Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bukan Guru Biasa

Bukan Guru Biasa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

Mengajar dan mendidik,

dakwatuna.com Kita sering mendengar kalau mendidik sering dimaknai sama dengan mengajar. Sebenarnya, mendidik mempunyai makna yang lebih luas dibandingkan dengan mengajar. Mendidik dapat dilakukan dengan cara mengajar. Tetapi mengajar di kelas, sebagai contohnya tidak selalu dianggap sebagai proses untuk mendidik. Memang, mendidik dan mengajar sering dimaknai sebagai tumpang tindih bahwa seorang guru mengajar di dalam kelas dengan maksud untuk mendidik peserta didik.

Lebih dari itu, tingkah laku seorang guru akan menjadi faktor yang penting dalam proses pendidikan, karena tingkah laku guru akan menjadi contoh atau suri teladan bagi murid-muridnya. Dalam sebuah peribahasa mengatakan bahwa “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” yang sangat tepat menggambarkan tentang proses pendidikan dengan suri keteladanan ini.

Mengajar, kalau ditelaah lebih jauh lagi, istilah mengajar sudah dikenal sejak lama, bahkan sejak disadari pentingnya pendidikan dan persekolahan. Demikian juga konsep pengajaran dikaitkan dalam kerangka sistem pendidikan nasional. Sebenarnya pengertian mengajar bermacam ragam bergantung pada landasan teori belajar yang melandasinya, tujuan dan arah serta kegiatan yang dilakukan. Mengajar adalah membimbing kegiatan belajar anak, atau sebuah cara, sebuah proses timbal balik antara siswa dengan guru yang sama-sama aktif melakukan kegiatan atau mengajar, juga diartikan sebagai perbuatan yang dilakukan seseorang dengan tujuan membantu atau memudahkan orang lain melakukan kegiatan belajar.

Mendidik, adalah kata yang memiliki akar kata ”didik” dari kata itu pula terbentuk kata lain yakni pendidik dan terdidik. Kata mendidik merupakan kata kerja dari suatu perbuatan didik, yakni membuat orang terdidik, mentransfer pengetahuan kepada orang lain secara sistematis. Jadi mendidik adalah suatu perbuatan pentransferan pengetahuan kepada seseorang dari tidak tahu menjadi tahu secara sistematis, sehingga bermanfaat dalam kehidupannya di masa kini dan yang akan datang serta tidak ketergantungan berlebihan kepada orang lain. Mendidik juga diartikan sebagai memanusiakan manusia, di mana memanusiakan manusia membutuhkan nilai-nilai suasana demokratis.

Dengan pendidikan jugalah manusia menjadi berbeda dengan yang lainnya, baik itu hewan bahkan dengan manusia yang lainnya. Hewan juga belajar tetapi lebih ditentukan oleh instingnya, sedangkan manusia belajar berarti merupakan rangkaian kegiatan menuju pendewasaan guna menuju kehidupan yang lebih bermakna. Kita sering terjebak dengan istilah mendidik dan mengajar, di mana mengajar merupakan kegiatan teknis keseharian seorang guru. Semua persiapan guru untuk mengajar bersifat teknis. Hasilnya juga dapat diukur dengan instrumen perubahan perilaku yang bersifat verbalistis. Tidak semua pendidikan adalah pembelajaran, sebaliknya tidak semua pembelajaran adalah pendidikan.

Perbedaan antara mendidik dan mengajar sangat tipis, secara sederhana dapat dikatakan mengajar yang baik adalah mendidik. Dengan kata lain mendidik dapat menggunakan proses mengajar sebagai sarana untuk mencapai hasil yang maksimal dalam mencapai tujuan pendidikan. Mendidik lebih bersifat kegiatan berkerangka jangka menengah atau jangka panjang. Hasil pendidikan tidak dapat dilihat dalam waktu dekat atau secara instan. Pendidikan merupakan kegiatan integrasi olah pikir, olah rasa, dan olah karsa yang bersinergi dengan perkembangan tingkat penalaran peserta didik. Mendidik bobotnya adalah pembentukan sikap mental atau kepribadian bagi anak didik, sedang mengajar bobotnya adalah penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan keahlian tertentu yang berlangsung bagi semua manusia pada semua usia.

Ada contoh sederhana untuk perbedaan mendidik dan mengajar, seorang guru matematika mengajarkan siswanya agar pintang menghitung, tapi anak tersebut tidak sepenuhnya memiliki perhitungan dalam segala tindakannya, maka kegiatan guru tersebut baru sebatas mengajar belum mendidik.

