Home / Narasi Islam / Khutbah / Khutbah Idul Fitri / Khutbah Idul Fitri 1434 H: Pemimpin Jangan Terpenjara Masalah

Khutbah Idul Fitri 1434 H: Pemimpin Jangan Terpenjara Masalah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

اَلسَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

اَللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ

اَللهُ اَكْبَرْكَبِيْرًا، وَالْحَمْدُلله ِكَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَاَصِيْلاً

لآاِلَهَ اِلاَّ الله وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهْ، وَنَصَرَعَبْدَهْ، وَاَعَزَّجُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلاَحْزَابَ وَحْدَهُ

لآاِلَهَ اِلاَّ الله وَلاَ نَعْبُدُ اِلاَّ اِيَّاهْ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

لآاِلَهَ اِلاَّ الله ُوَالله ُاَكْبَرْ. اَلله ُاَكْبَرْ وَلله ِالْحَمْدُ

نَحْمَدُالله حَقَّ حَمْدَهْ، وَنَشْكُرُهُ حَقَّ شُكْرَهُ

اَشْهَدُاَنْ لآ اِلَهَ اِلاَّالله ُوَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ

وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهْ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ

فَيَاعِبَادَالله، اُصِيْكُمْ وَاِيَّايَ نَفْسِيْ بِتَقْوَالله وَطَاعَتِهِ

Pendahuluan

اَللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ وَلله ِالْحَمْدُ.

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ.

Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Pada hari kemenangan ini, mari kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah Swt. Tuhan Maha Pengasih yang menganugerahi kita bulan Ramadhan. Bulan penuh berkah di mana pahala amal saleh dilipatgandakan dan pintu-pintu ampunan dibuka lebar. Dalam hadits riwayat Imam Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah, Rasulullah Saw bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ، قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ مُبَارَكٌ. فِيْهِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيْضَةً وَقِيَامَ لَيْلَةٍ تَطَوُّعًا. مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنْ خِصَالِ الْخَيْرِ، كَانَ كَمَنْ أَدَّى الْفَرِيْضَةَ فِيْمَا سِوَاهُ. وَمَنْ أَدَّى فِيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ.

“Hai umat manusia. Akan datang kepada kalian bulan mulia dan penuh berkah. Di dalamnya ada lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Allah mewajibkan puasa di bulan itu, dan shalat tarawih di malam harinya sebagai ibadah sunah. Orang yang mendekatkan diri dengan melakukan ibadah sunah, pahalanya sama dengan melakukan ibadah wajib di bulan lain. Sementara itu, orang yang melakukan ibadah wajib, pahalanya senilai tujuh puluh ibadah wajib di bulan lain.”

Hakikat Ibadah Ramadhan

Semua rangkaian ibadah di bulan Ramadhan, baik yang wajib seperti puasa dan zakat, maupun yang sunah seperti tarawih dan tadarus, hakikatnya adalah media pelatihan rabbani agar kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan intelektual kita terus meningkat dari waktu ke waktu. Ini merupakan cara Tuhan menata kehidupan hamba yang dicinta-Nya. Supaya kita berevolusi menjadi pribadi yang semakin baik dan semakin siap menghadapi perjumpaan dengan-Nya.

Mari jadikan perayaan Idul Fitri ini sebagai momentum untuk menguatkan tekad menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Lanjutkan semua tradisi positif yang biasa kita lakukan selama bulan Ramadhan, buang seluruh kebiasaan buruk yang kita hindari selama berpuasa. Patrikan niat untuk merawat dan mengisi hari-hari di sebelas bulan berikutnya dengan beragam kebajikan yang bernilai pahala, agar kita termasuk hamba yang diridhai dan berhak atas surga seperti dijanjikan Allah dalam surah Al-Fajr ayat 27-30:

يَاأَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةْ. إِرْجِعِيْ إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَّةً مَرْضِيَّةً. فَادْخُلِيْ فِيْ عِبَادِيْ. وَادْخُلِيْ جَنَّتْيْ.

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku.”

