Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mencoba Melihat dari Sisi yang Lain

Mencoba Melihat dari Sisi yang Lain

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (phombo.com)
Ilustrasi. (phombo.com)

dakwatuna.com Pagi ini saya mengecek hasil “Seleksi Administrasi” dari penerimaan “Kemenkeu”. Walaupun sebenarnya saya setengah-setengah ikut daftar, tapi tetap saja saya merasa nervous. Ada sekitar 6.000an yang diterima di tempat saya mendaftar. Pengumumannya dalam bentuk PDF jadi harus mencari satu persatu tapi untungnya pengumumannya sesuai dengan abjad jadi mudah untuk mencari. Ada 2 teman kantor saya yang ikut mendaftar juga, kebetulan abjad nama saya paling awal di antara mereka, segera saya mencari nama saya dan ternyata belum rezekinya, saya tidak lulus. Kecewa, pasti ada sedikit rasa kecewa walaupun memang tidak terlalu mengharap. Kemudian saya mencari nama kedua teman kantor saya. Dan Alhamdulillah, mereka lulus. Ada banyak hal yang saya pikirkan ketika itu, entah itu perasaan tanda tanya atau mungkin sesuatu yang mungkin tidak ingin saya terima. Bertanya kenapa saya tidak lulus??? Kenapa mereka lulus sedangkan saya tidak??? Padahal dari segi nilai, saya lebih dibandingkan mereka. Itulah pertanyaan dan pikiran yang ada pada saya saat itu. Kemudian saya beristighfar….”Sombong” mungkinkah itu penyebab dari semua itu? Mungkinkah rasa “sombong” itu telah ada pada saya sampai berfikir seperti itu? Apakah dengan berfikir seperti itu sudah masuk kategori “sombong”? Karena memang kenyataan seperti itu…atau itu hanyalah dalih dari ke”sombongan” saya??? Astaghfirullah… tidak henti-hentinya saya beristighfar karena sempatnya rasa itu muncul di benak saya.

Wallahu’alam….saya tetap ingin membela diri saya bahwa saya tidak bermaksud untuk berfikir seperti itu (tetap membela untuk diri saya pribadi maksudnya, bukan kepada org lain he…karena orang lain berhak menilai seseorang), saya tetap ingin membela diri saya bahwa tidak sedikitpun saya ingin merasa sombong dengan apa yang saya miliki karena saya tahu bahwa itu adalah sesuatu yang sma sekali tidak bisa disombongkan. Saya sangat tidak ingin merasa seperti itu karena saya akan merasa sangat malu ketika itu terjadi. Karena apa??? Apa sih yang kita sombongkan??? Apa yang kita miliki sehingga kita harus sombong??? Padahal yang kita miliki semuanya karena rasa Kemurahan oleh Sang Pemilik. Siapa kita??? Siapa kita sehingga kita berani sombong??? Padahal kita hanya makhluk lemah yang kapan saja Sang Kuasa mau, Dia akan mengambil semua milik-Nya yang dititipkan kepada kita dan kapan saja Dia mau, Dia bisa membinasakan kita. Saya hanya ingin saling mengingatkan, khususnya untuk diri saya pribadi. Saya yakin, tanpa sengaja mungkin perasaan sombong, rasa angkuh ataupun hal buruk lainnya terkadang menghampiri kita. Tapi kita harus selalu bisa mengendalikan itu semua dan selalu ingat bahwa kita hanya makhluk lemah terhadap-Nya. Semua yang kita miliki adalah titipan dari-Nya jadi tidak ada alasan bagi kita merasa “sombong” akan sesuatu.

Sebenarnya bukan itu yang ingin saya tekankan dari tulisan ini. Saya hanya menyinggung sedikit tentang hal tersebut karena itu merupakan sesuatu yang penting juga menurut saya. Oke. Saya akan melanjutkan cerita saya tadi.

Setelah sadar dan bisa mengendalikan pertanyaan-pertanyaan dan perasaan-perasaan “bodoh” itu. Sayapun memberitahu kepada ke-dua teman saya di kantor bahwa mereka lulus dan langsung memberitahu mereka bahwa saya tidak lulus. Mereka senang dan kaget juga. Mereka bertanya: mbak kok bisa nggak lulus? Saya menjawab: yo, gak tahu. Mungkin karena transkrip nilai saya kemarin 2 lembar jadi gak bisa masuk semua, dan mungkin juga karena saya bukan asli orang sini jadi mungkin itu juga sebabnya. Yah, seperti biasanya. Saya mencoba untuk mencari alasan logis sebagai penghibur diri sendiri he….walaupun saya tahu bahwa semuanya sudah ditentukan oleh Sang Maha Kuasa…tapi saya selalu mencoba untuk mencari alasan sehingga bisa mengobati rasa kecewa yang sempat timbul sehingga kecewa itu bisa tergantikan dengan keikhlasan dan kepasrahan.

