Home / Narasi Islam / Dakwah / Sepakbola Dakwah

Sepakbola Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Siapa yang tidak suka sepakbola?

Permainan yang sangat tidak asing hari ini. Rasanya hampir semua kalangan menyukai permainan ini, terutama saat menyaksikan tim sepakbola kesayangannya bertanding.

Jika kita cermati, dalam sebuah atmosfir pertandingan sepakbola pasti terdapat beberapa komponen yang melaksanakan tugas dan fungsinya masing-masing. Komponen pertama dan yang paling utama ialah para pemain yang berhimpun dalam sebuah tim. Ya, sebuah tim, karena sepakbola adalah olahraga tim, bukan individual. Pemain adalah aktor utama dalam pertandingan sepakbola. Merekalah yang memainkan peran utama di lapangan, yang berjibaku dengan segala tantangan. Para pemainlah yang merasakan langsung kontak fisik antar pemain baik kawan maupun lawan. Jika ada yang melakukan pelanggaran, mereka pulalah yang merasakan langsung efeknya. Entah terkena teguran wasit, atau terkena kartu. Jika ada yang mencetak gol, mereka juga yang dapat merasakan langsung bahagia dan bangganya. Saat timnya menang, para pemain dalam tim itulah yang benar-benar bisa merasakan nikmatnya sebuah kemenangan. Begitu pula dengan kekalahan.

Dalam sebuah tim juga ada pelatih yang tugasnya mengatur strategi timnya, yang merumuskan susunan pemain yang akan diturunkan, dan mengawasi terus pergerakan tim saat bertanding sambil mengevaluasi gerak tim dengan sesekali mengatur para pemain.

Komponen kedua yaitu penonton. Setiap pertandingan sepakbola pasti ada penonton yang menyaksikannya. Banyak maupun sedikit. Ada penonton yang berpihak pada satu tim tertentu, ada juga penonton yang barangkali netral. Tetapi yang kedua ini jumlahnya lebih sedikit. Penonton berperan pasif dalam pertandingan, karena memang mereka tidak ikut bermain. Dari tribun stadiun mereka menyorakkan yel-yel penyemangat bagi tim yang mereka dukung. Pun terkadang mereka mencela tim lawan. Sebenarnya hal itu sah saja, toh pertandingan sepakbola bukan terfokus pada penonton atau suporter, melainkan pada pemain-pemain yang sedang bertanding. Yang tidak boleh dilakukan oleh suporter adalah masuk ke tengah lapangan, lalu ikut bermain. Hal itu justru dapat merusak jalannya pertandingan.

Saat timnya menang, mereka bisa merasakan kemenangan itu, tapi tidak senikmat pemain-pemain yang merasakannya, karena mereka tidak berperan langsung dalam proses meraihnya. Pemainlah yang melakukannya. Begitupun saat timnya kalah. Walau kecewa tetapi tidak sekecewa pemain yang merasakannya. Bahkan ada pula penonton yang malah menyalahkan kinerja pemain padahal mereka sesungguhnya tidak merasakan langsung bagaimana beratnya perjuangan untuk menggapai kemenangan itu.

Komponen ketiga ialah komentator. Dalam setiap pertandingan sepakbola komentator tiada henti memandu, atau lebih tepatnya mengomentari pertandingan terutama pertandingan yang disiarkan di televisi. Pada dasarnya komentator bersikap netral. Namun terkadang ada pula yang lebih berpihak pada satu tim. Hal itu bisa terjadi karena komentator sudah tahu kapasitas tim-tim yang bertanding dan ia cenderung memihak salah satunya. Seperti penonton, komentator tidak boleh turun ke lapangan. Ia melihat dan mengomentari pertandingan dari jauh.

Komentator bertugas menganalisa pertandingan. Mulai dari analisa terhadap tim-tim yang bertanding maupun prediksi hasil pertandingan. Selain itu juga menyebutkan setiap kejadian yang terjadi selama pertandingan berlangsung. Oleh karena itu, komentator harus memiliki kapasitas pengetahuan tentang dunia sepakbola, lebih dari sekadar menonton.

