Home / Pemuda / Essay / Jaga Hati Itu Susah, Tolong Dibantu Ya..!

Jaga Hati Itu Susah, Tolong Dibantu Ya..!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Desir itu kembali hadir. Pertanda hati makin ‘terpelintir’. Ya! Karena desiran rasa ini hadir bukan pada tautan rusuknya dan belum termahkotai oleh ijab kabul yang suci. Tapi senandung desiran itu kerap hadir… Kerap hadir…

Dosakah? Entahlah… Aku bukan penentu perkara dosa atau pahala. Karena perkara terpincutnya hati tak dijabarkan dalam perkara haram dan halal. Syukurnya, hukum Islam tak terhenti hanya pada 2 hukum itu saja. Masih ada makruh, sunnah dan mubah. Meskipun begitu, aku juga tak paham benar, terpincutnya hati ini terhukumi apa?

Entah, ketika bercengkerama dengannya atau hanya berpapasan saja, aku senang tak terkira. Bahkan ketika ia baru melangkah di ujung pertigaan jalan, instingku sudah dapat ‘membauinya’. Lalu sejurus kemudian aku tergugu kaku. Terkadang bertingkah polah yang tak menentu. Salah tingkah.

Semua tahu bahwa ia begitu luar biasa. Pengorbanan dan komitmennya untuk jalan dakwah seolah tak tertanding sekampus ini. Ia nampak kokoh dan tegar. Namun begitu, tak banyak yang tahu tentang kisah dibalik ketegarannya. Hingga suatu ketika ada seorang ikhwan yang tak sengaja membaca tumpukan narasi hatinya di buku bersampul hitam yang tergeletak di lantai sekretariat tercinta.

Sebenarnya ikhwan ini tak sengaja membaca goresan penanya. Semula ia hanya ingin mencari tahu tentang kepemilikan buku tersebut. Tapi gagal. Karena buku itu tak menunjukkan nama sang empunya. Akhirnya ikhwan tersebut melangkah lebih jauh dengan membaca lembaran di dalamnya. Dari lembaran-lembaran kisah inilah ia dapati sketsa sesosok karakter yang menuntunnya pada orang bernama Dimas. Sang ketua di lembaga tempatnya bernaung.

Dibalik kegigihannya berjuang dijalan dakwah, ia hanya seorang anak dari tukang cuci. Ibunya seorang tukang cuci baju, sedangkan ayahnya telah lama tiada, tepatnya saat semester pertama perkuliahan. Empat tahun lalu di penghujung November. Ia bersama ketiga adiknya terus berjuang membantu sang ibu.

Adik pertamanya kini tengah menempuh pendidikan menengah atas di sebuah sekolah swasta. Dua adiknya yang lain duduk di bangku sekolah menengah pertama dan kelas lima di sekolah dasar negeri.

Masing-masing punya peran penting dalam keluarga. Adik pertamanya menjadi loper koran sebelum berangkat sekolah. Keliling kompleks menjajakan koran. Terkadang ia berterik ria di antara kendaraan, saat lampu merah menyapa jalan. Adik keduanya bertugas meringankan profesi sang ibu. Selepas sekolah, ia turut serta membantu mencuci baju-baju langganan ibunya. Sedangkan si bontot bertugas mengerjakan pekerjaan rumah, seperti berbenah rumah dan mencuci piring. Lalu bagaimana dengan Dimas? Apa yang ia perbuat untuk keluarganya..?

Hemm… Kala itu libur semester menyapa. Saat ini adalah saat ter-crowded untuk organisasi intra maupun ekstra kampus. Karena masa ini adalah masa penerimaan mahasiswa baru. Jarang sekali kami temui sang ketua lembaga menampakkan batang hidungnya. Sangat jarang. Tapi ia memang tetap hadir di waktu-waktu kami membutuhkannya. Hanya saat penting dan genting ia hadir, dapat terhitung dengan jari.

Tak ada yang tahu pasti, ke mana dan kenapa pak ketua jarang nampak. Memang bukan kali ini saja, kabarnya, hampir di setiap libur semester ia kerap hilang. Jangankan libur semester, saat tugasnya usai di lembaga, ia juga menghilang. Ternyata, ia bekerja sambilan di beberapa tempat untuk membantu ketiga adik dan ibunya yang berada di kampung, juga untuk membiayai hidupnya di tanah rantau.

Pengeluaran untuk biaya hidup sungguh terbantu dengan beasiswa yang ia terima dan tempat hunian gratis ala marbot. Yups. Ia adalah satu satu marbot di masjid fakultasnya.