Shalawat dan Salam

Shalawat dan salam mari kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW Nabi akhir zaman yang berhasil mengubah bangsa Arab pagan menjadi beriman. Yang terpecah karena fanatisme kesukuan, menjadi bersatu dalam persaudaraan. Yang egois karena membanggakan silsilah keturunan, menjadi humanis dan menjunjung tinggi asas kesetaraan. Beliaulah pemimpin yang lahir secara alami di tengah-tengah masyarakat yang membutuhkan figur amanah dan bisa dipercaya, sosok pemersatu yang diterima semua golongan, serta pribadi cerdas yang bisa menyelesaikan semua persoalan.

Kepemimpinan beliau tidak diperoleh secara instan melalui citra yang direkayasa. Tidak pula karena memanfaatkan kekuatan finansial meskipun istrinya, Khadijah adalah saudagar kaya, dan bukan juga karena faktor genetik karena beliau keturunan bangsawan Quraisy. Kepemimpinan Rasulullah Saw tumbuh melalui ketulusan untuk menyelamatkan umat dari kebiadaban tradisi Jahiliyah. Ditempa melalui beragam cacian, makian, intimidasi, dan perlakuan keji. Serta dikuatkan oleh jasa baik yang manfaatnya dirasakan semua kabilah Arab.

Alhamdulillah, Allah Swt. menakdirkan kita untuk menjadi umatnya. Mari kita syukuri nikmat ini dengan keseriusan meneladani sifat, sikap, dan perilaku beliau dalam kehidupan kita.

Hakikat dan Fungsi Kepemimpinan

اَللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ وَلله ِالْحَمْدُ.

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ.

Tanpa sedikit pun mengurangi kekhusyukan dalam mengumandangkan takbir, tahlil, dan tahmid, Khatib al-Faqir mengajak hadirin sekalian untuk merenungkan ajaran Islam tentang kepemimpinan. Hal ini sangat penting dipahami karena Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap masalah kepemimpinan. Dalam setiap sektor kehidupan, baik formal maupun non-formal, dalam skala kecil maupun besar, untuk kegiatan yang bermuatan ibadah ataupun amaliyah, Islam selalu menganjurkan umatnya untuk memilih pemimpin. Dalam hadits panjang yang sudah sering kita dengar, Rasulullah Saw menegaskan bahwa kita semua, apa pun jenis kelamin dan status sosialnya di mata manusia, di depan Allah Swt. kita tetaplah seorang pemimpin. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah Saw bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَ كُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. فَاْلإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. وَالرَّجُلُ فِيْ أَهْلِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. وَالْمَرْأَةُ فِيْ بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَّةٌ وَهِيَ مَسْئُوْلَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا. وَالْخَادِمُ فِيْ مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

“Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang pria adalah pemimpin bagi keluarganya, dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya, dan dia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang pembantu adalah pemimpin bagi harta majikannya, dan dia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.”

Dengan mengangkat setiap Muslim sebagai pemimpin, hadits ini sebenarnya meneguhkan jati diri kita sebagai khalifah. Wakil Tuhan yang bertugas memakmurkan bumi dengan beragam kebaikan. Manusia-manusia pilihan yang dituntut berkompetisi melakukan amal saleh demi meraih ridha-Nya, dan umat terbaik yang dibebani tanggung jawab menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas masing-masing. Tak satu pun dari kita yang bisa mengelak dari amanah kepemimpinan. Mengelak amanah kepemimpinan, berarti mengingkari fitrah sebagai khalifah, sekaligus mengingkari status sebagai Muslim. Ingat, ancaman Allah begitu jelas bagi orang-orang seperti ini. Dalam hadits riwayat Imam Ahmad, Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ وَلَّى مِنْ أَمْرِ النَّاسِ شَيْئًا فَاحْتَجَبَ عَنْ أَوْلِي الضَّعْفِ وَالْحَاجَةِ، اِحْتَجَبَ اللهُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

“Orang yang diserahi kekuasaan urusan manusia, lalu menghindar dan mengelak tidak melayani kaum yang lemah dan orang-orang yang membutuhkan, maka Allah tidak akan mengindahkannya pada Hari Kiamat.”

Agar tidak termasuk orang-orang yang diabaikan Allah Swt. pada Hari Kiamat, mari tunaikan amanah kepemimpinan yang dibebankan kepada kita dengan baik. Jalankan tiga fungsi kepemimpinan seperti yang diajarkan Islam dan dicontohkan oleh Rasulullah Saw berikut para sahabat besar generasi salafus saleh.

Pertama, Pemimpin Adalah Imam, Pelopor Kebajikan

Dalam bahasa Arab, kata imam berasal dari amma-yaummu yang berarti menuju, menumpu, dan meneladani. Artinya, seorang pemimpin harus berada di garda terdepan dalam memberi teladan positif. Menjadi pelopor dalam setiap kebaikan. Menjadi kreator yang selalu tampil dengan ide-ide kreatif untuk memajukan masyarakat. Cerdas membaca situasi dan cekatan dalam memberikan solusi, berani mengambil risiko atas keputusan yang sudah ditetapkan, serta konsisten menjalankan kebijakan yang sudah digariskan meskipun terkesan tidak populer.

Rasulullah Saw adalah contoh imam yang sangat ideal. Saat perintah shalat turun, beliau tidak hanya rajin menyuruh umat untuk mendirikan shalat. Tapi beliau sendiri shalat sampai kakinya bengkak. Untuk meningkatkan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar, beliau menggagas persaudaraan massal, di mana setiap sahabat Anshar harus mengangkat satu orang sahabat Muhajirin sebagai saudaranya. Ketika beliau membaca gelagat kekecewaan kaum Muslimin atas isi perjanjian Hudaibiyah yang sepintas terkesan merugikan, sehingga mereka tidak segera melaksanakan perintah mencukur rambut, Rasulullah SAW langsung mencukur rambut di hadapan para sahabat, menyadarkan mereka bahwa isi perjanjian Hudaibiyah sebenarnya sangat menguntungkan kaum Muslimin, dan konsisten menaatinya, hingga kafir Quraisy sendiri melanggar perjanjian tersebut.

Kedua, Pemimpin Adalah Ra’in, Pelayan Masyarakat

Kata ra’in biasa diartikan memelihara, menjaga, atau menggembala. Maknanya, seorang pemimpin harus selalu bersedia melayani umat. Rela mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menyelamatkan masyarakat dari belitan derita, lalu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan mereka. Tidak pernah enggan apalagi malu bergaul dengan rakyat secara langsung. Tidak menciptakan jarak dan sekat protokolariat yang membuat masyarakat kesulitan untuk mengadukan masalah mereka, dan bersikap empati terhadap penderitaan umatnya.

Mari kita contoh Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Hampir setiap malam dia menyempatkan diri berkeliling Madinah untuk mengetahui kondisi riil masyarakat Islam. Ia tidak pernah merasa puas dengan laporan-laporan yang disampaikan pejabat pemerintahannya mengenai kondisi rakyat. Ia merasa perlu untuk turun langsung ke bawah agar tahu pasti keadaan masyarakat. Ia tidak canggung membangunkan istrinya tengah malam lalu memanggul karung gandum sendiri, demi membantu persalinan keluarga miskin di pinggiran kota Madinah. Ia juga tidak ragu dan menghindar ketika seorang Yahudi Mesir mengadukan gubuknya yang digusur. Dengan penuh empati, Umar langsung mengirim ultimatum kepada Gubernur Mesir agar hak-hak Yahudi tersebut dikembalikan.

Ketiga, Pemimpin Adalah Khalifah, Penerus Risalah Nabi untuk Memimpin Rakyat

Kata khalifah merupakan bentuk turunan dari khalafa-yakhlifu yang berarti pengganti atau pelanjut. Maknanya, seorang pemimpin harus bisa menjadi motivator yang mendorong masyarakat untuk maju. Peka mendengarkan aspirasi rakyat, lalu mewujudkan keinginan mereka, selama keinginan tersebut mengandung kemaslahatan umum. Telaten mendengarkan masukan serta terbuka untuk dikritisi. Tidak egois apalagi angkuh dengan meyakini diri paling pintar dan paling benar.

