Home / Berita / Internasional / Afrika / Mempertanyakan Gerakan “Tamarrud”

Mempertanyakan Gerakan “Tamarrud”

polisi bersenjatadakwatuna.com – Mesir. Gerakan “Tamarrud” sebenarnya tidak ada dalam alam nyata. Dia mempunyai efek ketika media memperlakukannya sebagai sesuatu yang ada. Tapi tidak ada kepastian, apakah “Tamarrud” memanfaatkan media, atau sebaliknya, media memanfaatkan “Tamarrud”?

Ketika membicarakan sebuah gerakan, kita akan membicarakan apa prinsip-prinsip, norma-norma, dan tujuan-tujuan yang diperjuangkan?

Sebuah gerakan adalah kumpulan orang-orang yang kemudian bertambah besar karena diikuti banyak pengikut yang meyakini pemikiran dan prinsip-prinsip yang dibawanya, dan mereka berusaha mewujudkan tujuan yang ingin dicapai.

Jika lihat “Tamarrud”, kita tidak bisa menemukan poin-poin di atas di dalamnya. Maka dari itu, kita bisa mengatakan bahwa gerakan “Tamarrud” hanyalah sebuah kartu yang digunakan memobilisasi orang banyak untuk menjatuhkan Presiden Mursi. Itu saja. Titik.

Sekarang kita katakan saja, seperti klaim aktifis “Tamarrud” bahwa jumlah yang termobilisasi mencapai berjutaan orang. Tapi orang-orang itu hanya sepakat berkumpul di Bundaran Tahrir untuk menekan Presiden Mursi hingga turun dari jabatannya.

Begitu Presiden Mursi turun, maka selesailah kesepakatan mereka. Mulai saat itu, “Tamarrud” sudah tidak bisa mengklaim dirinya mewakili berjutaan orang.

Karena orang-orang itu tidak mempunyai afiliasi kepada gerakan “Tamarrud”. Gerakan “Tamarrud” juga tidak mempunyai pemimpin, prinsip, pemikiran, dan tujuan mulia dalam membangun masyarakat.

Gerakan “Tamarrud” hanyalah alat untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuannya hanya satu, menjatuhkan Presiden Mursi.

Kondisinya sama persis dengan namanya “Tamarrud” (memberontak), yang lebih mengesankan gerakan pengacau dan perusak, yang tidak mempunyai persepsi apa-apa dalam membangun masyarakat.

Karena setiap saat akan menjadi perusak dan pengacau, maka keberadaannya pun harus dihentikan. Kalau dibiarkan akan mengganggu pemerintahan-pemerintahan Mesir berikutnya.

Lalu kalau gerakan ini memang hanya bertujuan untuk menggulingkan Presiden Mursi (tidak menggulingkan presiden-presiden berikutnya), maka gerakan ini pun sudah tidak perlu lagi, karena Presiden Mursi sudah dijatuhkan.

Kalau sekarang masih harus diakui keberadaannya, apakah dia akan “memberontak” pemerintahan yang ada? Atau hanya akan “memberontak” para aktifis Islam?

Demikianlah, gerakan “Tamarrud” ingin memanfaatkan kebutuhan sederhana rakyat kecil, menggerakkan mereka agar mereka memainkan peran politik pesanan pihak-pihak tertentu.

Rakyat kecil akan merasa ditipu dan dimanfaatkan ketika mereka mendapati pemerintahan mendatang tidak bisa memenuhi kebutuhan sederhana mereka. Ini adalah malapetaka besar bagi “Tamarrud”.

Pada akhirnya, gerakan “Tamarrud” hanyalah akan menjadi masalah bagi masa depan Mesir. Karena dia akan selalu mencari mangsa untuk diberontak dan dirusak. Semakin lama, gerakan ini akan semakin direpotkan karena tidak mempunyai prinsip, pemikiran dan tujuan yang jelas, pengikut yang faktual.

Waktulah yang akan membuktikan kepada rakyat bahwa gerakan ini tidak lebih sebagai gerakan perusakan. Tidak memperjuangkan kemashlahatan rakyat. (msa/sbb/dkw)

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Presiden Joko Widodo (tribunnews.com)

Apakah Pak Jokowi Telah Berubah? Sebuah Telisik Dua Aksi Massa