Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Perjalanan Suci Menuju Baitullah

Perjalanan Suci Menuju Baitullah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya menjadi amanlah dia; Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya tidak memerlukan sesuatu dari semesta alam.” Qs (Ali Imran; 96-97)

Kota suci Mekkah dan Madinah tampak dekat pada peta. Namun berbeda dalam karakter dan penataan kotanya. Madinah mempunyai kelebihan tanah yang subur dengan kebun-kebun kurmanya. Udaranya panas namun terasa ramah dan lembut. Kota tua Madinah kini telah menjelma menjadi kota modern yang teratur, bersih dan tenang. Gedung-gedung di seputar masjid Nabawi hampir sama, bentuk dan tingginya. Berwarna lembut seperti masjid Nabi. Mekkah dan Madinah memang dekat pada peta. Namun ternyata cukup jauh, sekitar 490 km dengan jarak tempuh 6 jam dengan bus.

Demikianlah, calon jamaah haji reguler asal Indonesia gelombang pertama yang nantinya akan melaksanakan haji tamattu, singgah terlebih dahulu sekitar 9 hari di kota nabi untuk shalat arbain dan menziarahi tempat-tempat bersejarah. Setelah itu barulah bersiap-siap mengambil miqot atau niat berihram di Bir Ali untuk melaksanakan umrah wajib ke Baitullah.

Sungguh karunia yang begitu besar bagi yang terpilih menjadi Tamu Allah. Ya, walaupun Allah sudah mengundang secara resmi melalui firman-Nya di atas, namun belum semua kita diberi kemampuan dan kesempatan memenuhi undangan Allah tersebut. Tetapi kerinduan di jiwa setiap muslim untuk berusaha memampukan diri melakukan perjalanan suci ke Baitullah serta menyinggahi kota Nabi sangatlah besar. Terbukti dengan adanya antrian daftar tunggu calon jamaah haji yang semakin panjang dan lama.

Oleh karena itu bagi para tamu Allah semoga dapat memanfaatkan setiap momen dan menikmati setiap detik hidangan-Nya. Dan yang lebih penting lagi adalah mampu memaknai pesan dibalik prosesi yang ada dalam setiap rukun maupun kewajiban haji. Karenanya setiap calon jamaah haji harus memiliki bekal untuk perjalanan suci ini. Berteman sabar, berbekal ilmu manasik haji dan tentunya tawakkal sebagai sebaik-baik bekal. Selain itu bekal penting lainnya adalah mempelajari sirah atau sejarah nabi. Agar ketika berziarah ke tempat-tempat bersejarah di kota suci Madinah dan Mekkah, dapat kita selusuri dan bayangkan kembali jejak-jejak perjuangan para nabi dan rasul.

Rasakan betapa dekatnya kita dengan Rasulullah ketika berkunjung ke Raudah di masjid Nabawi. Getar-getar kerinduan pada Rasulullah walau berabad jarak memisahkan seakan terobati. Namun rasa yang bergejolak di dalam dada tetap tak tertahankan. Maka, masih terbayang jelas di pelupuk mata saat butiran-butiran bening menghiasi kulit di wajah-wajah berwarna rupa.

Sembilan hari berada di Madinah Al Munawarrah atau kota yang bercahaya terasa begitu singkat. Keharuan pun menyeruak kala harus berpisah meninggalkan kota nabi. Selanjutnya setelah singgah di Bir Ali untuk berihram, nikmatilah perjalanan menuju Mekkah Al Mukarromah.

Labbaik Allahumma labbaik, Labbaika la syarika laka Labbaik. Innal hamda, wanni’mata laka wal mulk. La syarika lak… “

Aku datang memenuhi panggilanMu ya Allah,
aku datang memenuhi panggilan
Mu, Tidak ada sekutu bagiNya, Ya Allah aku penuhi panggilanMu. Sesungguhnya segala puji dan kebesaran untukMu semata-mata. Segenap kerajaan untukMu, tidak ada sekutu bagiMu”

Sepanjang perjalanan Madinah-Mekkah, lepaskanlah pandangan ke luar jendela. Jalan lebar bebas hambatan yang terdiri dari 2 arah dan masing-masing arah mempunyai 3 jalur. Kendaraan berupa bus-bus dan sedan berkelebat dalam kecepatan tinggi. Sementara itu gunung-gunung batu yang ada di kiri kanan jalan akan tampak bagai bayangan hitam raksasa bila perjalanan dilakukan malam hari.

Bayangkanlah, dari arah sebaliknya, Rasulullah bersama sahabat Abu Bakar menuju Madinah. Melintasi gurun siang malam dengan menunggang unta dalam suasana penuh teror dikejar-kejar pasukan Quraisy. Betapa beratnya perjuangan hijrah Beliau.

Sampai di Mekkah Al Mukarromah maka akan terasa perbedaan karakter dua kota suci ini. Jika kota Madinah terasa lembut namun dinamis, karakter kota Mekkah tampak sebaliknya. Kota yang sibuk, keras, tegar dan menumbuhkan ghirah atau semangat yang luar biasa. Di mana gunung-gunung batu terhampar di sekelilingnya. Pantaslah seorang nabi dilahirkan di lembah tandus dan kering ini, sehingga berkarakter tangguh ditempa alam.

