Home / Pemuda / Cerpen / Hijab Adalah Inspirasiku Melangkah

Hijab Adalah Inspirasiku Melangkah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (qimta.devianart.com)
Ilustrasi. (qimta.devianart.com)

dakwatuna.com Tahun pertama ketika aku masuk kuliah di Universitas Sumatera Utara di Medan. Tahun ini aku berencana di awal semester untuk memasuki organisasi yang bergerak menginspirasi dan mendukung kebenaran dan menindak tegas segala kebatilan yang menyengsarakan rakyat. Wadah yang bersifat Ekstraparlementer dan organisasi ekstra kampus.

Memori itu selalu hadir ketika aku membayangkannya kembali. Kali ini, alhamdulillah Allah masih memberikan hidayah kepadaku. Hidayah itu tak akan bisa sampai kepadaku jika saja Allah tidak memberikan cahaya hidayah-Nya kepadaku dan aku tak mencari hidayah itu dari jalan yang telah ditentukan-Nya. Jilbabku alhamdulillah menutupi bagian yang di perintahkan dalam Islam yang terdapat di dalam QS. An-Nur: 31 dan Al-Ahzab: 59. Jilbabku selalu mewarnai setiap langkahku.

Aku bertekad di semester pertama ini agar aku bisa masuk di organisasi ekstra kampus yang saat masih SMA aku sangat mengaguminya karena aku sangat ngefans dengan beberapa kakak yang tergabung di dalamnya. Masih jelas teringat olehku bahwa yang sering mengisi PAP atau TABIN pada saat aku tergabung di BINTALIS atau Rohis SMA itu adalah kakak yang tergabung di KAMMI, begitu juga mengisi PK dan Mentoring di Sekolah adalah kakak-kakak akhwat yang tergabung dalam KAMMI. Berbagai prestasi mereka menjadi inspirasiku untuk bergabung juga, apalagi aku sering diajak oleh kak Siti yaitu seniorku yang lulus di USU jurusan Ilmu Politik Fakultas FISIPOL itu juga tergabung di KAMMI. Beliau sering mengajak aku, Fiqi, Shand, Teta dan teman-teman yang lainnya untuk bergabung demo atau aksi mengenai kebijakan pemerintah atau aksi solidaritas bila ada daerah yang mengalami musibah. Atau juga beliau sering mengajak kami untuk nonton konser Maidany. Maidany adalah grup nasyid yang berasal dari Medan. Karena sering berada di kampus USU jadi seperti memiliki kampus ini, padahal kan kami masih siswa SMAN 12 Medan, tapi karena lebih sering main ke USU akhirnya doaku terkabul. Setelah selesai SMA aku dan beberapa temanku mencoba mendaftar di USU jalur SPMB karena aku tidak bisa masuk di jalur PMP diakibatkan aku berada di kelas unggulan sehingga aku harus bersaing dan juga aku belum berhasil menggapai prestasi di kelas.

Aku bergabung dengan BINTALIS semenjak aku kelas 1 SMA. Begitu menarik perubahan yang terjadi. Karena sering mengikuti Pengajian Keputrian (PK) di setiap hari Jum’at, PAP di setiap hari minggu dan ikut pengkaderan BINTALIS dengan nama TABIN. Semenjak di BINTALIS pemahaman agamaku semakin bertambah dan semakin dekat dengan Allah. Hal-hal yang belum pernah kulakukan akhirnya bisa menjadi kebiasaan yaitu puasa Senin-Kamis, shalat Dhuha dan shalat Tahajud. Masya Allah perubahan itu tidak akan datang jika kita juga tidak bersemangat untuk mengadakan perubahan.

Aku mengikuti tes SPMB dengan jalur tes dan alhamdulillah aku di terima dengan jurusan Fisika S-1. Aku berkecimpung di tiga organisasi. UKMI Al-FALAK FMIPA USU, KAMMI Komisariat USU dan PRAMUKA USU.  UKMI mengantarkanku mengenal berbagai jurusan yang ada di FMPA USU sedangkan di KAMMI mengantarkanku mengenal berbagai fakultas dan berbagai kampus yang ada di Sumatera Utara. Ruang lingkup yang semuanya bersinergi menjalin kerjasama yang baik. Sedangkan di PRAMUKA entah kenapa…aku bisa memasukinya. Awalnya aku berniat hanya sebagai syarat masuk Asrama Putri yang berada di Jl. Universitas. Syarat yang harus dipenuhi adalah meminta rekomendasi salah satu UKM yang diakui dan kuat keberadaannya di kampus. Salah satunya adalah PRAMUKA, sehingga aku bergabung di dalamnya.

