Home / Pemuda / Essay / Mungkin Harus Ia Kubur Keinginan untuk Menikah

Mungkin Harus Ia Kubur Keinginan untuk Menikah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comBismillah…

Di tengah keramaian jiwa merasa tak menentu antara mengharap atau menghapuskan, di luar  sana mentari sangat terik seperti dikatakan ukhti R setelah pulang dari kegiatan diperkampusan dan ia juga merasa panas walaupun berada di bawah AC tapi tetap begitu gerah, mungkin gerahnya diperbarahi suasana hati…”Heeemmmm galau level anak PAUD hoooo”.

Walaupun hati sangat gerah tetap harus menyelesaikan amanah di bulan Syawal dan saat kegalauan tiba-tiba ukhti R serta ukhti T menyahut ia untuk membahas segala topic yang bisa diskusikan. Begitulah indahnya ketika bertemu kedua akhwat tersebut selalu ada isu segar dibahaskan mulai dari teman pendidikan, parenting, ekonomi, politik dan selalu endingnya tentang pernikahan…”dasar waatt-waaatttt”.

Seminggu tak bersua kedua akhwat tersebut rasanya ketinggalan informasi sebab kedua akhwat tersebut adalah seorang akhwat yang berdedikasi dirinya untuk intelektualitas dan bisa membangun rumah tangga yang dilandasi ilmu serta agama…#serius nich ceritanya

Tema dibahas di hari yang panas, di hari kegalauan, di hari kesibukan dan di hari penantian. Sangat seru tema dibahas jika di SKS-kan mungkin 12 Sks tak selesai karena tema ditinjau dari segala aspek mulai aspek financial, aspek keagamaan, aspek psikologi dan aspek sosiologi… alah-alah waat-waat seperti penelitian sampai menggunakan teori ilmiah waeee. ”jika seperti ini tentunya banyak pertimbangan” dan pada akhirnya niat untuk menikah sebaiknya dikubur saja kali ya!!!

Jika ada akhwat mengubur niat untuk menikah karena factor di atas sungguh begitu rugi. Bagaimana tidak rugi? Bukankah dengan pernikahan agama seseorang akan sempurna! Bukankah dengan pernikahan setiap dilakukan menjadi pahala? Bukankah dengan pernikahan ketenangan akan diraih? Bukankah dengan pernikahan seorang wanita mendapat predikat surge di telapak kaki ibu? Bukankah dengan pernikahan akan mengarungi pada cahaya tak bisa dijelaskan? Bukankah dengan pernikahan akan merubah sikap dan menjadi pribadi penuh ketauladan bagi si anak? “Itulah keindahan pernikahan”…. Yaa Rabbi betapa mulia kedudukan seorang wanita dalam rumah tangga.

Jangan sampai factor sepele mengurungi niat mulia, jangan sampai factor dunia menghalangi meraih pahala, jangan sampai satu factor tak ada pada si orang lain sehingga buat kita buta makna pernikahan dan membiarkan diri hidup dalam kesendirian di tengah hiruk pikuk dunia yang semakin hari jauh dari ajaran Ilahi.

Bagi akhwat atau ikhwan yang belum dipertemukan cinta, belum dipertemukan sahabat hidup, belum dipertemukan teman seperjuangan tetap jaga kesucian hati, tetap jaga niat baik itu, tetap tingkatkan doa, tetap terus berusaha menjadi layak dipilih bagi dari segi ilmu maupun akhlak, dan tetap terus yakin bahwa pernikahan itu akan segera terjadi. Seperti ungkapan indah Tere Leye pernikahan yang pantas itu tidak dilihat dari cepat atau lambatnya seseorang menuju pelaminan tapi kelayakan pernikahan ditentukan oleh Allah… “heeeemmm arum banget kalimat tersebut sehingga mengademkan hati”.

Nikah itu bukan cepat-cepatan. Kalau mau meneladani Rasul, yang cowok bisa nikah di usia 25. Tapi kalaupun lebih lambat, bukan masalah. Pun kalaupun mau cepat, juga tidak masalah.

Karena di atas segalanya, yang paling penting adalah: menjaga diri dari hal-hal merusak dan melanggar kaidah agama.

Pastikan kita bersedia menempuh perjalanan berumah tangga. Paham ilmu-ilmunya, mengerti hak dan kewajiban. Tidak perlu siap 100%, cukup bersedia saja. Apapun resikonya.

Bukankah Allah sudah janjikan dengan indah pada bumi dan seisinya setiap apa diciptakan berpasang-pasangan… Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui (Yasin: 36).

Sekali lagi petuah buat ikhwah yang membaca, tetap jaga hati dari hal-hal yang mampu menghilangkan kepesonaan jiwa, tetap tunjukkan performa terbaik di hadapan Allah dan jangan lupa selalu control dalam kondisi positif. Agar ketika waktu itu tiba dalam kondisi penuh kepesonaan baik di hadapan Allah maupun manusia…”jlep-jlep-jleeppp”.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 4,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sholiat Alhanin
Alumni Unpad dan UGM. Berprofesi sebagai Dosen, Penulis Lepas dan Penyiar

Lihat Juga

ilustrasi (jilbabcantig.blogspot.com)

Murabbiyah, Ta’arufkan Akhwat yang Siap Menikah