Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Al-Islam Edisi Lengkap (Seri 01-04) Jilid 1

Al-Islam Edisi Lengkap (Seri 01-04) Jilid 1

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Judul : Al-Islam Edisi Lengkap (Seri 01-04) Jilid 1
Penulis : Sa’id Hawwa
Penerjemah : Abu Ridho dan Aunur Rafiq Shaleh Tamhid, Lc.
Penerbit : Al-I’tishom – Jakarta
Cetakan : I ; Juli 2011
Ukuran : 655 Halaman ; 15.5 x 24 cm

Cover Buku "Al-Islam Edisi Lengkap (Seti 01-04) Jilid 1".
Cover Buku “Al-Islam Edisi Lengkap (Seti 01-04) Jilid 1”.

dakwatuna.comIslam bukanlah agama ciptaan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Ia adalah jalan hidup yang telah Allah turunkan untuk hambaNya. Maka Dia yang Maha Menciptakan, adalah yang Maha Tahu terhadap apa yang kita butuhkan. Ia Maha Tahu atas jalan mana yang seharusnya kita tempuh. Agar kita hidup dengan benar. Hidup sesuai MauNya, bukan semau kita.

Sayangnya, fenomena mempelajari dan mengamalkan Islam ini menunjukkan grafik yang menurun. Meskipun zaman semakin maju, di mana mempelajari Islam menjadi sebuah kemudahan yang tak terelakkan, masih saja ada orang-orang yang mengaku Islam namun tidak mengetahui apa Islam yang sebenarnya. Sehingga, umat Islam yang dijanjikan oleh Allah akan memimpin peradaban, saat ini malah berada dalam jurang kerusakan yang tak terelakkan.

Memang, di antara gumulan terjerumusnya kaum muslimin ke lembah kerusakan itu, ada pula segolongan kaum muslimin yang peduli dengan agamanya melakukan sebuah lompatan besar dalam memperjuangkan diin mulia ini. Ini adalah sunnatullah. Di mana ada keburukan, maka di sana pasti akan lahir kebaikan. Begitu pun sebaliknya.

Oleh karena hendak mengarahkan umat Islam ke dalam pemahaman yang benar tentang agamanya ini, Sa’id Hawa menulis sebuah kitab berjudul Al Islam. Meskipun ditulis puluhan tahun silam, buku ini sangatlah layak untuk terus dikaji, ditelaah dan diamalkan oleh setiap individu muslim. Kitab ini merupakan guide bagi kaum muslimin karena di dalamnya dibahas tentang Islam dalam seluruh aspek yang terkait dengannya.

Sehingga, pembaca semakin mantap, bahwa Islam bukan berhenti pada ibadah ritual semata. Ibadah ritual dan amal memakmurkan bumi adalah dua mata uang yang mustahil untuk dipisahkan. Jika keduanya diceraikan, maka Islam tak ubahnya barang langka yang sangat berharga, namun tidak berfungsi secara optimal. Sehingga, khusyu’nya seorang muslim di masjid, haruslah diikuti dengan semangatnya dalam bekerja memakmurkan bumi dengan kebaikan. Baik sebagai seorang guru, insinyur, dosen, karyawan, eksekutif muda, CEO, maupun kuli kasar di sawah maupun pasar.

Hal ini pula yang menjadikan Islam semakin mulia. Bahwa ajarannya tidak memandang kasta. Yang paling mulia bukan yang paling rapi pakaian atau tajir hartanya. Melainkan siapa saja yang paling benar taqwanya, dibuktikan dengan kontribusinya untuk kaum muslimin dan umat manusia seluruhnya.

Islam dimulai dengan ikrar suci dua kalimat syahadat. Bahwa Allah adalah satu-satunya sesembahan dan Rasulullah adalah utusanNya yang wajib dipatuhi semua titahnya. Penyerahan total ini, ujungnya adalah Jihad. Bersungguh-sungguh dalam menegakkan kalimat Allah dengan semua yang dimiliki. Baik harta, tahta maupun nyawa. Konsekuensi Jihad atas benarnya syahadat seseorang inilah yang telah berhasil membuat Islam jaya di awal turunnya. Di mana generasi Rasulullah dan sahabat-sahabatnya tidak pernah berhenti dalam mendakwahkan Islam. Bahkan, sahabat yang baru mengetahui satu bab tentang Islam-pun, langsung menyeruak ke dalam kerumunan kaum kafir untuk mendakwahkan Islam. Meski akhirnya sang sahabat babak belur dihajar kafirin, tapi kisah ini adalah teladan tak terelakkan atas mulianya golongan ini.