Menjadi catatan penting bagi seorang guru bahwa ” tidak semua guru mampu mendidik walaupun ia pandai mengajar”. Untuk menjadi pendidik guru tidak cukup menguasai materi dan keterampilan mengajar saja, tetapi perlu memahami dasar-dasar agama dan norma-norma dalam masyarakat, sehingga guru dalam pembelajaran mampu menghubungkan materi yang disampaikannya dengan sikap dan kepribadian yang harus tumbuh sesuai dengan ajaran agama dan norma-norma dalam masyarakat.

Menjadi guru inspiratif,

Mendidik adalah sebuah profesi yang harus dipersiapkan terlebih dahulu dengan persiapan khusus. Karena pendidikan berhubungan dengan manusia, yang mana ia menjadi poros dan penggerak utama kehidupan ini. Pendidikan adalah sebuah pekerjaan yang berhubungan dengan mencetak kepribadian manusia. Dan sang guru menjadi sumber utama informasi serta ilmu pengetahuan bagi para anak didiknya.

Seorang pakar manajemen Rhenald Kasali mengemukakan bahwa di Indonesia ini terdapat atau mengenal dua jenis guru, yaitu guru kurikulum dan guru inspiratif. Di mana guru kurikulum mengajar sesuai apa yang diacu atau sesuai standarnya, sedangkan guru inspiratif mengajar siswanya dengan sesuatu yang membuat siswanya kreatif dan termotivasi. Saat sekarang ini, kita tidak bisa lagi menutup mata bahwa kita jarang sekali menemukan guru-guru yang inspiratif, kebanyakan guru sekarang hanya menjadi guru yang habitual (kebiasaan-tradisi) saja.

Menjadi seorang guru tentu tidak cukup dengan hanya sekadar mengajar saja, jangankan lebih, kadang untuk mengajar saja tidak mudah, apalagi menjadi guru yang inspiratif, hal ini jauh lebih yang sulit, akan tetapi bukan tidak bisa, karena guru yang inspiratif harus membawa sesuatu yang tidak biasanya, mampu menembus batas tradisi dan kreatif.

Memang, setiap orang bisa menjadi guru, tetapi tak bisa disangkal bahwa tidak semua orang mampu menjadi guru yang baik, mengobarkan semangat, menginspirasi, memancarkan energi, mencerahkan, sekaligus menanamkan pengaruh yang luar biasa sehingga bisa membekas sepanjang hidup di benak anak didik. Padahal, guru yang mampu menginspirasi dan mencerahkan itulah yang saat ini dibutuhkan di negeri ini. Sebab, guru semacam itu akan mengantarkan kesuksesan siswa di kelak kemudian hari dan membawa kemajuan bangsa.

Kita tidak bisa menyangkal bahwa guru inspiratif sudah menjadi guru yang langka sekarang ini, dan sudah tidak banyak. Sebagian besar guru sekarang ini hanyalah guru kurikulum, mereka tidak meninggalkan kesan mendalam di benak siswa karena tidak banyak hal penting yang diwariskan.

Guru yang hanya sekadar mengajar, tentu tidak lagi cocok dengan keadaan zaman sekarang ini, kemajuan zaman menuntut guru yang mampu dan dapat berperan sebagai pendidik. Padahal, untuk mencapai kemajuan dan kesuksesan siswa, jelas dibutuhkan guru yang tidak hanya sekadar mengajar sesuai dengan kurikulum melainkan, dapat menginspirasi dan mempengaruhi sekaligus mengubah jalan hidup anak didik jadi lebih baik.

Kesuksesan mengajar seorang guru tidak dapat diukur secara kuantitatif dari angka-angka yang diperoleh dalam evaluasi, tetapi bagaimana guru itu memberikan sumbangsih yang berarti bagi siswa dalam menjalani kehidupan selanjutnya setelah menyelesaikan masa studi.

Guru yang inspiratif memang berbeda dengan guru kurikulum, ia selalu ingin perubahan, peka terhadap situasi dan konteks hidup dan mental siswanya. Menjadi guru inspiratif tentu saja tidak dapat diraih dengan hanya sekadar” berbeda”, ia membutuhkan komitmen tinggi terhadap perubahan, memahami, serta mampu membawa siswanya memahami dunia melalui dirinya sendiri.

