Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Amalan yang Ihsan

Amalan yang Ihsan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (devianart / akhghazali)
Ilustrasi. (devianart / akhghazali)

dakwatuna.com Hadits kedua Arbain Nawawi menyebutkan tentang rukun Agama, yakni Islam, Iman, dan Ihsan. Jika Islam berarti komitmen operasional, Iman berarti komitmen moral, maka Ihsan berarti kualitas operasional.

Rasulullah SAW bersabda tentang ihsan:

“Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihatNya, jika kamu tidak dapat melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Bukhari-Muslim)

Oleh karena itu ihsan akan muncul jika perasaan terhadap pengawasan Allah SWT (muraqabatullah) senantiasa ada atau dengan kata lain kerjanya selalu sesuai tuntutan yang ada, meski tidak ada mandornya.

Ihsan juga muncul karena adanya perasaan atau kesadaran akan limpahan kebaikan Allah SWT (ihsanullah) atau dengan kata lain kerja sebagai ungkapan rasa syukur sehingga kerjanya dalam format yang sebaik-baiknya.

Maka dari itu muraqabatullah dan ihsanullah inilah yang akan memunculkan niat atau motivasi kerja atau motivasi yang baik.

Ihsan memiliki tiga unsur, ketiga unsur tersebut adalah:

1. Niat yang Ikhlas

Unsur pertama dari ihsan adalah niat yang ikhlas. Karena setiap sesuatu dapat ternoda oleh yang lain, jika sesuatu itu bersih dan terhindar dari kotoran maka dinamakan khalis. Sedangkan pekerjaan membersihkan disebut ikhlas. Maka susu yang bersih disebut lainan khalisa. Niat yang ikhlas merupakan syarat diterimanya suatu amal. Rasulullah SAW bersabda,

“Hanyasannya semua amal perbuatan itu dengan disertai niatnya dan hanyasannya bagi setiap orang itu apa yang telah menjadi niatnya.” HR. Bukhari.

Termasuk ikhlas adalah mengumpulkan beberapa niat dalam suatu amal, misalnya pergi halaqah dengan niat silaturahim, akan berinfaq fii sabilillah, thalabul ilmi, tilawatil Qur’an, ingin memperbaiki diri, mencari ridha Allah, dll. Karena niat saha sudah dicatat satu kebaikan oleh Allah, sehingga satu amalan dengan beberapa niat baik akan mendapatkan beberapa pahala sekaligus.

3 Amal yang Ikhlas

1. Beramal karena takut siksa Allah SWT (27: 89-90) disebut amalnya hamba.

2. Beramal karena mencari pahala (16: 97) ini amalnya pedagang.

3. Beramal karena bersyukur, (14: 7) ini amalnya orang yang bersyukur.

Ketiga jenis amal itu adalah amal yang diterima oleh Allah SWT, meskipun amal karena bersyukur itu adalah amal yang tertinggi karena itulah amal Rasulullah SAW.

Ikhlas yang Berat

Ketika masa dakwah belum mendapat peluang jabatan atau berbagai manfaat duniawi, tentu ikhlasnya lebih mudah. Ikhlas dalam masa ini murni berkaitan dengan Allah saja. Tetapi di masa dakwah sudah memberikan peluang-peluang duniawi, maka ikhlas akan lebih berat lagi. Karena nafsu manusia selalu cenderung kepada dunia, sehingga untuk membersihkan diri dari kotoran ikhlas ini akan lebih sulit lagi.

Contoh pribadi yang sangat menonjol dalam keikhlasan di masa kejayaan Islam adalah Khalid bin Walid, ia ridha menerima keputusan pemecatan dirinya oleh Khalifah Umar padahal ia berhasil memenangkan perang Yarmuk yang sangat spektakuler itu.

2. Amal yang Rapi

Setelah ikhlas unsur ihsan berikutnya adalah kerja rapi (profesional). Ciri utama kerja-kerja profesional adalah perhatiannya yang besar pada masalah detail (setiap faktor diperhitungkan dengan matang). Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mencintai apabila mengerjakan salah seorang di antara kalian suatu pekerjaan yang dilakukan dengan rapi”. HR Thabrani dan Baihaqi.

Amal Terbaik

Karena Allah SWT ingin menguji siapa yang terbaik amalnya (67: 2), jadi yang diinginkan Allah SWT adalah yang terbaik amal-amal kita.

Terbaik dalam Setiap Tahapan

Amal memiliki beberapa tahapan di antaranya perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Amal yang terbaik harus ada di setiap tahapan amal tersebut. Jika bekerja dengan orang saja kita dituntut untuk terbaik, bagaimana bekerja untuk Allah SWT? Karena untuk bekal di akhirat tentu seharusnya kita berikan yang terbaik.

