Home / Pemuda / Essay / Karakteristik Perjuangan Pemuda Islam

Karakteristik Perjuangan Pemuda Islam

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (nationalgeographic.com)
Ilustrasi. (nationalgeographic.com)

dakwatuna.com – Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan Kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; Kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, Sesungguhnya Kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. (QS. Al Kahfi: 13-14)

Ayat di atas tidaklah asing bagi kita. Tiap pekan kita baca. Dari Jum’at ke Jum’at yang penuh berkah, kita terlalu sering mengulang-ngulang cuplikan ayat tersebut. Tak hanya dibaca, kita pun menghafalkannya, hingga mentadaburinya agar mampu terinternalisasi dalam hati sebagai inspirasi yang tak pernah surut dalam jalan juang ini. Bahkan, bagi aktifis dakwah kampus UI, Al Kahfi: 13-14 diposisikan dalam tempat yang spesial dalam kehidupan pergerakan di kampus. Dari ayat itulah, kita mendapatkan sederet kalimat sakral dalam pembukaan Undangan-Undang Dasar Ikatan Keluarga Mahasiswa Universitas Indonesia (UUD IKM UI): “Sesungguhnya mahasiswa adalah pemuda-pemudi yang memiliki keyakinan kepada kebenaran dan telah tercerahkan pemikirannya serta diteguhkan hatinya saat mereka berdiri di hadapan kezhaliman. Oleh sebab itu, sepatutnya mahasiswa bergerak untuk mengubah kondisi bangsa menuju masyarakat madani yang adil dan makmur.”

Ayat di atas adalah ayat tentang pemuda. Diksi yang Allah gunakan pun khas untuk para pemuda. Begitu mulianya peran para pemuda dalam agama ini, sehingga Allah mengisahkannya khusus dalam Al Qur’an. Jumhur ulama bersepakat jika kisah-kisah dalam Al Qur’an adalah cerita-cerita pilihan. Bukan sekadar komposisi terbanyak dalam Al Qur’an yang dua per tiganya adalah sejarah, melainkan begitulah cara Allah mentarbiyah kita lewat pesan-pesan historis para nabi, rasul, dan kaum beriman di masa lalu. Dan cerita tentang pemuda masuk dalam salah satu kisah yang Allah abadikan dalam Al Qur’an.

Karakteristik pemuda pejuang tergambar jelas dalam ayat itu. Mereka adalah pemuda yang memiliki keteguhan, ketangguhan dan ketabahan dalam perjuangan. Kepahlawanan mereka tak akan sirna dalam ingatan generasi setelahnya. Kita mengenal mereka sebagai “Pemuda Kahfi”. Karena kesabaran mereka menghadapi resiko, Allah memuliakan mereka.

Setidaknya ada tiga kata kerja dalam ayat itu yang menggambarkan karakter perjuangan pemuda Islam. Pertama, “aamanuu” (mereka beriman). Mereka memiliki keyakinan, kedalaman iman, dan keteguhan hati. Kekuatan tekad mereka dalam jalan perjuangan bersumber dari keimanan yang menancap kuat di hati dan jiwa mereka. Ada faktor transenden antara ruh dan Sang Pencipta. Dengan iman yang kuat, maka ketaqwaan yang menjadi perisai utama mereka agar tetap tegar dalam perjuangan. Dengan demikian, tidak ada masalah kedekatan mereka dengan Allah. Mereka rasakan bahwa janji pertolongan Allah begitu tampak dekat. Hingga kemudian Allah menambahkan mereka petunjuk. Mereka terilham sebuah petunjuk pada jalan yang lurus. Allah tunjukkan bagi mereka orientasi perjuangan yang benar dengan disertai gerak langkah perjuangan yang konsisten. Dengan bekal iman yang menyala kuat di hati, mereka tak akan kehilangan arah. Mereka tahu serta memahami ke mana arah perjuangan yang bisa mengantarkan pada ridha Allah. Kemudian Allah pun meneguhkan hati mereka agar tetap kokoh tekad dalam perjuangan dengan basis keyakinan yang mantap.

Kedua, ”qaamuu” (berdiri). Kata “berdiri” biasanya diidentikkan sebagai antitesis dari kata “duduk”. Jadi, karakter perjuangan pemuda Islam ialah ketidakrelaan mereka untuk duduk-duduk santai. Mereka tak menyempatkan dirinya untuk berleha-leha dalam berjuang, memperbanyak istirahat, atau sekadar berpangku tangan. Ada ketidaknyamanan dalam diri mereka saat saudara yang lain sedang berjuang, namun diri mereka tak mampu memberikan kontribusi kongkret. Mereka selalu bangkit dari keterpurukan dan kefuturan yang melanda. Mereka selalu punya semangat saat yang lain lumpuh dan lesu. Mereka rela untuk mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata. Bahkan merasa sangat rugi jika mata terkantuk saat berada dalam medan juang. Mereka selalu menabur dan menebar inspirasi kebangkitan saat yang lain bosan untuk bangkit.

Ketiga, “qaaluu” (berkata). Inilah karakter perjuangan pemuda Islam yang luar biasa. Pemuda selalu deklaratif dalam perjuangan. Mereka tak segan-segan memproklamirkan kebenaran, bahkan saat berada di hadapan pemimpin yang zhalim. Pemuda Islam pun tak henti-hentinya berkreasi dan atraktif dalam bergerak. Mereka tak pernah kehabisan ide dan siasat perjuangan. Mereka tak mau bungkam menyuarakan hak rakyat tertindas. Pemuda pejuang akan terus menuntut perbaikan dan senantiasa berpartisipasi aktif sebagai persembahan setulus-tulusnya bagi umat yang sedang terseok-seok nasibnya. Merekalah para pemuda yang senantiasa bersuara dalam dunia nyata maupun dunia maya via media massa. Karena pemuda selalu bertekad untuk tidak menutup mulutnya karena ketakutan. Tangan mereka pun tak gentar karena ancaman. Mereka senantiasa berbuat, berkarya, serta tidak lunglai lututnya karena ancaman dan penderitaan.

Dalam sebuah kesempatan, Amirul Mukiminin Umar bin Khattab berkata: “jika aku sedang menghadapi masalah besar, maka yang kupanggil adalah para pemuda.”

Tetaplah bergerak! Hingga Allah, Rasul-Nya, dan mukmin yang menyaksikan usaha kita bagi dakwah Islam ini. Mudah-mudahan perjuangan kita bisa istiqamah, terdapat berkah hingga akhirnya nanti husnul khatimah.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Yasir Arafat
Lahir di Serang, Januari 1991. Mahasiswa semester 7 Departemen Fisika (konsentrasi Fisika Nuklir-Partikel) FMIPA UI. Supervisor Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) Nurul Fikri Regional 1 Jakarta Putra. Pernah menjabat sebagai Ketua Umum Forkoma UI Banten (periode 2011-2012), yaitu paguyuban mahasiswa UI asal Provinsi Banten. Bukan hanya di paguyuban. Aktif di BEM FMIPA UI 2012 sebagai Koordinator Bidang Internal. Hobi menulisnya sejak ada sejak SMA, yakni saat Yasir menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Pena Dakwah (NaDa) RISMA SMAN 1 Kota Serang. Sejak tahun 2001-2006, Yasir tinggal di lingkungan Pondok Pesntren di Banten.
  • menur

    like this

Lihat Juga

Ilustrasi. (collegeaffairs.in)

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini