Home / Pemuda / Essay / Kita Menyebutnya “Kontinuitas Taqwa”

Kita Menyebutnya “Kontinuitas Taqwa”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

“Kontinuitas Taqwa”?

dakwatuna.com Istilah ini agak baru terdengar. Pertama kali dapat dari sebuah kultum tarawih di Masjid UI dari Dr. Yunus Daud, M.Eng (dosen Dept Fisika FMIPA UI & Kepala Bidang Pendidikan DKM Masjid Ukhuwah Islamiyah UI).

Istilah itu adalah pesan tersirat dari ujung ayat Al Baqarah: 183, yakni “la’allakum tattaquna”. Sebuah frasa yang sarat akan makna tersembunyi dari Allah SWT. Mengapa Allah memilih diksi “la’allakum tattaquna” (mudah-mudahan kalian bertaqwa)Kenapa tidak dipilih diksi lain? “la’allakum minal muttaqin” (agar kalian termasuk golongan orang-orang bertaqwa) atau “limanittaqa” (untuk orang yang bertaqwa), atau frasa yang lain.

Ternyata…

Frasa “la’allakum tattaquna” mengandung makna khusus. Dalam kajian Nahwu Sharaf (grammar-nya Bahasa Arab), kata “tattaquna” merupakan bentuk fi’il mudhari’ (mirip seperti continues tense dalam Bahasa Inggris). Bentuk fi’il mudhari’ bermakna al hal wal istiqbal (saat ini dan masa yang akan datang).

Subhanallah…

Allah ingin katakan bahwa jika kalian berpuasa, maka hendaknya kalian selalu bertaqwa. Ada sebentuk ketaqwaan berkelanjutan yang hendak diwujudkan. Tidak temporer. Bukan hanya saat Ramadhan. Tetapi, juga setelah Ramadhan. Di sebelas bulan yang lain.

Kontinuitas taqwa inilah sebenarnya yang hendak kita hadirkan. Kontinu. Bekelanjutan. Tidak diskret, Tidak terputus. Sehingga Ramadhan benar-benar menjadi sarana Allah dalam mendidik kita menjadi pribadi taqwa untuk seterusnya. Selama kita menjadi hamba Allah… Karena taqwa memang sejatinya adalah kata kerja. Seperti kita sedang belajar dari kajian mekanika fluida tentang hukum kontinuitas (Q1 = Q2). Bahwa kondisi taqwa kita di setiap masa mestinya sama.

 

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Yasir Arafat
Lahir di Serang, Januari 1991. Mahasiswa semester 7 Departemen Fisika (konsentrasi Fisika Nuklir-Partikel) FMIPA UI. Supervisor Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) Nurul Fikri Regional 1 Jakarta Putra. Pernah menjabat sebagai Ketua Umum Forkoma UI Banten (periode 2011-2012), yaitu paguyuban mahasiswa UI asal Provinsi Banten. Bukan hanya di paguyuban. Aktif di BEM FMIPA UI 2012 sebagai Koordinator Bidang Internal. Hobi menulisnya sejak ada sejak SMA, yakni saat Yasir menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Pena Dakwah (NaDa) RISMA SMAN 1 Kota Serang. Sejak tahun 2001-2006, Yasir tinggal di lingkungan Pondok Pesntren di Banten.

Lihat Juga

Surat dari Seseorang yang Salah Meletakkan Cinta pada Sebuah Hati