Home / Narasi Islam / Politik / Tinjau Ulang Fatwa Haramnya Demokrasi

Tinjau Ulang Fatwa Haramnya Demokrasi

Karakter Dakwah Membuat Musuh Islam Kesal

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Salah satu hasil dakwah adalah membuat musuh kesal. Mereka merasa rugi karena adanya dakwah. Oleh karenanya musuh Islam selalu membuat gerakan menghalangi dakwah. Kekesalan musuh karena keberadaan dakwah disebutkan dalam surah yasin. Allah berfirman:

“Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami.” (QS. 36:18)

Kenapa musuh Islam mengkambing-hitamkan dakwah  dan merasa bernasib malang? Jawabannya adalah karena karakter dakwah adalah merubah. Ketika para Rasul berdakwah ke negeri tersebut dan berusaha mengadakan perubahan maka mulailah musuh Islam terpojokkan dan merasa dirugikan.

Salah satu perubahan yang diciptakan dakwah adalah perubahan dalam aturan hidup. Merubah dari aturan jahiliyah menuju aturan cahaya Islam. Allah berfirman:

“Alif, laam raa.(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (QS. 14:1)

Secara jelas ayat ini menyebutkan tujuan diturunkannya Al-Quran yaitu merubah manusia dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam. Di titik inilah kemarahan musuh Islam terpicu. Karena bagi musuh Islam, aturan jahiliah menguntungkan dan menjadi jalan memperoleh dunia. Ketika aturan tersebut dirubah menjadi islami, mereka merasa kepentingan mereka terganggu.

Jadi, dakwah yang benar adalah membuat musuh Islam marah, dan bukan sebaliknya, membuat musuh gembira. Marah dikarenakan kepentingan dunia mereka terancam.  Kesal disebabkan oleh arus perubahan yang mengarah kepada  nilai dan aturan islami.

Fatwa Harus ditinjau dari Sisi Maslahah dan Mafsadah

Apabila Al-Quran menegaskan bahwa dakwah adalah membuat musuh Islam kesal. Maka nilai inipun harus ada ketika berfatwa. Fatwa tidak boleh menghasilkan manfaat bagi musuhIslam. Juga tidak boleh menimbulkan mafsadah bagi Umat Islam.

Oleh karenanya tahapan akhir dari sebuah fatwa adalah at-tathbiiq. Dalam fase ini fatwa ditinjau dari sisi maslahat dan mafsadahnya sebelum dirilis.

Demokrasi Haram, Siapa Diuntungkan?

Sebagai contoh apabila seorang mufti berpendapat bahwa demokrasi haram, maka sebelum masalah ini difatwakan harus melalui fase tathbiiq.  Ditimbang mashlahah dan mafsadah dari hukum tersebut. Apakah fatwa demokrasi haram menjadi mashlahat bagi umat Islam atau sebaliknya menjadi mafsadah dan menguntungkan musuh Islam.

Secara kasat mata, fatwa haramnya demokrasi hanya menguntungkan musuh Islam. Sebab di negara yang menganut sistem demokrasi, akan terpilih pemimpin yang tidak berpihak pada kepentingan Islam, bahkan pemimpin yang non Islam. Ketika diadakan pemilu, Umat Islam tidak ikut serta karena fatwa demokrasi haram. Akhirnya musuh Islam, baik munafiq atau kafir, diuntungkan dengan fatwa ini.

Dalam kondisi seperti ini fatwa harus ditangguhkan dan tidak dilaksanakan. Rasulullah saw. pernah menangguhkan sebuah perintah dari Allah saw. ketika beliau melihat bahwa pelaksanaan perintah tersebut hanya akan menimbulkan mafsadah dan kerugian bagi umat Islam.

Hal ini terjadi ketika Allah swt. memerintahkan untuk membangun ulang Ka’bah sesuai dengan pondasi yang dibuat nabi Ibrahim. Rasulullah saw. berkata kepada Ibunda Aisyah ra. bahwa kalaulah bukan karena kaum Quraisy masih baru dalam memeluk Islam, beliau akan menghancurkan Ka’bah.

Kalaulah sebuah perintah ditangguhkan karena diperkirakan akan menimbulkan bahaya bagi umat Islam, maka demikian pula fatwa. Fatwa demokrasi haram hanya menguntungkan musuh Islam dan para munafik, maka hendaknya fatwa haram demokrasi harus ditangguhkan. Apalagi saat ini hukum demokrasi masih menjadi silang pendapat di kalangan ulama.

