Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Allah Azza Wa Jalla

Allah Azza Wa Jalla

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com 

Derai bisik angin meleram awan mendung menghiasi langit kilat kian menyambar…
Jerit hati mencekik langit sepertinya bidik seluruh semesta ini, melirik luangkan terik dan kegersangan jiwa datang taburkan sirik…

Awan melalang di ega-ega langit menghimpit serasa mencekik…
Mencabik angin laiknya suara yang menderu melilit ketakutan dalam batin…

Dulu ku melukiskan rindu
Bermain ribuan kata mesra
dalam rangkaian kalimat merayu

Menuang angan pada puluhan tulisan
penuh hasrat malu-malu mau
Atau merajut jutaan aksara demi
terlampiaskan rasa cemburu

Kini aku tak mampu…
Lidahku kelu, pikiranku buntu.
hatiku ragu, tanganku terbelenggu.
Tiap susunan huruf di kepala terasa semu
Jalinan syair seolah bermuka palsu,
menguapkan asa dalam kebencian yang membeku
menebar bumbu pilu
mengubur mimpi-mimpi bisu
antara aku dan kamu.

Benar-benar ku tlah tertipu.
Tertipu oleh rasaku sendiri
Mengapa aku mudah sekali di permainkan rasaku
Ketika aku mulai mencintai
Mengapa harus patah lagi sebelum berkembang

Berawal dari mata
Berakhir dengan air mata
Mengapa harus ku benamkan lagi
Ku timbun semakin dalam

Mengapa kau harus pergi
Terbang kemudian hilang
Sedangkan aku disini
Memendam luka yang terdalam

Apa mungkin sejak awal
Cara mataku yang salah saat melihatmu
Seharusnya tak perlu ada rasa
Tak usah terlalu dalam melihatnya
Hanya sekedarnya saja
Hingga tak perlu ada air mata

Kini terlambat sudah untuk mataku
Air mata telah berlinang akannya
Aku harus menyaksikannya pergi lagi

Singkat memang cara mataku melihatmu
Hingga terlalu dalam sampai pada sisi terdalam hatimu
Dan kini air mata berlinang saat mengenangmu
Kau tak disini
Dan aku tertipu oleh rasaku
sendiri…

Kamu Tak tahu
Kamu tak dapat melihat
Apa yang sebenarnya terjadi dalam diriku?
Bagaimana perasaanku
Kamu tak tahu,
Seberapa lama aku menangis.

Mulutku terkunci.
Apa yang aku katakan,
Hanya untuk membuatmu berfikir
Bahwa aku baik_baik saja.
Aku tahu
Kau bermaksud baik
Tapi, aku punya sesuatu
Yang tidak akan pernah ku katakan.
Untuk tertawa
Untuk tersenyum
Adalah hal tak pernah ku lakukan akhir_akhir ini.
Entah brapa lama Waktu,
Untuk dapat menyembuhkan luka
Hanya ku tahu,
Masih dengan rasa ini
Setelah segalanya ku lewati
Kamu takkan pernah melihat
Apa yang ada dalam fikirku
Ini adalah lukaku
Dan kau takkan pernah tahu

Ya Allah, Tuhan Semesta Alam Maha pengampun segala khilaf
Saat hujan menghantam bumi biur Alam mencekam…
Engkau selalu hadir bawa lentara tuk hidupkan cahaya yang redam…
Mengelegar serasa bumi kan runtuh memaksaku berjalan tertatih menjerat pedih luka&rintih…
Menahan sasaran nanah penuh resah berjalan lemah terpaku dalam bisu …
Kala durja dosa2 telah bersimbah, darah mengalir bagai desir pasir yang tak dapat ku usir…
Dibawah atap meratap tertutup rapat.,
Ku bersujud menghadap-Mu mulut mencercap lafal penuh keringat..
Dosa yang sering ku buat tapi tak pernah ku bertaubat…
Luka dan hina masih menyatu hingga ku malu bertingkah dengan petuah, menyesal pun ku tak pernah…
Hati ku bergetar kala dosa mengantar lepas dari kebenaran…
Teriak lantang menantang dan kutahu Engkau selalu mendengar…
Hati ku meronta2 ditengah gelombang asa yg melanda..

Ya Allah,,
Ampunilah hamba-Mu ini yang lupa mensyukuri atas rahmat-Mu..
Yang lalai menjalankan perintah-Mu dan tak pernah menjauhi larangan-Mu,

Ya Allah…
Sesungguhnya Engkaulah sang pemilik ampunan…
Bila Engkau campakan ku kepada siapa ku berharap selain kepada-Mu…
Ku bersujud menghadap-Mu
Meminta belas kasih-Mu
Jangan Engkau tutup pintu taubat-Mu sebelum ajal menjemput ku…
Ya,,Robb,

Deru pasir menampar nafas seakan tersengal terhempas dalam lautan dosaku…
Angan terjerat liuk langkah melambat menyisir hidup penuh jerat…
Engkau selalu ada untuk pintu taubat
Allahhu akbar..
Allahhu akbar..

Ketika jiwa mulai jatuh karena terpaan hidup..
Engkau selalu menjadi api semangat yg tak pernah meredup..
Mesti bibir ini sering melumat janji tak pernah menepati…
Mesti tangan ini sering ancungkan jari…
Sesungguhnya engkaulah sang pemilik hati…
Hanya kepada-Mu kami hidup & mati
Dimana tempat ku mengadu kalau bukan kepada-Mu…

Ya Robb,,Saat ini kami berserah diri bersujud dihadapan-Mu…
Ku mohon ampun atas dosa2 ku…
Jangan kau tutup pintu-Mu sebelum ajal menjemput ku….

 

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nur insani As Shabir
Guru Model SGI Dompet Dhuafa.

Lihat Juga

Taubatku