Home / Dasar-Dasar Islam / Hadits / Syarah Hadits / Hadits Tentang Shalat Isyraq, Dhaifkah?

Hadits Tentang Shalat Isyraq, Dhaifkah?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Pertanyaan:

Kaligrafi, hadits (lovely0smile.com)
Kaligrafi, hadits (lovely0smile.com)

dakwatuna.com –  Assalamu ‘alaikum Ust. Ana mau Tanya, setelah shalat subuh terus berdzikir sampai terbit matahari dengan amalan tersebut akan mendapatkan pahala haji dan umrah sempurna, sempurna, bagaimana statusnya? Ana dengar di MTA –yang lagi terkenal ana dengar via radio- (karena menyebut sampai waktu dhuha) banyak ulama mendhaifkan, sementara Al Albani menshahihkannya. Mana yang benar? (081915039xxx)

Jawaban:

Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh. Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala rasulillah wa ba’d:

Kepada saudara penanya, hadits yang dtanyakan itu ada beberapa jalan, yakni sebagai berikut:

Hadits Pertama:

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

من صلى الصبح في جماعة ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس ثم صلى ركعتين كانت له كأجر حجة وعمرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : تامة تامة تامة

 

“Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah lalu dia duduk untuk berdzikir kepada Allah hingga terbit matahari kemudian shalat dua rakaat maka dia seperti mendapatkan pahala haji dan umrah.” Anas berkata: Rasulullah bersabda: “Sempurna, sempurna, sempurna.”

 

Dikeluarkan oleh:

 

–           Imam At Tirmidzi dalam Sunannya No. 586, katanya: hasan gharib.

–          Imam Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah No. 710

 

Sanad hadits ini: Abdullah bin Muawiyah Al Jumahi Al Bashri, Abdul Aziz bin Muslim, Abu Zhilal, Anas bin Malik.

1.       Abdullah bin Muawiyah. Dia adalah Abdullah bin Muawiyah bin Musa bin Abi Ghalizh bin Mas’ud bin Umayyah bin Khalaf Al Jumahi. Kun-yahnya Abu Ja’far.

 

Siapa Dia? Imam Ibnu Hibban memasukkannya dalam kitab Ats Tsiqaat – orang-orang terpercaya. (No. 13862). Imam At Tirmidzi mengatakan: dia orang shalih. Abbas Al Anbari mengatakan: tulislah hadits darinya, dia terpercaya. Maslamah bin Qasim mengatakan: terpercaya. (Tahdzibut Tahdzib, 6/38-39). Imam Adz Dzahabi mengatakan: seorang imam, ahli hadits, jujur, musnid-nya kota Bashrah, usianya sampai 100 tahun. (Siyar A’lamin Nubala, 11/435)

2.       Abdul Aziz bin Muslim. Dia adalah Abdul Aziz bin Muslim Al Qasmali Al Khurasani Al Bashri. Kun-yahnya Abu Zaid.

 

Imam Adz Dzahabi mengatakan: dia seorang imam, ahli ibadah, salah satu orang terpercaya. (Siyar A’lamin Nubala, 7/240). Imam Ibnu Hibban memasukkannya dalam kitab Ats Tsiqaat. (No. 9254). Yahya bin Ma’in mengatakan: laa ba’sa bihi – tidak ada masalah. Abu Hatim mengatakan: haditsnya bagus dan terpercaya. (Mizanul I’tidal, 2/635)

3.       Abu Zhilal. Dia adalah Hilal bin Abi Suwaid Al Qasmali Al Bashri kawan dari Anas bin Malik

 

Siapakah Abu Zhilal? Imam At Tirmidzi bertanya kepada Imam Al Bukhari, katanya: “Dia muqaribul hadits (haditsnya mendekati shahih), namanya Al Hilal.” (Sunan At Tirmidzi No. 586). Segenap ulama mendhaifkannya, Yahya bin Ma’in mengatakan: dhaif, bukan apa-apa. An Nasa’i dan Al Azdi mengatakan: dhaif. Ibnu Hibban mengatakan: seorang syaikh yang lalai, tidak bisa dijadikan hujjah. Ya’qub bin Sufyan mengatakan: layyinul hadits – haditsnya lemah. Abu Ahmad Al Hakim mengatakan: bukan termasuk orang yang kokoh. (Tahdzibut Tahdzib, 11/85)

4.       Anas bin Malik. Dia adalah sahabat nabi yang masyhur, dan mendengarkan hadits ini langsung dari nabi.

 

Nah, kepada para pembaca .. khususnya saudara penanya ….

 

Dari semua perawi yang ada, semuanya tsiqah kecuali Abu Zhilal yang didhaifkan umumnya para imam, kecuali Imam Bukhari yang menyebutnya muqaribul hadits. Inilah yang menyebabkan sanad hadits ini memiliki cacat menurut pihak MTA yang Sdr. penanya sebutkan.