Lihatlah Abu Bakat Ash-Shiddiq yang tekun memotivasi rakyat agar terus bersatu dan bersemangat menyebarkan kebajikan setelah ditinggal oleh Rasulullah SAW. Cermati ketika dia mendengar masukan agar Al-Quran dibukukan karena banyak sahabat yang hafal Al-Quran syahid di medan perang. Simak keterbukaannya untuk dikritisi dan dikoreksi dalam pidato pengangkatannya sebagai khalifah:

أَيُّهَا النَّاسْ، فَإِنِّيْ قَدْ وَلَّيْتُ عَلَيْكُمْ وَلَسْتُ بِخَيْرِكُمْ. فَإِنْ أَحْسَنْتُ فَأَعِيْنُوْنِيْ وَإِنْ أَسَأْتُ فَقُوْمُوْنِيْ.

“Saudara-saudara sekalian, aku diangkat menjadi pemimpin bukan karena aku yang terbaik di antara kalian. Oleh karena itu, jika aku berbuat baik, bantulah aku, dan jika berbuat salah, luruskanlah aku.”

Ketiga fungsi kepemimpinan tersebut di atas, diterjemahkan secara etnik oleh Ki Hajar Dewantara lalu dijadikan sebagai falsafah bangsa dalam kalimat Ing Ngarso sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani (Di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan).

Antara Rekam Jejak dan Kinerja Pemimpin

اَللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ وَلله ِالْحَمْدُ.

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ.

Karena setiap individu dari kita sudah dibekali potensi kepemimpinan, bahkan ditugaskan untuk memimpin sebagaimana diamanahkan surah Ali Imran ayat 110:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

“Kalian adalah umat terbaik yang diutus untuk manusia.”

Berarti kita semua peluang untuk meniti amanah kepemimpinan dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Dalam bahasa demokrasi kita mengenal istilah, setiap warga negara memiliki peluang dan kesempatan yang sama untuk dipilih dan memilih. Walaupun begitu, ada baiknya bagi kita, untuk menangkap pesan moral yang dicontohkan para sahabat dalam prosesi memilih pemimpin secara demokratis.

Pesan Moral Terpilihnya Utsman Sebagai Khalifah

Sejarah demokrasi dalam Islam yang lebih dikenal dengan istilah syura, digagas oleh Umar bin Khaththab saat menyerahkan suksesi kepemimpinan setelahnya kepada enam sahabat besar. Mereka adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi al-Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf. Keenam sahabat ini kemudian bermusyawarah dan menetapkan Utsman bin Affan sebagai khalifah.

Pertanyaannya, mengapa bukan Ali bin Abi Thalib yang dipilih? Bukankah dia merupakan anak angkat Rasulullah SAW yang cerdas dan jenius? Dalam hadits riwayat Imam Hakim dan Thabrani, Rasulullah SAW bersabda memuji kecerdasan Ali:

أَنَا مَدِيْنَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا.

“Aku adalah gudang ilmu, dan Ali adalah gerbangnya.”

Mengapa bukan Sa’ad bin Abi Al-Waqqash, panglima perang yang dipercaya Umar untuk menaklukkan Persia? Mengapa juga bukan Zubair bin Awwam yang dikenal wara’ dan zuhud? Pesan moral yang bisa ditangkap dari terpilihnya Utsman sebagai khalifah adalah, karena rekam jejak positifnya mengungguli kelima sahabat besar yang lain. Dialah sahabat yang telah membeli surga dua kali. Pertama ketika membeli Sumur Rumah milik Yahudi lalu mewakafkannya kepada kaum Muslimin, dan kedua ketika membekali Jaisyul Usrah (Pasukan yang kesulitan dana). Dalam hadits riwayat Hakim, Rasulullah SAW bersabda:

مَا ضّرَّ عُثْمَانْ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ.

