Home / Pemuda / Cerpen / Percikan Semangat

Percikan Semangat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Hadiah sudah terbungkus kado dengan rapi. Pakaian sudah kukenakan, minyak wangi semerbak dari pakaian dan tubuhku. Hari ini adalah hari yang istimewa. Hari ini aku akan bertemu seseorang.

Lima belas tahun yang lalu.

Seratus meter dari garis start.

Nafasnya masih teratur, terdengar berirama naik turun. Sedikit peluh mulai singgah di dahinya. Kepalanya yang plontos terlihat bergerak sedikit ke kiri dan ke kanan seirama tarikan dan hembusan nafasnya.

Bocah kecil yang berlari berjajar di sampingku ini bernama Pion. Ah, bukan, nama aslinya bukan Pion, tapi Muhammad Ali. Pion adalah nama julukan karena badannya yang kecil. Layaknya pion dalam permainan catur yang selalu menjadi umpan dan martir, Pion juga dijadikan pesuruh oleh teman-temannya di sekolah. Aku juga memanggilnya Pion.

Muhammad Ali alias Pion adalah teman sekampungku. Kampungku berada di kaki bukit Gunung Lawu. Kampung Sigetan namanya. Jangan coba-coba mencarinya dalam peta, aku jamin kau tak akan menemukan nama kampungku di sana. Listrik pun tak mau bermurah hati menerangi rumah-rumah dan jalan-jalan di kampungku. Jadi, jika kau takut kegelapan jangan sekali-kali bermalam di kampungku. Tak ada PDAM yang menyediakan air untuk keperluan simbok-simbok mencuci dan memasak. Yang ada adalah sumur yang dibangun dengan batu bata merah dengan ember yang tergantung di atasnya. Jika ingin mandi, jangan kau berharap untuk mendapatkan air hangat dari pancuran. Pergilah ke sungai di hilir, bukalah bajumu dan terjunlah ke dalam air sungai. Itulah layanan mandi yang akan kau dapatkan.

Pion dan aku adalah kawan karib. Rumahnya berada di samping rumahku. Jika aku bilang rumah, jangan kau bayangkan sebuah bangunan kokoh dengan tembok bercat warna dan atap yang kuat. Jangan kau bayangkan juga adanya kamar tidur, kamar, makan, kamar mandi, dan garasi yang terpisah. Bukan seperti itu rumah yang kami punyai. Bayangkan saja sebuah gubuk atau sebuah warung Tegal sederhana di pinggir jalan. Ya, seperti itulah rumah kami.

Satu kilometer dari garis start.

Rasanya pasti sakit memakai sepatu yang sudah jebol bagian depannya seperti sepatu yang dikenakan Pion. Meski sepatuku juga jelek, setidaknya sepatuku tidak robek, belum robek. Ini sepatu kebanggaan kami, lho. Sepatu warna hitam putih. Sepatu ini diberi oleh sekolah, gratis. Dan sudah tiga tahun lebih sepatu ini menemani kami. Jadi, pantaslah jika sepatu kami sudah jelek dan sepertinya ajalnya sudah dekat.

Pion masih berlari santai seirama tarikan dan hembusan nafasnya. Aku masih setia menjajarinya. Kaos warna kuning yang dikenakan Pion mulai basah menyerap keringat si bocah Plontos. Sepanjang jalan Pion diam saja dengan sesekali tersenyum saat ada orang lain yang berlari melewatinya. Aku bersyukur untuk itu. Percayalah, dua jam lalu, sepanjang perjalanan dari kampungku ke tempat ini, Si kecil Pion ini tak berhenti mengoceh. Sampai pedas kupingku dibuatnya. Ia bilang betapa senang dan bangganya ia bisa menjadi wakil dalam lomba lari maraton tingkat kecamatan ini. Kau tahu, sekolahku tak pernah ikut lomba seperti ini. Baru sekali ini bisa ikut lomba lari maraton tingkat kecamatan.

