Home / Narasi Islam / Dakwah / Peran Strategis Ilmuwan Muslim dalam Perjuangan Dakwah

Peran Strategis Ilmuwan Muslim dalam Perjuangan Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – “Tidak akan mengenal lelah rasanya, bagi para pejuang dakwah di medan pertempuran saat ini untuk kemudian menjadi busur-busur panah yang siap melejit dan memberikan kontribusi lebih bagi perjuangan dakwah di mana pun.”

Dakwah merupakan sebuah perjalanan panjang yang memiliki jalan berliku dan mungkin medan terjal yang harus dilalui oleh setiap pelakunya. Namun sekali lagi, jalan berliku dan panjang ini merupakan sebuah pilihan yang ada di tangan masing-masing pelaku dalam jalan dakwah ini. Jalan dakwah bukanlah khusus hanya dimiliki oleh mereka para ustadz, para muballigh, para da’i, ataupun para murabbi-murabbiyah kita. Namun kita pun harus menyadari bahwa jalan dakwah ini pun menjadi sebuah jalan yang akan sangat menyenangkan ketika mereka, para ilmuwan muslim untuk bergabung dan membina umat dengan segala kemampuan dan kecerdasan yang sudah Allah berikan bagi mereka.

Sebuah peranan strategis bagi para ilmuwan muslim menjadi hal yang patut untuk dipertimbangkan dan menjadi sebuah trigger yang mampu memacu dan mendukung perkembangan dakwah. Jika dilihat kembali dari urgensinya, dakwah masa kini tidak lagi sebatas berada di langgar-langgar, mushalla maupun masjid-masjid besar. Lebih dari itu, dakwah mulai merambah pada masa modernitas yang mana tempat-tempat di luar itu semua dapat dijangkau dengan dakwah itu sendiri. Kemudian muncul sebuah pertanyaan, bagaimana ilmuwan Muslim mengambil peran sebagai seorang strategic role maker dalam perjuangan dakwah yang sudah lama dirintis sejak zaman para Anbiya’, lalu kemudian para sahabat?

Belajar dari Sejarah Perkembangan Pengetahuan di Masa Silam

Sejarah peradaban Islam memanglah tidak akan mudah dilupakan. Masa keemasan Islam dan kegemilangannya tidak lain dan tidak bukan, diperoleh karena peran besar ilmuwan-ilmuwan kala masa itu, yang kemudian mengambil posisi strategis dalam menopang masa-masa dakwah Islam di kala itu. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Keemasan dan kegemilangan Peradaban Islam kala itu, menjadikan negeri-negeri Islam dilirik menjadi tempat untuk mengembangkan ilmu dan pengetahuan yang banyak para pelajar dan ilmuwan non-muslim yang kemudian masuk dan menekuni bidang-bidang pengetahuan. Dari sinilah tak sedikit para pelajar dan ilmuwan tersebut kemudian menjadikan Islam sebagai agama yang diyakini kebenarannya.

Sebut sajalah, Ibnu Sina, yang di dunia Barat dikenal sebagai Avicenna, seorang Ilmuwan Muslim asal Persia, yang dikenal sebagai Bapak Pengobatan Modern, Bapak Kedokteran, sekaligus ahli dalam Bidang Botani, mampu memberikan kontribusi luar biasa yang sampai saat ini karyanya masih dapat dirasakan kebermanfaatannya. Belajar dari sebuah sejarah peradaban Islam dan perkembangan Ilmu Pengetahuan beserta Ilmuwan Muslim di dalamnya, seyogianya menjadikan sebuah motivasi tersendiri bagi setiap ilmuwan di mana pun mereka berada untuk kembali menunjukkan pribadi-pribadi yang sudah lama tertarbiyahkan untuk kemudian menyumbangkan ide-ide ataupun gagasan dalam membangun peradaban bangsanya guna mendapatkan kebermanfaatan dan menunjukkan perjuangan dakwah dalam bidang keilmuan.