“Apa pun yang dilakukan ‘Utsman setelah hari ini tidak mendatangkan mudarat baginya.”

Kedermawanan Utsman bin Affan tentu bukan satu-satunya faktor yang membuatnya terpilih sebagai pemimpin. Masih banyak faktor lain yang menjadikannya dianggap paling layak menggantikan Umar bin Khattab sebagai khalifah. Di antaranya adalah, Utsman merupakan sosok pemalu, sehingga malaikat pun malu terhadapnya.

Selain itu, kedermawanan Utsman dalam menginfakkan harta, juga jauh berbeda dengan praktik money politic yang sering dilakukan kandidat pemimpin untuk menduduki jabatan ketua ormas, ketua partai, atau kepala pemerintahan baik di daerah maupun di pusat. Mereka membagi-bagikan uang karena ingin menduduki jabatan. Ada pamrih dan ada transaksi di balik kedermawanan semu yang mereka perlihatkan. Sementara itu, kedermawanan Utsman lahir dari keikhlasan berderma untuk memenuhi perintah Al-Quran surah At-Taubah ayat 41:

وَجَاهِدُوْا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، ذلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ.

“Dan berjuanglah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Fungsi Rekam Jejak Pemimpin

Rekam jejak menjadi unsur yang harus diperhatikan dalam suksesi kepemimpinan, karena hal itu merupakan satu-satunya media yang paling akurat untuk mengukur komitmen sekaligus memprediksi integritas calon pemimpin.

Seorang figur yang masa lalunya dipenuhi beragam kesan positif, misalnya, punya visi yang jelas dalam meningkatkan kesejahteraan, punya garis perjuangan yang tegas dalam mengawal dan menyalurkan aspirasi, memiliki jasa besar yang manfaatnya dirasakan orang banyak, tidak punya cacat moral dan kepercayaan dari masyarakat, tentu lebih layak untuk diangkat menjadi pemimpin, dibanding figur yang masa lalunya abu-abu, tidak memiliki visi yang jelas dalam membangun bangsa, apalagi sudah memiliki aib moral dan menderita cacat kepercayaan.

Rekam Jejak Pemimpin dan Efektivitas Pemerintahan

Selain itu, rekam jejak juga punya pengaruh besar terhadap jalannya kepemimpinan. Pemimpin yang track record-nya dinilai buruk, pasti tersandera oleh masa lalunya, sehingga mustahil bisa menjalankan amanah kepemimpinan dengan tegas. Ia pasti berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan diri dari ancaman sanksi moral akibat beban masa lalunya. Ia pasti tertuntut untuk menghapus dosa-dosa sosialnya dengan memberikan kompensasi, fasilitas, serta kemudahan kepada pihak-pihak yang pernah dirugikan.

Inilah jawaban di balik maraknya politik pencitraan setiap kali mendekati masa-masa pemilihan pemimpin. Inilah pangkal di balik terjadinya transaksi politik yang menguntungkan segelintir kalangan dan merugikan masyarakat. Inilah poros di balik merebaknya negosiasi yang berujung pada korupsi, kolusi, nepotisme, dan penyimpangan kekuasaan lainnya. Dalam hadits riwayat Imam Thabrani, Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ مِنْ أَخْوَنِ الْخِيَانَةِ تِجَارَةَ اْلوَالِيْ فِيْ رَعِيَّتِهِ.

“Khianat yang paling besar adalah bila seorang penguasa memperdagangkan rakyatnya.”

Di tangan pemimpin yang cacat moral, kekuasaan takkan berjalan efektif dan efisien. Begitu banyak kepentingan yang harus diakomodasi agar dosa-dosa masa lalunya tidak diungkit dan dipersoalkan. Sebab, hal itu bisa berujung pada pemakzulan dan hilangnya jabatan yang diperoleh dengan modal besar. Pada titik tertentu, pemimpin seperti ini bisa menjadi boneka yang dikendalikan oleh orang-orang yang pernah dizhaliminya.

