13:59 - Rabu, 23 April 2014

Robert Fisk: Pertumpahan Darah Jadi Pemandangan Sehari-hari di Mesir

Rubrik: Afrika | Kontributor: dakwatun - 19/08/13 | 15:04 | 12 Shawwal 1434 H

Robert Fisk, koresponden surat kabar Independent khusus Timur Tengah

Robert Fisk, koresponden surat kabar Independent khusus Timur Tengah

Tulisan ini berisi kesaksian Robert Fisk atas pembantaian militer yang terjadi pada tanggal 16 Agustus di Ramses. Berikut beberapa ringkasannya:

  • Sungguh memalukan, kita menyaksikan babak terburuk dalam sejarah Mesir. Para polisi menembaki demonstran dari atas gedung-gedung sekeliling Bundaran Ramses.
  • Untuk mengetahui kejahatan mereka, cukuplah engkau datang ke masjid Al-Fath, dan bukalah kain-kain kafan. Engkau akan melihat jenazah yang tertembak di wajahnya, kepalanya, dadanya. Kita benar-benar sedang menyaksikan pembantaian.
  • Di Masjid Al-Fath aku berhenti menghitung mayat hingga angka 50 saja.
  • Sebelum datang ke Ramses, aku berada di Rab’ah yang baru mengalami pembantaian hari Rabu. Salah seorang perwira berkata kepadaku, “Kami hanya melaksanakan tugas, militer mengawasi kami dari jauh.”
  • Di Ramses, kendaraan-kendaraan lapis baja berada sekitar satu mil dari tempat pembantaian. Polisi menembaki demonstran selama dua jam. Kebanyakan orang berlari menuju masjid Al-Fath.
  • Saya tidak yakin polisi menembak dengan sembarangan. Mereka memang diinstruksikan untuk membunuhi demonstran.
  • Di salah satu kota terbesar dunia, masih ada kasus polisi menembaki ribuan dengan niat membunuhi mereka. Padahal tugas polisi adalah melindungi rakyat.
  • Helikopter terbang sangat rendah, di antaranya membawa juru kamera untuk mencari dan merekam kalau ada demonstran yang bersenjata.
  • Aku dikejutkan dengan seorang laki-laki diangkat oleh beberapa orang. Wajahnya sudah berlumuran darah. Sambil memandang para dokter yang sedang menolongnya, dia berkata “Allahu Akbar”. Tak lama kemudian meninggal dunia.
  • Inilah Mesir, dua setengah tahun setelah revolusi. Seharusnya rakyat saat ini lebih menikmati kebebasan, keadilan, dan kemuliaan. Tapi apa yang terjadi? Kita lupakan saja mimpi demokrasi. (msa/dkw)

Redaktur: Moh Sofwan Abbas

Topik:

Keyword: , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (4 orang menilai, rata-rata: 10,00 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • Manan Jr.

    rejim yang benar-benar biadab

Iklan negatif? Laporkan!
70 queries in 1,025 seconds.