Home / Berita / Opini / Negeri Para Pejuang

Negeri Para Pejuang

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Negeri Para Pejuang (inet)
Negeri Para Pejuang (inet)

dakwatuna.com – Dalam memperjuangkan kemerdekaan, berbagai unsur masyarakat lintas suku, lintas agama terlibat. Termasuk, sulit menafikan peran tokoh-tokoh Islam, ulama, dan pemuda pemudi pesantren. Tentu saja, sebab konsekuensi keyakinan tiada Illah selain Allah, adalah tiada Tuan selain Tuhan, tiada penghambaan kecuali menghamba pada-Nya.

Tercatat, perjuangan Pangeran Diponegoro, yang berafiliasi dan mendapat dukungan penuh dari kekhalifahan Turki. Kakek buyut saya adalah salah satu pasukan Diponegoro yang menyelamatkan diri sampai Jawa Timur, setelah Diponegoro ditangkap dan pasukannya kocar-kacir.

Demikian pula Jenderal Sudirman, pemuda Islam dambaan umat, seorang guru sekolah Muhammadiyah. Dari kecilnya istiqamah dengan shalat-shalat malam dan puasanya. Bahkan ketika menggembleng adik-adik pemuda Islam dalam mukhoyyam di puncak gunung, beliaulah yang paling sedikit tidurnya. Terjaga dan menjaga, dalam tadabbur alam dan shalat-shalat malamnya. Tak ada yang menyelisihkan jasa-jasa beliau perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Ketika Belanda dengan pesawat-pesawatnya menyebar selebaran black campaign bahwa pemerintah dan militer sudah tidak akur, militer hendak melakukan kudeta, maka Jenderal Sudirman segera melakukan pidato radio, militer tetap bersama pemerintah. Tidak sedikit pun syahwat untuk memporak-porandakan negara yang baru seumur jagung ini dengan kudeta militer.

Salah satu ucapan beliau yang menggema dalam pidato-pidato radio maupun pesan-pesan surat dari kurir ke kurir untuk menyemangati anak-anaknya (militer & laskar rakyat) adalah.. wa laa tahinnu wa laa tahzannu.. wa antumul a’launa in kuntum mukminiiin.. Janganlah kalian merasa hina, merasa rendah, kecil, lemah, dan jangan bersedih hati, sesungguhnya kalian yang paling tinggi jika beriman (Quran Surat Ali Imran: 139). Yakinlah, sebab ini adalah perang suci, jihad, dan kalian bukanlah tentara bayaran.

Muhammad Toha, Muhammad Ramdhan dan kawan-kawan di Bandung, adalah hasil seleksi untuk bom syahid, dalam upaya membumi hangus persediaan amunisi Belanda yang berhasil di deteksi teliksandi laskar rakyat, yang di simpan di Baleendah untuk persediaan perang di Jawa 10 tahun ke depan. Pemuda-pemuda ini pilihan seleksi dari laskar-laskar pemuda Islam. Berangkat Kamis malam dan sempat terlihat dari lampu mercusuar sehingga dihujani tembakan. Kepada kawannya berpesan, insya Allah esok Jum’at tugas akan kami tunaikan. Dengan tetesan darah dari lukanya, sempat menuliskan pesan terakhir di atas saputangan untuk orangtua dan calon istrinya. Dan benarlah, Jum’at suci itu api membakar gudang senjata dan beberapa kampung di sekitarnya. Bom syahid itu tidak hanya di Palestina, dia ada, di Baleendah. Itulah wajah pemuda Islam Indonesia.

Mr.Roem tokoh Masyumi, H.Agus Salim bapak tarbiyah pencetak generasi pejuang handal macam Mr.Roem, Kasman Singodimejo dll, adalah segelintir dari tokoh-tokoh pemuda Islam yang mengerti betul makna syahadah dan perjuangan. Bekerja sama secara apik dengan rekan seperjuangan lintas agama J.Leimena, Lambertus Nicodemus (LN) Palar dll. Kemerdekaan yang dijalin dari perjuangan demi perjuangan di medan perang jihad, dan medan diplomasi. H.Agus Salim yang membawa suara perjuangan kemerdekaan ini lewat jaringannya ke Mesir. Mr.Roem, Syahrir, dan LN Palar yang berjuang di perundingan-perundingan dan sidang Dewan Keamanan PBB, setelah Mesir berhasil mengumpulkan suara dunia agar perkara Indonesia dibahas di Sidang DK PBB.

