Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Hidup-Hidupilah Dunia Pendidikan!

Hidup-Hidupilah Dunia Pendidikan!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Bicara pendidikan, mungkin sudah hampir usang. Namun, terpaksa tidak boleh bosan karena PR yang belum terselesaikan pun masih banyak. Jika ingin negeri ini maju dengan intelektualitasnya. Jika ingin negeri ini maju dengan inovasinya. Jika ingin negeri ini maju hingga memperoleh kemakmurannya. Sudah sewajarnya, masalah pendidikan menjadi prioritas pemerintah dan masyarakat. Sudah bukan zamannya lagi orang itu bodoh dan tak berdaya. Dengan daya saing tinggi, persaingan ketat, globalisasi di depan mata, apalagi orang asing akan segera menjadi pesaing gamblang di negeri kita ini. Jika kita tidak bisa memposisikan diri sebagai empunya rumah, bisa jadi kita ditendang dari negeri sendiri atau mati kelaparan  di atas jerami negeri.

Salah satu pemeran penting pendidikan adalah tenaga pendidik. Guru. Guru bukan hanya sebagai tenaga pengajar yang mengajarkan materi. Namun mendidik anak didiknya supaya menjadi orang lurus yang berbudi. Memang sulit. Bagai lingkaran tak bertuan, masalah guru sendiri seolah berputar dan sangat kompleks untuk dipecahkan. Mulai dari rekrutmen tenaga guru yang menjadi guru. Coba kita lihat, latar belakang pendidikannya, riwayat hidupnya, pengalaman berharga sebagai batu loncatannya, niatannya menjadi guru, komitmennya, kesungguhannya, dan sebagainya. Kalau penulis menyatakan bahwa tidak semua guru seperti pahlawan tanpa tanda jasa, bisa jadi demikian. Tapi zaman sekarang, jika guru-guru yang tidak mengharap imbalan saja yang diangkat menjadi guru, bisa bisa masalah lebih parah karena sekolah-sekolah sepi tanpa guru. Jadi tidak dapat dinafikan, bahwa ada beragam faktor dari guru yang mempengaruhi kinerjanya.

Kemudian, mengenai kesejahteraan guru. Pelayanan yang diberikan dari pemerintah kepada guru,  penulis kira sudah lebih baik sekarang. Ada sertifikasi guru, tunjangan-tunjangan daerah terpencil, gaji ke-13, dan sebagainya. Sayangnya, mungkin ada motivasi yang keliru dan belum sempat dibangun dengan baik. Ketika pemerintah memberikan, sebaiknya memang dapat diterima dengan lapang dada dan digunakan kembali oleh para guru untuk kesejahteraan anak didik. Misalnya uang sertifikasi digunakan untuk membeli buku-buku ilmiah dan menjadi modal penelitian. Jika guru semakin baik kualitasnya, ilmu yang ia dapatkan pun akan diberikan pada anak didik sehingga anak didiknya juga semakin menjadi baik. Gaji ke-13 misalnya, untuk membantu anak didik yang kurang mampu dan tidak punya biaya sekolah. Sehingga anak-anak yang putus sekolah karena masalah biaya dapat tertangani tanpa harus menunggu lama dana BOS ataupun bantuan para wali murid.

Sayangnya, terkadang masalah ‘kesejahteraan’ dimaknai pendek sehingga bonus-bonus tersebut digunakan untuk meningkatkan ‘kesejahteraan’ para guru saja. Merasa belum mapan, merasa belum cukup, merasa belum punya motor, mobil, laptop, alat elektronik, dan sebagainya. Apalagi merasa belum kaya dan puas dengan apa yang didapatkannya. Mungkin sebaiknya kita memang perlu mengeliminasi  term ‘kaya’ dan ‘puas’ agar kedua hal tersebut tidak perlu menjadi tujuan hidup manusia. Sungguh disayangkan jika ‘kaya’ dan ‘puas’ menjadi term yang dimaknai dangkal dan merasa ‘harus dipenuhi’. Padahal kita tahu, manusia tidak pernah puas dengan apa yang diperoleh.

Guru, entah apakah sebutan tanpa tanda jasa adalah penghargaan karena jasanya atau harapan yang diinginkan agar guru tak banyak menuntut dan selalu luhur dalam berbuat? Penulis belum bisa menjawab. Namun, apapun bentuk guru, mari merevitalisasi kembali peran guru, makna guru, pemahaman, dan pola pikir tentang guru. Mari perluas makna guru, bukan saja sebagai profesi dan terbatas pada orang-orang yang ada di sekolah/ institusi pendidikan saja. Karena guru adalah pendidik, manusia mulia yang ilmunya kan mengalir selamanya. Maka, jadilah guru yang selamanya mau terus belajar, mengajar, dan menjadi orang-orang yang senantiasa menebar manfaat bagi sesama, terutama bagi anak didik dan dunia pendidikan di Indonesia.

Jika K.H. Ahmad Dahlan mengatakan “Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah”, mungkin bisa dianalogikan secara awam, “Hidup-hidupilah dunia pendidikan dan jangan mencari hidup di dunia pendidikan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi Psikologi UI 2010, suka dengan topik perempuan. Hobi diskusi dan jalan-jalan.

Lihat Juga

Hidupmu untuk Apa?