Setidaknya tiga komponen itulah yang terdapat dalam setiap pertandingan sepakbola. Pun halnya dengan dakwah ini. Dalam percaturan dakwah setidaknya juga ada tiga komponen yang sifatnya sama, layaknya pertandingan sepakbola: pemain, penonton, dan komentator.

Da’i adalah orang-orang yang berperan langsung dalam dakwah, yang ‘turun langsung ke lapangan, bertanding, berjibaku dengan tantangan, dan kontak fisik dengan kawan maupun lawan’. Merekalah yang merasakan suasana yang sesungguhnya dalam berdakwah. Mereka membawa kebenaran dengan satu tujuan, memenangkan kebenaran di atas kebathilan. Saat kemenangan itu diraih merekalah yang benar-benar merasakan kenikmatannya. Merekalah yang bisa merasakan betapa bahagia dan bangganya saat kemenangan itu tiba.

Da’i tidak bisa bekerja sendiri. Ia tergabung dalam jamaahnya sebagai satu tim. Dalam mengatur gerakan dakwah perlu ada orang-orang yang mengatur strategi tim seperti halnya pelatih. Hal ini mutlak diperlukan karena kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir (Ali bin Abi Thalib).

Dalam dakwah juga ada orang-orang yang menjadi penonton, seperti halnya penonton pada pertandingan sepakbola. Ada penonton yang berpihak pada kebenaran atau kebathilan, ada juga penonton yang barangkali netral. Tetapi yang kedua ini kelak pasti akan cenderung ke salah satunya. Penonton berperan pasif dalam dakwah, karena memang mereka tidak ikut ‘bermain’. Dari ‘tribun stadiun’ mereka menyemangati para pejuang dakwah. Yang tidak boleh dilakukan oleh penonton adalah masuk ke tengah lapangan, lalu ikut ‘bermain’. Hal itu justru dapat merusak gerak dakwah yang sudah ditata oleh jamaah.

Saat kebenaran menang, mereka bisa merasakan kemenangan itu. Tetapi tidak senikmat para da’i yang merasakannya, karena mereka tidak berperan langsung dalam proses meraihnya. Para da’i-lah yang melakukannya.

Saat kebenaran bertarung dengan kebathilan, juga ada para komentator yang dengan setia memandu jalannya pertarungan. Mereka memiliki kapasitas untuk menganalisis pertarungan tetapi tidak menjadi pelaku utama, seperti halnya penonton. Mereka mengomentari setiap gerak dakwah, dengan komentar yang positif maupun negatif.

Harapan penulis, sebagai seorang muslim hendaknya kita mengambil peran strategis dalam dakwah fi sabilillah ini dengan menjadi pemeran utamanya karena di situlah letak keutamaannya. Sesungguhnya kemenangan dakwah itu dapat terwujud jika kita berada di tengah-tengah perjuangannya dengan segala tantangan dan rintangan, bukan di pinggir-pinggirnya yang hanya melihat dan mengomentari.

Jadi, sebagai siapakah kita?

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Hendra Prasetyo
Mahasiswa Jurusan Elektronika dan Instrumentasi, FMIPA, UGM. Tertarik dalam bidang pesawat tanpa awak. Aktif pula di Forum Silaturrahim Muslim Alumni SMA N 9 YK sebagai Ketua. Terdaftar sebagai santri di pesantren mahasiswa PPSDMS Nurul Fikri Regional 3 Jogjakarta.
  • ahmad zaini

    Bagaimana kalau permainan bola itu kita ambil hikmahnya secara menyeluruh untuk kehidupan kita bukan hanya untuk da’wah, misalnya : ada lapangan dengan batas-batas garisnya, ada aturannya, ada wasitnya, ada penontonnya, ada hadiahnya, ada seragamnya, ada gawangnya, dll. maka akan lebih bermanfaat lagi dan akan lebih membuka mata kita.

Lihat Juga

(Video) Penampakan Koreografi Bendera Palestina dan Indonesia di Laga Indonesia vs Malaysia