Lalu bagaimana menjadi guru yang inspiratif? hal ini tentu saja butuh perjalanan yang tidak singkat, melihat kondisi pendidikan di sekolah umum yang ada di Indonesia, guru-guru sangat terbelenggu oleh ketentuan administratif yang harus diikuti seperti target pencapaian kurikulum, ketuntasan belajar, silabus, RPP dan sebagainya.

Pendidikan seharusnya memiliki arti sebagai pengembangan potensi manusia, dengan demikian proses pendidikan yang ada di sekolah mestinya melulu berorientasi pada aspek kognitifnya saja atau dengan kata lain lebih mengacu pada perolehan nilai tetapi juga harus bisa mengembangkan nilai-nilai lain seperti emosional, kepribadian, spiritual dan sosial. Akan tetapi yang terjadi di lapangan peran guru lebih banyak mengajar daripada mendidik.

Artinya ketika seorang guru masuk ke ruang kelas maka yang dilakukan hanyalah menyampaikan materi yang ada di buku, bahkan tidak jarang kita temukan banyak guru sekarang yang hanya masuk ke dalam kelas menyuruh siswa untuk mencatat (robot pemindah buku), dan guru terjebak pada kegiatan pencapaian target kurikulum, dan bersifat pencapaian tujuan kognitif yang malah jauh dari pencapaian tujuan pendidikan yang sebenarnya,

Seharusnya pendidikan yang ada di sekolah harus mampu mengarahkan dan mengembangkan potensi anak didik untuk berwawasan masa depan, memiliki keteraturan pribadi dan memiliki rasa kepedulian sosial yang baik. Untuk mencapai hal ini, perlu pendekatan lain yang dilakukan oleh guru ketika berinteraksi dalam proses pembelajaran. Selama ini guru lebih menekankan pada pendekatan intelektual atau intelegensia yang hanya sekadar mengejar nilai. Sedangkan keterampilan hidup dan bersosialisasi tidak diajarkan.

Seorang anak dilihat berdasarkan nilai ulangan yang didapat bukan kemampuan diri secara keseluruhan. Kondisi ini dapat mendorong anak untuk menyontek dan melakukan usaha-usaha yang tidak baik dan jujur karena tuntutan angka sehingga nilai-nilai pendidikan terabaikan. Hal ini terjadi karena banyak guru saat ini, hanya sekadar memberikan pengetahuan dan wawasan belaka. Guru yang berperan sebagai seorang pengajar dan tidak dapat berperan sekaligus sebagai pendidik yang menginspirasi akan gagal mencetak generasi-generasi yang unggul.

Untuk mencapai kemajuan dan kesuksesan siswa, tentu saja dibutuhkan guru yang tidak hanya sekadar mengajar sesuai kurikulum, melainkan bisa menginspirasi sehingga mampu mengubah jalan hidup anak didiknya menjadi lebih cemerlang dan gemilang. Guru yang mampu menularkan pengetahuan sekaligus menggerakkan perubahan serta mempengaruhi siswa, juga mampu mengembangkan potensi dan kemampuan siswa berpikir kreatif dan mampu melahirkan siswa yang tangguh menghadapi berbagai macam tantangan dan perubahan.

Menjadi guru inspiratif memang tak mudah. Diperlukan kerja keras supaya spirit inspiratif itu tetap ada. Namun, setidaknya spirit inspiratif bisa dibangun dengan tiga hal, yaitu kebulatan tekad untuk selalu menginspirasi siswa, memiliki tujuan ke depan, dan yang paling penting kesungguhan cinta terhadap dunia pendidikan itu sendiri.

Dengan peran guru inspiratif yang memiliki tekad, cinta dan tujuan itu, potensi dan minat peserta didik untuk menguasai pelajaran akan muncul. Selain itu, akan melahirkan peserta didik yang memiliki sikap dan semangat tinggi untuk sukses dalam hidup. Seorang guru inspiratif mempunyai karakter, semangat terus belajar, kompeten, ikhlas dalam mengajar, mendasarkan niat mengajar pada landasan spiritualitas, total, kreatif dan selalu berusaha mendorong siswa untuk maju. Akhirnya berapa pun dia dibayar dia akan tetap profesional dalam mengajar karena seorang guru yang inspiratif tahu dan mengerti peran dan fungsinya sebagai seorang guru untuk apa? Yaitu untuk investasi Indonesia.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nur insani As Shabir
Guru Model SGI Dompet Dhuafa.

Lihat Juga

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid.
(fraksipks.or.id)

Hidayat: Guru yang Menegakkan Disiplin Tidak Dapat Dipidanakan