Demikianlah, perjuangan itu agak nya tidak mudah dan tidak murah. Tidak pula mampu dilakukan seorang atau sekelompok, ianya harus diperjuangkan oleh banyak orang berbagai golongan. Terutama, peran dari umat Islam yang dari berbagai teropong sejarah, tidak mungkin dihilangkan. Tetapi sesudahnya, pemuda-pemudi pesantren, dan ulama kembali ke tempatnya, kembali ke desanya, menjadi orang biasa. Siapakah yang mengisi panggung-panggung pengelolaan urusan umat ini? Mengapa setelah itu berjilbab saja sulit? partai Islam sempat di reduksi menjadi satu saja. Islam adalah mendirikan masjid, bakti sosial, dan upacara peringatan hari raya dan hari besar agama.

1998 memberikan kesempatan kepada umat Islam untuk masuk, berperan dalam panggung-panggung pengelolaan urusan umat. Apakah urusan umat itu? dianya adalah pendidikan, ekonomi, politik, pertahanan keamanan, energi, pangan dan pertanian, teknologi dan inovasi, kesehatan, pemeliharaan lingkungan, dan mempersempit kesenjangan sosial, dan banyak lagi, dan banyak lagi. Dianya adalah urusan mengelola urusan-urusan di bumi ini dengan baik dan adil, dan dianya adalah agar orang-orang yang hendak bersujud menyembah-Nya itu dapat dengan lebih khusyuk dan merendah diri kepada-Nya.

Bukankah yang menduduki posisi-posisi pengelolaan urusan-urusan itu juga banyak yang beragama Islam? ya benar, tetapi mengapa berjilbab saja begitu sulitnya selama berpuluh-puluh tahun? Alhamdulillah sekarang jauh lebih baik. Mengapa jaminan produk halal bagi umat Islam itu belum ada hingga sekarang? Mengapa terorisme itu selalu difestivalisasi meminggirkan umat Islam? mengapa.. mengapa.. mengapa yang lain? Dalam skala lebih luas, mengapa negeri yang dibangun dengan darah ini tak kunjung makmur berkah?

Maka di usia 68 tahun Indonesia merdeka ini, peran umat Islam perlu lebih luas dan lebih dalam untuk mengelola urusan-urusan masyarakat, mengisi panggung-panggung politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, teknologi, energi, dan sebagainya, dan sebagainya. Kepada siapa umat Islam meminta ini? meminta? bisa meminta? ini harus diperjuangkan, lewat legitimasi jalur demokrasi, dan terutama, lewat peningkatan kapasitas dan kemampuan berbagai segi. Umat Islam tidak bisa meminta, dia harus berjuang, berusaha, bekerja keras, berkarya nyata, berpendidikan tinggi, berintelektual cerdas, beretorika fasih, beretika tinggi, dan berakhlak mulia.

Jadi umat Islam haus kuasa? seperti perkata Said Ramadhan: untuk apakah kekuasaan itu untuk (pribadi)ku? yang kuinginkan adalah cinta dan ridha-Nya, mati masuk surga. Iya, tapi umat Islam tidak boleh terpinggirkan dari kekuasaan, dia harus ada di dalamnya, dia harus terlibat dalam pengelolaan urusan-urusan masyarakat, bekerja sama dengan seluruh komponen masyarakat lainnya, lintas suku, lintas agama, dalam kebersamaan dan keadilan. Iya, keadilan, harus!

Dengan sepenuh cinta dan air mata, Terima kasih negeriku, dirgahayu Indonesia! (sbb/dkw)

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Ilustrasi. (bangsaonline.com)

Dari Masjid untuk Negeri Tercinta

Organization