Memahami Fiqih Waqi’

Ketidak-setujuan sebagian ulama terhadap demokrasi harus ditinjau dari fiqih waqi’, yaitu memahami dengan cermat situasi dan realita. Hal ini sangat penting dalam menentukan pendapat dan sikap. Rasulullah saw. tidak menghancurkan berhala yang terdapat di sekeliling Ka’bah ketika beliau masih berada di Makkah. Berhala-berhala tersebut baru dihancurkan ketika fathu Makkah, tahun 8 Hijriyah. Apakah pembiaran Rasulullah saw. terhadap berhala, semasa beliau di Makkah, akan  kita nilai tidak islami? Atau Justru mengajarkan kepada kita fiqih waqi’? Marilah kita bijak dalam menyikapi realitas kehidupan. Wallahu A’lam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dr. H. Mohamad Taufik Qulazhar, MA. MEd.
Direktur Mahad Aly An-Nuaimy.
  • Irkhamov

    Bagaimana mau meninjau ulang wong bagi penganutnya keharaman demokrasi itu persoalan yg ushul alias ‘harusnya’ tidak ada khilaf di antara para ulama ? Masih inget dulu ada buku yang mengatakan bahwa “matahari itu mengelilingi bumi” dan itu “katanya” diambil di nash2 yg ada di Al Qur’an dan bukan ta’wil, sehingga kalo mengingkarinya maka keimanannya terutama terhadap kitab suci diragukan. Nah lo, urusan matahari atau bumi yang berevolusi ato berotasi aja dikait2kan dengan keimanan koq, apalagi yg demokrasi itu. Kalo saia sendiri seh, numpang senyum aja ah…..

  • Naswa Hanifah

    Panteslah pabrik miras ga bisa dibrantas wong pekerjanya, distributor juga konsumen nya mayoritas muslim gitu ?????? …….. haduh-haduh penulis doktor nih ?????

    • Abu Kayyis

      Kalo lihat backgrounnya, seperti orang HaTe-I (para pengkhayal khilafah), padahal khilafah itu kata Rasulullah Saw. hanya berlangsung 30 tahun (sampai akhir khilafah Husein bin Ali ra.) Berarti sejak masa Muawiyah, pemerintahan Islam bukan lagi Khilafah, tetapi MALIKAN ‘ADDHON (buktinya kekuasaan turun-temurun). Terus apa bedanya KHILAFAH versi HTI dengan MONARKI???

      Kalo mencermati Sirah Nabi & Sahabat ra. saya memahami bentuk pemerintahan tak penting menurut Islam, baik berbentuk KHILAFAH, MONARKI atau DEMOKRASI. Namun, yang penting adalah penegakan hukum Islam dalam sistem politik yang dianut. Dalilnya, ketika Raja Yaman, Badan, masuk Islam, Rasulullah Saw. tidak memerintahkan untuk merubah bentuk pemerintahannya, tetapi Beliau memerintahkannya untuk menerapkan hukum Allah dalam sistem pemerintahannya.

    • eman mangopa

      musuh dalam islamlah yg menggerus umat,,, bodoh

  • dlyind

    Dengan membiarkan apa Rasulullah ikut nyembah berhala boss??…tentu tidak…jadi kenapa kita harus ikut demokrasi??????? tentu tidak!!!!!!!

    • Abu Kayyis

      Bro, anda salah kalo menyamakan demokrasi dengan berhala (qiyas ma’al fariq). Berhala dibuat untuk disembah (dijadikan sebagai tuhan), sedangkan demokrasi hanyalah sistem politik (seperti halnya monarki & khilafah dalam islam) yang menjadi SARANA (bukan TUHAN) untuk mengatur politik suatu bangsa..

      • dlyind

        Gini bro. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada
        anda, saya harus mengatakan bahwa saya tidak sependapat dengan anda (bukan menyalahkan, tapi tidak sependapat), alasannya dengan bahasa sederhana sebagai berikut:

        Yang mengambil contoh berhala dan demokrasi adalah bukan saya, melainkan sang penulis artikel. Saya hanya bermaksud menunjukan bahwa walaupun Rasulullah tidak menghancurkan berhala pada waktu itu, tetapi beliau menolak untuk mengikuti menyembah berhala, bahkan setelah ditawari oleh kaum kafir qurais, beliau tetap menolak. Sehingga hal ini lah yang menjadikan Asbabun Nuzul surah al-Kafirun.

        Yang dimaksud kondisi yang tidak memungkinkan bagi Rasulullah disini bukanlah karena kekuatan Islam masih lemah ataupun kafir terlalu kuat, melainkan karena belum turunnya perintah Allah untuk melawan. Tercatat pada saat perang badar, kekuatan kaum musliminpun masih sangat lemah,
        tetapi Rasulullah tetap memimpin pasukan untuk menghadapi kaum kafir,
        disebabkan perintah Allah sudah turun dan yakin bantuan Allah adalah pasti. Sampai pada akhirnya saat mekkah dapat dikuasai, dengan tangkasnya Rasulullah dibantu para sahabat menghancurkan berhala – berhala tersebut.

        Selanjutnya, demokrasi atau monarki dll tidaklah sesederhana yang anda bilang (hanyalah system politik belaka). Seperti firman Allah SWT
        dalam surah 51 ayat 56 Allah berfirman: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”. Artinya SETELAH memenuhi rukun Islam (syahadat, shalat, zakat, puasa, haji bagi yang mamapu) setelah itu apapun yang kita lakukan di muka bumi ini adalah dalam rangka ibadah kepada Allah. Ibadah yang dimaksud dalam ayat ini adalah ibadah yang sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah melalui Al-Qur’an dan sunahnya, harus kita ketahui agama Islam telah sempurna (al-Ma’idah 3), dan demokrasi adalah tidak termasuk yang diajarkan Rasulullah. Bahkan yang kita sebut sebagai pesta demokrasi dimana kita memilih orang yang minta dipilih jadi pemimpin, sesungguhnya Rasulullah dalam hadist sohehnya telah melarang kita memilih orang yang minta untuk dipilih.