 

Kenyataannya Imam At Tirmidzi tidak mendhaifkannya, dia menghasankannya, sebab hadits seperti ini ada dalam berbagai riwayat lain yang menjadi syawahid (saksi yang menguatkan). Telah ma’ruf bagi para peneliti hadits, bahwa sanad yang dhaif (lemah) bisa terangkat menjadi hasan bahkan shahih jika dikuatkan oleh hadits-hadits serupa di berbagai jalur lainnya. Inilah yang barangkali pihak MTA kurang memperhatikannya. Wallahu A’lam

 

Imam An Nawawi mengatakan:

بل ما كان ضعفه لضعف حفظ رايه الصدوق الأمين زال بمجيئه من وجه آخر وصار حسناً، وكذا إذا كان ضعفه بالإرسال زال بمجيئه من وجه آخر

 

 Tetapi jika hadits dhaif itu kedhaifannya disebabkan adanya satu perawi yang lemah hapalannya tapi dia orang jujur dan amanah, lalu dikuatkan oleh jalur riwayat yang lain maka hadits itu menjadi hasan. Begitu pula jika kedhaifannya karena mursal (terputusnya sanad pada salah satu thabaqat – generasi perawi hadits, pen), maka dia juga gugur kedhaifannya jika ada hadits serupa dari jalur lainnya. (At Taqrib wat Taisir Lima’rifatis Sunan Al Basyir An Nadzir, Hal. 2)

 

Abu Zhilal bukanlah seorang pendusta dan bukan pemalsu hadits, tetapi dia orang yang lemah hapalannya, dan sanad hadits ini pun bersambung. Oleh karena itu, berkata Syaikh Abul Hasan Al Mubarkafuri Rahimahullah :

 

وإنما حسن الترمذي حديثه لشواهده، منها: حديث أبي أمامة عند الطبراني، قال المنذري في الترغيب، والهيثمي في مجمع الزوائد (ج10: ص104) : إسناده جيد، ومنها: حديث أبي أمامة، وعتبة بن عبد عند الطبراني أيضاً. قال المنذري: وبعض رواته مختلف فيه. قال: وللحديث شواهد كثيرة-انتهى.

Sesungguhnya penghasanan At Tirmidzi terhadap hadits ini karena banyaknya riwayat yang menjadi penguat (syawahid), di antaranya hadits Abu Umamah yang diriwayatkan Ath Thabarani, yang oleh Al Mundziri dalam At Targhib dan Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (10/104) dikatakan: “Isnadnya jayyid, di antaranya hadits Umamah dan ‘Utbah bin Abd yang diriwayatkan Ath Thabarani juga. Al Mundziri mengatakan: “Sebagian perawinya diperselisihkan.” Dia katakan: “Hadits ini memiliki banyak syawaahid (saksi yang menguatkannya).” (Mir’ah Al Mafatih, 3/328)

 

Begitu pula dikatakan oleh Imam Abul ‘Ala Al Mubarkafuri Rahimahullah:

 

حَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ فِي إِسْنَادِهِ أَبُو ظِلَالٍ وَهُوَ مُتَكَلَّمٌ فِيهِ لَكِنْ لَهُ شَوَاهِدُ فَمِنْهَا حَدِيثُ أَبِي أُمَامَةَ

 

Dihasankan oleh At Tirmidzi, dalam isnadnya terdapat Abu Zhilal, dia diperbincangkan keadaannya, tetapi hadits ini memiliki banyak penguat di antara hadits Abu Umamah. (Tuhfah Al Ahwadzi, 3/158)

 

Jadi, hadits di atas selain dihasankan oleh Imam At Tirmidzi, juga dihasankan oleh Imam An Nawawi. (Al Khulashah Al Ahkam, 1/470), lalu Imam Zainuddin Al ‘Iraqi juga turut menghasankannya. (Takhrijul Ihya, Hal. 396), Imam Al Baghawi juga mengikuti penghasanan At Tirmidzi. (Syarhus Sunnah No. 710), Dihasankan oleh Syaikh Abul Hasan Al Mubarkafuri (Mir’ah Al Mafatih, 3/328), juga oleh Imam Abul ‘Ala Al Mubarkafuri. (Tuhfah Al Ahwadzi, 3/158). Syaikh Al Albani juga menghasankannya. (Misykah Al Mashabih No. 971), dan menshahihkan dalam kitab lainnya. (Shahihul Jami’ No. 6346, Shahihut Targhib No. 464)

 

Tentang kehujjahan hadits hasan, Imam An Nawawi mengutip dari Imam Al Khathabi Rahimahullah:

 

ويقبله أكثر العلماء، ويستعمله عامة الفقهاء

Diterima oleh mayoritas ulama, dan dipakai oleh semua fuqaha (ahli fiqih). (At Taqrib, Hal. 2)

 

Maka hadits ini tidak hanya diakui oleh Syaikh Al Albani. Para ulama yang telah menghasankan dan menshahihkan hadits ini sangat banyak.

 

Hadits Kedua:

 

Inilah riwayat yang dimaksud oleh Syaikh Abul Hasan Al Mubarkafuri dijadikan sebagai penguat hadits Imam At Tirmidzi di atas.