Aku kasih tahu kawan, Si Pion ini memang jago lari. Juara satu di sekolah. Mungkin karena ia sudah terbiasa berjalan jauh atau berlari dalam waktu yang lama akhirnya ia jadi juara lari. Bayangkan saja jika selama enam hari dalam seminggu kau berjalan sejauh sepuluh kilometer dua kali sehari. Itu jarak kampungku dengan SD kami. Jadi, kami sudah terbiasa mengalahkan matahari saat berangkat ke sekolah. Habis subuh, setelah memberi makan ayam, mandi dan makan, kami berangkat ke sekolah. Berjalan sejauh sepuluh kilometer kawan. Dua kali sehari. Dan jika kami berangkat kesiangan, kami mesti berlari-lari kecil agar sampai di sekolah tepat waktu.

“Ayo, Boy!” beberapa siswa dari sekolah lain melewati kami. Seperti dari awal tadi, si Pion hanya tersenyum saja. Sudah banyak juga yang melewati kami. Kalau begini terus bisa-bisa aku dan Pion finish terakhir.

“Pion, ayo cepet!” kataku kepada Pion. Tak mau aku jauh-jauh dari kampung hanya untuk finish di urutan terakhir.

Santai wae. Jare bapakku, alon-alon waton kelakon,” kata Pion di tengah nafasnya yang memburu.

Huh, alon-alon bukan waton kelakon, tapi waton keri dhewe, terakhir. Sepertinya aku mesti meninggalkan kawanku ini. Aku berlari semakin kencang, mengejar peserta lomba yang lain. Berharap bisa mengejar, mengungguli, dan memenangkan lomba ini. Oh, betapa senangnya jika bisa memenangkan lomba ini. Membawa pulang piala Pak Camat. Di sekolah aku bakal dipanggil untuk maju dan akan dikalungkan piagam oleh Pak Kepala Sekolah waktu upacara bendera. Dengan begitu pasti Rini yang selalu juara kelas akan memperhatikanku. Asyik…. Dan bapakku bakal membelikanku tas baru seperti janjinya kemarin jika aku menang lomba. Memikirkan itu semua, semakin ringan langkah kakiku.

Sepuluh kilometer dari garis start.

Di depanku ada belasan peserta lomba. Jaraknya agak jauh, sekitar tiga ratus meter. Napasku sudah terasa berat. Kakiku terasa semakin pegal. Aku sudah mandi keringat dari tadi. Sepertinya sudah tak ada harapan menjadi juara. Napasku semakin memburu. Berkejaran dengan langkah kakiku yang semakin lambat rasanya.

Tiba-tiba Si Pion sudah berada di sampingku. Kaget juga aku. Bocah ini sudah bisa menyusulku. Nafasnya masih berirama meski lebih cepat daripada di awal tadi. Perpaduan keringat yang mengucur dan pancaran sinar matahari membuat kepala Pion kelihatan mengkilap. Kulitnya yang hitam juga kelihatan mengkilap.

Pion sudah mendahuluiku dan semakin lama ia semakin menjauh. Sebagaimana di kampung, Pion juga selalu saja mengalahkanku dalam adu renang dan adu menahan napas dalam air. Sungai di belakang rumah kami menjadi saksi keperkasaan Pion dan saksi kekalahanku dalam adu renang. Sambil memandikan kerbau, biasanya aku dan Pion akan adu renang atau adu menahan napas dalam air. Dan Pion yang selalu menjadi pemenang.

Di sungai itu pula aku dan Pion biasanya membayangkan hal-hal yang menyenangkan. Kami akan mulai berandai-andai sesuatu yang indah, yang hebat, dan membanggakan. Kemudian kami akan melompat ke dalam sungai dan menepuk-nepuk air dengan tangan sambil mengatakan semua keinginan kami. Pion mengatakan ingin bisa membangun rumah yang besar seperti rumah-rumah di kota. Ia mengatakan ingin mempunyai kerbau yang banyak. Ia juga mengatakan bahwa ia ingin menjadi juara lari. Sedangkan aku sendiri mengatakan ingin menjadi kepala sekolah seperti Pak Kepala Sekolah kami yang baik itu. Aku mengatakan ingin punya sepeda mini warna biru. Aku juga ingin bisa berjalan berdua dengan Rini yang selalu juara kelas itu. Tentu keinginan yang terakhir itu tidak aku katakan kepada Pion. Cukup aku katakan dalam hati saja.

