada beberapa tokoh pergerakan yang mulai “menua” namun daya pikirnya, daya geraknya itupun tak kalah dari orang-orang muda kebanyakan. Pergerakan itu menghadirkan pembaruan dan kedinamisan dalam setiap detiknya. Mereka terus menerus bergerak dalam pikir, zhahirnya guna meluaskan cakrawala pengetahuan dan meningkatkan kapasitasnya sebagai calon penata kehidupan. Mereka terus menerus memikirkan masalah masalah besar dan memikirkan bagaimana meradukannya. Hati mereka yang terang benderang terus menerus terusik oleh kemerosotan Islam dalam seluruh aspek kehidupan.

Mari Tengok perjalanan Muhammad Natsir, pada usia 22 tahun ia bergumul dengan pemikiran Agus Salim untuk berdiskusi mengenai hubungan Islam dan negara. Hal itu dilakukannya demi masa depan pemerintahan Indonesia yang dipimpin Soekarno. Pada Usia 23 tahun ia menelurkan 2 buah buku Komt tot het Gebed dan Muhammad als Profeet. Secara berturut turut minimal ia hadirkan 1 buku tiap tahunnya. Buya Hamka pada usia 20 tahun sudah meramaikan media cetak – majalah dengan tulisan tulisannya. Mehmed II Khan bin Murad pada usia 12 tahun sudah dilatih untuk mengepalai sebuah provinsi. Hingga 9 tahun kemudian ia mencatatkan dirinya dalam tinta emas peradaban dalam pembebasan Konstantinopel.

Mereka hadir dalam sejarah industri peradaban dengan kapasitas yang telah ditunjukkannya. Kehadirannya tidak hanya meramaikan namun memberikan warna, menambal sulam nganga peradaban. Keberadaannya seakan menyentil kita “Di mana posisi kita pada usia 22 tahun, 20 tahun atau bahkan 12 tahun sekarang ini?”. Kadang pada usia yang sebelia ini, kita masih berasyik masyuk dengan romantisme alam remaja. Menonton Sinetron, bermain playstation, jaulah ke mal mal, kongkow di warung kopi, di jalanan bersama club motor, lihat konser musik dan aktivitas aktivitas mubazir lainnya. Oleh karena itu penulis sungguh bersyukur melihat beberapa aktivis pergerakan yang masih belia, namun secara pemikiran dan mental kepribadian begitu matang. Barangkali beberapa tahun ke depan ia akan mewarisi kebesaran tokoh tokoh peradaban. Juga barangkali negara ini akan membutuhkan kapasitasnya untuk mengelola Indonesia menjadi sepenggal firdaus di muka bumi.

Tidak ada waktu tunda dalam kehidupan ini. Oleh karena itu, ukurlah nilai diri kita dengan membandingkan usia produktif tokoh tokoh besar yang pernah menjadi sejarah kehidupan. Bila sekarang usia kita 20 tahun maka apakah 29 tahun lagi kelak kita mempunyai kapasitas seperti SOEKARNO ketika menjadi Presiden pertama RI? Atau bila usia kita sekarang 30 tahun, apakah 9 tahun lagi kita akan menyamai kapasitas Hasan Al-Banna ketika memimpin perang besar Arab melawan Yahudi?

Pertanyaan besar dengan membandingkan usia kita dengan tokoh peradaban itulah yang akan menimbulkan energi yang besar untuk bergerak. Energi itulah yang disebut sebagai wonderful restlessness mindset atau daya resah yang menikam. Dan daya resah inilah yang ujung ujungnya akan menyeret kita pada muara obsesi.

Obsesi itu akan berpijar dengan kuat bila kita bisa mengoptimalkan hal hal berikut:

1. Buku sebagai kekasih kita

Membaca itu bukan hanya memandang bait bait teks dalam sebuah buku, pun demikian mendengar, melihat dan bergumul pada pusat pusat ilmu itu juga dikategorikan sebagai membaca. Dengan membaca itu kita seakan meluaskan cara pandang kita melihat kehidupan. Ada pepatah yang mengatakan bahwa “dunia ini hanyalah sebesar pikir kita”. Kita hidup sebesar cara kita menafsirkan kehidupan tersebut. Dengan membaca….. Akan hadir membentang dari falkland hingga Siberia atau dari fiji hingga Alaska. Melewati batas batas usia akan kita rekam masa keemasan Athena hingga bangkrutnya ekonomi UNI Eropa. Kita pelajari suka, duka, sakit, sendu dari sisi humaniora. Juga jejak manusia yang telah menapalkan kakinya ke surga.

Warren buffet Investor terkaya di dunia menghabiskan 6 jam sehari untuk membaca, Bung Hatta menghabiskan 8 jam sehari, Kh Abdul wahid Hasyim menghabiskan minimal 5 jam sehari pun demikian Anis Matta menghabiskan 12 Jam sehari melahap bacaan ringan maupun berat. Lihatlah beberapa tahun kemudian orang orang yang menghabiskan waktu menjadi pelahap kelas wahid akan menjadi tokoh besar di bumi ini.

