Home / Pemuda / Cerpen / Kirana, Sepotong Cinta dari Penjara

Kirana, Sepotong Cinta dari Penjara

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – “Jangan menyerah…jangan menyerah…”

Lantunan lagu dari salah satu grup band Indonesia pun terdengar dari handphone ku, pertanda seseorang menghubungiku.

“Ya Hallo! Assalamu’alaikum ibuku sayang… Ehm…okey tunggu sebentar ya bu…nanti Kirana segera ke sana….”, jawabku singkat sambil mencari kunci mobil dan perlengkapanku seperti biasa.

==

Kali ini pasienku seorang ibu muda tindak kasus narkoba. Usia kandungannya masih 8 bulan lebih 2 minggu, namun sudah mengalami kontraksi. Sayangnya, rumah sakit yang memberikan pelayanan yang layak cukup jauh.

Sesampainya di bangsal penjara, aku pun segera menyiapkan peralatan persalinan. Dibantu dengan petugas lapas dan beberapa napi lainnya, kami pun melakukan persalinan. Hampir sekitar setengah jam, kami berjibaku dengan waktu. Rata-rata kelahiran anak pertama memang terbilang sulit. Fatalnya, air ketuban sudah lama pecah. Bisa jadi air ketuban itu terminum sang bayi. Sungguh kasihan.

owek….owek…owek….”, tangisan sang bayi perempuan pun akhirnya membahana di seantero lapas wanita ini. Beberapa napi yang menyaksikan pergulatan ibu muda itu pun bertepuk tangan saat bayinya melihat dunia ini. Bahkan beberapa ibu mengeluarkan air mata sedih bercampur bahagia atas kelahiran seorang bayi di balik jeruji besi.

Segera saja, setelah semua urusan dengan sang ibu muda, aku pun mulai mengurusi bayinya. Bersama ibu kepala lapas, sang bayi segera saja dibawa ke rumah sakit terdekat dengan mobil jeep kesayanganku. Sang bayi harus segera mendapatkan perawatan karena ia lahir prematur. Apalagi sekujur tubuh sudah terlihat membiru.

Tangisan bayi terdengar melemah saat mesin mobil dihidupkan. Apalagi selama perjalanan, tangisan bayi tak terdengar dan denyut jantungnya mulai lemah. Harap cemas menghantui kami berdua. Perjalanan berpuluh-puluh kilo meter menuju rumah sakit yang terbilang lebih baik memang mendebarkan hati. Hingga ibu kepala lapas yang berada di kursi sebelah kiri, terlihat pucat pasi sambil berkata, “Bu dokter…bayi ini sudah tidak bernapas lagi…”

==

Hujan mulai mengguyur desaku yang terletak di daerah pesisir wilayah Indonesia Timur. Hujan seakan tahu persis apa yang sedang berkecamuk dalam hatiku. Hujan yang telah lama tidak turun, kini menemani tiap tetes air mata yang mengalir di pipiku. Termenungku dalam diam di tepi pantai.

Sejak pemakaman sang bayi kemarin, aku hanya terdiam membisu. Malas makan dan melakukan apapun. Aku terpukul dengan suasana kemarin. Aku benar-benar marah saat melihat ibu sang bayi. Tak pernah ada rasa sedih dari wajahnya. Nyaris saja aku ingin menampar si ibu, saat melihat si ibu tersenyum ‘licik’ ketika aku membawa sang bayi yang tidak tertolong lagi. Semua ini karena si ibu tidak menginginkan sang bayi lahir ke dunia. Untungnya, ibuku menahanku dan meminta untuk meredam emosi.

Akhirnya ibuku menyarankan aku sekadar berjalan-jalan di pantai. Hatiku tersayat dan begitu amat marah pada peristiwa yang terjadi. Terlebih aku marah pada diriku sendiri. Mengapa tak segera saja dilakukan penanganan pada sang bayi saat di lapas, atau membawa segera sang ibu ke rumah sakit. Segala bentuk perasaan membuatku berteriak marah, “Arrrrrrrrrrgh…..”

Sejenak ku menarik napas dan menjernihkan pikiranku. Ku sadari betul bahwa semua pilihan pasti memiliki resiko. Hela napasku bersama titik-titik hujan, seakan mulai meredakan panasnya hati.

Kejadian kemarin sebenarnya tidak sebatas sikap ibu muda itu saja, tapi lebih lagi. Lembaran kelam di masa kecil seakan terbuka kembali dalam memori alam bawah sadarku. Namun, seketika renunganku terusik dengan kehadiran seorang laki-laki gagah yang membawa payung. Ia pun menghampiri dan menaungiku dengan payungnya. Diam tanpa kata, hanya sekadar melindungiku.

“Kenapa kamu datang ke sini? Mau apa?” tanyaku dengan nada tinggi

“Aku tadi main ke rumah, tapi kata ibu, kamu sudah dari tadi di pantai. Hujan-hujan kayak gini kenapa ndak langsung pulang sih? Nanti kalau bu dokter Kirana sakit, gimana pasiennya?”, ungkap Hendra sambil tersenyum, tapi aku hanya terdiam.

