Home / Berita / Nasional / Wamenag Ajak Masyarakat Lebih Dekat Dengan Al-Quran

Wamenag Ajak Masyarakat Lebih Dekat Dengan Al-Quran

Wamenag, Prof. Dr. H. Nazaruddin Umar, MA
Wamenag, Prof. Dr. H. Nazaruddin Umar, MA

dakwatuna.com – Bangka Tengah.  Wakil Menteri Agama Nazaruddin Umar mengajak masyarakat untuk lebih dekat dengan Al-Quran dengan cara membiasakan diri membaca dan memahami ayat Al-Quran.

“Pegangi Al-Quran. Jangan takut menyebut ayat Al-Quran ketika berbicara. Jangan takut dibilang fundamentalis atau takut dibilang kolot. Semua itu, no way,” ucap Wamenag di depan peserta Seminar dalam rangkaian Seleksi Tilawatil Quran (STQ) Nasional ke XXII, Kamis, di Gedung Serba Guna Bangka Tengah.

Hadir dalam seminar ini kalangan pelajar, mahasiswa, guru, serta pegawai di lingkungan Bangka Tengah. Dalam sambutannya, Wamenag mengajak pelajar, mahasiswa, dan masyarakat Islam untuk maju bersama Al-Quran.

“Selama bersama Al-Quran, kalian akan menjadi orang hebat,” tegas Wamenag.

“Percuma dilaksanakan STQ jika tidak bisa memetik kedikdayaan Al-Quran,” tambah Wamenag.

Wamenag berharap dengan diadakannya STQ, masyarakat mau diajak “pulang kampung,” kembali mencintai, membaca, dan memahami kandungan Al-Quran.

Perhelatan STQ berlangsung dalam dua tahun sekali. Sekali ini berlangsung di Koba, Kabupaten Bangka Tengah mulai 22 dan berakhir 29 Agustus 2013. STQ diharapkan menjadi inspirasi meredam konflik antar umat beragama.

STQ Nasional XXII di Babel diikuti 528 peserta dari 33 provinsi di Indonesia. Dewan hakim yang akan terlibat dalam event ini berjumlah 60 orang. STQ tersebut melombakan tiga cabang, yaitu tilawah, hifdzil Al-Qur’an, dan tafsir Al-Qur’an. STQ Nasional merupakan peristiwa yang penuh makna bagi negara dan bangsa Indonesia. (tt/antara)

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • cahyo

    Yang marak sekarang kepandaian mengaji al quran hanya untuk berdebat.
    Contohnya adu tafsir Al Quran. Yang menang bangga, yang kalah apakah bisa menerima?

  • BramSonata

    Seharusnya WAMENAG mengatakan, jadikan AL QURAN sebagai PANGLIMA(mu).

    MATA dan TELINGA umat Islam wajib/harus ditujukan terlebih dahulu ke AL QURAN dan hadist, sebelum mendengar omongan ustadz/kiyai/syeikh/mursid/guru ngaji.

    Islam TIDAK BUTUH umat yg banyak tetapi dibawah kualitas, Islam butuh umat yg kualitas walau hanya segelintir umat.

    Facta menunjukan, saat ini, paling tidak sampai hari ini, umat Islam kalah disegala lini, baik di IPTEK,keuangan/perdagangan/ekonomi.sosial budaya dan lainnya, dikarenakan KUALITAS KEISLAMAN nya sangat jauh seperti yg diharapkan Islam.

    • cahyo

      Siapa yang mengajarkan Al Quran secara BENAR?
      Bukan mnegajarkan Al Quran menurut dugaan dan angan-angan manusia semata.

      • BramSonata

        Muslim yg berstandard unggul adalahMuslim yg berbudaya MEMBACA. Untuk sementaraini, Muslim di Indonesia masih terkungkung di budaya MENDENGAR, hingga kesulitan untuk menilai apakah ini benar atau salah setiap omongan ustadz,kiyai, syeikh, mursid dan guru ngaji.
        Berbudaya MEMBACA perlu modal materi/dana(misalnya untuk beli buku), budaya mendengar nyaris tanpa biaya, cukup modal telinga yg tidak budeg/tuli/pekak. Bagaimana Kaum Muslim JAYA kalau masih terbelenggu pada budaya mendengar????.

        • cahyo

          Bagaimana bila yang di baca bukanlah kebenaran yang datangnya dari Allah?
          Kemudian yang membaca membenarkan yang batal itu?

