Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Refleksi Kemerdekaan Dalam Hakikat Kemenangan Syawal

Refleksi Kemerdekaan Dalam Hakikat Kemenangan Syawal

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Enam puluh delapan tahun silam di tengah kegentingan Perang Dunia II Indonesia dengan gagahnya memproklamirkan dirinya sebagai negara yang bebas dan berdiri sendiri. Bung Karno didampingi Bung Hatta secara lantang mengucapkan setiap baris demi baris untaian kata dalam naskah Proklamasi Kemerdekaan RI kala itu. Jumat, 10 Ramadhan jalan Pegangsaan timur benar-benar seolah menjadi tempat yang menduduki “trending topic” saat itu. Nuansa momen Ramadhan menambah kentara-nya ghirah kemerdekaan waktu itu. Hal yang mirip terjadi pada Ramadhan tahun ini, momen HUT Kemerdekaan RI terjadi di beberapa hari setelah bulan Ramadhan 1434 H usai. Yang membedakan adalah 17 Agustus jatuh pada hari-hari setelah Iedul Fitri, momen kemenangan umat muslim setelah berpuasa sebulan lamanya. Sebuah momen apik untuk menjadi perenungan bagi kita semua, apakah kemerdekaan telah benar-benar bisa disematkan untuk Bangsa Indonesia saat ini? Pertanyaan inilah yang akan memantik pembahasan yang lebih jauh dalam opini kali ini.

Berbicara tentang kemerdekaan Bangsa Indonesia dalam konteks kekinian, Saya memandang kita belum merdeka secara totalitas. Mungkin secara fisik memang kita tidak di bawah penjajahan negara lain, namun secara lebih luas lagi kita belum bisa dikatakan merdeka. Contoh saja dalam ranah ekonomi dan mungkin beberapa kebijakan politik kita masih di bawah pengaruh dari negara lain. Belum lagi jika kita bicara tentang moralitas bangsa kita, lebih khusus lagi moralitas generasi muda saat ini. Generasi muda saat ini seolah berkiblat pada pengaruh kebarat-baratan. Khazanah budaya dan karakter ketimuran terjajah oleh pengaruh barat. Dewasa ini akan sulit membedakan mana yang ingin mengikuti “trend” yang ada dengan mana yang sengaja ingin “terjajah”. Parahnya dalam konteks ini generasi kita lebih menganggapnya sebagai mengikuti trend, mereka kurang begitu menyadari jika itu juga telah menjajah karakter dan khazanah ketimuran kita. Inilah paradigma yang dibangun mayoritas generasi muda saat ini.

Sementara jika kita kupas lagi tentang kedaulatan teknologi kita ternyata sudah tidak karuan lagi. Bermacam gadget elektronik tak tanggung-tanggung lagi masuk ke pasar-pasar di Indonesia. Bak banjir bandang, gadget itu masuk dan mematikan produk lokal Indonesia. Mulai dari laptop, netbook, handphone, dan masih banyak lagi. Jika kita telisik lagi, ternyata memang benar kita belum bisa memproduksi teknologi se-mutakhir teknologi-teknologi negara maju. Hal ini disebabkan oleh kualitas sumber daya manusia yang ada. Sistem pendidikan yang ada belum mampu mencetak praktisi dan inovator teknologi. Ditambah pula fasilitas yang memang belum mendukung percepatan perkembangan teknologi. Sudah jelas dalam ranah teknologi kita juga masih belum bisa merdeka dengan kedaulatan kita. Kita masih bergantung dengan pasokan-pasokan teknologi dari negara lain.

Inilah sekelumit deskripsi kondisi Indonesia saat ini dalam usianya yang telah mencapai 68 tahun. Sebuah usia yang sepatutnya telah mampu menjadi sebuah negara yang mandiri dalam segala aspek. Berdaulat dalam kemandirian perekonomian, politik, teknologi dan aspek lainnya. Namun faktanya berkata lain, kita masih terpenjara dalam belenggu-belenggu negara lain. Kita belum bisa berkata lebih pada dunia. Tentu ini menjadi sebuah pertanyaan besar di saat usia kemerdekaan Republik Indonesia sudah mencapai setengah abad lebih ternyata belum ada yang namanya kemandirian bangsa. Jika kita melakukan komparasi dengan kondisi Malaysia pasca 57 kemerdekaannya, kita kalah jauh dengan Malaysia. Kononnya, sekitar tahun 1970-1980an banyak didatangkan guru-guru dan dosen dari Indonesia ke Malaysia, untuk membantu kemajuan pendidikan di Malaysia. Namun saat ini justru berkebalikan kondisinya, Malaysia sudah jauh berlari meninggalkan Indonesia dalam berbagai hal.