        Disebabkan Islam telah sempurna dan seluruh perintah untuk umat dalam menjalani kehidupan semua telah diturunkan (Al- Qur’an) dan dicontohkan (Sunnah/hadist) dan didalamnya tidak terdapat perintah ataupun contoh
        mengenai demokrasi, sehingga gugur alasan bagi kita saat ini untuk
        mengatakan “saatnya tidak memungkinkan bagi kita untuk melawan demokrasi, karena kondisinya belum memungkinkan”.

        Yang terakhir, boleh saya katakan termasuk serendah – rendahnya Iman adalah diam dengan menjadi Golput. Bahwasanya tidak semua orang golput itu beriman, namun orang yang beriman secara Islam sepatutnya golput.

        Sekalian aja brooo, supaya ntar gak salah sangka, banyak orang yang bilang bahwa saya wahabi dan radikal….apabila menjalankan Islam mengikuti yang diajarkan Rasulullah melalui Al-Qur’an dan sunahnya dikatakan wahabi dan radikal, maka saya adalah wahabi dan radikal.

        LA ILAHA ILLA ANTA, SUBHANAKA, INNI KUNTU MINAZ ZALIMEEN

        Walahualam, kebenaran hanya pada Allah SWT semata.

      • abu hanifa

        tapi demokrasi itu, acuannya Suara rakyat suara tuhan, dalam Islam suara Tuhan adalah AlQuran, apakah dengan banyaknya suara rakyat, berarti suara tuhan……?

  • Alfian Kurnia

    Saya setuju dengan anda. Terlalu banyak orang munafik dan bodoh di negeri ini yang memberi argument tanpa ilmu yang memadai, karena mereka hanya belajar dari satu sumber saja tanpa membandingkan semua ilmu dari berbagai sudut pandang.

  • gbison

    >>Apakah fatwa demokrasi haram menjadi mashlahat bagi umat Islam atau sebaliknya menjadi mafsadah dan menguntungkan musuh Islam.

    gw gk baca ttg mashlahat bagi umat islamnya.. anda dokter.. nulis kok jeleknya doank.. gk nulis bagusnya..

    • Sejuki

      Islam itu mayoritas. Tentu saja demokrasi amatlah menguntungkan bagi Islam. Apa ente tidak mengkajinya sampai ke sana Boss???

  • ahmad kurniawan

    mhn maaf nih akh/ukh sblmnya, saya boleh numpang menyampaikan pendapat saya yak. Saya sering yak nemuin kejadian (saling berdebat/saling menjatuhkan/saling menyalahkan) antar saudara baik itu (maaf) HTI, TARBIYAH, SALAFY, JT, Jamaah majelis dzikir dan lain sebagainya. rasany MIRIS, SEDIH, DONGKOL pasti yak. gmana nggak, toh kita yang insya ALLAH punya tujuan sama sebagai DA’I (penyeru amal ma’ruf nahil munkar) menegakkan agama ini karna ALLAH ! hanya saja sarana/kendaraan/jalan/sistem yang kita gunakan berbeda maka haruskah kita saling menyalahkan dan merasa PALING benar ??? atw jgn2 perdebatan kita ini yg malah mengundang murkah ALLAH shg menjadi penyebab terhambatny tujuan DAKWAH ini ???
    pendapat saya sih yang menilai benar atw buruk semua usaha/proses yg kita lakukan adalah ALLAH SWT, insya Allah semua yg kita lakukan tidak akan luput dr perhitungan ALLAH baik itu KEBAIKAN2 atw pun KEBURUKAN2 yg kita lakukan selama usaha/proses DAKWAH kt masing2.
    kalo boleh saran, cukup lah jangan lagi kt saling salah/saling hujat. tingkatkan lah toleransi kt kpd sesama, selagi kt tdk menyentuh hal2 kesyirikan dan kemurtadan yg merusak AKIDAH (eg: ahmadiyah, dsb) . masih banyak loh ladang2 dakwah yg harus kt garap. masih banyak masalah2 umat yg harus diselesaikan.
    kan semakin kita bergerak dibidang kita masing2, mk semakin banyak & luas masalah2 umat yg bisa kt sentuh untk diselesaikan.
    Saya insya ALLAH kenal baik kok dgn semua baik itu: HTI,TARBIYAH,SALAFY,JT dsb. dan saya tsiqoh dgn semuany! jgn sampai ada lg lah perselisihan antara kt.
    okeh. Afwan
    Wallahu’alambishowab

    • Ridwan Rustandi

      setuju kang ahmad

Lihat Juga

Orang-orang yang Dimurkai Allah