Sebaliknya, pemimpin yang track record-nya positif, pasti bisa memimpin dengan tegas. Tak ada beban moral yang menghambat upayanya dalam mewujudkan kedaulatan politik yang bebas dari intervensi asing, menegakkan supremasi hukum, membangun kemandirian ekonomi, menata kehidupan sosial, serta merumuskan program-program kreatif untuk memberdayakan masyarakat. Pemimpin seperti inilah yang bisa menjalankan pemerintahan dengan transparan dan penuh integritas. Pemimpin seperti inilah yang harus dipatuhi dalam suka dan duka sebagaimana diwasiatkan Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Ibnu Hibban:

اِسْمَعْ وَأَطِعْ فِيْ عُسْرِكَ وَيُسْرِكَ، وَمَنْشِطِكَ وَمَكْرِهِكَ، وَأَثْرَةً عَلَيْكَ وَإِنْ أَكَلُوْا مَالَكَ وَضَرَبُوْا ظَهْرَكَ إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ مَعْصِيَّةٌ.

“Dengarkan dan patuhi pemimpinmu dalam suka dan duka, saat senang dan susah”

Pemimpin Harus Selesai dengan Dirinya

اَللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ وَلله ِالْحَمْدُ.

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ.

Agar kekuasaan negeri ini tidak jatuh ke tangan pemimpin yang tersandera masa lalunya, maka setiap individu yang menyimpan ambisi untuk menduduki jabatan publik harus introspeksi diri. Ingat kembali perjalanan hidupnya yang lampau. Adakah dosa sosial dan politik yang belum diselesaikan? Adakah cacat moral yang belum diperbaiki? Jika ada, manfaatkan waktu yang tersisa ini untuk melakukan taubatan nasuha. Tunaikan hak-hak orang yang pernah dirugikan lalu minta keikhlasan mereka untuk memaafkan. Klarifikasi semua cacat moral yang dialami lalu tunjukkan komitmen untuk tidak mengulangi.

Jangan malu untuk mengakui kesalahan-kesalahan yang telah lalu dan jangan ragu untuk meminta maaf. Jangan pernah khawatir langkah itu akan menurunkan kredibilitas dan elektabilitasnya di mata masyarakat. Karena yang terjadi justru sebaliknya, masyarakat lebih suka kepada figur yang rendah hati, mau mengakui kesalahan dan berjanji untuk memperbaikinya. Islam juga mengajarkan bahwa orang yang baik bukan yang tidak pernah salah. Orang yang baik adalah yang cepat menyadari kesalahan dan bersegegas meminta maaf, sebagaimana hadits riwayat Hakim dan Ibnu Majah:

كُلُّ ابْنُ آدَمَ خَطَّاءٌ. وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

“Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Sebaik-baik pelaku kesalahan adalah yang segera bertobat.”

Sejarah sudah membuktikan bahwa masyarakat cenderung simpatik dan mudah melupakan kesalahan orang yang menyadari kesalahannya lalu bertobat. Kita mungkin pernah mendengar nama Fudhail bin Iyadh, ulama besar Persia yang sangat disegani dan nasihatnya dipatuhi. Semua orang tahu bahwa awalnya dia adalah perampok sadis, namun setelah bertobat, Khalifah Harun Ar-Rasyid sering meminta sarannya dalam menjalankan pemerintahan.

Kita juga tahu bahwa Sunan Kalijaga awalnya adalah seorang penjahat. Dijuluki Brandal Lokajaya, ia menjadi momok bagi orang-orang kaya di pesisir utara tanah Jawa. Namun setelah bertobat dan berkomitmen untuk berdakwah, tak satu pun dari masyarakat yang meragukan kredibilitasnya sebagai pemimpin agama.

Berkaca dari kedua tokoh ini, para pemimpin harusnya sadar bahwa tugas-tugas kepemimpinan hanya bisa diemban oleh orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Tidak punya beban masalah di masa lalu, dan tidak sedang terbelit masalah di masa kini.

