Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tetapkan Aku Dalam Istiqamah, Yaa Rabb

Tetapkan Aku Dalam Istiqamah, Yaa Rabb

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Kuceritakan padamu yang sebentar lagi akan segera lulus kuliah. Bahwa Allah juga akan tetap mengujimu, menguji keimananmu, menguji keistiqamahanmu dengan berbagai kenikmatan dunia, termasuk yang kuceritakan di sini.

Akhir-akhir ini, aku terlalu sibuk dengan tugas akhir kuliahku. Aku merasa terlalu lama menunda-nunda menyelesaikan enam sks mata kuliah terakhirku ini. Hingga hari ini, setelah mondar-mandir di kampus dan kuyakin Pak Jauhari yang berada di bagian akademik pasti sudah bosan melihat wajahku. Bagaimana tidak, sehari aku bisa menemuinya hingga lima kali. Hari ini, tepat dua hari pasca peringatan kemerdekaan, aku juga dinyatakan merdeka secara tertulis dari kuliah strata satuku. Telah kudapatkan surat keterangan lulus dengan predikat memuaskan (meskipun sudah pasti bukan cumlaude), dan ah malu sekali aku menyebutkan berapa tahun yang tertera di surat keterangan lulus itu hingga akhirnya aku bisa beranjak pergi dari kampus. Katakan saja setelah lima tahun tiga belas bulan akhirnya aku mendapat selembar kertas yang berisi keterangan lulus.

Iya, sekarang di belakang namaku ada embel-embel S.Pd atau sarjana pendidikan. Pasti, hal tersebut menjadi hal yang sangat menyenangkan bagi siapa saja yang telah lulus dari studinya. Tapi hal itu tidaklah menjadi hal yang sangat menyenangkan bagiku. Katakan saja, aku senang tapi tidak dalam kondisi sangat senang. Entah sepertinya aku merasa ada bagian yang patah dari dalam diriku. Ada bagian-bagian kehidupan yang sempat kujauhkan dari diriku.

Lalu sembari berusaha berpikir apa yang berbeda denganku, kehidupanku sama seperti yang lainnya. Mau tidak mau setelah dinyatakan lulus dari kuliah, kita diminta siap menyandang status baru. Paling tidak, ada empat status baru yang kemungkinan bisa disandang lagi. Status tersebut bisa jadi adalah mahasiswa kembali karena dia melanjutkan ke strata 2. Atau bisa jadi seseorang menyandang status telah bekerja, status menikah, atau bahkan bisa jadi status tersebut adalah pengangguran. Status pengangguran pasti bukanlah status yang membanggakan. Meskipun sebenarnya status tersebut adalah sebuah rangkaian proses sebelum akhirnya mendapatkan panggilan kerja. Jika kita tidak sedikit sabar dan gigih mencari atau membuka kerja, pasti depresi akan kita alami. Hal inipun kualami sekarang, bahkan aku mulai depresi semenjak sehari selepas sidang akhir. Saat itu, aku sudah geger bertanya kepada orang-orang terdekat apakah sudah ada lowongan di instansi A, instansi B, hingga instansi L. Hehe namanya juga pengangguran baru, jadinya cukup kaget dengan status baru dan ingin segera berpindah status.

Aku terus saja googling tentang lowongan pekerjaan juga mencari tahu kuliah strata 2, meskipun sebenarnya tidak terlalu mengejar untuk lanjut kuliah. Tapi kupikir, jika itu membuat kehidupan kita makin baik ke depan, kenapa tidak dicoba saja. Toh, hidup itu penuh kejutan, apapun bisa datang dan terjadi jika Allah sudah memberi titah. Lalu sembari menunggu lowongan yang kuingin, aku mendatangi instansi pendidikan yang katanya menyediakan beasiswa dual degree. Tentu, beasiswa tersebut merupakan kesempatan langka dan pasti banyak juga yang mengincarnya selain aku. Langsung saja kutanyakan kuota yang tersedia dengan hati yang disiapkan untuk tegar menerima jawabannya. Walhasil setelah beberapa saat, akhirnya kudapatkan jawaban bahwa beasiswa tersebut bukan untuk fresh-graduated sepertiku. Akupun kemudian keluar dari instansi pendidikan tersebut tanpa mendapati luka dalam hati. Alhamdulillah, paling tidak aku sudah mencoba mencari tahu. Mungkin belum saatnya untuk mendapat beasiswa tersebut.

Dari situ kupikir Allah ingin menunjukkan sebuah jalan, bahwa mungkin ada jalan yang lebih baik untuk kujalani sekarang ketimbang mengikuti beasiswa tersebut. Aku juga menyempatkan diri untuk menulis dan mengirimkan lamaran ke dua instansi yang sedang membuka lowongan. Surat lamaran sudah kumasukkan, namun ada beberapa hal yang mengusik pikiranku sekarang. Tentu bukan masalah gaji. Aku tahu pasti jika aku diterima, gaji yang akan kudapatkan pasti besar dari instansi tersebut. Namun, bagaimana jika mereka mempermasalahkan jilbabku? Bagaimana jika mereka memintaku untuk memendekkan jilbabku yang biasanya kupasang hingga sedada ini? Bagaimana jika peraturan instansi membuatku harus merubah semuanya? Jilbabku bahkan mungkin pakaianku semakin tidak longgar? Yaa Allah, aku pada-Mu.

Mungkin aku terlihat mudah goyah karena ini. Iya aku tahu, bahwa itu bukan hanya penglihatanmu, namun ini juga yang ada di pikiranku. Mungkinkah aku akan tidak sama seperti dulu lagi? Yaa Rabb izzati, jangan biarkan itu terjadi. Allah ketahuilah, sampai saat inipun aku masih tidak akan rela untuk mengubah jilbabku. Namun tanpa pertolongan-Mu, aku pasti bisa tergelincir. Na’udzubillah.

Engkau juga tahu ya Rabb, bahwa aku memang sangat menginginkan pekerjaan itu, namun aku juga tidak ingin hal itu membuatku kehilangan-Mu dalam diriku. Apa artinya gaji yang besar namun harus tanpa-Mu? Yaa Allah, sekali lagi kunyatakan keinginanku pada-Mu, jika yang kupilih ini ternyata sama baiknya dengan keputusan-Mu, maka mudahkanlah aku bertanggung jawab terhadapnya. Namun jika itu kurang baik untukku, maka berikan aku pekerjaan pengganti yang halal lagi baik. Aku sungguh tahu Engkau sedang mengujiku. Maka kuminta pada-Mu dengan sepenuh-penuhnya harapan, kuatkanlah aku untuk memilih mundur dari pekerjaan jika itu tak baik untuk keselamatan akhiratku. Aamiin ya Rabbal alamin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,63 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Asal Samarinda, Kalimantan Timur.

Lihat Juga

Ilustrasi. (ilusihatihafsah.blogspot.com)

Istiqamah Meninggalkan Maksiat