Aku bergabung dengan KAMMI dan UKMI, keduanya membuat aku sangat sibuk apalagi jurusanku adalah jurusan yang sangat sibuk disebabkan jadwal praktikum yang padat dengan praktikum, meminta ACC jurnal dan juga laporan, sedangkan dua organisasi yang ku ikuti ini juga membutuhkan perhatian dan kontribusi dariku sehingga aku harus bisa membagi waktu dengan baik. Tahun ini adalah kali pertama aku bergabung di dalamnya.

Semester pertama aku masih bisa aktif dengan kegiatan-kegiatan yang ada, tapi masuk semester 2 kuliahku disibukkan dengan jadwal lab/praktikum yang menyita waktu dan kuliahku apalagi organisasiku. 2 lab saja sudah sangat sibuk karena sebelum masuk lab harus membuat laporan 8 hingga 12 halaman setiap kali masuk dan ini ada dua lab apalagi ini terbilang baru dan harus diambil dari sumber buku-buku atau diktat yang berkaitan dengan materi-materi praktikum. Berjejer aku dan teman-teman berjibun menghinggapi Perpustakaan. Itulah kesibukanku di semester kedua ini. Dengan tugas-tugas yang selalu ada dan menumpuk di akhir pekan. Aku juga masih menyempatkan diri untuk berkecimpung di amanah-amanah yang telah diberikan kepadaku. Karena aku yakin, amal ketika aku berorganisasi adalah saksi nanti bahwa aku tidak berdiam diri di kampus.

Aku bersama teman-teman yang tergabung dalam organisasi yang sama terus menyiarkan Islam dan selalu menentang kebatilan yang terjadi di kampus. Begitu juga dengan kuliah, karena mencari ilmu adalah sebuah amalan yang derajatnya setara dengan amalan-amalan orang yang beriman.

Tahun Pertama Kuliah

            Aku mengikuti pengkaderan pertama yang bernama TPI 1 oleh UKMI Al-Falak. Aku terpilih di tahun kedua menjadi Sekretaris Kaderisasi. Kaderisasi adalah tonggak dalam sebuah organisasi karena yang terpilih sebagai orang yang tergabung di dalamnya adalah orang-orang yang telah baik akhlaknya (ngajinya), halaqah dan siap menjalankan mentoring untuk adik-adik tingkat bawah dan siap memberikan pembinaan terhadap departemen lainnya. Ibaratnya Kaderisasi adalah angin segar yang membawa pembaharuan untuk UKMI. Sedangkan ketua Departemen Kaderisasi adalah teman sekelasku juga namanya Gilang. Sebelum menjadi sekretaris Kaderisasi, aku diamanahkan menjadi pengurus sebagai anggota Divisi Data Base kaderisasi yaitu tugasnya mengumpulkan data-data pengurus dan mengevaluasi amalan-amalan harian yang dikumpulkan setiap bulannya, di samping itu mengecek keadaan halaqah teman-teman pengurus lainnya. Serta mengadakan acara pengajian pengurus dan bekerja sama dengan Divisi Pelatihan dan Pengkaderan serta HUMAS.

Sementara di KAMMI, aku mengikuti Jelajah KAMMI I (JK I) yaitu pengkaderan yang pertama kalinya untuk bergabung dengan KAMMI pada semester kedua. Aku diamanahkan menjadi anggota DKP. DKP adalah Departemen Kebijakan Publik yang tugasnya menyikapi kebijakan kampus mengenai aturan yang berkaitan dengan mahasiswa dan kebijakan yang pro dan kontra terhadap mahasiswa juga berafiliasi dengan ORGAMAWA serta koordinasi dengan DKP KAMMI Daerah SUMUT. Di semester ini juga aku dikejutkan dengan apa yang dilakukan SekDep DKP. Tiba-tiba saja dia mengajakku bertemu, sambil berjalan kaki dan ia memintaku agar menggantikannya menjadi SekDep DKP. What’s?? Aku yang masih lugu dan polos ini diamanahkan tugas yang aku tak sanggup untuk mengambilnya. Dan ia mengatakan bahwa, ia telah mengatakan hal ini kepada ketua Umum, Kaderisasi, Ketua DKP dan BPH lainnya. Hmmm … akhirnya dengan banyak pertimbangan dan keyakinan hatiku yang belum mantap di tahun ini juga aku menjadi Sekretaris DKP. Baiklah pembelajaran pun terjadi di sini.

