Home / Pemuda / Essay / Ngomonginnya Tentang Akhwat Melulu

Ngomonginnya Tentang Akhwat Melulu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Dalam dakwah, peranan para da’i sangatlah vital. Dakwah dapat tumbuh ataupun hancur di tangan para da’inya. Seberapa besar kecintaannya dan kedekatan pada Allah SWT, seberapa kokoh ukhuwah sesamanya, dan kecintaan berjihad dijalan-Nya sangat menentukan keberhasilan dakwah.

Dakwah adalah jalan yang panjang, berliku, dan terjal. Mustahil menempuh perjalanan seperti itu tidak ditemui fenomena-fenomena perubahan-perubahan baik lingkungan, lembaga, atau da’i nya itu sendiri. Fenomena-fenomena yang telah banyak dialami aktivis dakwah terutama aktivis dakwah kampus, mungkin sekarang ini sedang populer,  kita sebut saja aktivis dakwah galau, galau di sini maksudnya mereka yang sedang terjangkit penyakit-penyakit yang biasanya terjebak pada “virus merah jambu”.

Ciri-ciri di lapangan aktivis yang terjebak pada “virus merah jambu” biasanya obrolannya mengarah seputar hubungan lawan jenis dan seputar pernikahan, sedangkan sebenarnya ia berada pada kapasitas yang belum siap untuk berada pada jenjang tersebut.

Ngomonginnya ke arah “sana” melulu, entah sebetulnya ia sudah siap atau belum untuk menikah. Tapi maksud tulisan ini, bersama mari kita mengingat kembali misi besar dakwah ini tidak akan tercapai jika para pejuangnya terlena pada pada hal-hal yang tidak bermanfaat, tidak akan berkembang jika pejuangnya lebih senang melakukan hal-hal yang menjauhkan dirinya dari Allah.

Lalu apa yang harus dilakukan? Apakah salah jika jatuh hati pada lawan jenis? Bukankah itu fitrah? Jawab: Benar. Maka jika belum siap menikah, solusinya ada 2 : terus perbaiki kapasitas dan serahkan pada Allah.

Kenapa terus perbaiki kapasitas? Bukankah perempuan yang baik hanyalah untuk laki-laki yang baik begitu pula sebaliknya? Maka sesuai rumus ini pasangan suami istri itu seimbang, artinya semakin baik sang suami maka semakin baik pula sang istri, begitu pula sebaliknya. Jika kita sedang bermaksiat di sini percayalah bisa jadi jodoh kita sedang melakukan hal yang sama di sudut belahan bumi yang lain, begitupun sebaliknya, maka kita harus sungguh-sungguh memperbaiki kapasitas diri ini untuk apa? Untuk menyambut kedatangannya nanti di waktu yang sudah Allah tetapkan, insya Allah.

Lalu setelah kita terus bersungguh-sungguh memperbaiki diri selanjutnya adalah mempercayakan sepenuhnya kepada Allah, sudah barang tentu kita percaya terhadap takdir Allah, bukankah Allah adalah sebaik-baik pembuat skenario?

Maka ketika perasaan itu datang, rasakanlah, biarkan bibir basah dengan istighfar karena bisa jadi orang yang kita sukai bukanlah yang Allah kehendaki, biarkan perasaan itu tertumpah pada sepertiga malam terakhir. Bukankah Allah adalah sebaik-baik pembalas? Pastilah Allah tak akan mengecewakan kita sedikitpun, dan sebaliknya ketenteramanlah yang akan di dapat. Allah pasti akan memberi hadiah bagi mereka yang bersungguh-sungguh dengan memberikan kita pendamping surga terbaik. Aamiin.

Hari-hari kita harus diisi dengan kesungguhan, penuh cinta, penuh rindu kepada Allah. Percayalah bahwa ditempat yang lain ia sedang melakukan hal yang sama.

Oke, balik lagi ke aktivis dakwah tadi. Ini sekaligus mengingatkan kepada kita bahwa kedekatan kepada Allah menjadi salah satu kunci kemenangan dakwah. Bukankah Rasul dan para sahabat diwajibkan shalat malam selama hampir satu tahun? Untuk apa? Karena akan menanggung beban yang berat, seperti dijelaskan di surat Al – Muzammil. Begitu pula aktivis dakwah memiliki beban yang lebih besar.

Barang kali kelengahan kita, menjauhnya kita kepada Allah, melemahnya tilawah, dan amalan sunah lainnya menjadi penyebab kegalauan tersebut muncul. Saudaraku, mari sama-sama saling mengingatkan bahwa jalan ini tidak dapat ditempuh dengan mudah, jalannya panjang, berliku, dan terjal. Bebannya berat sudah pasti memerlukan penempaan, dan penempaan itu didapat dari kedekatan kita kepada Allah, wallahu’alam bisshawab…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dhavid Gani Setiawan
Penulis adalah mahasiswa teknik informatika di Institut Teknologi Telkom.
  • Evant Andi A

    Subhanallah,.

Lihat Juga

Ilustrasi - Aksi aktivis dakwah kampus dalam isu Timur Tengah. (Ary)

Kajian Core Competence Dakwah Kampus