Home / Pemuda / Kisah / Setegar Karang

Setegar Karang

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Dia keturunan Jawa-Sunda yang tinggal di LABUSEL (Labuhan Batu Selatan) Batang Gogar, masih di daerah Sumatera Utara. Dia lahir dengan hidup yang keras, ayahnya mengajarkan untuk mendapatkan sesuatu harus didapatkan sendiri. Rita namanya, gadis cantik, lincah, energik dengan suara yang supppeeeer GEDE (jadi gak perlu lagi pake toa atau michrophone untuk berbicara lantang karena sudah power full banget)

Dari keluarga, khususnya ayahnya sendiri memberikan hak berupa pendidikan hanya sampai SLTP saja. Sementara, untuk melanjutkan ke SLTA ataupun perguruan tinggi, anaknya harus berusaha mendapatkan biaya sendiri dari manapun itu, asalkan didapat dengan cara yang halal.

Rita adalah gadis yang ingin memiliki ilmu yang banyak dan bermanfaat untuk orang lain serta bertekada menyelesaikan pendidikannya hingga ke perguruan tinggi apalagi yang negeri. Dengan karakter yang keras, tipe pekerja keras juga dan ambisius atas keinginan pendidikan yang lebih dari orang tuanya mengantarkannya harus menjadi pribadi yang mandiri, tegar dan memiliki kekuatan yang sama dengan kaum adam.

Ia berkeinginan melanjutkan pendidikannya ke salah satu SMA yang ada di LABUSEL jauh dari desa tempat tinggalnya. Ia harus jauh berjalan untuk menapaki cahaya yang akan berguna untuk masa depannya. Ia harus memutar otak, bagaimana cara mendapatkan uang agar bisa melanjutkan sekolah yaitu: biaya kendaraan menuju sekolahnya, biaya pendidikan berupa uang sekolah, buku-buku. Itu saja tidak bisa ia penuhi sekaligus dalam waktu yang bersamaan karena banyaknya kebutuhan dan ia juga harus menyisihkan untuk keuangan keluarga. Perlengkapan sekolah berupa pakaian, sepatu, tas saja itu tidak berganti setiap tahunnya seperti kita yang terkadang setiap kenaikan kelas meminta semua yang baru.

Di lingkungan tempat tinggalnya berupa areal perkebunan, yang kira-kira 2-3 jam waktu yang ditempuh dari kota LABUSEL ke rumahnya dengan jalan yang belum teraspal dan jika hujan turun, keadaan tanah menjadi sangat basah dan sulit untuk dilewati. Sedangkan kendaraan yang bisa dijadikan alat transportasi hanyalah ojek, terbayang sudah bagaimana akses masuk kesana (tidak ada angkot, bila hujan turun becek yang ada hanyalah ojek, hmmmm..).

Pak Mardi, ayahnya Rita yang memiliki pekerjaan mengelola perkebunan kelapa sawit milik bosnya yang keturunan Cina Islam. Beliau adalah orang kepercayaan bosnya. Dengan mengelola perkebunan, sebenarnya hidup keluarga pak Mardi bisa saja menjadi lebih baik, dengan mencuri puluhan Kg atau beberapa ton sawit yang dapat diambil setiap panen berlangsung dan hasilnya bisa membiayai kehidupan mereka berbulan-bulan. Namun, pak Mardi adalah orang yang sangat jujur dan terampil dengan prinsip beliau , “Kita harus bisa hidup dengan hasil jerih payah kita sendiri, sesulit apapun kita masih bisa mengandalkan seluruh tenaga dan potensi yang Alloh berikan kepada kita, jadi tidak ada kata tangan dibawah”, tukas pak Mardi.

Kembali ke Rita, Ia melanjutkan pendidikannya dengan memanfaatkan waktu luang sehabis pulang sekolah untuk menderes atau menyadap getah karet di kebun karet milik orang lain. Dengan menderes, tangannya menjadi bergetah, begitu juga bajunya yang sangat sulit menghilangkan noda getah karet, tangan menjadi kasar, kadang gatal dan bahkan terkelupas bila tangganya memiliki kulit yang sensitif.