Jabatan publik memerlukan dedikasi, totalitas, sangat menyita perhatian dan energi. Amanah ini hanya bisa dipikul oleh orang-orang yang tak lagi disibukkan dengan urusan dirinya. Tak lagi direpotkan dengan masalah-masalah pribadinya. Hanya pemimpin seperti inilah yang bisa fokus mencurahkan segenap potensinya untuk menyejahterakan rakyat. Benar-benar bisa menjadi abdi yang selalu siap untuk melayani masyarakat sebagaimana hadits riwayat Abu Na’im:

سَيِّدُ اْلقَوْمِ خَادِمُهُمْ.

“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.”

Membiarkan jabatan publik jatuh ke tangan pemimpin yang terpenjara masalah, berarti kita menyiapkan diri untuk melayani, bukan dilayani. Menyiapkan diri untuk disibukkan dengan urusan pemimpin, bukan dia yang disibukkan oleh urusan kita. Dan ini artinya, kita dengan sadar membiarkan negara ini terjebak dalam kemunduran bahkan kebangkrutan. Na’udzubillah min dzalik.

Doa dan Harapan

Sebelum mengakhiri khutbah ini, khatib al-faqir ingin mengingatkan bahwa pesta demokrasi 2014 sudah berada dalam hitungan hari. Sejumlah tokoh politik sudah mulai gencar melakukan sosialisasi, memperkenalkan diri, dan berusaha menarik simpati publik. Sebagai warga negara yang cerdas, mari sikapi fenomena politik ini dengan bijaksana. Jangan terburu-buru menjatuhkan pilihan sebelum mengetahui pasti kapabilitas, integritas, dan komitmen kejuangan kandidat pemimpin. Sadari bahwa pilihan kita sangat menentukan perjalanan bangsa ini ke depan. Semoga Allah Swt. membimbing kita untuk menjatuhkan pilihan pada figur yang amanah. Figur yang memandang jabatan sebagai sarana untuk beribadah menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Aamiin ya rabbal ‘alamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ  وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر.

Wahai Tuhan Yang mempunyai kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

اَللّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُلْحِدِيْنَ، وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Ya Allah, muliakanlah agama Islam dan tinggikanlah derajat kaum muslimin. Hapuskan segala bentuk kekufuran dan enyahkan segala bentuk kejahatan. Tegakkan panji-panji kebesaran-Mu hingga akhir nanti, dengan Rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Pengasih.

اَللّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا اْلإِيْمَانَ، وَزَيِّنْهُ فِيْ قُلُوْبِنَا. وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ.

Ya Allah, tanamkan kepada kami rasa cinta kepada iman. Hiasi hati kami dengan iman. Jauhkan kami dari segala bentuk kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Jadikan kami orang-orang yang selalu berada dalam petunjuk-Mu.

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

Ya Tuhan kami, berikanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.

اَللّهُمَّ انْصُرْ سُلْطَانَنَا سُلْطَانَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرْ عُلَمَاءَهُ وُزَرَاءَهُ وَوُكَلاَءَهُ وَعَسَاكِرَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَاكْتُبْ السَّلاَمَةَ وَالْعَافِيَةَ عَلَيْنَا َعَلَى الْغُزَّاةِ وَالْمُسَافِرِيْنَ وَالْمُقِيْمِيْنَ، فِيْ بَرِّكَ وَبَحْرِكَ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ.

Ya Allah, tolonglah penguasa kami, pemimpin kaum yang beriman, tolonglah para ulama, tolonglah para menteri, pejabat, serta tentaranya hingga hari Akhir. Tetapkan keselamatan dan kesehatan bagi kami, orang-orang yang sedang berjuang, para musafir, serta yang tidak bepergian, baik yang ada di darat atau di laut-Mu—umat Muhammad dan seluruh umat manusia.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Mahasuci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan Penguasa alam semesta.

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

AM Fatwa
Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI).

Lihat Juga

Khutbah Idul Adha 1437 H: Kebahagiaan Adalah Hasil Perjuangan dan Pengorbanan