Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Tumbal Reformasi

Tumbal Reformasi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Ketika berbicara tentang sebuah peristiwa yang terjadi pada tahun 1998, dimana menjadi sebuah masa bagi kejayaan  kaum intelektual muda harapan rakyat yang biasa di sebut “ Mahasiswa “. Di mana saat itu mahasiswa menjadi aktor penting dalam menumbangkan Presiden Soeharto sekaligus Rezim Orde Baru. Kemudian, muncullah rezim baru yang bernama “Reformasi” yang menjadi rezim yang di cita – citakan oleh kaum mahasiswa dan rakyat Indonesia pada umumnya. Dimana segala hal yang sebelumnya di batasi untuk diakses oleh publik menjadi dapat secara bebas diakses oleh publik tetapi tetap menjaga etika dan norma bangsa ini. Perubahan ini  Memunculkan sebuah harapan baru untuk kebangkitan bangsa ini dengan Rezim / fase yang baru bernama “Reformasi” yang diawali oleh kepemimpinan Presiden Baru pada saat itu, Prof.Dr.Eng.BJ. Habibie. Tetapi ketika kita melihat realita bangsa hingga saat ini yang dipimpin Presiden Dr.H.Susilo Bambang Yudhoyono, bangsa ini belum bahkan mengalami kemunduran. Bangsa kita yang tercinta ini semakin tertinggal dari negara – negara lain, bahkan kita tertinggal oleh negara yang dahulu sering kita bantu, seperti Malaysia, Singapura, Myanmar,dll.

Penulis disini tidak akan membahas lebih lanjut tentang kondisi bangsa saat ini. Tetapi Penulis akan mengajak pembaca untuk melihat sebuah fakta yang terjadi dilapangan dan merupakan hasil penelitian dari Penulis beserta tim hingga catatan kecil sampai dihadapan pembaca.

Daerah Pancot merupakan daerah yang ada di Kalisoro, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Pancot merupakan Sebuah Daerah yang memiliki berbagai macam kearifan lokal, Salah satunya Pertanian. Pertanian di Lingkungan Pancot Sendiri memiliki Ciri Khas Sebuah Komoditi Sayuran. Petani merupakan pekerjaan Pokok masyarakat Pancot. Hal ini dikarenakan Cuaca daerah Pancot yang sejuk, asri, dan merupakan daerah pegunungan lawu. Sehingga Lahan pertanian menjadi Salah satu Sarana mereka untuk mengais Rupiah. Tetapi, Seiring dengan berkembangnya jaman di Daerah Pancot Sendiri mengalami banyak perubahan dan salah satu fenomena yang terjadi di sana adalah Masyarakat Pancot khususnya kaum muda, tetapi   sekarang mengalami sebuah perubahan Orientasi Pekerjaan. Dahulu para pemuda lingkungan ketika selesai sekolahnya langsung melanjutkan atau mewarisi pekerjaan orang tuanya  untuk menjadi petani diladang yang mereka miliki Tetapi, sekarang masyarakat pancot, khususnya kaum muda ketika lulus sekolah lebih suka merantau ke kota baik Jakarta, Bogor, Tangerang bahkan ada juga yang menjadi TKI daripada melanjutkan Pekerjaan Orang tuanya untuk mengelola Lahan.

Tentu pembaca bertanya – Tanya, apakah yang membuat hal ini terjadi ???

Di sini penulis akan menyampaikan sebuah fakta, bahwa Pada tahun 1985 hampir 95% masyarakat  Pancot mempunyai mata pencaharian petani. dan pekerjaaan ini merupakan pekerjaan yang diwariskan secara turun-temurun.  Setelah mereka menyelesaikan pendidikannya baik SMP maupun SMA, tetapi Menjelang tahun 1995 produksi pertanian mulai menurun hal tersebut dikarenakan mulai melonjaknya harga-harga bahan penunjang proses produksi pertanian , misalnya bibit ,pupuk ,insektida dan pestisida. Dan puncaknya terjadi Pada tahun 1998 ketika krisis moneter menimpa Indonesia dan negara yang lainnya harga –harga melambung tinggi termasuk harga kebutuhan pokok naik , sehingga hasil produksi pertanian tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan untuk memulai proses produksi pertanian. Sehingga berdampak terhadap perekonomian masyarakat  hal ini yang menyebabkan banyak masyarakat pancot, khususnya kaum muda lebih memilih beralih dari profesi petani. Mereka lebih memilih bekerja di kota-kota besar sebagai buruh pabrik , kuli bangunan ,berwirausaha dan lainnya.

Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Tokoh masyarakat setempat, Pak Saryadi. Lelaki yang juga menjadi Kepala Lingkungan Pancot Kidul ini menuturkan  ” para anak muda sini pada pergi rantau keluar kota terjadi mulai tahun 1995 dan puncaknya pas pak harto lengser dari presiden mas. Kan waktu itu harga – harga pada naik dan hasil pertanian kita juga rendah karena beli bibit dan bahan yang lainnya pun mahal sehingga hasil pertanian kita jadi sedikit dan penghasilannya pun jadi sedikit. Sehingga membuat orang – orang khususnya anak muda sini pada milih merantau yang mungkin hasilnya lebih baik”.

Dari fakta di atas jelas, bahwa mungkin bagi kita, Reformasi itu merupakan sebuah kebangkitan yang besar bagi bangsa ini dari sebuah keterpurukan, tetapi kita perlu melihat bahwa pertanian Daerah di Pancot yang merupakan salah satu cirri khas dari bangsa ini hingga di sebut Negara Agraris karena pertaniannya menjadi ‘Tumbal yang nyata “ akan adanya reformasi. Tentu, Kita pahami bersama bahwa Pertanian merupakan salah satu penggerak perekonomian Indonesia di luar minyak dan gas bumi. Pertanian bagi masyarakat laksana “jiwa”, dimana hal ini tidak terlepas dari fakta bahwa pertanian merupakan sumber penghidupan sebagian besar penduduknya. Sehungga dengan demikian dikenal sebagai negara agraris, dimana mata pencaharian pokok masyarakat Indonesia ada di sektor pertanian. Menurut Sensus penduduk tahun 1980/1981  lebih dari 81,1% penduduk Indonesia tinggal di desa dan 65% bekerja di sektor agraris   ( Bintarto, 1989 : 13 ). Menurut sensus 1990 jumlah penduduk Indonesia yang bekerja di sektor pertanian berjumlah 58% ( Team Sosiologi, 1994:11 ).

Tentu, kita sebagai mahasiswa yang mungkin pada saat ini masih mendewakan “Reformasi” tahun 1998 haruslah sedikit menundukkan kepala dengan adanya fakta ini. Karena tidak sadar kita telah mengorbankan masa depan pertanian daerah pancot Walaupun banyak positif dari reformasi yang dapat kita petik. Tetapi apakah mungkin kita akan bersuka cita diatas penderitaan rakyat padahal kita telah menisbatkan diri kita untuk menjadi pembela dan harapan rakyat secara tidak langsung. Mungkin kita sebagai mahasiswa kaum intelektual muda harapan rakyat tidak boleh seperti anak kecil yang ketika membuat membuat mainan salah satu perabotan rumah tidak mau bertanggung jawab untuk memperbaikinya. Tentu, sebatas merenung dan berdiam diri tidaklah menyelesaikan solusi. Tetapi kita haruslah menjadi solusi bagi mereka. Mungkin sedikit Solusi yang bisa disampaikan oleh penulis ketika berdiskusi dengan beberapa teman, yaitu membuat sebuah Inisiasi Gerakan Sosial “Gerakan Cinta Bertani” yang disana mengajak semua pemuda yang masih sekolah di bangku SMP – SMA untuk bertani dalam segala aspek dan memberikan pendidikan tentang pertanian. Serta yang paling penting menumbuhkan Sense of belonging terhadap Pertanian di Lingkungan Pancot Kidul

Mungkin Cukup sekian sedikit Goresan Pena yang penulis sampaikan, Akhir kata  Solusi yang telah tersampaikan diatas semoga suatu saat dapat terkabulkan dengan baik.

Mari kita bergerak untuk menuntaskan segala permasalahan negeri ini dengan cara dan idealisme kita sebagai mahasiswa. Jangan kita terlalu membanggakan euforia para pendahulu secara berlebihan karena di balik itu semua pasti terdapat pihak – pihak yang mungkin terkorbankan.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Febrian Indra Rukmana
Mahasiswa Jurusan Sosiologi FISIP UNS 2010. Penerima Beasiswa Aktivis Nusantara 2013 Dompet Dhuafa Republika. Koordinator BIRO AAI FISIP UNS. Ketua Badan Khusus Jaringan Fakultas KAMMI Komisariat Sholahuddin Al Ayyubi UNS.

Lihat Juga

Iman Butuh Pengorbanan