07:55 - Sabtu, 20 Desember 2014
Maharani Yas

La Tahzan for Muslimah

Rubrik: Wanita | Oleh: Maharani Yas - 18/09/13 | 09:02 | 13 Dhul-Qadah 1434 H

Ilustrasi. (inet)

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com - Wanita, sosok yang sering menjadi bahan pembicaraan. Baik tentang potensi kebaikannya maupun potensi keburukannya. Rasulullah pernah bersabda, bahwa sebagian besar penghuni neraka nantinya adalah berasal dari kaum wanita. Namun dalam redaksional yang lain, Rasulullah pun mengatakan bahwa banyak sekali ladang pahala yang bisa digarap oleh wanita, yang menjadikan bidadari-bidadari surga cemburu karena ibadah yang dilakukan wanita. Semua karena pada diri wanita, terdapat potensi kebaikan dan keburukan.

Namun, banyak wanita, terkhusus muslimah, merasa “galau” dengan potensi keburukan yang ada pada dirinya. Tidak sedikit muslimah yang pada hari ini ingin selalu membenahi dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, terkadang bayangan masa lalu tentang kesalahan yang pernah dilakukan menjadi momok menakutkan yang menjadikan dirinya ragu—ragu untuk berubah ke arah yang lebih baik. Apalagi, wanita itu dilihat dari masa lalunya, berbeda dengan lelaki yang cenderung dilihat dari masa depannya.

Contohnya, ada seorang muslimah yang dulunya belum berjilbab. Ia pernah mempertontonkan auratnya. Hingga tidak jarang, muslimah itu menjadi objek mata-mata atau tangan-tangan jahil. Penyesalan pun hadir dan kini muslimah tersebut ingin memperbaiki dirinya. Namun, setan tak pernah diam. Ia menyusupkan benih keraguan akan rasa yang hinggap dalam hatinya. Merasa berdosa atau bahkan merasa makhluk yang kotor.

Muslimah itu, ibarat sebuah mutiara yang tersimpan rapat dalam cangkang yang keras dan tersimpan dalamnya lautan. Tak tersentuh oleh tangan tangan tak bertanggung jawab. Indah dan berharga. Lalu bagaimana dengan mutiara yang telah sompel? Yang pernah terjamah tangan-tangan yang tak bertanggung jawab. Yang bentuknya tak lagi sempurna?

Tentu, muslimah yang merasa dirinya sebagai mutiara yang telah sompel tersebut akan merasa bersedih hati. Merasa bahwa ia tak kan bisa lagi menjadi perhiasan dunia. Merasa putus asa.

Namun, mari sejenak kita melihat firman Allah dalam Qs. Az Zumar ayat 53 yang berbunyi, “katakanlah: “hai hamba-hamba-ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa [1314] semuanya. Sesungguhnya dia-lah yang maha pengampun lagi maha penyayang.” 

Setiap orang baik pasti memiliki masa lalu, dan setiap orang jahat, masih memiliki masa depan. Dalam ayat di atas, Allah memberikan larangan kepada manusia untuk tidak berputus ada, karena dalam Qs. Al Hijr ayat 56, berbunyi, “Ibrahim berkata: “tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.”

Muslimah, jika saat ini kita merasa tidak lagi menjadi mutiara yang terjaga, dengan kata lain merasa diri ini sebagai mutiara yang telah sompel, janganlah bersedih. Janganlah berputus asa. Karena yang berputus asa hanyalah orang-orang yang sesat. Mutiara yang telah sompel sekalipun, tetap akan bisa menjadi perhiasan yang indah, apabila ia berada di tangan yang tepat.

Ibaratkan sebuah mutiara yang sesungguhnya, yang baru diambil dari dasar samudera. Karena proses pembentukannya yang tidak sempurna, bentuk mutiara itu pun tak sempurna. Namun ia tetap bisa jadi perhiasan yang indah jika ditangani oleh pengrajin perhiasan yang ahli.

Jangan bersedih, kita yang merasa sebagai mutiara yang telah rusak, tetap bisa menjadi indah. Jika kita berada pada tangan yang tepat. Tangan siapakah? Ya… Tangan Allah Swt, yang di tangan-Nya tercipta keindahan dunia ini. Tangan yang mencipta sebaik-baiknya pencipta. Jangan berputus asa. Mulailah mendekatkan diri kembali kepada Allah Swt. Mengadu, meminta, merintih, memohon ampunan atas kesalahan kesalahan yang lalu. Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun. Bukankah kita pernah mendengar kisah seorang pelacur yang dijanjikan surga oleh Allah hanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan? Karena Allah maha pengampun dan penyayang.

Muslimah, jangan lah bersedih. Berbahagialah jika saat ini engkau merasa hatimu direngkuh oleh-Nya untuk kembali pada-Nya. Kita tetap bisa menjadi perhiasan indah dunia, seburuk apapun masa lalu kita dahulunya. Dengan kembali kepada Allah dan mulai berbenah, Insya Allah, akan dapat kita raih kecemburuan dari para bidadari surga. Aamiin…

Maharani Yas

Tentang Maharani Yas

Mahasiswi Universitas Riau Program Study Ilmu Administrasi Negara angkatan 2010. Saat ini aktif di organisasi dakwah kampus, dakwah sekolah dan organisasi kepenulisan FLP (Forum Lingkar Pena) Wilayah Riau. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (10 orang menilai, rata-rata: 9,80 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • Zuwita Ceriwiz

    Masa lalu ku biarlah berlalu, Əǩǖ ingin mmperbaiki ms depan

  • menur

    sahabat umar juga pernah mengubur hidup2 anak perempuannya, ketika masih jahiliyah,, mari semangat perbaiki diri

Iklan negatif? Laporkan!
80 queries in 1,608 seconds.