Home / Narasi Islam / Sosial / Mereka Mengajarkan Rasa Syukur

Mereka Mengajarkan Rasa Syukur

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Hanya sekilas melihat? Jangan hanya mengedipkan mata lalu mengalihkan pandangan kita! Walaupun mungkin kita teramat sering melihat pemandangan tersebut tergelar di hadapan kita bahkan setiap hari, hampir di setiap sudut ibu kota kita dapat jumpai. Walaupun begitu jangan biarkan diri kita menjadi ‘biasa melihatnya’ hingga tak ada sedikit pun perasaan yang menggelayuti hati kita, tanpa rasa iba, rasa kasihan keprihatinan ataupun perasaan seandainya ‘seandainya kita yang seperti itu? Adik atau kaka kita atau bahkan kedua orang tua kita seperti itu, bisakah kita masih tetap bersikap ‘biasa’?

Jakarta menjadi segala pusat kemajuan dalam berbagai bidang, pendidikan, teknologi, ekonomi, dan lain sebagainya, tapi di sisi lain mengapa sebagian dari kita malah mengalami kemunduran kepedulian kepada sesama? Mereka mungkin tak meminta lebih dari kita hanya seribu atau bahkan recehan lantas banyak di antara kita mengacuhkan. Mereka diam, sering kali kita melecehkan menganggap rendah apa yang mereka lakukan? Siapapun yang ada di posisi mereka ‘mengemis’ adalah hal yang paling tidak diinginkan dan itu menjadi sebuah keterdesakan yang memaksa mereka berbuat demikian. Tapi sekali lagi bahkan kita mengacuhkan alasan mereka untuk tetap bertahan hidup sebagai ‘peminta – minta’. Jakarta sebagai ibu kota lebih kejam dari ibu tiri, hal itu sudah menjadi stigma sebagian besar daripada kita yang pada akhirnya membuat kita menjadi apa yang sering kita pikirkan tentang kekejaman itu.

Tugas dan kewajiban kita bukan hanya memberi uang, dan bukan hanya uang yang mereka butuhkan untuk hidup. Dan kepedulian bukan hanya berbentuk rupiah, adakah di antara kita yang pernah menanyakan kabar mereka hari ini? Menanyakan tentang keluarga mereka? tentu hal itu dianggap berlebihan oleh sebagian besar di antara kita, tapi sadarkah kita bahwa mereka telah memberikan sesuatu yang lebih berharga dari sekadar uang, mereka telah mengajarkan kita arti bersyukur bahwa kita paling tidak mempunyai kehidupan yang lebih baik dari mereka sehingga tidak perlu meminta –minta. Namun, hal itu pun tak kita anggap karena kita lebih sering melihat mereka sepintas dan menganggap biasa apa yang mereka lakukan. Atau kita telah memberi mereka uang hanya sebatas menggugurkan kewajiban kita memberi tanpa ada perasaan lebih, tentu mereka tidak akan menolak bila dikasih, coba lah beri sesuatu yang lebih daripada uang iringi pemberian itu dengan senyuman dan doa tulus agar kelak kita tidak melihat mereka lagi menjalani kehidupan pengemis tapi berubah menjadi penderma.

Kita pun tahu bahwa ada di antara para ‘pengemis’ yang menjadikan perbuatan pengemis sebagai profesi padahal mereka itu tidak termasuk orang yang boleh mengemis (meminta-minta), misalnya bukan orang miskin tapi mereka memanfaatkan rasa iba orang lain kepada mereka untuk mendapatkan uang. Namun kita pun tidak bisa memastikan siapa di antara mereka yang memanfaatkan situasi itu, mungkin kita hanya bisa menduga tapi terkadang dugaan kita membuat kita malah berpikiran buruk kepada setiap pengemis, kita menjadi was –was sendiri merasa takut pemberian kita kepada mereka disalahgunakan? Sehingga banyak di antara kita ragu dan memilih tidak memberi. Kita menghapuskan kewajiban kita memberi dengan sebuah anggapan yang belum benar adanya, hanya praduga, dan pada akhirnya menganggap perbuatan memberi sebagai kesia-siaan.

Ilustrasi. (Think Art 2010)
Ilustrasi. (Think Art 2010)

Lain lagi dengan persoalan mendidik seorang peminta – minta dengan tidak memberi karena kekhawatiran pemberian kita yang tak seberapa itu menjadikan mereka nyaman di posisi mereka sehingga membuat mereka terbiasa meminta – minta. Itulah kita yang sering menganggap dugaan hingga akhirnya menjadi sebuah kenyataan. Kalau begitu adanya mungkinkah itu hanyalah alasan kita untuk takut terus – terusan memberi?

Memberi sebagian dari apa yang kita berikan tidaklah membuat kita menjadi kehilangan banyak, sedikit yang kita berikan tidaklah seberapa banyak dibandingkan dengan yang mereka berikan kepada kita sebuah peringatan bahwa kehidupan kita yang lebih baik ini sepatutnya disyukuri dibandingkan mereka yang selalu kekurangan dan memaksa diri untuk meminta bantuan orang lain dengan mengemis. Kalau begitu bukan mereka yang miskin tapi kita, kita yang telah memiskinkan diri kita sendiri dengan tidak peduli, kurang bersyukur. Karena memberi itu adalah salah satu wujud syukur

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lihat Juga

Menjadi Hamba yang Bersyukur