Momen Kemerdekaan tahun ini bertepatan dengan hari-hari di bulan Syawal itu datang. Salah satu momen yang tepat untuk melakukan introspeksi untuk setiap lini bangsa ini. Bulan Syawal identik dengan adanya Idul Fitri yang notabene merupakan sebuah momen di mana umat muslim mencapai sebuah titik kulminasi kemenangan atas nafsu-nafsu keduniaan. Hari kemenangan secara esensial adalah kemenangan nurani melalui manifestasi spiritualitas yang terwujud dalam upaya transformasi pengendalian diri yang sempurna, bukan dengan balas dendam untuk melampiaskan nafsunya kembali. Selain itu tentu segala pembelajaran dan penempaan diri telah bisa dibilang “khatam”, telah selesai segala urusan pribadi. Harusnya keparipurnanya diri ini akan terefleksikan dalam setiap aktivitas dalam peran masing-masing di kehidupan sebenarnya. Sebagai pemimpin sudah sepatutnya selalu ingat atas amanah yang ia emban. Amanah yang harus dipertanggungjawabkan. “Kullukum roin, wakullukum mas ulun, `an roiyattihi” – setiap manusia itu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya. Bukan lagi ada kata amanah itu adalah kendaraan untuk memuaskan egoisme dirinya sendiri, seperti kebanyakan pemimpin saat ini. Begitu pula sebagai rakyat biasa, tentu ada celah-celah di mana mereka bisa berbuat yang lebih untuk bangsanya. Bagi yang konsern di bidang teknik tentu bisa memberikan pemikiran inovasinya untuk kemajuan teknologi dan perindustrian di Indonesia. Bagi praktisi di dunia hukum juga sepatutnya selalu memberikan solusi-solusi penegakan hukum yang tegas dan berimbang. Bagi penggiat perekonomian juga seharusnya mulai berpikir bagaimana aktivitas ekonominya bisa memberikan kontribusi kepada kesejahteraan masyarakat yang lainnya. Dan begitu pula peran-peran strategis yang lainnya.

Harapannya dengan segala peran itu yang bila kesemuanya bisa berjalan sinergis maka akan memberikan perubahan untuk bangsa ini. Dan momen Syawal inilah waktu yang tepat untuk memulai memantik revolusi itu. Hakikat kemenangan Syawal akan benar-benar berimplikasi pada perubahan-perubahan pada diri pribadi kita. Pada akhirnya perubahan dalam konteks yang lebih luas lagi akan terealisasikan. Perubahan menuju kemandirian bangsa dan kedaulatan bangsa dalam mewujudkan kemerdekaan yang kaaffah. Merdeka!!!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Phisca Aditya Rosyady
Mahasiswa Master di Departement Computer Science and Engineering di Seoul National University of Science And Technology, Korea. Lahir di Yogyakarta, 31 Agustus 1991. Anak kedua dari tiga bersaudara. Mempunyai hobi di dunia jurnalistik, elektronika dan instrumentasi. Beberapa kali menjuari lomba blog dan karya tulis. Pernah menulis buku "Kami di antara Mereka", Buku " Inspirasi Gadjah Mada untuk Indonesia dan semasa SMA pernah menulis Buku "1000 Anak Bangsa Bercerita Tentang Perbedaan bersama para alumni Program Pertukaran Pelajar Jogja lainnya. Mahasiswa yang juga pernah menjadi santri PPSDMS Nurul Fikri ini aktif di beberapa organisasi seperti di HMEI, IMM Al Khawarizmi UGM, IPM Imogiri, dan BPPM Balairung. Juga menggeluti riset tentang UAV di Tim Quadcopter Elins. Tahun 2011 bersama empat temannya, berhasil membuat System Body Ideal Analyzer melalui PKM-T yang berhasil didanai Dikti. Phisca pernah menjadi Mahasiswa Berprestasi FMIPA dan juga mendapatkan Anugerah Insan Berprestasi dalam rangka Dies ke-63 UGM dan Dies ke-64 UGM. Sebelum Ia melanjutkan kuliah S-2 nya, Phisca 8 bulan bekerja di salah satu anak perusahaan Astra International di bidang IT consultant sebagai programmer.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Rahmatullah Andre)

Merdeka Itu Ketika Bebas Dari Belenggu

Organization