Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Damai dalam Naungan islam

Damai dalam Naungan islam

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Sayang seribu sayang apa yang aku cari tak kudapatkan dari mereka. Mereka semua adalah para lelaki pengumbar nafsu dan penghianat. Perasaan cintanya dibuat-buat dan kelembutan hatinya hanya tipuan. Ungkapan dan tutur kata mereka memang sopan , tapi semua itu keluar dari mulut, bukan dari lubuk hati. Kata-katanya manis bak madu, tapi hati mereka buas bak serigala. Tujuan mereka hanya ingin memuaskan nafsu dan setelah itu para wanita dicampakkan seperti halnya sepatu usang, Mereka hanya mementingkan diri sendiri. Dari semua pemuda yang pernah aku kenal, aku belum pernah menemukan satupun yang mau memperhatikan diri dan pribadiku. Semua berjanji akan mencintai dan takkan menghianati, namun taukah kita teman-teman didalam hati, mereka mencibir kita dan memaki kita. Mereka membuatku terbang dengan kalimat indah dan ungkapan romantis ketika berbicara ditelpon, tapi setelah telpon ditutup mereka pasti akan mencaci dan menggambarkanku dengan sifat-sifat yang paling buruk. Kehidupanku dengan mereka adalah kehidupan dusta, semu dan bohong. Kami saling berbohong dengan cinta yang kami utarakan. Aku merasa dan mungkin juga sebagian besar wanita sepertiku, bahwa apa yang kami cari itu sejatinya ada pada diri orang-orang shaleh. Wanita-wanita sedang membutuhkan nasehat sekaligus tempat untuk menampung keluh kesah, mencari rasa aman, kehangatan dan kasih sayang. Wanita butuh kata-kata yang keluar murni dari dalam hati, sehingga sampai kehati kami pula. Kami butuh orang yang mau peduli dan mau memperhatikan perasaan kami, bukan orang yang justru memanfaatkan kami untuk melampiaskan nafsunya. Wanita butuh sosok saudara yang penyayang, ayah yang penuh perhatian dan kelak seorang suami yang saleh. Intinya wanita juga ingin mencari kebahagiaan yang hakiki didalam hidup. Wanita sedang mencari makna ketenangan batin, kesucian, ketulusan serta makna memberi dan memberi. Orang yang menghendaki sesuatu, pastilah iya akan berusaha untuk mencari dan mendapatkannya. Dan aku aku menginginkan kebahagiaan dan ketenangan itu untuk kekeringan jiwaku. Sekarang pertanyaannya, sudahkah kucari kebahagiaan itu??? Yah aku sudah mencari kebahagiaan itu kemana-mana namun belum jua aku mendapatkannya. Kukenakan baju yang paling indah dan mewah dari keluaran model terbaru, aku pikir kebahagiaan itu akan aku dapatkan ketika orang lain melihat, memuji, dan mengagumi pakaian yang aku pakai, tapi aku segera tersadar bahwa semuanya hanya kebahagiaan semu, kebahagiaan seperti itu tak berlangsung lama, tak lebih dari satu jam kebahagiaan itu mungkin akan sirna karena akan segera berubah menjadi pakaian usang. Kesedihan, Kesempitan dan kepiluan kembali menghampiri diriku. Kehampaan dan kesepian mengepung dari berbagai arah meski ada banyak teman disekelilingku. Aku kira kebahagiaan itu juga bisa aku dapatkan lewat jalan-jalan dan bepergian dari satu tempat ketempat yang lain, dari satu pantai kepantai yang lain. Namun justru sepulang dari itu kegelisahan dan kebimbangan justru kembali aku rasakan dan itu semakin bertambah. Aku semakin diselimuti kesedihan. Aku kira kebahagiaan juga bisa aku dapatkan dengan mendengarkan lagu dan musik, kubeli kaset album terbaru, tak hanya dari lagu bahasa arab, tapi juga barat. Sepanjang waktu aku mendengarkannya didalam kamar sambil berjingkrak dan berjoget ria dengan tujuan aku mendapatkan kebahagiaan. Aku juga berharap dengan itu kehampaan jiwa yang sedang aku rasakan dapat terobati. Kukira ya sekali lagi kukira kebahagiaan ada didalam musik, tarian dan menenggelamkan diri bersama alunannya. Tapi semuanya hanya kebahagiaan semu. Aku hanya merasakan kebahagiaan itu ketika lagu itu diputar, tapi setelah selesai justru kegelisahanku bertambah. Bahkan aku merasa ada gejolak asing yang bersemayam didalam diriku dan tekanan batin yang aku rasakan semakin hebat. Semua kaset akhirnya kukumpulkan dan kubakar dengan harapan gejolak yang ada didalam batinku ikut padam. Aku juga pernah berpikiran bahwa kebahagiaan itu bisa aku dapatkan dengan cara menyaksikan tayangan sinetron, film dan juga acara-acara lain, setiap saat aku selalu duduk manis menyaksikannya. Yang paling kugandrungi tentunya acara sinetron dan film komedi dengan anggapan bahwa kebahagiaan bisa aku dapatkan dengan tertawa lepas. Aku memang benar-benar bisa tertawa lepas saat menyaksikannya, tapi tahukah meski mulutku tertawa, namun batinku merasakan kepedihan mendalam, semakin keras aku tertawa maka semakin keras pula jeritan hati yang aku rasakan. Aku mendengar pula dari beberapa  sahabatku bahwa kebahagiaan adalah ketika kita bisa berpacaran dengan seorang pria tampan, yang fasih mengucapkan kata-kata cinta, pandai merayu dengan kata-kata mesra, dan pintar menyanjung kekasihnya setiap malam lewat telpon. Cara seperti itu telah aku lakukan, Aku mengenal dari satu pemuda ke pemuda yang lain demi merasakn kebahagiaan yang sebenarnya. Bahkan sebaliknya sehabis bertemu atau melakukan pembicaraan lewat telpon, aku malah dihinggapi kekhawatiran dan kebimbangan. Api maksiat seakan menyala didalam diriku, kemudian menyeretku dalam rentetan fikiran yang melelahkan dan membingungkan. Ketakutan terhadap masa depan yang suram menyelimuti diri, aku seakan berlari dari satu neraka ke neraka yang lain. Karena itu kaum lelaki harusnya mengerti dan memahami dengan baik psikis dan jeritan batin para wanita yang berpenampilan seksi dan menggoda yang ada ditempat2 umum. Mereka sejatinya adalah korban kekeringan spiritual. Harus kuakui, cara seperti itu tidak akan memberi solusi bagi kenyataan pahit yang sedang ia hadapi, bahkan justru semakin menambah runyam masalahnya, bukan maksudku membela para wanita itu, tapi aku hanya berharap kepada kaum lelaki bila kalian menjumpai mereka dan menempuh cara seperti itu, kasihanilah mereka. Jangan lupa untuk mengarahkan dan mendoakan mereka mendapat hidayah. Sejatinya mereka itu adalah wanita2 yang sedang bingung dan beranggapan bahwa cara yang mereka sedang mereka tempuh akan membawa kepada kebahagiaan yang selama ini mereka telah cari. Tapi aku sendiri ragu, apa benar ada kebahagiaan hakiki didunia ini??? Bila memang ada, dimana tempatnya??? Dan bagaimana cara mendapatkannya??? Aku sudah bosan dengan rutinitas hidup seperti ini. Yah jalan yang aku tempuh untuk mencari kebahagiaan itu keliru. Aku telah melewati jalan yang bukan semestinya, Sampai akhirnya….!!!

Kebahagiaan yang hakiki hanya dapat ditempuh dengan cara memohon perlindungan dan merendahkan diri kepada Allah, Bermunajat kepada-Nya pada malam hari, Agar dia menghilangkan keresahan dan kegelisahanku, menyembuhkan luka batinku, dan melimpahkan ketenangan dan kelapangan didalam hatimu. Jika kita mengharapkan kebahagiaan, ketuklah pintu-pintu langit pada siang dan malam hari, daripada mengetuk pintu-pintu duniawi yang tidak penting. Percayalah Orang-orang tidak akan mau tau dan peduli dengan keadaanmu, Dan tidak mau memahami perasaanmu. Ketika mereka kamu datangi sebagian dari mereka akan mengecewakanmu atau bahkan mencemooh pikiranmu, dan sebagian lagi akan memanfaatkanmu untuk tujuan kepuasan mereka, Mungkin ada juga yang ingin membantu, tetapi ia tetap tak bisa berbuat apa-apa??? Ketauhilah wahai saudara-saudariku  kamu tidak akan pernah mendapatkan obat bagi penyakit batin dan dahaga jiwamu kecuali dengan cara menangis dihadapan Allah, Kamu tidak akan merasakan ketenangan dan kedamaian, kecuali dengan bersimpuh kepada-Nya, guna bermunajat, menumpahkan segala isi hati yang terpendam dan melepaskan segala keluh kesah masa lalumu yang penuh dengan kelalaian. Jujur aku sering memikirkan itu, tapi rasa malu kepada Allah atas semua dosa dan kekhilafan membuatku urung melakukannya. Aku malu berlindung dan memohon pertolongan serta meminta kemudahan kepada Allah, sementara aku tidak taat dengan  perintahnya dan malah menenggelamkan diri dalam kubangan dosa dan maksiat. Subuhanallah, apabila seseorang dibuat marah dan dilanggar perintahnya, pasti iya akan marah dan kecewa bahkan tidak akan memaafkan orang yang melanggarnya. Orang tersebut juga pasti akan ditentang dan tak ditolong saat berada dalam musibah. Tapi beda dengan Allah, ia tak akan pernah menutup pintu-Nya. Bahkan kapanpun seseorang bertobat, Allah akan membukakan pintu rahmat dan ampunan-Nya, Dan bahkan untuk orang yang belum bertobat kepada-Nya, ia akan menangguhkan hukuman baginya, dengan serta merta menyerunya untuk segera bertaubat dan kembali pada-Nya. Bukankah didalam hadits qudsi Allah berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya Aku, jin, dan manusia berada dalam berita yang besar. Aku mencintai mereka dengan nikmat-nikmatku, meskipun Aku tak membutuhkan mereka. Mereka membenciku  dengan kemaksiatan-kemaksiatan sedang mereka masih tetap membutuhkan-Ku. Siapa yang mendatangi-Ku, maka aku akan menyambutnya sejak dari jauh, dan siapa yang berpaling dari-Ku, maka Aku akan memanggilnyadari dekat. Orang2 yang bermaksiat kepada-Kutidak akan Kubuat putus asa dalam mengharapkan Rahmat-Ku. Jika mereka bertaubat kepada-Ku, maka Aku akan mencintai mereka, karena aku mencintai orang2 yang bertaubat dan mensucikan diri. Jika mereka jauh dari-Ku maka Aku akan menjadi obat bagi mereka. Aku mencoba mereka dengan berbagai musibah untuk menyucikan mereka dari dosa dan kesalahan. Rahmat-Ku mendahului murka-Ku, Kebijakan-Ku mendahului ancaman-Ku, dan ampunan-Ku mendahului Siksa-Ku. Aku lebih sayang kepada para hambaku, melebihi sayangnya orangtua kepada anaknya.’’

Betapa bijak dan sayang-Nya Allah kepada kita.

Saudariku, aku pun seperti dirimu, sedang mencari kebahagiaan hakiki dan aku telah menemukannya. Kutemukan kebahagiaan hakiki itu didalam ketaatan pada Allah, hidup bersama Allah dan berada dalam naungan keridhaann-Nya. Aku menemukan ketika bertaubat, memohon ampunan, menangis didalam shalat malam, dan bergaul dengan orang-orang saleh dan alim. Aku menemukannya pula pada tangisan orang-orang yang bertaubat, penyesalan orang-orang yang berdosa, dan istigfarnya orang-orang yang berbuat maksiat. Aku menemukannya lagi dalam kekhusyukan dan ketundukan, serta kepasrahan dan penyerahan total kepada Allah. Aku menemukannya dalam tangisan dan air mata karena takut pada Allah. Aku mendapatkannya ketika berpuasa dan shalat, melaksanakan perintah sang maha pencipta, dan membaca Al-Qur’an. Pada akhirnya aku juga sudah paham apa makna ketulusan cinta, Aku melihat bahwa apabila manusia mencintai, maka ia akan mendapatkan imbalan, apabial ia memberi, maka akan memintanya, dan apabila menyerahkan bantuan, maka akan balik merampasnya. Tapi lain dengan Allah, karena apabila ia mencintai hamba-Nya,ia akan memberikan cinta-Nya tanpa pamrih. Dan apabila Allah ditaati, maka ia akan balik memberikan ganjaran dan pahala. Sungguh sulit menemukan cinta sejati ada didalam diri manusia. Manusia tidak akan memberikan kejujuran dan kedamaian yang kita cari, begitu pula tidak akan menyerahkan kelembutan, kehangatan dan kasih sayang yang kita harapkan. Itu karena mereka semua sibuk dengan dirinya masing-masing. Ketauhilah bahwa tak ada satupun yang bisa memberikan apa yang kau inginkan selain rabb-Mu. Pintu manusia tertutup, sementara pintu-Nya senantiasa terbuka bagi orang-orang yang meminta. Dia membentangkan Tangan-Nya siang malam seraya menyeru kepada hamba-hambaNya seperti dalam Al-Baqarah: 186. Kebahagiaan sejati tidak akan bisa direngkuh kecuali dengan cara hidup bersama Allah dan berada dalam lindungan-Nya. Manusia tidak akan bisa memberikan kasih sayang, ketulusan dan kehangatan itu secara sempurna. Dan yang bisa memberikan pelepas dahaga secara sempurna hanya Allah. Yakni dengan berlindung kepada-Nya, Hidup dalam naungan ketaatan kepada-Nya, menaati peritah-Nya, dan berjalan dijalan hidayah dan cahaya-Nya. Saat itulah kamu akan tahu apa itu kebahagiaan sejati, apa itu cinta sejati, dan akan merasakan kenikmatan yang tiada tara. Kalau begitu mulailah tapaki jalan itu dari sekarang, sepertinya Fajar mulai datang, suara adzan juga telah menggema dimana-mana, yang mengetuk hati-hati yang bingung dan jiwa-jiwa yang gelisah agar kembali kepada tuhannya. Suasana subuh yang begitu lembut dan hangat telah memanggilmu untuk segera menghadap-Nya. Segeralah Kau Penuhi panggilan itu. Mulailah hidup dengan lembaran baru. Jadikan waktu subuh ini sebagai waktu kelahiran barumu. Mulailah aktifitas pertamamu dengan melakukan dua rakaat shubuh. Ketika shalat, hadapkan dirimu pada-Nya, Tumpahkan segala keluh kesahmu pada-Nya. Dan tinggalkan semua dosa yang biasa kamu lakukan pada hari2 yang lalu.

Untuk semua saudara-saudaraku terima kasih atas segala nasehat kalian, untuk setiap tutur kata yang menginspirasi dan memotivasi, mohon do’anya tetap saling menguatkan dan menegarkan dalam do’a.. Amin ya Rabbal Alamin

About these ads

Redaktur: Fauziah Nabila

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 7,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nur insani As Shabir
Guru Model SGI Dompet Dhuafa.

Lihat Juga

Protes terhadap sikap rasis Trump. (aljazeera)

Kemenangan Trump dan Pengaruhnya Terhadap Mesir