          Apakah efeknya tidak sama dengan mendengar sesuatu yang batal pula?

          • BramSonata

            Budaya membaca jangan diartikan membaca buku semata, tetapi lebih ditekankan pada budaya dan tingkat entelektual> dapat dipastikan, kalau buku sudah menjadi bagian hidupnya, seseorang biasanya menjadi orang yg wawasannya luas, sehingga mampu untuk memilah mana buku yg menyimpang/jahat/buruk atau buku yg lurus /benar dan baik, uraiannnya panjang sekali.
            Pendek kata, berbudaya baca lebih bemakna dan memberikan manfaat yg seluas-luasnya, dibanding budaya mendengar yg sangat rentan dan mudah DISESATKAN/ TERSESAT sekaligus juga mampu menyesatkan.

          • cahyo

            Mendapatkan petunjuk yang berupa kebenaran drpd Allah adalah semata “KARUNIA” baik dengan perantara mendengar atau membaca atau melihat atau dengan cara yang lain.

            Allah maha adil, Allah memberi petunjuk tidak hanya bagi orang yang bisa membaca dan menulis, bahkan yang buta hurufpun Allah memberi petunjuk padanya, sehingga dirinya tidak akan tersesat selamanya.

            Sebesar apapun wawasan seseorang dengan membaca, kalau karunia Allah yang berupa petunjuk tidak menimpa dirinya, maka sia-sia usaha yang di usahakannya.

          • BramSonata

            Segala sesuatu itu tergantung niatnya dan KESUNGGUHAN dalam melaksanakan, inilah cermin orang yg tidak begitu saja pasrah dan menyerah. Budaya Baca adalah mencerminkan tingkat keilmuan seseorang, sebab menyerap ilmu dengan mendengar(saja) sangat berbeda jauh kalau dengan melalui buku, oleh karenanya pada masa kolifah sahabat yg 4, maka seluruh wahyu wahyu dibukukan, untuk DIBACA> diresapi, dipahami, ditaati sekaligus diamalkan.
            Secara kepastian, orang berilmu harus didasari BUKU, apabila mendengar hanya sekedar untuk memperjelas mana mana yg tida dipahami dari orang yg menerangkannya(ustadz/kiyai/syeihk).

          • cahyo

            Tingkat keimanan para sahabat lebih tinggi daripada tingkat keimanan
            para tabiin, kemudian menjadi lebih rendah lagi pada masa tabiut tabiin.

            Keimanan
            yang tinggi para sahabat di peroleh karena “karunia” semata walau
            mereka hanya mendengar dari orang yang mendapat petunjuk.

            Penulisan
            Al Quran pada masa khalifah 4 , semata supaya Al Quran bisa terkumpul
            rapi, dan semata-mata Allah memelihara Al Quran itu hingga hari kiyamat.
            Karena banyak manusia yang di sesatkan Allah melalui kitab Al Quran dan sebagian lagi di tunjuki dengan kitab Al Quran pula.

            Yang mengganjal dalam benak saya adalah pernyataan saudara ttg MEMBACA, semua itu dasar kebenarannya dari mana?
            Al Qurannya mana dan Hadistnya mana?

          • BramSonata

            Waktu anda masuk sekolah SD, pasti yg diajarkan adalah belajar membaca dan menulis, bukan belajar nguping/mendengar/ngrumpi.

          • cahyo

            Bila demikian, akan saya jawab berdasar logika mas Bram.

            Seorang bayi itu apa yang di pelajari terlebih dahulu?
            dengan membaca tulisan atau dengan mendengar dan melihat?

            Bila “membaca buku” di jadikan acuan untuk seseorang mendapat petunjuk, apakah demikian Allah menjadikan hukumNya bagi orang yang mendapat petunjuk?

            Baik membaca, mendengar, melihat.
            Bila yang di baca, di dengar, dan di lihatnya adalah kebenaran kemudian seseorang mengikut kebenaran itu, maka seseorang itu telah mendapat petunjuk Allah.

            Akan tetapi, walaupun yang di baca, di dengar, dan di lihatnya adalah kebenaran kemudian seseorang mengingkari kebenaran itu, maka seseorang itu telah tersesat sejauh-jauhnya. Walaupun mereka telah membaca keduanya (kebenaran dan kebatilan), karena mereka tidak mendapat ilham tentang dua jalan, sehingga mereka tidak dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan.

Lihat Juga

Ilustrasi-Alquran (inet)

Khutbah Jum’at: Di Bawah Naungan Al-Quran

Organization