3. Penyelesaian yang Baik

Jika dari awal sudah baik, niat dan pelaksanaannya baik kemudian diakhiri dengan tidak baik, mungkin menjadikan hasil kerja sebelumnya jadi kurang baik. Maka unsur ketiga dari ihsan adalah penyelesaian yang baik. Contoh kecilnya jika selesai menggunakan ruangan maka tata kembali seperti sedia kala, merapikannya, dan tidak meninggalkan kursi dan meja berantakan.

Yang paling malas kita lakukan adalah membuat LPJ (Laporan Pertanggungjawaban), ini juga mesti diselesaikan dengan baik. Dalam hal ini Allah SWT mengingatkan di 94: 7 jika selesai melakukan suatu pekerjaan, kerjakan yang lainnya dengan sungguh-sungguh.

Amal yang Ihsan

Jika ketiga unsur ihsan tersebut sudah terpenuhi berarti sudah melakukan amal yang ihsan. Rasulullah SAW memberi contoh dalam masalah penyembelihan, kepada binatang saja kita wajib ihsan apalagi kepada manusia.

Balasan Ihsan

Cinta dari Allah

Karena Allah SWT menyukai orang-orang yang berbuat baik (2:195, 5:13). Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

Jika Aku mencintainya jadilah aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, dan sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta (sesuatu) kepadaKu pasti Aku akan memberinya, dan jika ia memohon perlindungan dariKu pasti Aku akan melindunginya”. HR Bukhari

Pahala dari Allah SWT

Mendapatkan balasan di dunia dan akhirat (3:148). Tidak ada balasan bagi ihsan kecuali ihsan lagi, yaitu surga. Bagi yang ihsan (10:26) akan mendapatkan al-husna (surga) dan bonus (ziyadah) yaitu dilipatgandakan 10-700 kali lipat pahala bahkan lebih. Dan grand bonusnya ialah melihat Allah SWT, subhanallah.

Pertolongan dari Allah SWT

Orang yang ihsan selalu disertai Allah SWT secara khusus (16:128), sehingga segala kesulitan dan bencana yang menimpa akan selalu mendapatkan pertolongan dari Allah SWT, di antaranya adalah mendapatkan kemudahan, mendapatkan petunjuk, mendapatkan jalan keluar, dan dimenangkan dari musuh-musuhnya.

Ibrah dari Perang Hunain

Pada peperangan ini memberikan pelajaran berharga dalam masalah ihsan di peperangan. Awalnya mayoritas pasukan Islam kurang ihsan karena bertumpu pada jumlah yang besar, bukan pada kualitas dan iman. Pasukan kemudian kocar-kacir karena mendapat serangan panah secara tiba-tiba. Meskipun Rasulullah SAW bersabda, “Kemarilah wahai semua orang. Aku adalah Rasul Allah. Aku Muhammad bin Abdullah.” tapi mereka tidak peduli dan lari saja sesuai yang ada di benak mereka.

Kemenangan yang Besar

Setelah Abbas ra menyeru orang-orang yang berbaiat di baitur ridwan dan juga orang-orang Anshar, maka pasukan dapat tertata kembali. Serangan pasukan yang sudah tertata ini mengalahkan musuh dan umat Islam mendapatkan kemenangan besar. Dalam peperangan itu Rasulullah SAW berdoa, “Ya Allah, turunkanlah pertolongan-Mu.” Rasulullah SAW pun melempar pasir yang membuat pasukan kafir tidak dapat melihat.

Ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlaq. Oleh karena itu, semua orang yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut. Siapa pun kita, apa pun profesi kita, di mata Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah naik ke tingkat ihsan dalam seluruh sisi dan nilai hidupnya. Semoga kita semua dapat mencapai hal ini, sebelum Allah swt mengambil ruh ini dari kita. Wallahu a’lam bish shawab.

— Materi saat halaqah

Daftar Pustaka:

1. Al-Qur`an dan terjemahannya.

2.   Shahih Al Bukhari.

3.   Shahih Muslim.

4.   Sunan Tirmidzi.

5.   Sunan Abu Daud.

6.   Sunan An-Nasa’i.

7.   Minhaju al-Muslim, Abu Bakr Jabir al-Jazairy.

8.   Ibtila’ul Ibadah bil Imani wal Islami wal Ibadah, Abdur Rahman Hasan Habannakah al-Maidany

9.   Jundullah Tsaqafatan wa Akhlaqan, Sa’id Hawa.

10. Adabud Dunya wa Dien, al Mawardi.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dhavid Gani Setiawan
Penulis adalah mahasiswa teknik informatika di Institut Teknologi Telkom.

Lihat Juga

Pilihan Terbaik-Nya