Home / Narasi Islam / Khutbah / Khutbah Idul Fitri / Khutbah Idul Fitri 1434 H: Agar Allah SWT Mencintai Kita

Khutbah Idul Fitri 1434 H: Agar Allah SWT Mencintai Kita

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Hadirin yang senantiasa mengharap kasih sayang Allah Subhaanahu Wa Ta’alaa

Ramadhan baru saja berlalu, Syawal-pun menjelang. Ramadhan yang penuh dengan kebajikan dan amal shalih, telah mengajarkan pada kita tentang makna kasih sayang, cinta, dan persaudaraan. Ramadhan menyemai cinta di lubuk hati. Cinta kepada Allah membuat hamba mengabaikan seluruh lelah, lapar, dahaga, bahkan luka. Bertahan dalam ketaatan, bersabar dalam ujian setangguh saudara-saudara kita di Rabiah Adawiyah dan Medan An-Nahdhah, Mesir. Ramadhan memupuk cinta kepada sesama, hamba-hamba Allah berbaris bershaf-shaf dalam sujud dan ruku’, bersama mengalunkan pujian, takbir dan tahmid. Dengan cinta mereka saling berbagi dan membantu. Begitu pun suasana di masjid-masjid, para shaimin duduk berbaris berjejer menunggu bedug Maghrib sedang di hadapan mereka hidangan berbuka kiriman dari warga. Karena Rasul yang mulia mengabarkan kepada umatnya,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلَ اَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَئٌ

“Barangsiapa memberi buka kepada orang yang berpuasa, dia mendapatkan pahala sebagaimana pahalanya (orang yang berpuasa itu) tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.” (Tirmidzi)

Segala perbedaan yang ada tak membuat orang-orang berpuasa berselisih apalagi bermusuhan. Tak masalah apakah kau berpuasa mulai hari Rabu atau hari Selasa. Tak mengapa apakah kau shalat Tarawih 20 rakaat atau 8 rakaat. Perbedaan yang dilandasi dengan cinta justru melahirkan harmoni keindahan. Karena puasa memberikan cinta dan keindahan. Rasulullah mengajarkan,

إِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّى صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ

“Sekiranya ada yang memeranginya atau mencacinya hendaknya ia katakan, sesungguhnya aku sedang puasa, dua kali.”

Maka dengan cinta karena Allah seorang mukmin bekerja, beramal, berbagai, berkontribusi, bersilaturahim. Bekerja dengan cinta akan melahirkan ketulusan, daya tahan, dan kebahagiaan. Meski di dunia engkau tak mendapatkan apa-apa. Meski tak ada yang membalasmu dengan terima kasih atau senyuman. Bahkan terkadang berbalas cacian dan cibiran. Seperti cinta Rasul kepada manusia.

Diriwayatkan bahwa istri beliau, Aisyah RA bertanya kepada beliau, “Ya Rasulullah, adakah hari yang lebih sulit yang kau alami daripada hari Uhud?” beliau menjawab, “Aku pernah mengalaminya bersama kaummu sesuatu yang lebih berat dari hari Aqabah. Saat aku tawarkan Islam kepada Ibnu Abdu Yalalil bin Abdu Kilal, namun ia tidak merespon seperti yang aku inginkan. Aku pun tinggalkan dia dalam keadaan gundah gulana. Aku tidak sadar tiba-tiba sudah berada di Qarnu Ats-Tsa’alib (nama tempat di Mekah). Aku angkat kepalaku tiba-tiba ada awan yang menaungiku. Aku lihat di atas, ternyata Jibril memanggilku, ‘Allah telah mendengar ucapan kaummu dan balasan mereka kepadamu. Allah Juga telah mengutus malaikat penjaga gunung agar kau perintahkan semaumu. Lalu malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku, ‘Ya Muhammad, Allah telah mendengar ucapan kaummu dan aku ini penjaga gunung. Tuhanmu telah memerintahkan aku agar engkau perintahkan aku semaumu. Jika kau mau, aku bisa timpakan kepada mereka Al-Akhbasyain (bukit Abu Qubais dan Qu’ayqu’an, Mekah).” Rasul pun menjawab, “Yang aku inginkan adalah agar Allah mengeluarkan di antara anak cucu mereka orang-orang yang hanya menyembah-Nya dan tidak menyekutukannya dengan sesuatupun”

