Home / Berita / Nasional / M. Yasin dan Lantai Keramik

M. Yasin dan Lantai Keramik

M Yasin, penerima bantuan Kemensos (foto: David/detikcom)
M Yasin, penerima bantuan Kemensos (foto: David/detikcom)

dakwatuna.com – Jakarta. Program bedah kampung yang digelontorkan Kementerian Sosial meninggalkan sepenggal kisah mengharukan bagi Muhammad Yasin, seorang warga Jakarta yang tinggal di Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan.

Wajah bahagia nampak mengihiasi raut wajah Yasin karena hari ini rumahnya menjadi salah satu rumah yang memperoleh bantuan dari Kemensos. Dan rasa bahagia dan bangga semakin lengkap, karena menteri sosial Salim Segaf Al Jufri berkenan  menyematkan lantai keramik pertama di rumahnya.

Sejak lahir, Muhammad Yasin (58) tinggal di rumah orang tuanya di Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan. Rumah itu kini diurus dirinya bersama empat keponakan.

Yasin tinggal di rumah berukuran 4,5 meter x 12 meter. Rumah itu luas dibandingkan rumah tetangganya yang cenderung lebih kecil. Namun rumah itu tidak berlantai keramik, tidak bercat, dan tidak banyak diisi perabotan.

“Saya cuma kerja serabutan. Kalau ada tetangga minta bantuan, saya bisa bantu, ya saya kerjakan. Paling besar itu saya dikasih Rp 50 ribu,” kata Yasin saat ditemui di rumahnya, Jalan Kampung Melayu Kecil III, Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (29/9/2013).

Dinding rumah yang memiliki 5 ruangan dan 1 kamar mandi itu hanyalah batako tak tertutup semen, apalagi cat. Lantainya tanah dan lima penghuni termasuk tamunya harus pakai alas kaki di dalam rumah.

“Ini rumah warisan, saya biasanya renovasi sendiri. Walau rezeki saya nggak tentu, saya sisihin sedikit-sedikit buat bangun seperti ini,” ujar Yasin.

Titik air hujan juga masuk ke dalam rumahnya melalui celah-celah atap yang bocor. Belum lagi ketika banjir datang, air akan masuk hingga ke dalam rumahnya.

“Makanya saya bangun kayak rak itu. Kalau dari luar kelihatan kayak lantai dua, padahal itu atap yang saya tinggiin buat rak taruh barang pas banjir,” ujar Yasin sambil menunjuk rak-rak bambu di atas rumahnya

Yasin tinggal bersama empat keponakannya di rumah tersebut. Ia tak memiliki istri atau anak, hanya merawat keponakan-keponakannya. Kehidupannya menjadi lebih ringan ketika satu keponakannya mulai bekerja di tempat percetakan.

“Ada satu keponakan saya yang masih kecil itu putus sekolah. Saya saja cuma sampai SD. Keponakan saya yang paling besar juga sudah bantu-bantu kerja ikut tetangga yang punya percetakan,” ujar Yasin.

“Sejak mulai banjir tahun 1996, Pemprov DKI belum pernah berikan bantuan apa-apa. Ini yang pertama bantuan dari Kemensos,” ujar Yasin menutup ceritanya. (pds/dtk)

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Salim Segaf Al Jufri Islamkan Artis Mudji Massaid