Ada dua puluh hal yang bisa membatalkan syahadat seseorang ( Hal 124-162). Dua puluh hal ini, jika ditarik kesimpulan besarnya, bahwa batalnya syahadat terjadi ketika seorang muslim beramal, beribadah bukan untuk Allah dan tidak melihat contoh dari Rasulullah. Mereka yang berusaha ‘menyaingi’ Allah dalam segala hal juga digolongkan dalam kelompok ini. Termasuk di dalamnya mereka yang melakukan riya’ –beramal karena ingin dipuji manusia.

Setelah membahas panjang lebar tentang syahadatain dan pembatalnya, Shalat menjadi sajian selanjutnya. Shalat adalah tiang bagi diin ini. Pangkal utama dari ibadah shalat adalah dzikir. Mengingat Allah dalam setiap jenak kehidupan. Ketika berdiri, duduk maupun berbaring. Tentu, tidak sekadar ingat. Melainkan merasa diawasi. Sehingga takut bermaksiat dan berharap agar semua amalnya diterima. Sehingga, esensi itu berwujud terbebasnya pelaksana shalat dari segala bentuk kelemahan dan meningkat menjadi makhluk terbaik. (Hal 175)

Pelaksanaan shalat ini tidak bisa terlepas dari Masjid. Di mana mendirikannya merupakan kemuliaan, memakmurkannya merupakan bukti keimanan. Siapa saja yang berjalan menuju masjid untuk mendatangi shalat berjamaah, maka Allah akan menghapuskan dosa dan meninggikan derajatnya. Shalat juga merupakan bukti cinta seseorang kepada Allah dan NabiNya, “Dan tidak seorang pun di antara kamu kecuali mempunyai masjid di rumahnya dan jika kamu shalat di rumahmu dan kamu tinggalkan masjidmu berarti kamu telah meninggalkan sunnah nabimu. Jika kamu meninggalkan sunnah Nabimu, niscaya kamu telah kafir. (HR Abu Dawud) ( Hal 174)

Maka fenomena sepinya masjid-masjid saat ini, adalah bukti bahwa kaum muslimin kurang peduli terhadap agamanya. Ia juga merupakan bukti setebal apa iman dan taqwanya kepada Sang Pencipta. Kita berlindung dari golongan ini.

Buku ini juga bisa dijadikan rujukan agar kita bangkit dari krisis yang dialami oleh dunia saat ini. Di mana penyebab utamanya adalah ditinggalkannya Islam sebagai sistem terbaik. Maka, sajian tentang zakat dilengkapi dengan tinjauan analisis dan bukti otentik pengelolaan zakat di zaman nabi ini, cukup menjadi rujukan agar umat Islam kembali berjaya di bidang ekonomi.

Di dalam bagian akhir buku ini, disajikan sistem bermasyarakat dalam Islam. Di dalamnya dibahas tentang tiga hal. Yaitu Al-Ummah, Khilafah dan Wathan. Umat Islam harus disatukan dalam delapan unsur. Meliputi aqidah, ibadah, perilaku kebiasaan dan moral, sejarah, bahasa, perasaan, pandangan, pemikiran dan jalan, pedoman dan undang-undang serta kepemimpinan. ( Hal 517-527)

Akhirnya, perjuangan menegakkan Islam memang pekerjaan yang tidak mungkin diselesaikan dalam satu generasi. Ia adalah kerja kolektif dan berkelanjutan. Sehingga grand design yang sudah Allah berikan melalui Rasulullah dengan pedoman Al-Qur’an dan Hadits, adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Dan buku ini, adalah salah satu panduan untuk mengamalkan apa yang terkandung dalam Qur’an dan Hadits terkait Islam yang mulia.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pirman
Penulis, Pedagang dan Pembelajar

Lihat Juga

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini