Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Masihkah Muslimah Enggan Berjilbab?

Masihkah Muslimah Enggan Berjilbab?

muslimahdakwatuna.com – Meski jilbab secara jelas disyariatkan oleh agama, banyak kaum Muslimah yang masih enggan menjalankan perintah itu. Di antara mereka ada yang menyatakan bahwa kewajiban menggunakan jilbab hanya berlaku bagi kaum Muslimah pada zaman dahulu, bukan untuk di zaman sekarang. Bahkan, tidak sedikit di antara mereka yang menilai pemakaian jilbab dapat membatasi pergaulan dan mengganggu aktivitas.

Dalam pandangan pakar tafsir, Dr Mukhlis Hanafi, apa pun alasan yang diajukan seorang Muslimah untuk tidak mengenakan jilbab, tidaklah dapat diterima. ”Nas-nas Alquran secara terang menjelaskan, menutup aurat itu wajib hukumnya. Dengan demikian, Muslimah yang enggan memakai jilbab berarti telah melanggar syariat. Adapun di balik itu misalnya ada alasan sosial atau yang lain, sudah menjadi hak prerogatif Allah untuk menentukannya. Apakah akan diberi hukuman atau ampunan,” katanya.

Secara sosial, mengenakan jilbab menjadi penting mengingat persinggungan antara kaum laki-laki dan perempuan sangat intensif. Berkaitan dengan pilihan-pilihan berjilbab, Mukhlis menuturkan, siapa pun bebas memilih bentuk-bentuk jilbab. Mau yang modis atau tidak modis, terserah. Yang penting adalah menutup aurat. Yang dikedepankan oleh Islam adalah substansi, bukan simbol.

Dalam sebuah dinamika hidup yang semakin terbuka ini, Abidah Muflihati, ketua umum Pimpinan Pusat (PP) Nasyiatul Aisyiyah, menyayangkan kurang adanya korelasi positif antara perilaku Muslimah dan simbol pakaian yang dikenakan, jilbab. ”Secara ideal, orang yang berjilbab itu perilakunya juga baik. Dengan berperilaku baik, prinsip-prinsip agama tidak dijalankan setengah-setengah. Nilai dan simbolnya harus dijalankan sepenuhnya,” tuturnya.

Dengan semakin banyaknya produk jilbab sekarang ini, jelas Abidah, di satu sisi ada Muslimah yang mencerminkan semangat keislamannya naik. Tetapi, di sisi lain, ada juga Muslimah yang berjilbab hanya untuk memenuhi tuntutan mode. Prinsip-prinsip berjilbab dengan benar tidak diperhatikan.

”Tidak etis kalau memakai jilbab, tetapi pakaiannya ketat, atau kelihatan sebagian tubuhnya yang seharusnya wajib ditutupi. Padahal, kalau berjilbab dengan komitmen yang baik akan menimbulkan efek positif bagi kehidupan sosial, begitu juga sebaliknya,” paparnya.

Dengan demikian, komitmen dan kesadaran berjilbab adalah unsur penting yang harus disadari oleh para Muslimah. Tujuan utama syariat Islam mewajibkan jilbab adalah adalah untuk menjaga kehormatan kaum Muslimah sebagai hamba Allah yang mulia di mata-Nya dan manusia seluruhnya. (eh/rol)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

DDII Kecam Pelarangan Jilbab oleh Perdana Menteri Perancis