2. Ikatlah ilmumu dengan menulis.

Mengutip pendapat raja media Dahlan Iskan bahwa salah satu fungsi menulis itu adalah menstrukturkan kerja pikiran. Pikiran yang runut, runtut dan jelas sangat diperlukan oleh seorang pemimpin dalam hal mengeksekusi sebuah masalah. Yang kedua: efek menulis adalah melekatkan ilmu di kepala. Menurut imam Syafi’i bahwa ilmu itu hanya bisa di kekang dengan menuliskannya. Dengan menulis kita bisa menata ulang masalah masalah yang mengendap di pikiran kita, kemudian menyaringnya, memolesnya, merumuskan ide baru dari berbagai ilmu yang kita serap. Di sana kita akan menikmati berselancar bebas di atas diaroma pemikiran mendalam.

Jiwa yang terang benderang akan menghasilkan ide tulisan menjadi cahaya memikat. Dengan cahaya itu maka tulisan menjadi karya abadi dengan daya tahan menembus ruang dan waktu. Maka kita mendapati, Risalah pergerakan Hasan Al-Banna telah menginspirasi jutaan manusia untuk larut dalam perjuangan dakwah dalam kurun waktu 100 tahun lamanya. Capita selecta I, II, III, IV Mohammad Natsir menjadi buku yang sangat berpengaruh mengubah pemikiran umat Islam Indonesia kala itu.

“Dengan menulis berarti bersaham karena idenya akan terus membersamai; menjadi daya pengubah dahsyat walau pengarangnya telah meninggal semesta”.

3. Perkuatilah pemahaman kita dan ujilah.

Di dalam ilmu manajemen modern kata “alignment” adalah sebuah hal yang menjadi kewajiban tiap calon pemimpin. Yakni kemampuan menyama-kembangkan seorang mentor kepada yang dimentorinya. Atau gampangnya adalah duplikasi. Dengan bertemu banyak manusia, maka di sana akan terjadi pertarungan intelektual, akan ada pengaruh dan dipengaruhi. Setiap orang yang kita temui hidup dengan pola pikir, konsep, mindset yang sudah dibangun kokoh selama bertahun tahun. Maka di sana kita akan menguji seberapa kuat konsep yang kita bangun atau konsep yang ia bangun. Bila ternyata ada konsep lain yang lebih unggul, lebih kuat dibanding konsep kita yang rapuh dan sempoyongan, maka di sana akan ada syncretism concept atau penyatuan paham. Yang lemah akan menerima yang kuat dan tidak sebaliknya. Sejarah membuktikan bahwa dibalik orang orang besar pasti ada beberapa orang yang berpengaruh dibalik kebesaran pemikirannya.

Imam Bukhari tak kuasa menahan takdzim umat yang terus mengenangnya hingga kini. Barangkali seandainya beliau alpha simak penuturan gurunya Ibn Ruhawaih “Bilalah saja di antara kalian ada yang mengumpulkan hadits-hadits Nabi yang shahih kemudian menulisnya dalam satu kitab….”, tentu tak kita dapati 9082 hadits yang terkumpul dalam kitabnya yang masyhur yakni Al Jami’as-Shahih.

Juga seandainya Ahmed Deedat tidak pertunjukkan kebesaran Islam melalui piawai balahnya tentunya akan kita dapati begitu semena menanya kaum musyrik merongrong aqidah umat.

Pertarungan pemikiran itu akan meluaskan cara pandang. Dekati arus besar pemikir Islam, maka lambat laun kau akan terseret ke dalam kebesaran beliungnya. Sangat jelita bila kita ditakdirkan menjadi simpul perekat dari estafet peradaban pemikir Islam.

Obsesi yang besar akan menimbulkan ide ide besar. Maka tak heran Anis Matta pernah berujar industri yang dibutuhkan di kehidupan mendatang adalah industri ide pemikiran. Manusia yang berpandangan 10 hingga 50 tahun ke depan akan menghasilkan ide yang melesat ke depan pula. Obsesi yang besar pula akan mengaktifkan sel energi dalam organ tubuhnya. Memang karya besar perlu sokongan energi yang besar pula.

Obsesi itu membentuk konsep diri. Boleh jadi di dalam perspektif agama konsep diri ini bernama ideologi. Bak cahaya yang menerangi setiap langkah kehidupan, ia tak akan mengalami kegalauan narasi. Manakala pergerakan di direstui NYA untuk memimpin sebuah negara. Maka tak perlu risau dengan cara mengelolanya, karena jauh sebelum itu tersiap jutaan kader kader mumpuni. Laiknya senjata yang meruncing tajam terhunus di tangan. Saatnya berucap “Tidak ada lagi waktu tidur semenjak hari ini”. Allahu Akbar!!!

Mari pejamkan diri, coba nikmati puisi indah sembari melukis obsesi besar kita:

Dan janganlah dipilih hidup ini bagai nyanyian ombak
hanya berbunyi ketika terhempas di pantai
Tetapi jadilah kamu air-bah, mengubah dunia dengan amalmu

Kipaskan sayap mu di seluruh ufuk
Sinarilah zaman dengan nur imanmu
Kirimkan cahaya dengan kuat yakinmu
Patrikan segala dengan nama Muhammad

(Puisi Mohammad Iqbal berjudul “Harapan Kepada Pemuda”  yang diterjemahkan oleh M. Natsir)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ahmad Hudan Ro’isyi
Praktisi manajemen, analis perusahaan manufaktur dan tambang. Mempunyai minat yang besar pada dunia menulis & Sastra

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Penguatan Praktik Tata Kelola Syariah di Lembaga Keuangan Islam

Organization