Home / Berita / Opini / Mahyeldi Yang Kukenal

Mahyeldi Yang Kukenal

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Mahyeldi Ansharullah, Wakil Walikota Padang
Mahyeldi Ansharullah, Wakil Walikota Padang

dakwatuna.com – Saat mendapatkan kartu nama beliau dari ayah, saya masih di sekolah menengah atas,. Ternyata ayah sudah mengenal beliau lebih dulu. Setelah saya tanya ayah, baru saya tahu bahwa ternyata orangtua beliau juga berasal dari Bukit tinggi, tepatnya di Nagari Gadut, Kabupaten Agam. Yang mana daerah tersebut hanya berjarak sekitar 4 km dari rumah orangtua saya di kampung.

Di kartu tersebut tertulis jabatan beliau sebagai Ketua DPW PKS Sumbar. Saya tidak mengira ada seorang putra Agam yang menjabat sebuah posisi penting di sebuah partai da’wah yang begitu fenomenal di negeri ini. Dari foto yang tertera di kartu nama tersebut, saya mengira bahwa beliau ini sudah agak berumur. Itu terlihat dari jenggot yang begitu lebat memenuhi dagu beliau. Ternyata perkiraan saya kurang tepat. Umur beliau ketika itu masih 36-37 tahun. Di usia yang masih relatif muda sudah memimpin sebuah organisasi level nasional untuk tingkat propinsi. Sebuah pencapaian yang luar biasa.

Saat berkesempatan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, saya aktif mengikuti kegiatan dakwah kampus. Pernah suatu ketika saya menjadi panitia salah satu kegiatan pelatihan. Saat itu kami berencana meminta beliau untuk menjadi salah satu pemateri pada acara tersebut. Pada awalnya kami agak ragu juga, apakah beliau akan bersedia. Setelah dihubungi, Alhamdulillah beliau mengiyakan. Sampai pada waktu acara pelatihan tersebut, kami masih saja khawatir apakah beliau berkesempatan hadir mengingat begitu padatnnya jadwal beliau. Kami sudah siap dengan berbagai kemungkinan terburuk seandainya beliau tidak bisa hadir dan juga tidak sempat mencarikan pengganti. Namun kekhawatiran kami sirna saat di hari H Alhamdulillah beliau sempat hadir dan memberikan materi di hadapan peserta.

Pernah juga suatu ketika di tahun 2009 saat saya masih kos di Air Tawar. Ya, maklumlah ketika itu baru tamat kuliah, masih bujangan dan belum laku, he..he. Saat di Bulan Ramadhan, saya begitu terusik dengan aktivitas salah satu kedai nasi. Sang pemilik kedai nasi tersebut masih saja melayani permintaan makan para pelanggan di siang hari. Sontak saya kaget. Di siang hari Bulan Ramadhan, di tepi jalan raya, padat penghuni dan ramai aktivitas orang berlalu lalang, masih saja ada yang mau dan tidak tau malu melaksanakan aktivitas seperti itu.

Di tengah kegalauan karena tidak tau mau berbuat apa, saya teringat bahwa saya menyimpan nomor hape beliau. Saya merasa cukup pantas jugalah menyampaikan hal ini kepada beliau yang ketika itu menjabat sebagai wakil rakyat di DPRD Sumbar. Saya pun langsung mengirim sms mengadukan hal ini kepada beliau. Disamping kepada beliau, saya juga menyampaikan hal serupa kepada salah seorang anggota DPRD Kota Padang. Saya cukup lega mendapat tanggapan dari Ustadz Mahyeldi bahwa beliau akan meminta satpol PP untuk menertibkannya.

Namun tanggapan berbeda yang saya dapatkan dari sang anggota DPRD Kota Padang itu (yang saya tidak perlu sebutkan nama). Saya agak kecewa karena jawaban yang agak kurang memuaskan bagi saya. Beliau menjawab bahwa itu bukanlah kewenangan beliau. Itu merupakan tugasnya Pemko Padang untuk memberantas kegiatan maksiat tersebut. Agak nya bukanlah merupakan jawaban yang tepat selaku wakil rakyat. Lagi-lagi, Ustadz Mahyeldi menunjukkan kapasitas beliau sebagai calon pemimpin masa depan yang di damba umat.

