Home / Berita / Internasional / Asia / Menkominfo Tifatul Sembiring bertemu ISTECS Jepang

Menkominfo Tifatul Sembiring bertemu ISTECS Jepang

tifatul istecs jepangdakwatuna.com – Tanggal 14 September 2013 lalu, Institute for Science and Technology Studies (ISTECS) Jepang mengundang Menkominfo RI, Ir. Tifatul Sembiring di antara sela-sela kunjungannya menemui Menteri Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang Yoshitaka Shindo untuk menghadiri acara ‘Dialog santai bersama Pak Tif‘ di Tokyo.

Acara ini dihadiri oleh sekitar 60 peserta (mahasiswa, peneliti dan profesional) dan digelar dalam rangka mengupas tiga subtema yaitu: melipat jarak Jepang-Indonesia dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), perkembangan dan target TIK di Indonesia, serta kiprah yang diharapkan dari alumni Jepang di bidang TIK.

Menkominfo RI dalam acara tersebut memaparkan bahwa Indonesia memiliki target pada tahun 2025 yaitu menjadi bagian dari 10 negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Oleh sebab itu perlu dikembangkan ekonomi berbasis inovasi. Namun, Indonesia menghadapi tantangan terbesar yaitu disintegrasi bangsa. Sementara itu, saat ini kita sulit mendefinisikan Indonesia karena keberagamannya dalam berbagai hal. Luas wilayah Indonesia dengan banyak pulau juga merupakan faktor penghambat. Namun, Indonesia memiliki berbagai sumber daya potensial, baik itu sumber daya alam maupun manusia.

Salah satu pengembangan ekonomi berbasis inovasi terletak dalam bidang TIK. Saat ini, bisnis dalam bidang ini telah mencapai  Rp 100Triliun lebih. Cakupan TIK saat ini meliputi internet, telekomunikasi dan penyiaran. TIK di Indonesia dibangun dari bisnis kreatif, sangat banyak SDM yang mumpuni, namun dari segi model bisnis dan pemasaran belum cukup baik.  Menkominfo juga telah menginisiasi terhubungnya 50 ribu UKM ke Google, minimal untuk iklan dan kemudian bisa melek IT.

Menghadapi pertanyaan tentang visi depkominfo mengenai pengembangan internet, Pak Tifatul Sembiring menjelaskan bahwa anggaran depkominfo terbatas pada Rp 2,6 T, sehingga pembangunan TIK ada prioritasnya. Hal ini tergantung pada jumlah penduduk dan potensi masing-masing daerah.. Saat ini seluruh desa (72000 desa) sudah ada telepon, seluruh kecamatan sudah ada internet. Akhir tahun ini akan dimulai layanan 3GPP Long Term Evolution (atau dipasarkan dengan nama 4G LTE) di Indonesia. Layanan Wimax sudah dibuka tahun-tahun sebelumnya namun karena operator yang kurang fokus maka tidak begitu berkembang.

Pertanyaan lain yang disampaikan oleh peserta adalah mengenai usaha agar ukuran bisnis TIK yang mencapai Rp 100T dapat menjadi pendapatan bagi perusahaan dan orang Indonesia. Mengenai hal ini Menkominfo menjawab bahwa saat ini negara sudah menstimulasi dengan  Indonesia Information and Communications Technology Awards (INA-ICTA) kemudian mensponsori pemenangnya ke Asia-Pacific ICT Award (APICTA). Kontestan INA-ICTA sudah banyak yang berhasil, contohnya menghasilkan software pendidikan menengah, yang sayangnya hanya diserap pasar Eropa, sementara di Indonesia sendiri belum terpakai. Akan tetapi, inovator karakternya berbeda dengan pebisnis, maka untuk bisa menjual inovasi diperlukan “ABG+C” yaitu “Academition, Bussinesman, Goverment and Comm(unication). Kerja sama ABG+C mutlak diperlukan.

Sebelum akhir acara yang ditutup dengan penyerahan cenderamata oleh Direktur ISTECS Jepang, Dr. A’an J. Wahyudi, Pak Tifatul Sembiring berpesan terutama kepada mahasiswa agar dapat memanfaatkan kecanggihan teknologi Jepang untuk belajar sebanyak mungkin ilmu di Jepang dan bukan sebaliknya, hanya main-main saja. (A’an/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Tifatul: Menkominfo Bangun 1.000 Titik Wifi Gratis