 

Dari Abu Umamah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 

من صلى صلاة الغداة في جماعة ثم جلس يذكر الله حتى تطلع الشمس ثم قام فصلى ركعتين انقلب بأجر حجة وعمرة

 

“Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah lalu kemudian dia duduk untuk berdzikir kepada Allah hingga terbitnya matahari, kemudian dia bangun mengerjakan shalat dua rakaat, maka dia mendapatkan pahala sebagaimana haji dan umrah.”

 

Dikeluarkan oleh:

–          Imam Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 7741, juga dalam Musnad Asy Syamiyyin No. 885.

–          Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 3542.

 

Hadits ini sanadnya kuat, dan dapat dijadikan sebagai syahid bagi hadits di atas. Imam Al Haitsami mengatakan: “Sanadnya Jayyid.” (Majma’ Az Zawaid, 10/104, No. 16938). Imam Al Mundziri juga mengatakan sanadnya jayyid. (At Targhib wat Tarhib No. 467). Syaikh Al Albany mengatakan: “Hasan Shahih.(Shahih At Targhib wat Tarhib, No. 467)

 

Hadits Ketiga:

Dari Abdullah bin Ghabir, bahwa Abu Umamah dan ‘Utbah bin Abd As Sulami Radhiallahu ‘Anhuma mengatakan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

من صلى صلاة الصبح في جماعة ثم ثبت حتى يسبح لله سبحة الضحى كان له كأجر حاج ومعتمر تاما له حجه وعمرته

 

“Barangsiapa yang shalat subuh secara berjamaah kemudian dia berdiam (berdzikir) sampai datang waktu dhuha, maka dia akan mendapatkan ganjaran seperti haji dan umrah secara sempurna.”

Dikeluarkan oleh:

–          Imam Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir No. 317

–          Imam Al Mundziri, At Targhib wat Tarhib No. 469

Imam Al Mundziri menguatkan hadits ini dengan mengatakan:

رواه الطبراني وبعض رواته مختلف فيه وللحديث شواهد كثيرة

Diriwayatkan oleh Ath Thabarani, sebagian perawinya masih diperselisihkan kekuatannya, namun hadits ini memiliki banyak syawaahid (berbagai penguat). (At Targhib wat Tarhib No. 469)

Begitu pula Imam Al Haitsami mengatakan:

فيه: الأحوص بن حكيم، وثقه العجلي وغيره، وضعفه جماعة، وبقية رجاله ثقات، وفي بعضهم خلاف لا يضر

Di dalam sanadnya terdapat Al Ahwash bin Hakim, dia ditsiqahkan oleh Al ‘Ajli dan lainnya, namun segolongan ulama mendhaifkannya, sedangkan para perawi lainnya adalah terpercaya, dan tentang sebagian mereka ada yang masih diperselisihkan tetapi tidak apa-apa. (Majma’ Az Zawaid, 10/104)

Syaikh Al Albani mengatakan hasan lighairih. (Shahih At Targhib wat Tarhib No. 469)

Selesai …………..

Dengan uraian ini, telah nampak bahwa hadits ini kuat dan maqbul (bisa diterima). Para ulama yang menegaskan ini begitu banyak, seperti:

– Imam At Tirmidzi

– Imam Al Baghawi

– Imam An Nawawi

– Imam Zainuddin Al ‘Iraqi

– Imam Nuruddin Al Haitsami

– Imam Al Mundziri

– Imam Abul ‘Ala Al Mubarkafuri

– Syaikh Abul Hasan Al Mubarkafuri

– Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahumullah

 

Maka, hadits ini tidak hanya dikuatkan oleh Syaikh Al Albani saja, melainkan juga oleh banyak para imamul muhadditsin dan ulama Islam lainnya.

Wallahu A’lam wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi ajmain (usb/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: Samin B

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (14 votes, average: 8,93 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Farid Nu'man Hasan
Lahir di Jakarta, Juni 1978. Alumni S1 Sastra Arab UI Depok (1996 - 2000). Pengajar di Bimbingan Konsultasi Belajar Nurul Fikri sejak tahun 1999, dan seorang muballigh. Juga pengisi majelis ta'lim di beberapa masjid, dan perkantoran. Pernah juga tugas dakwah di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, selama dua tahun. Tinggal di Depok, Jawa Barat.
  • Joko Sampurno

    mencerahkan.. jazakallah ustadz..

  • Agus AW

    semoga para alim ulama senantiasa diberikan keteguhan untuk melanjutkan perjuangan Rasulullah saw…

  • Tb Afidullah

    Aamiin Semoga Bisa Istiqomah Melaksanakan Sunnah2nya Aamiin YRA…

  • Asep Ridwan

    Alhamdulillah, uraiannya sangat lengkap dan jelas. jazakallahu khoiron pa ustadz

Lihat Juga

Khutbah Idul Fitri 1437 H: Nyalakan Iman Dalam Kehidupan, Refleksi Ibadah Puasa Ramadhan