Selepas percakapan itu pun aku berdiri dan berjalan menuju rumah. Hendra, laki-laki gagah itu, menemaniku dalam diam. Tanpa banyak bicara. Ia paham betul dengan tingkahku kalau sedang murung. Tak usah banyak bicara. Cukup memberikan payung yang lain untukku, kami pun berjalan terpisah. Dan hanya diam.

==

“Sudah ku bilang, aku  tidak  mau… biarkan aku dalam kesendirian bersama ibuku…aku tak layak untukmu. Pilihlah wanita yang lain…” ungkapku selepas bersih-bersih diri. Hendra hanya tersenyum simpul sambil berkata, “Bu Dokter Kirana ini kenapa bilang tak layak untuk saya? Bu dokter lembut,  rajin ibadah dan terpenting hatinya baik sekali…mau ya bu jadi istri saya?”

“Gila kamu…polisi macam apa ini…sudah berulang kali ku bilang tidak…ya tidak…”

“Apa Bu dokter tidak suka saya? Kalau saya lihat, sepertinya Bu dokter suka saya…ibunya Bu dokter juga bilang begitu..”, goda Hendra padaku.

“Gila kamu…pede banget sih…”, ungkapku sambil tersenyum kecil

Hendra, seorang polisi yang berasal dari Jawa. Hampir 3 tahun ia ditugaskan di daerahku. Gagah, rajin ibadah, dan mapan memang sudah menjadi ciri khasnya. Di umurnya sekarang, ia begitu siap memasuki fase pernikahan seperti siapnya seorang polisi menjalankan tugas. Begitu banyak wanita yang tertarik padanya. Sayangnya, tak ada satu pun wanita yang tertambat dalam hatinya. Hanya aku saja, Kirana, yang malah tidak ingin mencintainya.

Memang sebenarnya ada perasaan suka terhadapnya. Kondisiku yang tidak memungkinkanlah yang memaksaku untuk tidak mencintainya. “Tak perlulah kamu memilihku, karena aku hanya membuatmu susah.” Kalimat itu yang menjadi penutup perjumpaanku kali ini.

==

“Ibu ingin kamu pertimbangkan baik-baik saat memilih anak angkat ibu, Kirana”, ungkap ibu kepala lapas kepada Hendra.

“Iya bu…saya siap dengan segala resikonya!”

“Kirana itu ibu angkat sebagai anak. Ia adalah anak seorang napi wanita di lapas tempat ibu bekerja. Kirana sebenarnya tidak pernah diharapkan oleh wanita itu. Segala macam cara dilakukan untuk menggugurkan kandungannya. Namun, setelah banyak pendekatan mulai hamil lima bulan hingga melahirkan, wanita itu pun akhirnya sadar mengurus Kirana.  Saat Kirana berumur 2 tahun, si ibu dihukum mati. Ayahnya tidak tahu siapa dan di mana, karena sejak dulu sang ibu tidak mau berbicara. Akhirnya ibu berinisiatif mengambilnya sebagai anak. Bersama Bapak kami rawat Kirana baik-baik. Namun, karena sang ibu pernah melakukan berbagai cara untuk menggugurkan kandungannya, hingga makan segala macam obat membuat Kirana sering sakit-sakitan hingga saat ini…”, ibu terdiam sambil terisak

Hendra mengusap punggung ibu yang sudah berumur kepala enam itu. Sambil terisak sang ibu pun melanjutkan pembicaraan,

“Cerita ini kami simpan rapat-rapat, sampai suatu saat Kirana mengalami kecelakaan. Kami harus mencari donor darah untuknya, namun darah Ibu dan Bapak tidak ada yang cocok. Saat itu masih ia masih SMA. Karena peristiwa donor darah itu, Kirana bertanya tentang asal muasal dirinya kepada kami. Mau tidak mau, kami pun memberitahu kondisi yang sesungguhnya. Semenjak itu, ia mulai menjadi pendiam. Hingga seorang kakak kelas menghiburnya dan mengajarnya mengaji atau liqa kalau tidak salah, ia pun berubah. Ia mulai bangkit dan semakin giat belajar hingga menjadi seorang dokter saat ini. Nah… kejadian di lapas kemarin itu membuatnya membuka lembaran kelamnya dulu. Di pikirannya, mungkin apa yang dirasakan sang bayi itu, pernah ia rasakan saat bayi dulu…”

Suasana sore ini begitu sunyi. Hanya semilir angin yang menemani pembicaraan ibu dan calon menantunya. Awan pun mendung kembali. Suara teh panas dituangkan ke dalam gelas seakan memecah keheningan,

“Ayo nak diminum dulu…maaf ya ibu ceritanya panjang banget…”

Hendra hanya tersenyum bijak

“Kini Bapak sudah tidak ada, jadi kalaupun nanti kamu menikah dengan Kirana, ya pakai wali hakim saja. Yang terpenting pesan ibu, kamu sampaikan baik-baik ke keluargamu di Jawa. Jangan sampai keluarga kaget dengan kondisi Kirana dengan latar kehidupannya itu….”

