Sahabat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (iluvislam)
Ilustrasi (iluvislam)

dakwatuna.com Mungkin terlalu sederhana untuk disampaikan, tapi rasanya dada ini tak kuasa menahan gejolak untuk tidak menyampaikannya. Mungkin terlalu kecil untuk diperbincangkan, tapi rasanya bibir ini sudah tak sanggup menahan kata-kata untuk tidak membicarakannya. Walau sedikit, semoga ada pemahaman baik yang didapat.

Sahabat, satu kata yang punya banyak definisi. Sahabat, tiga suku kata yang punya segudang persepsi. Dan sahabat, tujuh huruf yang punya kekuatan maha dahsyat. Ya, seperti yang telah aku sampaikan tadi, topik ini terlalu sederhana, bahkan umum malah, tapi sesederhana apa pun itu, tetap dunia akan selalu menyisakan satu tempat khusus untuk topik ini.

Jika kau dipukul, dan kau didapati sedang meringis menahan sakit oleh sahabatmu, maka sahabat yang baik tidak akan pernah bertanya “apakah kau baik-baik saja?”, tapi dia akan langsung  menggenggam tanganmu dan berkata, “bawa aku pada orang itu, akan kupukul balik dia!.”  Sebuah statement yang cukup mampu menggambarkan bahwa sejatinya seorang sahabat itu tidak butuh kata-kata untuk mengobati luka sahabatnya. Jelas tindakan jauh lebih penting, sebab dengan itu perubahan bisa terjadi. Kalau hanya bicara, semua orang juga bisa. Tapi kalau untuk mengambil tindakan atas masalah yang sedang menimpa maka pasti hanya orang-orang yang benar-benar paham atas segala kondisi sahabatnyalah yang bisa melakukannya.

Jika kau bercerita tentang cita-citamu, dan sahabat mu mendengar dengan antusias, maka sahabat yang baik tidak akan merespon “semoga kau mendapatkannya, teruslah berjuang, sobat!” tapi dia akan menarik kerah bajumu dengan sangat erat seolah ingin mencekikmu dan berbisik “aku orang pertama yang akan kecewa jika kau gagal mewujudkannya.” Ya, ikatan murni yang terjalin antara sahabat dengan sahabatnya akan menuntun sebuah keharusan yang memang mutlak dilakukan demi kebaikan dan kegemilangan masa depan sang sahabat. Sebab, jika hanya mampu mengungkapkan ‘kesemogaan’ jelas siapa saja leluasa melakukannya.

Jika kau bertengkar hebat dengan ayahmu di rumah, lalu kau menelepon sahabat mu, maka sahabat yang baik tidak akan pernah mengajak “malam ini kau tidur di tempat ku saja, sampai suasananya kembali tenang.” Tapi dari seberang telepon sana dia akan menghardikmu “bodoh! selesaikan perkara itu malam ini juga! Selesaikan baik-baik, Ayahmu dan kau hanya butuh pengertian untuk bisa menuntaskannya” tepat sekali, letak kebaikan dan kepedulian seorang sahabat bukan pada keputusan pendek yang akan memperkeruh masalah. Namun lebih kepada pembenahan kekeliruan, bahkan berani memarahi jika sahabatnya tidak benar, sebab kehadirannya bukan untuk membenarkan semua apa yang sahabatnya lakukan tapi lebih kepada mengarahkan kelakuan sahabatnya kepada yang benar.

Beberapa ilustrasi di atas rasanya cukup bagi kita untuk detail memahami apa itu sahabat. Dalam Islam pun, kata sahabat bukan lagi sebuah kumpulan fenom baru yang asing. Resapi lagi cerita Rasulullah, dengan sahabat beliau mengukir sejarah, dengan sahabat beliau menuliskan pesan hidup untuk kita, dan dengan sahabat beliau meninggalkan banyak pengajaran. Indah bukan? Menakjubkan bukan? Maka ketika kau menjadi seorang sahabat dari sahabat mu, jalinlah hubungan persahabatan itu seperti hubungan Rasul dengan sahabat beliau, jika tidak bisa sama maka ambillah separuhnya. Tidak akan pernah ada penyesalan di hati orang-orang yang mencintai sahabatnya karena cintanya pada ALLAH, meskipun suatu saat nanti ada perselisihan yang terjadi di antara mereka. Namun ombak yang datang adalah lem perkokoh hubungan persahabatan di antara mereka. Jika mereka arif dalam mengambil keputusan untuk menyelesaikan permasalahan itu.

Haruskah kita selektif dalam memilih sahabat? Maka jawabannya adalah ‘harus’. Mengapa? Karena sahabat adalah cerminan dari kita. Seperti apa tingkah laku kita maka orang akan mendapatinya ada dalam diri sahabat kita. Pelarut yang kuat akan tetap terlarut bila dimasukkan dalam larutan dengan level lebih tinggi dari pelarut itu sendiri. Artinya, meskipun kita tidak termasuk pada orang yang melanggar norma, namun bila berteman dengan mereka yang sering melanggar norma, dan intensitas kita lebih sering dengan mereka, maka sedikit banyaknya kita pasti akan terbawa. Karena sifat lumrah manusia adalah cepat pada perbuatan maksiat dan berat jika harus bertaubat. Itulah sebabnya kita mesti mempertimbangkan terlebih dahulu hubungan persahabatan kita. Demi kebaikan, bukan bermaksud untuk membeda-bedakan teman, maka kita dianjurkan untuk memilih orang yang kita percayai. Ambillah orang yang akan senantiasa membawa kita kepada kebaikan, menjauhkan kita dari perbuatan sia-sia, dan senantiasa berlomba dalam langkah kebenaran.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 7,17 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Zerry Izka
Mahasiswi Psikologi Unand. Ingin menjadi penulis inspiratif. Saat ini sedang menggarap satu buku nonfiksi bergenre psikologi, dan 2 novel.

Lihat Juga

Ilustrasi. (dakwatuna)

Respons Ulama Sunni Terhadap Pengkafiran Sahabat Rasulullah SAW