Home / Berita / Opini / Refleksi 4 Tahun Program “Solo Car Free Day”

Refleksi 4 Tahun Program “Solo Car Free Day”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Solo_Car_Free_Daydakwatuna.com – Solo. Seseorang ketika membahas budaya jawa pastilah tidak dapat di lepaskan dari satu kota ini, Kota Solo. Kota yang di sebut sebagai “Spirit Of Java” bagi masyarakat Jawa. Kita pasti teringat dengan salah satu program yang di buat oleh Walikota Surakarta yang ketika itu, Ir. Joko Widodo yang sekarang telah naik pamor sebagai Gubernur DKI Jakarta. Program Solo Car Free Day yang digagas mulai tahun 2009 . Program yang pada perkembangannya  menjadi sebuah Ciri Khas sekaligus identitas bagi  kota Solo. Program dari Pemkot Kota Solo yang pada perkembangannya di garap oleh Dishukominfo Kota Surakarta, pada awalnya menjadi sebuah Gerakan Sosial bagi Pemkot Solo dan Diskominfo Kota Solo yang mengajak masyarakat untuk mengurangi emisi udara di Kota Solo dan sekaligus merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan target Indonesia  menurunkan emisi 6% sampai dengan tahun 2014 serta  melaksanakan Program bekerjasama antara pemkot Kota Solo dengan Kementrian Lingkungan Hidup – GTZ yang sedang menyusun Pra Peta Jalan / Pre- Road Map, Clean Air For Smaller Cities ( Udara Bersih untuk Kota – Kota yang lebih kecil) di wilayah ASEAN ( Edaran Kantor Dishukominfo Surakarta ).

Secara Sosial, Solo Car Free day ini dilaksanakan untuk memberikan sebuah ruang sosial kepada masyarakat Kota Solo untuk Mengaktualisasikan dirinya di ruang publik. H. Sri Baskoro,SH, M.Si selaku Kepala Bidang Lalu Lintas Dishubkominfo Surakarta mengatakan bahwa Program Solo Car Free Day terbagi dalam Segmen, seperti Olahraga, Entertainment, Seni & Budaya, Edukasi yang telah memiliki wilayah masing – masing di sepanjang Jalan Slamet Riyadi yang terbentang dari Depan Stasiun Purwosari – Bundaran Gladak. Program Solo Car Free Day yang dilaksanakan pada Hari Minggu Pukul 05.00 – 09.00 Wib ini memang menjadi Pelopor Gerakan Sosial Sebuah pemerintah Kota yang pada perkembangannya membuat beberapa daerah di Indonesia khususnya sekitar solo meniru program ini.

Tahun 2013 atau tepatnya 4 tahun program Solo Car Free Day ini berjalan. Banyak hal postif yang rasakan oleh masyarakat kota solo seperti Masyarakat dapat mempunyai tempat untuk berolahraga yang tepat ketika jeda dari padatnya aktivitas masing – masing, masyarakat yang bergabung dalam sebuah komunitas seperti mempunyai rumah sekaligus tempat ekspresi, Selain itu masyarakat yang memiliki basic pekerjaan Ekonomi atau penjual jadi dapat berjualan di sana dan penghasilannya pun meningkat dengan adanya program ini ( Hasil Penelitian Penulis bersama tim ).

Tetapi dapat dipungkiri lagi bahwa sesuatu hal pasti ada kekurangannya yang menjadi bahan evaluasi bagi seluruh elemen yang terlibat di sana. Karena mustahil bahwa sesuatu hal akan sempurna, pasti ada kekurangannya seperti kata pepatah “Tiada gading yang tak retak”. ketika kita berpartisipasi di Solo Car Free Day, usai kegiatan ini sering kita lihat bahwa banyak sampah  yang berserakan di Sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Selain itu, banyak kita simak dalam pemberitaan di beberapa media massa lokal Solo bahwa dalam pelaksanaan Program Solo Car Free Day sering kali terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh Para Pengguna Jalan yang menyelonong menggunakan sepeda motor ke dalam area Solo Car Free Day. Tentu hal ini menjadi sebuah pertanyaan yang terbesit dalam benak kita, sebenarnya apa yang terjadi sehingga 2 masalah besar ini belum bisa diatasi oleh Dishubkominfo sebagai pengemban amanah program ini sampai usia program ini 4 tahun lamanya.

