Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ada Apa Setelah Ramadhan?

Ada Apa Setelah Ramadhan?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comHai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS Al Hujurat: 13)

Bertaqwalah kepada Allah di manapun kalian berada, ikuti keburukan dengan kebaikan yang akan menghapusnya, dan pergauli manusia dengan akhlaq mulia (HR Tirmidzi)

Gundhul-gundhul pacul cul gembelengan, nyunggi-nyunggi wakul kul gembelengan, wakul ngglimpang segane dadi sak latar… wakul ngglimpang segane dadi sak latar              (Sunan Kalijaga)

Sepatutnya kita bersyukur karena Allah SWT menghadiahkan kita hadiah terbaik, yaitu Ramadhan yang finish-nya adalah menuju taqwa. Pertanyaan besar yang seharusnya kita ajukan pada diri ini, adalah bagaimana setelah Ramadhan? Dapatkah kita mempertahankan kebaikan selama Ramadhan setelah nanti ia meninggalkan kita? Atau sebaliknya, akankah sekian banyak ibadah yang begitu luar biasa selama Ramadhan akan kita tinggalkan setelah usai Ramadhan? Semoga Allah SWT melindungi diri kita dari perumpamaan-Nya berikut.

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali…” (QS An Nahl: 92).

Mengantisipasi jawaban bagi pertanyaan di atas, Nabi SAW berpesan dengan tiga hal.

Pertama, bertaqwalah kepada Allah di manapun engkau berada. Di manapun, dalam keadaan apapun, dan dalam kondisi bagaimanapun, Rasul-Nya berpesan agar kita selalu ‘menjaga Allah’. Menjaga perintah-Nya, menjaga diri dari larangan-Nya. Dan Ramadhan telah mengajarkan kita selama sebulan. Tanda taqwa yang paling utama adalah muraaqabtuLlaah (merasa terus diawasi Allah). Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan menulis dalam Tarbiyyah Ruuhiyyah, lima langkah menjaga taqwa adalah Mu’aahadah, Muraaqabah, Muhaasabah, Mu’aaqabah, dan Mujaahadah. Inilah rahasia mengapa waktu kematian manusia hanya diketahui Allah SWT. Allah SWT berpesan,

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (QS Ali Imran: 102).

Kedua, ikuti kesalahan dengan kebaikan yang akan menghapusnya. Tidak ada satupun manusia pasti berbuat salah. Sebagaimana pesan Nabi SAW, “Setiap anak Adam bersalah, dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah mereka yang bertaubat”. Menghapus kesalahan terbaik adalah dengan melakukan kebaikan. Allah SWT berfirman,

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” (QS Ali Imran: 133-135).

Ketiga, perlakukan manusia dengan sebaik-baik akhlaq. Bahkan Rasulullah SAW menjaminkan keimanan kita kepada Allah SWT dengan akhlaq mulia. “Seutama-utama iman seorang mukmin adalah yang paling baik akhlaqnya”. Dalam sabdanya yang lain, “Seorang muslim adalah orang yang lisan dan perbuatannya membuat orang lain merasa tenteram (damai)”. Beliau SAW menambahkan, “Seorang mukmin adalah orang yang harta dan darah manusia merasa aman darinya”. Tidak perlu heran mengapa Rasulullah SAW bersabda demikian, karena Allah SWT mengamanatkan pada kita,

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS Al Anbiyaa’:107).

Dengan bahasa lain, syair Gundhul-gundhul Pacul yang konon ditulis Sunan Kalijaga pada tahun 1400-an, menguatkan pesan Nabi SAW di atas. Gundhul adalah kepala plonthos tanpa rambut, melambangkan kepala (kehormatan) tanpa rambut (mahkota). Pacul (cangkul) adalah alat bagi petani, lambang ‘kawulo alit’. Orang Jawa mengatakan pacul adalah ‘papat kang ucul’ (empat yang lepas). Gundhul pacul diartikan seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang mulia/terhormat karena mahkota tetapi ia terhormat karena membawa pacul untuk menyejahterakan rakyatnya. Dan kemuliaannya bergantung dari empat yang tidak lepas, yaitu mata, telinga, hidung, dan mulutnya. Jika keempatnya lepas kontrol, lepaslah kemuliaan darinya. Gembelengan artinya besar kepala, sombong, dan bermain-main dengan kehormatannya. Gundhul-gundhul pacul cul artinya jika orang kepalanya sudah kehilangan empat indera di atas maka gembelengan (congkak, sombong, menolak kebenaran, dan merendahkan orang lain). Saat nyunggi-nyunggi wakul kul (memegang atau memikul amanat yang mestinya menjadi kehormatan) tapi gembelengan (ia berlaku sombong), akibatnya wakul ngglimpang (amanat jatuh tidak dapat dipertahankan) segane dadi sak latar (berantakan, sia-sia, tidak bermanfaat bagi diri maupun bagi kesejahteraan manusia).

Semoga Allah SWT selalu membimbing kita hingga akhir Ramadhan, setelah Ramadhan, bahkan sampai akhir hayat kita meraih husnul khatimah. Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. “Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab” (QS Ghaafir: 40)

Disampaikan pada Buka Puasa Bersama Universitas Panca Sakti Kota Tegal sekaligus Malam Renungan HUT Kemerdekaan RI ke-68 

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ghusni Darodjatun
Pendidik di MTs Negeri Margadana Kota Tegal. Pembina Yayasan Ribathul Ukhuwwah (penyelenggara Sekolah Islam Terpadu Usamah) Kota Tegal. Anggota Presidium Forum Silaturahim Umat Islam Kota Tegal. Anggota Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kota Tegal.

Lihat Juga

Ilustrasi. (huffingtonpost.com)

Muhasabah Ramadhan

Figure
Organization