Home / Narasi Islam / Teknologi / Kehidupan di Dunia Maya

Kehidupan di Dunia Maya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Dunia maya merupakan dunia lunak yang tidak nyata. Kehidupan di dunia maya tidak sama dengan kehidupan di dunia nyata. Kehidupan di dunia maya sangat bebas dan tidak terkontrol. Banyak yang memanfaatkan dunia ini untuk mencapai misi tertentu seperti ghazwul fikri, propaganda, penyebaran gambar/video porno dan banyak kejahatan kejahatan lainnya lagi.

Mengenai kejahatan gambar/video porno di Indonesia mulai tahun 2010 setelah menteri komunikasi dan informasi dijabat oleh Dr. Tifatul Sembiring yang merupakan mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sudah mulai di-block. Perkiraan kasar 2010-2012 sudah 80% situs porno sudah d block. Ini merupakan kesuksesan luar biasa yang dilakukan Menkominfo RI yang sebelumnya permasalahan ini tidak pernah terselesaikan.

Namun dari itu, permasalahan ghazwul fikri, propaganda, dan kejahatan lainnya belum bisa diselesaikan melalui teknologi informasi dan komunikasi. Karena hal ini berkaitan dengan perilaku manusia yang melakukan kejahatan ini. Solusi untuk permasalahan ini adalah perbaikan akhlak manusianya. Jika pelaku yang menjalankan kehidupan di dunia maya ini baik. Maka secara otomatis tidak ada lagi kejahatan di dunia maya.

Oleh karena permasalahan kejahatan di dunia maya ini belum teratasi. Maka kepada pengkonsumsi informasi dari dunia maya perlu tabayun dan menganalisa informasi yang di publis melalui dunia maya itu. Walaupun ada upaya dari pemerintah saat ini untuk pemblokiran situs-situs yang tidak jelas. Namun seberapa besarpun upaya pemblokiran itu, tentunya pembuatan situs-situs “jahat” tetap bisa di produk baik local maupun international.

Yang berbahaya lagi adalah jejaring social yang merupakan perwakilan perorangan atau lembaga yang hidup di dunia maya. Kejahatan yang dilakukan pada jejaringan ini adalah pembuatan akun palsu atau akun anonim. Juga ada yang memanfaatkan akun orang untuk kepentingan kelompok atau dirinya yaitu dengan cara mengambil alih akun orang lain. Ghazwul fikri di sini adalah seolah-olah dia itu hidup sebagai orang yang pemilik akun itu.

Ikhwah fillah, ketidakbaikan akhlak pengguna dunia mayalah yang menyebabkan salahnya informasi yang diberikan kepada public. Oleh karena itu sudah keharusan kita aktivis dakwah yang meramaikan dunia maya itu. Karena kalau bukan diramaikan oleh orang-orang yang baik, maka akan diramaikan oleh orang-orang jahat. Walaupun pernah suatu media Islam yang menulis tidak boleh berdoa di jejaring sosial.

Pada hakikatnya tulisan itu menurut saya keliru. Karena bertentangan azas syiar Islam. Kalau syiar Islam dibatasi hanya di masjid, majelis ta’lim, ceramah dsb. Maka pendefinisian syiar Islam itu sangat sempit sekali. Saya berfikir bahwa syiar Islam itu juga harus digaungkan di pasar, kantin, pemerintahan, diskotik, bar, mall, dunia maya dll. Dengan gaya dan cara tersendiri.

Dalam tulisan ini penulis ingin membahas dakwah di dunia maya saja. Di dunia maya sering kita mendengar kata e-commerce, e-learning, e-book dll. Pada era kini memang manusia tidak bisa dipisahkan dengan dunia maya. Sehingga para peneliti membuat product yang dapat memudahkan manusia memenuhi kebutuhannya.

Menganggapi kebutuhan manusia di atas, seperti e-commerce, e-learning, e-mail, e-book, dll ternyata kita lupa ada satu kebutuhan yang paling penting dalam kehidupan kita di dunia ini yaitu e-dakwah. Oleh karena itu penulis mengajak aktivis dakwah untuk meramaikan dunia maya dengan e-dakwah, baik berupa website, blog, aplikasi offline, aplikasi online dan lain-lain. Juga meramaikan jejaringan social untuk mengklarifikasi propaganda-propaganda “jahat”, meluruskan informasi-informasi ghazwul fikri. Sehingga pengunjung dunia maya tidak ter-jahatkan atau tidak teracuni pikirannya.

Wallahu a’lam bishawab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Arida Sahputra
Staff Pengajar Akademi Farmasi Aceh. Staff Pengajar SMAIT Al-Fityan School Aceh. Sekretaris Umum Persaudaraan Guru Sejahtera Indonesia (PGSI) Wilayah Aceh. Koordinator Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia cluster Mahasiswa (MITI-M) Wilayah Aceh. Sekretaris Manager KNRP Aceh. Ketua DPC PKS Kuta Alam, Kota Banda Aceh.
  • Aisyah

    Menanggapi sedikit tentang “berdo’a di jejaring sosial”. saya rasa bukan dilarang tapi kebanyakan pengguna jejaring sosial itu “berdo’a di jejaring sosial padahal harusnya kita berdo’anya langsung kepada Allah. saya rasa itu adalh hilafiyah yang tidak harus diperdebatkan.dan sebisa mungkin kita menghargai perbedaan pendapat itu sendiri. jadi, dakwah itu bisa lewat mana saja bahkan dengan dunia maya ini, umat muslim diberikan kemudahan untuk amal ma’ruf nahi mungkar….semua kembali pada niat kita dan bagaimana kita menyikapi setiap perkembangan yang ada….wallahu’alam

  • Arida Sahputra

    Aisyah: Saya sepakat dengan Aisyah. Tetapi dalam bab berdo’a. Tetapi dalam bab syiar saya tidak sepakat untuk dibatasi di dunia maya. Afwan, memang pada kata “berdo’a di jejaring sosial” tidak saya barengi dengan isi sebenarnya dari artikel yang saya maksud. Dengan ini saya sudah klarifikasi. Syukran Jazakillah Aisyah..

Lihat Juga

pancasila

Reaktualisasi Pengamalan Sila Pertama Pancasila dalam Kehidupan Sosial