Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ibuku Janda Kaya

Ibuku Janda Kaya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (VLAOSTUDIO)
Ilustrasi. (VLAOSTUDIO)

dakwatuna.com Rumah megah, kendaraan mewah, harta berlimpah, perhiasan emas permata, perabot serba mewah, dikelilingi para pembantu yang setia. Aaah… mungkin itu impian setiap manusia.

Ibuku janda kaya, tetapi dia bukan selebritis, atau pengusaha sukses. Dia hanya seorang wanita sederhana yang menghabiskan waktunya di rumah, mengurus ke 12 anak kandungnya plus lima anak tiri. Ya… bukan kekayaan materi, melainkan kekayaan jiwa, kesabaran dan kelapangan dada yang dimiliki karena keikhlasan dan keimanannya.

Dalam usia senjanya, ibuku masih terlihat cantik, kata orang waktu masih remaja, ibuku adalah kembang desa. Tetapi mungkin bukan sekadar itu yang membuat wajah ibuku terlihat lebih muda dari usia sebenarnya. Berfikir positif hingga hati tidak pernah menyimpan dendam. Wajah yang senantiasa dibasuh oleh air wudhu, membuat ibu tampak selalu berseri. Suka menolong sesama membuat ibu dicintai banyak orang. Ya… mungkin tiga hal itu yang membuat ibuku merasa bahagia di usia tuanya. Tubuhnya masih sehat, walau sebelah kakinya tidak bisa bertumpu hingga harus ditemani “kruk” untuk menyangga badannya saat berjalan. Kedua matanya masih awas, masih mampu duduk berjam-jam untuk tilawah Al Qur’an.

Ibuku janda kaya, bukan kaya harta, tetapi kaya anak. Ya…… ibuku beranak banyak 12 orang anak kandung dan ditambah lima anak dari ayahku, duda beranak lima menikahi ibuku perawan kembang desa. Mengasuh dan membesarkan 17 anak bukan perkara mudah. Banyak problem pahit dan getir yang berhasil dilaluinya, apalagi mitos di masyarakat selama ini bahwa ibu tiri selalu jahat, seperti dongeng bawang putih dan bawang merah. Tidak mudah memecah mitos ini yang kadung melekat dalam benak setiap anak, ibuku berusaha keras bertahun-tahun menepis mitos itu. Bahkan ibuku berusaha mendahulukan kepentingan anak-anak tirinya daripada anak kandungnya. Alhamdulillah ibuku berhasil diterima dan dicintai anak-anak tirinya. Setidaknya selama 40 tahun usia perkawinannya aku tidak pernah menemukan konflik yang berarti antara ayah ibuku, hingga mereka dipisahkan oleh ajal. Sungguh beruntung ayahku memiliki pendamping hidup yang mampu pengelola konflik rumah tangga.

Ibuku bukanlah seorang sarjana. Beliau hanya jebolan madrasah ibtidaiyah setingkat SD. Ibuku tidak mengenal ilmu pedagogi, ilmu pendidikan anak, namun dengan keterbatasan ilmunya, mampu mengantarkan ketujuh belas anaknya hidup mandiri, setidaknya tak satupun anaknya yang terlibat kenakalan remaja semacam tawuran atau korban narkoba. Walau hanya sebagian kecil dari anaknya yang jadi sarjana.

Ibuku janda kaya. Kaya dengan ibadah. Beliau bukan tamatan pondok pesantren, bukan seorang ustadzah yang banyak jamaahnya, bukan daiyah yang ceramah di mana-mana. Hanya sedikit ilmu agama yang diserapnya dari mengaji di majelis ta’lim dekat rumah. Namun agama yang sedikit itu diamalkan dengan penuh semangat. Sehari-hari waktunya dihabiskan untuk ibadah. Dinihari ibuku sudah bangun, dia wudhu dan tahajud, disambung dengan tilawah Qur’an sampai subuh. Jika mulutnya lelah dia akan mengambil pena, dan menulis ayat demi ayat dengan jemarinya yang mulai gemetar. Biasanya setelah menonton kuliah subuh, ibuku tertidur karena badannya letih beribadah sejak dini hari. Jam tujuh pagi beliau sarapan, kemudian mandi dan kembali tenggelam dalam kekhusu’an ibadah shalat dhuha, dzikir dan tilawah, sebuah aktivitas yang paling disukainya. Ibuku keberatan jika ada tamu yang berlama-lama di rumahku, beliau juga kurang nyaman jika diajak pergi lebih dari empat jam, karena akan mengurangi jatah waktu untuk tilawahnya. Dalam sehari, ibuku tilawah bisa lebih dari lima juz, setiap pekan beliau khatam Qur’an. Jika Bulan Ramadhan, beliau tilawah sepuluh juz sehari, targetnya ingin khatam 10 kali selama Ramadhan, walau target ini belum pernah tercapai, paling tidak mendekati angka tersebut.