Lalu, rasakanlah sensasi saat pertama memandang pesona Baitullah dengan berpuluh ribu jamaah yang bergerak thawaf di sekeliling pelatarannya. Ka’bah, nyata ada di hadapan kita. Kiblat yang menyatukan umat muslim dari seluruh belahan dunia menghadapkan wajah ke arahnya ketika shalat sesuai perintah Allah Swt. Namun, bukan berarti umat Islam beribadah kepada Ka’bah. Karena sejatinya gerak dan langkah dalam prosesi thawaf adalah sebagai bentuk ketaatan manusia mengikuti aturan yang telah ditetapkan Sang Maha Pencipta. Gerak dan langkah kita hanya terpusat pada Allah semata. Laa ilaaha Illallaah. Begitu juga dengan seluruh alam semesta yang bertasbih hanya kepada Allah semata.

Maka di sini, di dalam Masjidil Haram yang memancarkan Kemegahan dan Keagungan Sang Khaliq, laksanakanlah prosesi rukun ibadah umrah yaitu thawaf, sa’i dan tahalul dalam balutan pakaian ihram yang menandakan telah kita tanggalkan atribut keduniaan.

Selanjutnya sambil menunggu waktu wukuf di Arafah, maksimalkan ibadah tanpa abai pada kesehatan diri. Dan jangan lupa, simbol-simbol dalam prosesi haji secara ekspresif sarat dengan muatan sosial.

Oleh karena itu pedulilah pada orang-orang tua yang lemah dan teman yang sakit atau kesusahan. Menjenguk dan bergantian menjaga mereka yang sakit. Bertukar senyum dan sapa, menyiapkan telinga dan bahu bagi teman yang ingin “curhat”. Karena kelelahan terkadang memicu seseorang menjadi sensitif dan emosional.

Dan bila puncak haji tiba, saatnya untuk bermuhasabah di padang Arafah. Putarlah video perjalanan hidup sejak baligh hingga kini dan perbanyak istighfar memohon ampunan-Nya. Usai wukuf di Arafah yang merupakan rukun haji, lanjutkan perjalanan setelah matahari terbenam untuk mabit atau bermalam di Muzdalifah. Sebuah tempat yang terletak di antara Arafah dan Mina. Kumpulkan kerikil dan pulihkan tenaga untuk persiapan melontar jumrah di Mina sambil tetap memperbanyak berdzikir.

Selama melalui prosesi melontar yang merupakan wajib haji berangkatlah bersama rombongan. Kebersamaan dan kekompakan untuk saling menjaga di antara padatnya kerumunan jamaah dan kerikil yang bertebaran sungguh mengharukan. Namun, untuk menghindari padatnya jamaah, melontar dapat dilakukan di lantai atas jamarat yang terdiri dari 5 lantai. Semakin ke atas jamarat yang didatangi, maka, jamaah akan semakin nyaman dan tenang dalam melontar. Siapkan pecahan uang kecil, karena di pintu-pintu keluar jamarat akan banyak yang membutuhkan sedekah.

Prosesi melempar jumrah sejatinya adalah simbol kemenangan manusia menundukkan hawa nafsunya yang dikuasai oleh syetan sekaligus mengakhiri penghambaan kepada selain Allah Swt. Laa ilaaha Illallah.

Akhirnya, kembali ke Mekkah untuk melaksanakan thawaf ifadhah dan sa’i. Lebih berat karena padatnya jamaah. Namun demikian semangat dan dahsyatnya doa akan mampu mengalahkan lelah. Seperti bunda Hajar yang berikhtiar mencari air untuk anaknya Ismail as hingga diabadikan oleh Allah melalui prosesi sa’i.

Demikianlah, pada dasarnya setiap gerak dan langkah dalam prosesi ibadah haji memiliki pesan atau makna tersembunyi. Selamat jalan tamu Allah, semoga mendapatkan pengalaman spiritual yang menakjubkan dan mampu memaknai serta mengambil hikmah dari seluruh rangkaian proses berhaji. Dan harapan besarnya tentulah mendapat predikat mabrur dari Allah Swt. Sehingga kembalinya nanti menjadi pribadi yang lebih baik dan dapat mewarnai masyarakat dengan kebaikan.

Untuk yang terkena pengurangan kuota tahun ini, bersabarlah, karena tak ada kisah yang tak berhikmah.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nurhaida Alting
Seorang ibu rumah tangga yang sedang belajar menulis. Saat ini tergabung dalam komunitas Gerakan Kepulauan Riau Gemar Menulis. Alhamdulillah beberapa artikel opini dimuat di harian lokal Haluan Kepri dan beberapa cerpen pernah dimuat di Tanjung Pinang Pos.

Lihat Juga

Jamaah Haji sedang melakukan Tawaf (mengelilingi Kabah).  (kemenag.go.id)

Khutbah Idul Adha 1437 H: Tiga Pelajaran Dari Ibadah Haji