Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Man Shabara Zhafira

Man Shabara Zhafira

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Judul: Man Shabara Zhafira
Penulis: Ahmad Rifa’i Rif’an
Penerbit: Elex Media Komputindo – Jakarta
Cetakan: VI; Juni 2013
Tebal: xxiv + 283 Halaman
ISBN: 978-602-001-619-1

Meraih Kesuksesan Hidup dengan Kesabaran

Cover buku “Man Shabara Zhafira”.
Cover buku “Man Shabara Zhafira”.

dakwatuna.comIbarat sebuah perjalanan, sukses adalah pencapaian berkelanjutan yang dibangun sejak langkah pertama, bahkan sebelum memulai langkah. Hal ini menggambarkan betapa kesuksesan hidup merupakan upaya berkelanjutan yang tidak terbatas ruang dan waktu. Bahkan, dalam ajaran Islam, sukses baru bisa diperoleh ketika seseorang berhasil mati dalam keadaan terbaik dan kelak bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

Kebanyakan mereka yang disebut sukses adalah mereka yang bermimpi tinggi. Ia memikirkan sesuatu untuk banyak orang, ia melakukan sesuatu yang tidak dikerjakan oleh orang lain. Mimpi inilah yang membuat mereka bertahan, tahan uji dan tidak terlalu menggubris apa yang dipersepsikan orang lain terhadap dirinya. Dalam tahap ini, ketika sukses telah menjadi jalan yang dipilih, maka orang tersebut harus berani bermimpi besar. Dan ketika mimpi besar telah merasuk ke dalam seluruh sendi kehidupannya, maka ia harus belajar menjadi tuli dari mendengarkan komentar buruk sesamanya.

Impian memang menjadi awal dari keberhasilan. Ada begitu banyak orang besar yang melalui perjuangannya dengan sebuah impian. Impian merupakan sumber energi yang kerap menjadikan manusia berlelah-lelah demi meraih sesuatu yang diimpikan. (Hal 4)

Impian akan menjadi semakin nyata ketika ia ditulis, ditentukan waktunya, ditentukan tujuan akhirnya, serta disusun langkah-langkah kecil untuk mencapainya. Sehingga ia menjadi sangat detail, mudah dicapai dan mudah dievaluasi. Perlu juga diwaspadai adanya pencuri impian yang biasanya berasal dari dalam atau luar diri.

Mimpi juga harus besar. Karena Allah Maha Besar. Dia bisa memberikan apapun yang Dia kehendaki dan sebanding dengan upaya yang dilakukan. Ketika seseorang bermimpi besar, maka dia mempunyai kemungkinan untuk meraih mimpi tersebut ataupun mendapatkan mimpi yang lebih kecil. Sementara orang yang puas dengan mimpi kecil, maka ia hanya berpeluang mewujudkan mimpinya itu, tanpa sekalipun berpeluang mewujudkan mimpi yang lebih besar.

Mimpi hanya khayalan selama tidak berwujud aksi. Maka hal terpenting dari suksesnya seseorang –setelah bermimpi besar- adalah melaksanakan semua impian hidupnya melalui langkah-langkah terarah yang telah dipetakan.

Kalau kita hanya diam dan tidak berani mencoba, tidak akan ada keberhasilan yang akan diraih. Tetapi kalau kita berani mencoba, kita memang belum tentu berhasil, tetapi dengan mencoba kita punya peluang untuk berhasil. Jika kita mencoba, maka kita mempunyai 50% peluang berhasil dan 50% peluang gagal. Sementara ketika berdiam diri, kita mempunyai 100% peluang gagal dan 0% peluang berhasil. (Hal 71)

Impian dan aksi inilah yang kemudian mengarahkan seseorang kepada apa yang ia ingini secara jelas. Sehingga ketika terjun ke medan pekerjaan-pun, mereka tidak merasakan kegamangan menghampiri dirinya. Mereka mantap dan hanya melakukan apa yang menjadi kegemarannya. Sehingga mereka melakukan pekerjaan dengan sepenuh cinta.

Seperti apa yang dinasihatkan oleh Dale Carnegie dan Robert Kiyosaki, “Carilah pekerjaan yang memberimu kebahagiaan, pelajaran hidup dan manfaat bagi sesama. Jangan pilih yang hanya memberimu uang. Pekerjaan yang kau bahagia saat mengerjakannya, itulah yang kelak akan membesarkanmu.” (Hal 146)

Selain itu semua, kesuksesan sejatinya merupakan ‘bonus’ dari Allah Yang Maha Kuasa. Karena setelah ditarik garis lurus, mereka yang berhasil membesarkan diri dengan mimpi melalui karya-karyanya adalah mereka yang baik hubungannya dengan Rabb Pencipta semesta.

Sebut saja Purdi E. Chandra, sang pendiri LBB Primagama yang menusantara itu. Ketika ditanya apa yang menjadi sarapan paginya, ia berkata santai, “Sekitar jam enam saya makan roti bakar. Kemudian olahraga sebentar. Agak siang, saya baru makan nasi. Habis itu mandi dan shalat Dhuha.” (Hal 186). Bangun pagi dan Shalat Dhuha merupakan ibadah yang dilakukan untuk memudahkan, melancarkan dan mengharap keberkahan rezeki dari Allah Yang Maha Memberi Rezeki.

Di antara itu semuanya, salah satu sifat yang haram ditinggalkan adalah disiplin. Ketat dalam menjaga diri, waktu dan potensi yang lain. Sehingga dalam hal ini, patutlah kita merenungi nasihat bijak Pablo Picasso tentang prinsip hidupnya, “Saya tidak punya waktu satu detik pun untuk disia-siakan!” Sedangkan Sang Albert Einstein yang fenomenal itu, lantaran sangat menghargai waktu mengatakan bahwa memakai kaos kaki merupakan salah satu kerumitan hidup yang tidak perlu dilakukan.

Bukankah Islam sangat serius dalam mengajarkan disiplin kepada semua pemeluknya dengan aneka macam ibadah dan amal shalih lainnya? Bukankah dalam Islam, jika melakukan ibadah terlambat atau di luar waktu tanpa alasan yang dibenarkan, maka ibadah tersebut tidak dihitung? Lalu, sejauh mana ajaran disiplin dalam Islam ini terejawantah dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai kaum Muslimin? Semoga buku ini, bisa mengantarkan kita pada kesuksesan hakiki. Sukses dengan sabar. Sabar sebelum, ketika, dan setelah memulai langkah-langkah menuju sukses. Bukan hanya di dunia ini, tetapi sampai akhirat kelak. Semoga.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pirman
Penulis, Pedagang dan Pembelajar
  • Lujain Kartika

    subhanallah

Lihat Juga

Ilustrasi. (flickr.com/bfz76)

Sesabar Penantian, Sedekat Kepasrahan