Home / Berita / Internasional / Afrika / Wawancara Dengan Mahaa Abul Izz, Koordinator Gerakan Wanita Anti Kudeta

Wawancara Dengan Mahaa Abul Izz, Koordinator Gerakan Wanita Anti Kudeta

ketua wanita anti kudetadakwatuna.com – Mesir. Telah terjadi banyak pembantaian terhadap para demonstran yang mendukung Mursi sebagai presiden Mesir yang sah. Rezim Mubarak benar-benar sudah menebar kebencian dalam hati para pengikutnya hingga mereka bisa melakukan hal sekeji itu kepada saudara-saudara mereka.

Dalam kesempatan ini, kami berhasil mewawancarai Mahaa Abul Izz, ketua Gerakan Wanita Anti Kudeta beberapa jam setelah kudeta diumumkan.

Apa yang mendorong Anda mendirikan gerakan ini?

Kita harus mengingat revolusi 25 Januari yang berjalan dengan lancar dan damai. Diikuti oleh seluruh lapisan rakyat Mesir dari semua latar belakang.

Rezim pun jatuh. Mesir memulai jalan menuju kehidupan yang demokratis. Pemilu dilaksanakan dengan sangat gemilang. Terbentuklah DPR dan MPR di bawah supervise kehakiman, militer, kepolisian, aktifis HAM, dan para pemantau independen. Ada 6 hal yang dihasilkan proses demokrasi yang diakui dunia, yang terakhir adalah pemilihan presiden yang menghasilkan Mursi sebagai presiden pertama terpilih melalui sebuah pemilu.

Bagaimana mungkin setelah itu terjadi sebuah kudeta. Kudeta yang akan mengembalikan rejim Mubarak dengan wajah buruk, diktator, korup, diskriminatif, dan memisahkan militer dari rakyat.

Oleh karena itu munculah gelombang penolakan atas kudeta ini.

Kapan tepatnya gerakan ini diluncurkan?

Gerakan diluncurkan belum lama ini. Dihadiri banyak tokoh wanita yang menolak kudeta dan menuntut kembalinya pemerintahan yang sah. Selain tokoh, anggotanya juga terdiri dari para aktivis wanita kampus. Mereka semua tidak mempunyai afiliasi politik tertentu. Yang menyatukan mereka adalah penolakan mereka terhadap kudeta.

Bisa tolong dijelaskan sekilas tentang gerakan ini? Apa tujuan bergabung dengan gerakan ini? Apakah gerakan ini juga bekerja sama dengan lembaga perlindungan hak-hak wanita?

Ini adalah gerakan wanita Mesir yang tidak berafiliasi kepada partai politik tertentu. Memperjuangkan semua warna kelompok masyarakat Mesir, sampai pun preman-preman yang telah membantai rakyat. Mereka adalah produk rezim Mubarak.

Itulah rezim Mubarak, kita inginkan Mesir dalam kondisi baik, tapi mereka ingin Mesir menjadi sarang preman. Preman-preman itu dengan bebasnya beraksi. Mereka dilindungi militer, padahal militer itu bertugas melindungi kami.

Walaupun demikian, kami tetap mencintai mereka. Kami ajak keluarga besar militer, intelijen, dan kepolisian, untuk tidak saling memusuhi sesama anak negeri ini. Kami benar-benar mencintai dan menghormati mereka. Sama seperti pidato terakhir Presiden Mursi. Beliau mengatakan, “Lindungilah militer dan kepolisian.”

Berapa jumlah anggota gerakan ini?

Jumlah anggota kami saat ini 10 ribu. Harapan kami jumlahnya akan bertambah hingga 200 ribu. Kami mentargetkan semua wanita yang masih ada di rumah untuk bergabung bersama kami, menjelaskan bahwa perjuangan kami ini benar-benar damai. Tujuan kami benar-benar kedamaian negeri ini.

Apa target-target gerakan ini?

Target kami adalah mengembalikan legitimasi dengan segala jenis dan lembaganya, mengembalikan Presiden Mursi memimpin negara ini, mengembalikan militer kepada pangkuan rakyat, bukan dalam genggaman Mubarak, As-Sisi, intelijen, atau Amerika.

Militer adalah milik rakyat, harus kembali kepada rakyat. Oleh karena itu kami mengajak seluruh pimpinan miiliter untuk melindungi rakyat. Kami menunggu, merekalah yang akan menggulingkan kudeta, merekalah yang akan mengatakan bahwa kudeta ini tidak sah, bahwa As-Sisi adalah pengkhianat. Kami juga menekankan bahwa kita semua harus hidup dalam kondisi yang aman, seperti masa-masa pemerintahan Mursi.

Kami ingin katakan juga, janganlah takut kepada aktivis Islam. Kami siap membuka lembaran baru. Marilah bergandengan tangan. Janganlah tentara berdalih mendapatkan perintah atasan. Membunuh rakyat adalah perintah yang tidak sah.

Apakah jumlah anggota bertambah setelah dideklarasikan di Rab’ah Adawiyah?

Tentu bertambah. Bahkan bertambah sangat besar setelah terjadi berbagai pembantaian oleh militer dan preman. Orang yang telah kehilangan suaminya, saudaranya, keluarganya, tentu akan segera bergabung dengan kami. Demikian juga setiap orang yang anti kudeta.

Apakah di antara kalian ada lembaga-lembaga perlindungan hak kaum wanita?

Tidak ada. Mereka menghilang. Atau mereka telah mati dan dikubur dalam-dalam. Sampai sekarang kami belum mendengar suara mereka. Ini semua sangat mencurigakan. Tidak ada pernyataan sikap satu kalipun terkait pembantaian-pembantaian yang terjadi.

Bagaimana dengan peran UNICEF, atau lembaga perlindungan hak wanita Arab? Apakah mereka berperan dalam melindungi legitimasi?

Tidak ada. Oleh karena itu, dari forum ini kami menghimbau seluruh pihak yang memperjuangkan kebaikan, kami sampaikan bahwa yang terjadi di Mesir adalah kejahatan yang sebenar-benarnya. Telah terjadi pembunuhan massal berencana terhadap rakyat sipil Mesir. Pembantaian dilakukan dengan dalih yang diada-adakan untuk menstigma beberapa pihak.

Apa kegiatan yang telah dilakukan?

Kami selalu aktif dalam konvoi-konvoi yang diselenggarakan koalisi pendukung legitimasi. Oleh karena itu kami mengajak kepolisian untuk melindungi kami dalam kegiatan-kegiatan tersebut.

Apakah gerakan ini otomatis bubar ketika Presiden Mursi kembali memimpin?

Memang gerakan ini baru terbentuk saat peristiwa ini. Tapi kami akan terus eksis hingga seluruh agenda revolusi 25 Januari terealisasi. Aktifitas kami tidak akan terhenti dengan kembalinya Presiden Mursi. (msa/sbb/aon/dkw)

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Mesir Tangkapi Nelayan Palestina dan Menyerahkannya ke Israel