Ilmuwan sebagai penggerak dinamika  ilmu pengetahuan memiliki peranan penting dan strategis yang berdekatan langsung dengan masyarakat. Kondisi seperti ini menjadi peluang besar bagi mereka para kader dakwah sekaligus seorang ilmuwan untuk mengambil langkah strategis dan taktis untuk memberikan kepemahaman mengenai Islam yang Kaffah, menjelaskan fenomena yang terjadi berdasarkan pemahaman  ilmu spesifikasinya, yang dikaitkan dengan penjelasan Al-Quran dan As-Sunnah, serta melakukan proses pembinaan (tarbiyah) bagi masyarakat layaknya para sahabat-sahabat Rasulullah SAW.

Peran Strategis Ilmuwan dengan Kondisi Kekinian Dakwah

            Dakwah memiliki dinamika sendiri dalam perjalanannya. Perjalanan yang memiliki masa-masa berulang selayaknya rekaman jejak-jejak masa dari pendahulunya yang telah Allah berikan bagi mereka yang secara ikhlas dan ridha terhadap Illahnya untuk melanjutkan perjuangan tersebut dan mempelajari huru-hara di dalamnya. Kadang timbul dan kadang tenggelam, layaknya sebuah kurva sinus yang sebenarnya dapat ditebak kapan akan mendekati puncak dan kapan akan mendekati titik terendahnya.

Dalam sebuah buku yang ditulis Ustadz Yusuf Al-Qaradhawi, tertulis sebuah nukilan yang luar biasa membuat hati ini sedikit berdegup,

Manusia menjadi lemah bila menyendiri dan menjadi kuat dengan jamaahnya. Jamaah merupakan kekuatan untuk menegakkan kebaikan dan ketaatan serta merupakan perisai terhadap kejahatan dan maksiat”

            Maka pada masa-masa seperti saat inilah, para ilmuwan selaku penggerak motor-motor dinamika pengetahuan untuk kemudian saling berkumpul dan mencoba kembali menata peradaban yang pada dasarnya telah ditata oleh para ilmuwan-ilmuwan terdahulu yang telah menjadi sebuah mozaik tersendiri dalam mengembangkan dakwah di bidang ilmu pengetahuannya masing-masing. Keberjamaahan yang akan menyatukan dan menguatkan fondasi dakwah di bidang keilmuan dan menjadikan sebuah mozaik yang memberikan warna tersendiri di era gegap gempitanya usaha untuk menjadikan pembinaan terhadap masyarakat sebagai jalan dakwah yang harus terus dikaryakan dan dituai keberhasilannya dengan mengharap ridha-Nya.

Peran-peran strategis para ilmuwan dapat terlihat ketika fungsi pembinaan (tarbiyah) dan penguatan aqidah dapat menjadi dua modal penting dalam membangun kepemahaman masyarakat guna memasuki Islam secara Kaffah. Para ilmuwan dapat menjadi sumber yang nantinya mampu menjembatani pemahaman ayat-ayat kauniyah dengan ayat-ayat kauliyah sehingga sejatinya fikrah manusia dikembalikan kepada pengeesaan hanya kepada Allah SWT semata, tanpa kemudian ada pertentangan kembali di dalamnya. Maka, mulai saat ini tidaklah ada rasa takut bagi kita, para ilmuwan untuk kemudian menggunakan identitas kemusliman untuk terus menegakkan kalimat Allah dalam setiap pembinaan yang diikhtiarkan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Abrory Agus Cahya Pramana
Mahasiswa S1 Fakultas Biologi, Ketua Kelompok Studi Herpetologi Fak. Biologi UGM, Santri PPSDMS Nurul Fikri Regional 3 Yogyakarta, Anggota Jamaah Mahasiswa Muslim Biologi. Tertarik dengan dakwah dan penyebaran Islam melalui spreading knowledge.

Lihat Juga

Ustadz Ruslan Effendi (kiri) bersama Ustadz RahmatAbdullah (kanan). (IST)

Innalillahi, KH Ruslan Effendi Meninggal Dunia

Organization