Ada tetangga kami yang merasa tenteram dan tenang mendengar lantunan tilawah ibu setiap malam, dia bertanya apakah ibu tidak kepanasan malam hari kalau sedang mengaji? Ibuku menjawab ada kipas angin yang menemani. Esoknya tetangga kami mengirim AC untuk dipasang di kamar ibuku. Bukan hanya itu, ibuku juga mendapat anugerah pergi umroh ke tanah suci, dari tetangga kami yang merasa ditemani dengan lantunan tilawah ibu setiap malam. Kebetulan kamar ibuku menghadap ke rumah tetangga kami yang baik hati. Itulah buah yang Allah kirim atas ketekunan ibuku mengaji, bukan nonton sinetron atau ngerumpi.

Ibuku janda kaya, tangannya mudah sekali berinfak di mana-mana. Suatu hari ada tukang ojek yang minta tolong, anaknya sudah enam bulan menunggak membayar SPP, ibuku spontan memecah celengannya.dan memberikan seluruh uangnya kepada tukang ojek. Lain waktu ada janda yang datang minta bantuan, kebetulan ibuku tidak punya uang dimintanya sang janda kembali pekan depan. Sampai waktunya ternyata ibuku dapat rezeki dari rumah kontrakan, dan ibuku memenuhi janjinya membantu sang janda itu.

Di depan rumah ada toko milik seorang anak yatim. Sudah lama toko itu tutup. Ibuku memanggil si yatim ke rumah untuk menanyakan kabar toko tersebut.

“Neng… kenapa sudah beberapa lama tokomu tutup terus?” Tanya ibu

“Kehabisan modal bu. Orang yang belanja banyak yang utang, susah sekali menagihnya…” jawab si yatim polos

“Kalau ada yang memberimu modal, apakah kamu bersedia membuka tokomu kembali?” Tanya ibuku serius

“Ah…. Zaman susah begini, mana ada orang yang mau meminjamkan modal kepada saya, apalagi saya Cuma seorang anak yatim, tidak punya harta untuk jadi jaminan, paman-bibi saya aja tidak peduli kepada saya…” jawab si yatim putus asa.

“Yang penting jawab dulu pertanyaan ibu, sanggup tidak kamu mengelola toko itu?”

“Insya Allah sanggup bu….asal tidak cepat-cepat minta dikembalikan” Jawab si yatim mantap, matanya berbinar.

“ Ibu lagi ada sedikit rezeki, kemarin ibu dapat arisan Rt. Kalau kamu mau, ibu akan berikan semuanya untuk modal… syaratnya hanya satu, …jangan beritahukan siapapun, jika ada yang bertanya, katakan saja kamu menjual perhiasan warisan ibumu…”

Si yatim tidak mampu menjawab. Dia seperti tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Lidahnya tercekat seperti ada gumpalan daging yang memenuhi kerongkongannya, mulutnya membisu, matanya berkaca-kaca… butiran bening berjatuhan di pipinya. Ia benar-benar merasa seperti sedang bermimpi. Tidak menduga ada orang yang begitu tulus menolong dirinya. Sementara dia masih memiliki paman dan bibi yang setiap hari menguras tenaganya membantu segala pekerjaan rumah tangga tanpa upah yang layak.

Dengan modal pemberian ibuku, toko si yatim kembali beroperasi, perkembangannya cukup pesat, ibuku turut gembira, si Yatim pandai mengelola tokonya.

Begitulah ibuku, inspirasiku, aku menyebutnya janda kaya. Karena dia menghabiskan sisa umurnya untuk beramal shalih sebanyak-banyaknya. Tanpa bosan, tanpa pamrih, ikhlas semata mengharap ridha Ilahi.

Salam sayang buat Ibunda Tercinta Hj. Siti Romlah, dalam rangka menyambut Hari Ibu, dan hari lebaran anak yatim semoga Allah membalas semua amalmu, semoga kami dapat meneladanimu. Aamiin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 9,90 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ibu dengan 4 putra putri, 3 di antaranya sedang memasuki usia remaja. Mahasiswa STIU (Sekolah Tinggi Ulmu Usuluddin) jurusan tafsir hadits semester 3. Aktif mengajar majlis taklim, punya usaha rias muslim. Beberapa tulisan pernah dimuat di Tarbawi di rubrik kiat.

Lihat Juga

Kala Ibu Terlelap