Getah-getah tersebut dikeringkan selama seminggu pada tempat sadapan getah pada pohon. Setelah kering, getah-getah tersebut dikumpulkan menjadi satu tempat dan dijemur kembali selama seminggu agar hasil sadapan karetnya menjadi lebih keras lagi. Setelah itu,getah karetpun siap untuk dijual. Karena hasil dari menyadap getah tadi sangat lama didapatkan, Rita pun terkadang ikut mendodos kelapa sawit bersama teman-temannya yang cowok. Pekerjaan mendodos biasa dilakukan kaum adam, tapi beda dengan Rita yang pekerja keras, dengan kegigihannya mendodospun sanggup ia geluti karena kehidupan yang menuntutnya menjadi karakter yang keras dan kuat, yang ia buktikan dengan mendodos sawit.

Hasil sadapan karet bisa berbeda setiap kali panen, disebabkan hasil sadapan tidak selamanya masih ada di tempatnya karena sadapan bisa dicuri, jika tidak ada penjagaan dari pekerja sadapan getah karet tersebut. Perjuangannya melanjutkan pendidikan sangat besar sekali, sementara kehidupan dikeluarganya yang terdiri dari ayah, ibu, 2 orang adik. Nasi dan lauk-pauk yang komplit akan dirasakan oleh mereka hanya sekali dalam sebulan itupun sudah menjadi hal yang luar biasa megahnya bagi keluarga pak Mardi. Sementara dalam hari-hari lainnya, terkadang hanya makan nasi pakai garam merupakan hal yang luar biasa setelah makan nasi plus lauk-pauknya yang sangat mewah itu.  Terkadang mereka juga harus puasa, karena persediaan uang yang sangat tipis selama 1 atau 2 hari. Namun, kondisi itulah yang mengantarkannya dapat menyelesaikan masa SMA.

***

Kabar dari kepala sekolahnya Rita, bahwa di Medan ada buka kelas tahfidz untuk lulusan SMA sederajat dengan fasilitas asrama dan uang saku. Dengan persyratan administrasi yang sangat mudah berupa : Pasphoto 3×4 = 2 lembar, fotokopi KTP/KTM/KTS, fotokopi ijazah yang dilegalisir 1 lembar dan surat izin dari organisasi/kepala sekolah. Sang kepala sekolahpun memberikan info kepada Rita, karena dilihatnya semangatnya untuk belajar sangat besar dan sang kepala sekolahnya yakin bahwa Rita bisa menghafal al-Qur’an dengan baik.

Dengan kesediaan dan kemantapan hati Rita mengiyakan ajakan sang kepala sekolah, akhirnya ia pun mendaftarkan dirinya di Ma’had Abu Ubaidah bin Al-Jarrah Medan, perguruan tinggi yang sumber dananya berasal dari Dubai yaitu Syekh Kuri dan donatur daerah setempat Dengan bantuan dari sang kepala sekolah, Ritapun tiba di asrama. Ia dapat merasakan makanan yang biasanya hanya ia rasakan 1 bulan sekali ketika berada di rumah,  namun sekarang makanan mewah berupa nasi dan lauk-pauk bisa ia rasakan setiap hari, tempat tinggal, listrik dan air gratis. Dengan bekal semangat dan suara khasnya yang super keras dan lantang itu, sekarang ia sudah memasuki juz 12.

Belajar dari kisah Rita, ia hidup seperti karang yang tegar, tetap kokoh, selalu ceria dan penuh cerita. Hidupnya yang keras dan bahasanya yang kasar, sedikit demi sedikit terkikis dengan adanya hafalan yang tertancap kuat di hati dan jiwanya. Karang yang tak pernah akan terperanjat oleh ombak dan badai yang selalu menghantar dan berkejaran, dengan karang ia dapat memberi arti bagi hidup ikan dan tumbuhan lain di sekitarnya. Indahnya menebar manfaat dan senyuman :).

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 6,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nabilah Hurin
Guru SDN 4 Dendang Belitung.
  • rika

    jazakilah untuk kisahnya. saya hanya mau meluruskan bahwa nama donaturnya adalah syekh M. thoyib thoyib khoory ^_^

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Wahai Ikhwah, Hidupkan Halaqahmu…