Pada saat pernikahan saya di akhir tahun 2010, saya meminta beliau untuk memberikan khutbah nikah. Saat menghubungi beliau lewat telepon, beliau pun bersedia dan meminta saya untuk menyampaikan undangan lewat sespri beliau Ustadz Editiawarman. Saya tidak tau mau bilang apa saat beliau mengatakan bersedia untuk memberikan khutbah nikah pada hari yang begitu bersejarah bagi saya itu. Dan rasa kekhawatiran itu tak dapat juga saya enyahkan dari pikiran, apalagi ketika itu beliau sedang menjabat sebagai Wakil Walikota Padang. Agak nya tak terkira betapa sibuknya beliau. Saya tidak pernah membayangkan bagaimana beliau men-set waktu sehingga mau mengiyakan permintaan saya yang barangkali tidak terlalu penting bagi beliau.

Pada hari H-nya beliau kembali menunjukkan kebijaksanaan sebagai seorang pemimpin. Sesuai dengan permintaan saya, beliau sudah datang tepat waktu. Akan tetapi prosesi akad nikah saya belum bisa dilaksanakan karena Pak KUA yang tak kunjung datang. Ketika saya hubungi, beliau menjawab masih di jalan. Setelah lebih 30 menit menunggu akhirnya Pak KUA datang juga. Pak KUA agak kaget dan terkejut juga saat melihat ada “bos” beliau yang juga hadir ketika itu.

Beliau pun menjelaskan kronologis keterlambatan itu karena begitu padat nya jadwal menikahkan orang pada hari itu. Kalau saya tidak salah ada lebih dari 50 pasangan yang akan dinikahkan pada hari itu. Namun Ustadz Mahyeldi santai saja menanggapi keterlambatan bawahan beliau tersebut. Tidak sedikit pun terlihat kesal, apalagi marah-marah.

Dan pada berbagai kesempatan pun kita menyaksikan betapa rendah hatinya beliau. Saat banjir melanda Kota Padang beberapa waktu lalu, beliau tidak sungkan-sungkan untuk langsung turun tangan membersihkan sisa-sisa banjir itu. Bahkan beliau tidak segan untuk mengangkat karung beras bantuan yang akan disalurkan kepada warga yang rumahnya terkena bencana itu.

Dan berdasarkan informasi dari salah seorang kawan, beliau pun tidak segan untuk mengendarai mobil sendiri saat sopir beliau ada keperluan lain sehingga tidak bisa mengantar beliau. Bahkan menurut informasi kawan itu, keperluan sopir beliau itu bukanlah keperluan yang terlalu penting yaitu hanyalah untuk bermain sepak bola.

Pernah juga saat menjabat sebagai wakil ketua DPRD Sumbar, beliau menolak fasilitas mobil mewah. Beliau beranggapan bahwa tidaklah pantas seorang wakil rakyat bermewah-mewahan sementara masih banyak rakyat sehari kadang makan kadang tidak.

Dengan melihat kiprah, kinerja, kebijaksanaan, kesederhanaan serta kebersahajaan beliau selama ini, agak nya tidaklah terlalu berlebihan seandainya kita mengatakan bahwa beliaulah calon pemimpin Kota Padang yang paling tepat untuk lima tahun ke depan. Semoga pasangan Mahyeldi-Emzalmi dimudahkan oleh Allah untuk memenangkan Pilkada dan berhasil memimpin Kota Padang untuk lima tahun mendatang, Aamiin. (sbb/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Pegawai Swasta. Anggota Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia.
  • Hengky Palimo

    Sebagai calon cawako padang yg dari hari k hari sy perhatikan semakin semraut seakan tak terurus, calon wako bukan sekedar pencitraan yang populer saja, tapi juga harus visioner dan bisa mengurai ke semrautan kota ini

Lihat Juga

Ini Keputusan Kang Emil Terkait Cagub DKI

Ridwan Kamil Klarifikasi Soal Tuduhan Pemukulan Terhadap Sopir Angkot