Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tabayyun, Tak Mau Konflik Berayun

Tabayyun, Tak Mau Konflik Berayun

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com “Nggak shalat, Mas?”
Pertanyaan itu saya tujukan pada tetangga baru yang mau berangkat ke kantor bareng. Pasalnya, sedari bangun tidur saya tidak melihatnya shalat subuh. Bahkan tak melihatnya keluar kamar.

Biasanya sih saya membangunkannya dengan mengetok pintu untuk shalat subuh jamaah, jalan bareng ke mushalla. Meski kerapnya ia memilih shalat di kostan. Namun pagi tadi saya terlewat jamaah subuh, jadi kegiatan ketok pintu nggak ada.

Mendapati pertanyaan seperti itu, sang teman baru itu dengan enteng menjawab, “Tidak!” dengan muka merasa-tak-berdosa-sama-sekali.

Saya meng-o-kan, selebihnya masih ada sisa kaget. Enteng sekali ya meninggalkan shalat.

Sepanjang perjalanan pikiran saya diliputi segala ‘analisa’; kalau orang ini gampang meninggalkan shalat pasti gampang meninggalkan orang-orang yang dicintai. Kalau dia gampang melupakan Allah, pasti dia gampang melupakan anak istri, dia gampang melupakan saya sebagai temannya.

Idih, masak saya harus berteman dengan orang yang rapuh keyakinan?

Namun, bila ditinggalkan, siapa yang akan mengingatkan? Bukankah setiap diri itu da’i?

“Mas, kenapa tadi pagi nggak shalat?” selidik saya malam ini. Mencoba mencari penjelasan.

“Nggak apa-apa, Mas. Emang nggak biasa.”

Oh.

“Jadi kalau bangun kesiangan, Mas jarang shalat subuh ya?” tanya saya hati-hati.

“Semalam setelah sahur, langsung saya tidur, tentunya setelah shalat subuh.”

“Oalah, ternyata Mas tadi pagi puasa dan sudah shalat subuh? Masya Allah. Lalu, kenapa tadi pagi ketika saya tanya kok bilang ‘tidak’?”

“Oh, saya kira shalat Dhuha. Kalau Dhuha saya mah jarang.” katanya sambil senyum polos.

Lega.

Saya tak mengerti angin prasangka akan ke mana berayun bila tak segera tabayyun.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Sholich Mubarok
Koordinator Syiar Humas Badan Dakwah Rohani Islam (Badaris) BSI Jakarta. Menulis bagi saya adalah kebutuhan tak ubahnya makanan jiwa. Kebahagiaan sebagai seorang penulis ketika tulisan saya mendatangkan manfaat buat orang lain.

Lihat Juga

Ketua Panitia Haji Arab Saudi, Khalid al-Faishal (aljazeera.net)

Gubernur Mekah: Iran Harus Hentikan Kedengkian dengan Arab dan Umat Islam

Organization