Hadirin yang senantiasa mengharap ampunan Allah Subhaanahu Wa Ta’alaa

Inilah yang diajarkan Allah kepada kita melalui Ramadhan. Semua amal ibadah selama Ramadhan mendekatkan kita pada derajat sebaik-baik manusia, yaitu muttaqin, yang bagi mereka surga-Nya. Bagi setiap mukmin yang merindukan surga-Nya, semestinya meniru bagaimana perilaku dan sifat penghuni surga. Allah Subhaanahu Wa Ta’alaa berfirman,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ﴿٤٢﴾ وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ ۖ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ ۖ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ ۖ وَنُودُوا أَن تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ﴿٤٣﴾

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekadar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran”.

Dan diserukan kepada mereka: “Itulah surga yang diwariskan kepadamu,

disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan” (QS Al A’raf: 42 – 43)

Sifat utama penghuni surga adalah Cinta. Cinta yang melahirkan amal shalih. Amal shalih yang terangkai dalam kebersamaan, yaitu memperbaiki diri menjadi muslim paripurna, mengokohkan keluarga yang shalih, yang dengannya akan terwujud masyarakat yang beradab, negeri yang keadilan dan kesejahteraan tegak di atasnya, hingga akhirnya Islam menjadi pengarah peradaban dunia.

Hadirin yang senantiasa mengharap surga Allah Subhaanahu Wa Ta’alaa

Tahap amal yang pertama adalah memperbaiki diri menjadi muslim paripurna. Allah Subhaanahu Wa Ta’alaa mengajarkan, “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS An Nahl: 97).

Pribadi yang muslim akan menjadi unsur utama terbentuknya keluarga muslim. Inilah tahap amal ke dua, yaitu mengokohkan keluarga yang shalih. Allah Subhaanahu Wa Ta’alaa menjadikan keluarga Nabi Zakaria ‘alayhimus salaam sebagai model keluarga shalih. Perhatikan firman-Nya, “Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami” (QS Al Anbiyaa’: 90). Mereka juga senantiasa mengikuti petunjuk-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS At Tahrim: 6)

Tahapan ke tiga adalah saat keluarga yang shalih akan berhimpun menjadi masyarakat yang beradab. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala menyifati masyarakat beradab melalui firman-Nya, “Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh” (QS Ali Imran: 113 – 114).

Tahapan ke empat adalah terwujudnya negeri yang keadilan dan kesejahteraan tegak di atasnya. Allah Subhaanahu Wa Ta’alaa memberi jaminan melalui ayatNya, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS Al A’raf : 96).

Dan puncak harapan kita adalah tahap ke lima, yaitu Islam menjadi pengarah peradaban dunia. Firman-Nya menegaskan, “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai” (QS At Taubah: 33) karena “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS Al Anbiyaa’: 107).

Hadirin yang senantiasa mengharap perjumpaan dengan Allah Subhaanahu Wa Ta’alaa

Tentu lima tahap tersebut tidak cukup terpenuhi hanya dengan Ramadhan tahun ini. Kelimanya memerlukan proses yang terus-menerus dan berkelanjutan. Oleh karenanya, melepas Ramadhan dan sekaligus memasuki Syawal, para ulama mengajarkan kita tiga hal utama. Pertama terus bergaul dengan orang-orang shalih, ke dua terus melakukan amal shalih meskipun sedikit tetapi kontinyu, dan ke tiga selalu sabar dalam menjalani ketaatan kepada-Nya. Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’alaa menerima semua ibadah kita dan mempertemukan kita dengan Ramadhan tahun depan. TaqabbalaLlaahu minnaa wa minkum…

Akhirnya marilah kita tutup shalat dan khutbah Id kita hari ini dengan berdoa,

Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rezki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang zhalim dan kafir.

Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ghusni Darodjatun
Pendidik di MTs Negeri Margadana Kota Tegal. Pembina Yayasan Ribathul Ukhuwwah (penyelenggara Sekolah Islam Terpadu Usamah) Kota Tegal. Anggota Presidium Forum Silaturahim Umat Islam Kota Tegal. Anggota Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kota Tegal.

Lihat Juga

Love, Cinta, Valentine

Cinta Sebagai Energi Kemenangan