Ketika di telisik dalam sebuah riset yang dilakukan oleh penulis dan tim ternyata di temukan banyak fakta bahwa Masyarakat Solo belum memiliki kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya, karena di temukan di sana masih tempat – tempat stategis yang belum di sediakan tempat sampah, Fasilitas kamar mandi yang ada kurang memadai, sehingga membuat para Warga masyarakat khusus kaum adam banyak yang ketika membuang air kecil di sembarang tempat sehingga menimbulkan bau yang tak sedap bagi orang lain dan lingkungan. Rendahnya tingkat pengelolaan dari para penjual, Banyak event – event yang diselenggarakan di sana tidak teratur tempatnya, dan masih banyak lagi.

Satu Jawaban yang mungkin menjadi sumber semua masalah yang ada di atas, Ketidaktegasan dan konsistenan dari Dishubkominfo kota solo dalam melaksanakan segala aturan yang ada ketika program ini berjalan. Banyak pengamatan dari Peneliti dan Tim lakukan bahwa  Petugas Dishubkominfo bekerja terkesan hanya melihat saja tidak melakukan tindakan apapun saat melihat banyak pelanggaran di sana, paling yang kalau ditindak hanya yang menyelonong saja dan kalaupun hal lain paling – paling hanya di kasih tahu saja. Hal di juga diakui oleh H. Sri Baskoro,SH, M.Si  selaku Kepala Bidang Lalu Lintas Dishubkominfo Surakarta.

Koordinasi antara Dishubkominfo dengan Satpol PP, ObVit Kepolisian Polres Surakarta, Dinas Pengelolaan pasar selaku Dinas – dinas pembantu  terkesan menyerahkan tanggung jawab di masing – masing lini yang menjadi ranah kerja Dinas Pembantu. Secara tidak langsung di sini Dishubkominfo hanya sebagai Pengawas semata dan apabila terjadi hal – hal yang tidak diinginkan maka akan menjadi sebuah tanggung jawab Dinas pembantu yang bersangkutan. Hal ini secara terbesit tersampaikan dari kata – kata H. Sri Baskoro,SH, M.Si  selaku Kepala Bidang Lalu Lintas Dishubkominfo Surakarta ketika penulis dan tim melakukan wawancara.

Itulah Refleksi ataupun Evaluasi dari Program Solo Car free Day yang telah berjalan selama 4 tahun ini dan telah menjadi Sebuah Gerakan Pelopor bagi Kota Lain. Banyak hal selama ini tidak di sadari dan masyarakat maupun tataran Birokrasi pun tidak sadar akan hal ini karena memang sebuah “Pemakluman” telah menjadi budaya di dalam masyarakat maupun tataran birokrasi, sehingga  membuat kebutaan masyarakat maupun tataran birokrasi yang  di booming media sering “Blusukan” yang ternyata hanya sebuah pencitraan semata bukan sebagai sarana untuk memahami kondisi masyarakat atau lapangan.

Banyak Rekomendasi yang di berikan kepada pemerintah khususnya Dishubkoimfo selaku pelaksana program. Pertama,  penataan Event – event dalam Solo Car Free Day yang sampai saat ini masih menjadi hal yang tidak di sadari oleh Pemerintah, padahal hal ini menjadi sebuah masalah krusial yang menimbulkan masalah lain di Solo car Free Day. Kedua, Ketegasan dan Inovasi kerja dari Dishubkominfo dalam menjalan tugas ketika di lapangan dari segi peraturan yang ada. Ketiga, Sistem Koordinasi yang lebih baik dan tidak terkesan menyerahkan sebuah tanggung jawab. Membangun Profesionalitas Kerja dari Semua Elemen yang ada baik Pemerintah maupun masyarakat.

Mari kita Mewujudkan Solo Car Free Day ini memang menjadi benar – benar pantas menjadi sebuah Program sekaligus Gerakan Pelopor yang pantas di contoh oleh Kota – kota lain. Karena tidak mungkin pemerintah dapat melakukan sendiri tetapi juga memerlukan dukungan serta partisipasi dari masyarakat.

Terakhir, penulis mengajak mari kita saling memiliki rasa peka terhadap sebuah realita yang ada dalam masyarakat. Karena sebuah fenomena dalam sebuah masyarakat akan dapat terpecahkan ketika masyarakat khususnya kaum muda mempunyai kepekaan Sosial yang baik dan mau mencari tahu penyebab di balik sebuah fenomena dalam masyarakat.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Febrian Indra Rukmana
Mahasiswa Jurusan Sosiologi FISIP UNS 2010. Penerima Beasiswa Aktivis Nusantara 2013 Dompet Dhuafa Republika. Koordinator BIRO AAI FISIP UNS. Ketua Badan Khusus Jaringan Fakultas KAMMI Komisariat Sholahuddin Al Ayyubi UNS.

Lihat Juga

Ledakan Terjadi di Mapolresta Solo