Di semester ini aku dipersiapkan sebagai pementor untuk adik-adik binaan yang berada di semester I. Dengan berbagai materi dan persiapan-persiapan sebagai pementor. Di samping itu aku juga sudah mengisi pembinaan untuk adik-adik mentoring di SMA. Ini adalah hal yang luar biasa bagiku karena aku bisa mengisi ruhiyah dan sama-sama mentransfer dan belajar Islam bersama-sama baik dengan sharing, diskusi dan kajian materi-materi, bertukar kado, rihlah dan games. Serunya gak terduga. Aku tidak akan bisa seperti ini, berbagi dengan adik-adik dan juga berani mengemukakan pendapat karena, waktu di SMA saja aku sangat pemalu sekali dan pendiam.

Berjibun kegiatan praktikum membanjiri di tahun kedua ini, apalagi laporan sebelum masuk dan selesai praktikum itu harus di ketik dengan mesin tik. Di negeri yang modern ini, masih saja menggunakan mesin tik yachhh? Ya begitulah….agar laporan kita tidak bisa di copy-paste seperti di komputer itulah kelebihannya, tapi kekurangannya ini membuat aku dan ten-temanku kurus dan bahkan sakit-sakitan karena kami harus mengerjakannya hingga larut malam bahkan terkadang tak tidur. Ku kerjakan berbagai laporan dengan menggunakan mesin tik, masya Allah capeknya luar biasa apalagi harus sampai begadang di tengah malam karena laporan belum juga selesai, sampai harus menginap di kos teman karena sudah tak sanggup pulang lagi.

Tahun Ketiga Kuliah

Amanahku semakin berat karena aku terpilih menjadi Sekretaris Kaderisasi di Komisariat Nusantara. Dan aku hanya berjalan sendiri tanpa teman ataupun kakak-kakak yang bisa aku andalkan menjadi tempatku untuk bersandar, menangis dan keluh-kesah tentang Komisariat, Pengkaderan dan kondisi pengurus. Aku saat itu merasa sendirian dan aku merasa tak ada yang bisa dan selalu ada mendengarkanku. Betapa beratnya untuk mengembangkan Komisariat yang baru dan ruang lingkupnya hanya 3 fakultas saja. Aku juga harus bertengkar kecil soal adik-adik yang diarahkan ke UKMI ataukah DI KAMMI? Aku hanya bisa menangis, kecewa dan berharap hampa. Aku dibantu dengan beberapa teman ikhwan untuk membangun Komisariat ini. Jatuh-bangun kami bersama membangun Komisariat Nusantara. Mungkin hanya nama yang terukir ketika Komisariat ini berdiri tegak beberapa tahun lagi…aku yakin! Di samping itu, aku diperkuat dengan berbagai binaan yang ada di kampus dan di SMA. Jumlah 4 kelompok yang aku bina sudah cukup membuatku harus banyak meluangkan waktu dengan baik dan memanajemennya agar tak bertabrakan. Semua jadwal di sesuaikan dengan waktu kosong adik-adik dan waktuku yang paling diprioritaskan. Lagi-lagi aku memiliki praktikum yang super banyak tapi aku hanya berdoa semua ini bisa aku jalani dengan baik. Kuliah, praktikum, amanah organisasi, amanah membina adik-adik.

Semuanya bisa berjalan dengan baik walaupun aku harus banyak menghela nafas, terkadang sakit dan terkadang menangis dan terkadang tertawa. Berbagai bahasa tubuh telah kurasakan saat itu. Aku hanya memohon pada Allah agar DIA selalu memberikanku kekuatan, kesabaran dan keistiqamahan. Semuanya berawal karena aku telah berhijab dan aku mematuhi perintah-Nya dan menyiarkan agama-Nya di mulai aku berada di SMA. Sehingga di waktu kuliah aku tinggal memantapkan hati lagi dan menambah kesibukanku untuk menyiarkan Islam.