==

Memang Allah Maha Berkehendak. Setahun setelah pernikahanku dengan Hendra, kami mendapat kabar kondisi mertua yang kurang baik. Kami pun segera terbang ke tanah leluhurnya suami. Hari kedua kami di sini, aku mulai ikut terlibat membantu mengurus mertuaku. Pagi ini ibu mertua ternyata tak puas dengan pelayananku.

“Sabar ya dek…mamah mas memang kayak gitu…jangan diambil hati va…”ungkap Hendra kepadaku saat aku membuat bubur untuk ibu mertuaku.

“Ya Mas…ndak apa, namanya juga sudah tua jadi suka mau apa saja…mungkin buburnya harus lebih dikreasiin lagi…”

Percakapan pagi ini di daerah Jawa seakan mengingatkan aku pada ibuku di sudut dunia lainnya. Tapi tak apalah, sama-sama mengabdi pada orangtua.

Ibu Mas Hendra mengalami stroke sekitar 3 bulan yang lalu. Badan sebelah kirinya sulit digerakkan. Sekarang kondisi ibu mertuaku sudah mengalami banyak kemajuan, bahkan dalam beberapa 3 bulan ke depan dikatakan akan sembuh total.

Kelima anaknya yang lain, entahlah ke mana. Mas Hendra hanya bilang kalau mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang mengurusi perusahaannya, ada yang tinggal di luar negeri, dan kepentingan lainnya. Semenjak Mas Hendra ditugaskan di daerahku, Ibu mertuaku hanya tinggal bersama dengan seorang pembantu. Sungguh simpati melihat kondisi mertuaku.

Setelah ibu mertuaku dianggap benar-benar sehat, aku dan Mas Hendra berencana akan tinggal di desaku. Di sana akan lebih mudah bagi kami semua untuk mengurus ibu mertuaku, ibuku, tugasku, tugas Mas Hendra, dan terpenting untuk calon buah hati kami.

==

Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Tahun pun ikut berganti. Mas Hendra kali ini menemaniku ke rumah sakit. Rutinitas tiap 3 bulan sekali, kami bersama-sama ke rumah sakit. Ditambah lagi hari ini, kami ditemani buah hati kami yang sudah berumur lima tahun.

“Bunda…nanti Rafli mau jadi dokter ya…biar Bunda ndak pucat kalau habis cuci-cuci di ruangan itu!” ungkap buah hati kami polos, sesudah aku melakukan cuci darah karena aku mengalami gagal ginjal.

==

Hening pagi hanya ditemani sayup-sayup angin dingin yang menusuk ke dalam tulang. Seakan pagi dan suasana hati masyarakat di desa itu, tersayat semilir angin. Hanya lantunan kalam Ilahi terdengar dari sebuah pondok kecil yang menyimpan banyak cerita.

“Ya Allah nduk…kamu terlalu baik…kamu sudah ngerawat ibu saat ibu stroke…” isak seorang ibu tua yang berasal dari Jawa sambil mengecup dahi badan tak bernyawa di hadapannya.

“Ibu Dokter…ya ampun, ibu dah begitu baik menolong saya melahirkan saat saya tidak punya uang sepeser pun…”, ungkap seorang ibu muda yang datang tak beralaskan kaki menghadiri rumah duka. Ia pun mengecup kembali dahi badan tak bernyawa itu.

“Anakku…terima kasih karena kau telah mengisi kehidupan ibu…ibu sayang kamu nak…”, ungkapan terakhir sang ibu yang telah sembab matanya sejak tadi malam sambil mengecup dahi anaknya yang kini tidak bernyawa.

“Sayang…aku mencintaimu…semoga kita kelak akan bertemu di surga-Nya…tunggu aku” laki-laki gagah itu mengecup kembali dahi wanita yang telah mewarnai kehidupannya.

“Bunda…Rafli nanti mau jadi dokter kayak Bunda. Rafli mau Bunda bersama kita lagi…ajak main Rafli…ajak belajar juga…Bunda…Rafli senang dengan senyum Bunda…ai lup yu Bunda…” sang buah hati badan tak bernyawa pun menambah derai isak tangis di pondok kecil itu.

Badan itu sekarang tak bernyawa lagi. Badan sang dokter yang lahir di dalam bangunan yang tak pernah diinginkan orang untuk tinggal di dalamnya. Badan yang telah mengabdikan seluruh hidupnya bagi masyarakat walau ia sadar memiliki masa lalu yang kelam. Badan yang telah mencurahkan kasih sayangnya untuk orang-orang terkasih. Ibu, suami, anak, dan ibu mertua menjadi pelangi indah baginya. Sungguh terlalu banyak kenangan dari orang hebat yang lahir dari jeruji besi seperti dirinya. Terlalu banyak kisah dari ia yang tumbuh tegar di dunia yang begitu keras. Karena ia adalah Kirana, sepotong cinta dari penjara.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dhiyaudzdzikrillah, SP.
Dari Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa Jakarta yang sedang pengabdian di SDN 1 Wagola, Pasarwajo, Buton, Sulawesi Tenggara.

Lihat Juga

Love, Cinta, Valentine

Cinta Sebagai Energi Kemenangan