Memang aku akui Pion ini adalah bocah yang pantang menyerah. Suatu kali Pion pernah menggendong kakaknya yang sakit dari rumah ke Puskesmas yang jaraknya sepuluh kilometer. Ketika itu kakaknya menderita sakit parah. Ayah dan ibu Pion sedang tidak ada di rumah. Karena kakaknya mesti segera dibawa ke Puskesmas maka Pion menggendongnya. Padahal, kakaknya berbadan besar. Sungguh kuat juga si Pion. Aku tahu kejadian itu setelah diberitahu oleh bapakku.

Satu kilometer dari garis finish.

Bendera itu sudah terlihat. Lambaian tangan orang-orang terlihat di sekitar tempat finish. Di depanku ada beberapa peserta. Tidak ada harapan lagi untuk menjadi pemenang. Tapi setidaknya Pion ada dalam sekumpulan peserta yang ada di depanku. Aku masih bisa berharap Pion akan memenangi lomba ini.

Napasku sudah hampir putus. Otot kakiku rasanya membatu dan ingin pecah. Kepalaku terasa pening. Bendera merah putih dan orang-orang yang melambai terlihat semakin kabur.

“Ayo, Boy!”

Terdengar teriakan Pion ditujukan kepadaku. Ia menghadap ke arahku sehingga ia berlari mundur. Terlihat senyumnya ditujukan kepadaku. Tangannya melambai-lambai kepadaku.

Beberapa meter sebelum garis finish.

Garis putih itu terlihat semakin jelas. Teriakan-teriakan orang mulai terdengar jelas. Dan terlihat Si Pion berdiri di belakang garis putih itu. Ia meneriakkan namaku, menyemangatiku.

Sedikit lagi. Garis putih itu sudah di depan mata.

Langit terlihat cerah. Awan-awan putih sedikit menghias. Angin berhembus pelan. Napasku sudah putus. Sudah tak terasa lagi pening di kepalaku. Sudah tak terasa pegal otot kakiku.

“Hebat, Boy!”

Suara Pion menyadarkanku. Aku telentang di atas jalan. Sudah tidak ada tenaga untuk mengangkat kepala, bahkan rasanya juga terasa berat untuk menarik napas. Yang mampu aku lakukan hanyalah tersenyum.

Rasanya bahagia sekali. Meski tidak menjadi juara, sudah bisa finish saja rasanya sudah selangit. Tak apalah tak dapat piala, tak apa tak dikalungkan piagam penghargaan, dan tak apa tak dapat lirikan dari Rini, tak apa juga tak dapat tas baru. Lomba ini memang berat. Berhasil melewati garis finish sudah merupakan keberhasilan tersendiri buatku. Ternyata beberapa saat setelah aku finish, beberapa becak datang dengan membawa beberapa peserta. Sepertinya mereka tidak kuat melanjutkan lomba. Maklumlah, lomba maraton memang berat.

Untuk lomba lari maraton ini lagi-lagi aku harus mengakui keperkasaan Pion. Pion yang mendapat piala Pak Camat. Pion yang dikalungkan piagam penghargaan oleh Pak Kepala Sekolah.

Masa kini.

Sebentar lagi aku akan bertemu dengan Pion setelah tujuh tahun lebih tidak bertemu. Ia akan menikah. Kau tahu dengan siapa ia akan menikah? Dengan Rini yang dulu selalu juara kelas itu. Ah, sialan. Muhammad Ali alias Pion memang selalu mengalahkanku, tapi ia selalu menjadi teman terbaikku.

Surakarta, 15 Mei 2012

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sukrisno Santoso
Seorang pecinta ilmu. Mengelola blog: www.risalahtarbiyah.blogspot.com dan www.sukrisnosantoso.blogspot.com Seorang guru di SMP IT MUTIARA INSAN SUKOHARJO. Saat ini menjabat sebagai Ketua Bidang Ekonomi Kreatif Forum IMTAQ WA ROHMAH Sukoharjo.

Lihat Juga

Jangan Ragu Menggambarkan Cita-Cita