Siapa bilang dengan berhijab, segala aktivitas menjadi terhambat? Siapa bilang dengan berhijab hanya bisa berdiam diri di rumah??. Siapa bilang, dengan berhijab prestasi akademik menjadi terhambat? Aku bisa masuk Asrama Putri USU dengan IPK 3,01 sebagai syarat masuknya. Dan mendapatkan beasiswa juga dari Kampus. Oh ya, aku juga lupa untuk menceritakan tentang PRAMUKA USU. Aku bergabung karena tak sengaja bukan dari hati. Aku merasa adanya kebersamaan di sana dengan teman-teman tapi aku tetap menjaga diri agar tidak berkhalwat dengan teman laki-laki yang ada di sana. Tapi aku menemukan kebebasan di sana, yang tak kutemukan di organisasi UKMI dan KAMMI. Hingga PRAMUKA bisa membawaku menjadi Peserta Temu PRAMUKA seluruh Indonesia di IPB-Bogor tahun 2009. Rasa kebersamaan pun terjalin. Karena di PRAMUKA di tuntut mandiri, sigap dan cekatan.

Berbagai prestasi di dunia Organisasi bisa kuraih dengan menutup aurat sebagai syarat utamanya. Dan aku tak bisa sejauh ini bila bukan terjun di dunia kampus. Diamanahkan dengan berbagai amanah. Satu amanah yang ada di Alumni Sekolah sebagai SekDep Departemen Eksternal yang mengurusi adik-adik BINTALIS SMAN 12. Baik itu pengajian Keputrian, PAP, TABIN dan Pesantren Kilat Ramadhan. Berbagai kegiatan membuatku menjadi semakin berarti bahwa aku tak bisa berdiam diri saja, aku tak ingin beristirahat sekarang, masih terlalu dini bagiku. Karena waktu istirahat kita adalah ketika kita berada di SurgaNya kelak.

Selesai dari Kampus

            Aku bergabung dengan PRIMAGAMA HM Joni selama 1 tahun karena aku harus mondok di Pesantrennya Abu Ubaidah Bin Al-Jarrah untuk bergabung menghafal Qur’an. Namun belum sampai 6 bulan aku harus keluar, karena orangtua memaksakan aku agar segera mencari pekerjaan. Akhirnya aku pun keluar dan mencari pekerjaan…berbagai macam surat kabarpun ku buru agar aku dapat melayangkan CV dan surat lamaran pekerjaan, tapi yang aku dapatkan adalah pekerjaan yang sangat jauh jaraknya dari rumahku, sehingga tidak memungkinkan kalau aku harus mengambilnya.          Dan alhamdulillah aku bergabung dengan Dompet Dhuafa Bogor yaitu Sekolah Guru Indonesia (SGI) dalam membimbing anak-anak negeri menjadi siswa-siswa yang memiliki potensi dan berbagai macam keunikan. Karena di pelosok negeri banyak guru…tapi guru yang bisa dan selalu bersedia membimbing anak-anaknya hingga menghabiskan waktunya hanya segelintir orang yang hatinya terpanggil. Entah kenapa aku menjadi begitu terkesan dengan kegiatan yang telah diprogramkan oleh SGI DD. Sehingga, sekarang aku berada di pelosok negeri yang kualitas pendidikan dan akhlak murid-muridnya masih sangat perlu adanya pembinaan yang intensif dan berbagai karakter guru yang masih membutuhkan cerminan bagaimana mengajar yang baik, bukan sekadar menjadi guru yang hanya bisa mengajar, tapi juga harus memperbaiki akhlak anak-anak bangsa. Di sini agama sangat kurang sekali, warna Islam tak tampak di sini. Sangat menyedihkan. Aku yang ikut dan bergabung dalam SGI ini berusaha memperbaiki anak-anak dan guru-guru yang ada di sini. Semoga dengan hijab yang telah terurai ini bukan menjadikan aku semakin sombong tapi bagaimana agar aku bermanfaat untuk orang lain juga. Fastabiqul khairat, sebelum nafasku berujung di tenggorokan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 1,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nabilah Hurin
Guru SDN 4 Dendang Belitung.

Lihat Juga

Amal Chammout, Polwan Pertama AS yang Memakai Hijab