Teman yang menemani saya mendaftar mengatakan hal yang sama: oh iya mbak, paling karena transkrip nilai mbak gak terupload semua jadinya gak lulus”. Saya hanya mengiyakan sambil tersenyum dan berkata: “iya, lagi pula saya juga tidak bisa ikut kalau lulus. Kalau kita semua lulus, saya tetap tidak bisa ikut karena tidak mungkin kita cuti semua. Kalian boleh cuti bersamaan tapi kalau saya ikut, kalian tidak boleh ikut. Jadi, saya memang gak bisa ikut”. Teman saya menanggapi ” iya ya mbak, mbak gak bisa cuti kalau salah satu dari kami cuti”.

Nah inilah yang ingin saya tekankan pada pembaca sekalian. Saya kemudian berpikir dan berkata pada diri saya sendiri. “Iya ya, mungkin ini cara Allah agar saya tidak begitu kecewa nantinya. Bukankah dari awal saya sudah tahu bahwa saya tidak bisa ikut jika kami semua lulus. Bayangkan ketika saya lulus berkas bersama mereka dan harus berusaha mencoba lagi untuk melepaskan kesempatan itu karena saya tidak bisa mengikuti tes itu. Bisa dibayangkan bagaimana usaha saya untuk mengikhlaskan kesempatan itu lagi, bagaimana perjuangan saya untuk menata hati saya lagi untuk menerima itu? Bagaimana saya menjaga hati saya untuk tidak menyalahkan teman saya karena saya tidak bisa mengambil kesempatan itu karena mereka. Bukankah akan lebih baik jika saya memang tidak lulus sehingga saya tidak merasakan perjuangan itu lagi, ketika saya dari awal sudah tidak punya kesempatan itu, maka saya hanya merasakan sekali kekecewaan dan hanya sekali menata hati bahwa memang itu adalah sesuatu yang telah ditetapkan-Nya. Subhanallah ketika kita bisa “Melihat dari sisi yang lain” dari suatu kejadian. Lebay dan sedikit mendramatisir. Mungkin ada sebagian dari pembaca menganggap seperti itu, tapi setiap orang berbeda. Apa yang kita anggap berlebihan belum tentu orang lain menganggap seperti itu. Jadi, mencoba untuk saling menghargai. Ini hanya sedikit kisah yang mungkin bisa kita ambil contoh bahwa segala sesuatu yang terjadi itu, pasti ada hikmah di dalamnya, mungkin bukan sekadar “ujian” tapi mungkin suatu solusi dalam bentuk lain. Entah seperti apa yang teman-teman hadapi, tapi ini hanyalah contoh saja bagaimana seseorang menghadapi suatu keadaan.

Ikhwah fillah sekalian, terkadang kita begitu mudahnya menyimpulkan sesuatu atau menilai sesuatu. Hanya karena hal itu tidak sesuai dengan yang kita inginkan, terkadang kita langsung menganggap bahwa itu adalah “ujian” dari Sang Maha Kuasa. Tapi kita tidak pernah berfikir bahwa mungkin saja hal itu diberikan oleh Allah SWT sebagai penyelamat dari masalah kita sendiri. Mungkin saja itu adalah jalan yang diberikan oleh Allah SWT terhadap masalah yang kita hadapi yang tidak bisa kita pahami. jadi jangan selalu merasa bahwa cobaan itu adalah “ujian” karena mungkin saja sesuatu yang dianggap “cobaan” itu merupakan jalan yang diberikan oleh Allah untuk kita. Tergantung dari bagaimana kita menilai hal itu. Jadi cobalah melihat dan menilai dari sisi yang lain terhadap suatu kejadian. Mungkin saja ada sesuatu yang tersembunyi dari itu yang pastinya merupakan suatu kebaikan Insya Allah….Semua yang terjadi di dunia ini pasti mengandung hikmah…..Wallahu’Alam.

Mencari seribu alasan untuk tidak bersu’udzon kepada saudara apalagi kepada Sang Maha Kuasa…..

Keep Hamasah ^_^

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Bekerja di Bank Syariah. Aktif di Iqro' Club di salah satu kota Jawa Timur.

Lihat Juga

Mencari Senja