Pernah suatu ketika, ia diminta oleh lembaga eksekutif fakultas untuk mengisi acara training leadership di daerah puncak, Bogor. Saat itu, uangnya hanya pas-pasan untuk berangkat ke lokasi. Entah masih cukup atau tidak untuk ongkos pulang. Ia sempat menolak permintaan sang punya hajat. Namun panitia penyelenggara bilang bahwa tidak ada lagi yang bisa mengisi karena semua pembicara yang mereka hubungi berhalangan hadir.

Akhirnya, berbekal uang ngepas ia berangkat. Esok paginya, usai mengisi, ia pamit pulang pada panitia. Sebagaimana mahasiswa, biasanya mereka hanya memberikan kenangan-kenangan berupa plakat. Pun begitu dengan pemberian untuknya. Dalam hati sempat bergumam “Bagaimana saya balik ke Jakarta dengan sisa uang segini?”. Sempat terbesit ingin meminjam uang, tapi rasanya sangat berat jika merepotkan adik-adik panitia. Jadilah ia tersenyum dan berucap “Bismillah… Masih bisa jalan”.

Benar adanya. Ia jalan dari TKP sampai daerah yang sekiranya sisa uang itu cukup untuk membayar angkutan umum yang ia naiki. Ia berjalan dari Vila Kinta tempat acara digelar hingga sampai di sekitar Ciawi. Sesampainya di Jakarta, kakinya bengkak. Ia tak mengeluh… Ia malah menikmati proses ini sebagai bagian dari pengalaman hidup, sebagai bagian dari perjuangan di jalan dakwah…

Selain kegigihannya ini, ia pun termasuk golongan ikhwan yang cekatan dan sigap. Maka tak heran jika banyak akhwat yang meminta bantuannya saat ikhwan-ikhwan lain terlalu elitis dan diplomatis. Sudah begitu, ia juga bukanlah jajaran ikhwan centil. Malah ia begitu menjaga… Sungguh kepribadiannya membuat hati ini tertarik… Entah bagaimana dengan ratusan hati akhwat lain yang mengenal sosoknya.

Aahh, ‘tragedi hati’ ini tak akan terjadi jika tak ada ‘kompor’…!! Kesal betul rasanya dengan mereka… Huft..! Memang salahku juga, aku sempat memuji Kak Dimas di hadapan seorang kawan… Eh ternyata.., dia malah meledeki bahkan mencocok-cocokkan aku dengan beliau… Astaghfirullah… Apa salahnya kagum pada seseorang..? Aku rasa itu hal yang lumrah… Hemm…

Aksi temanku ini tak tanggung-tanggung, ia meledekku dimuka teman-teman yang lain. Jadilah “Ciee, ciee…” bertebaran penuhi liang telinga merasuk ke kapsula hepatica lalu bersarang di lobus temporal pada hemisfer… Menjejak. Meningkatkan adrenalin hingga degub jantung berdesar-desir. Juga merangsang terbentuknya hormon oksitosin, membuat rasa hati berbunga-bunga.

Duhai sahabatku… Hati ini ibarat kapal di tengah samudra. Mudah goyah… Apalagi dengan ujian tahta, harta dan pria (Eehh…). Godaan syaitan sungguh menderas di jiwa. Apatah lagi ditambah dengan guyonanmu meski hanya “ciee-ciee” semata… Sungguh makin berat terjaga… Maka dari itu, tolonglah bantu sahabatmu ini dalam menjaga hati… Bantu aku untuk menambal sulam hati yang telah babak belur ini…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (16 votes, average: 9,44 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Berusaha Menjadi Berarti dan Memberi Arti
  • lutfi

    hahahahahha.. bagus bahasa penyampaiannya.. semuga sobyek dan obyeknya menyatu..aminn…

    • Anisa P. Ningsih

      Sayang, subjek n objeknya tak nyata.. =)

      • lutfi

        waduh.. bayangan ilusi dong..

  • Nurul Manya Fitriah

    haduuh..sperti cerita teman di kantor..karena sering di cieee2 :D jadi makin dekat terlihat..semoga akhirnya baik..hhe mohon maaf yang ikut ngejailin..

    • Anisa P. Ningsih

      Cie.. =D aamiin.. =)

  • lutfi

    semoga aja.. saya doain aja.. sakinah mawahdah wa rohmah..amiiiinn…

Lihat Juga

Surat dari Seseorang yang Salah Meletakkan Cinta pada Sebuah Hati