Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Kajian Yesus di Dalam Al-Qur’an

Kajian Yesus di Dalam Al-Qur’an

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Judul Buku: The Mystery of Historical Jesus: Sang Mesias menurut Al-Qur’an, Alkitab, dan Sumber-Sumber Sejarah

Penulis: Louay Fatoohi

Penerbit: Mizan

Cetakan: 1, Mei 2013

Tebal: 852 halaman

ISBN: 978-979-433-789-9

dakwatuna.com Dua ribu sejak kelahirannya, buku-buku dan artikel yang mengkaji sosok Yesus telah terbit dengan jumlah yang begitu banyak. Karya-karya tersebut mengkaji Yesus baik dari aspek kehidupan, kepribadian, maupun ajarannya yang diamini oleh pemeluk agama Kristen. Sebagian besar karya-karya tersebut bersandar pada Perjanjian Baru, sumber-sumber Kristen, Yahudi, dan sumber-sumber sejarah lainnnya. Sedangkan Al-Qur’an jarang sekali disebut, apalagi dipertimbangkan.

Sebaliknya, para sarjana Muslim yang menulis tentang Yesus mereka menitikberatkan sumber-sumber historis pada Al-Qur’an dan keislaman lainnya. Tak jarang, gambaran Kristen tentang Yesus  dikutip kemudian diruntuhkan tatkala tidak sesuai dengan dasar dan sumber-sumber Islam. Ini sama saja dengan para sarjana Barat yang mengabaikan Al-Qur’an, para penulis Muslim pun mengabaikan sumber historis indepanden.

Buku The Mystery of Historical Jesus merupakan kajian yang lengkap tentang Yesus menurut Al-Qur’an. Buku ini bisa menjadi literatur penting tentang Yesus sejarah karena menempatkan sumber-sumber sejarah secara berimbang. Louay mempertimbangkan secara bersama kisah Yesus dalam Al-Qur’an, Injil, dan sumber-sumber religius dan historis lainnya tentang kehidupan Yesus.

Secara eksplisit, Louay yang merupakan muallaf Muslim ketika berumur 23 tahun memperlihatkan perbedaan Al-Qur’an dan Perjanjian Baru dalam mengungkapkan Yesus sejarah. Pernyataan Al-Qur’an tentang Yesus bersifat konsisten dan bisa dibenturkan dengan apa yang kita ketahui dari sejarah. Dengan kata lain, buku setebal 852 ini berupaya untuk mengetahui Yesus historis dengan mempelajari Al-Qur’an sekaligus sejarah (hlm. 19).

Sistematika buku ini terdiri dari 22 bab dan memiliki tiga lampiran, yaitu perkenalan pada gaya khas Al-Qur’an dalam menceritakan sejarah, perkenalan lima injil apokrif yang digunakan dalam buku ini, serta tabel-tabel singkatan yang dugunakan penulis.

Bagian awal buku ini mnegidentifikasi dan mendiskusikan pendekatan-pendekatan utama (sekuler, Alkitabiah, sekuler-Alkitabiah, dan Qu’ani) dalam mempelajari sejarah di dalam Alkitab dan Al-Qur’an. Dengan kata lain, Louay menjelaskan empat pendekatan tersebut dan asumsi-asumsi berbeda yang digunakan masing-masing pendekatan (hlm. 29).

Tidak seperti Kekristenan dan Islam, Yudaisme tidak menerima Yesus sebagai seorang manusia utusan Allah seperti halnya Ibrahim, Musa, dan figur-figur Perjanjian Lama lainnya. Baik Islam maupun Kristen memuliakan Yesus, menerima bahwa diutus oleh Allah, dan menisbahkan banyak mukjizat kepadanya. Perbedaan utama penghormatan agama-agama besar ini bagi Yesus dapat dirangkum oleh fakta bahwa Yesus Kristen adalah manusia sekaligus Allah, sedangkan Yesus Muslim adalah manusia biasa. Yesus menurut Al-Qur’an adalah seorang nabi manusia dan utusan Allah yang tidak pernah mengklaim sebagai Tuhan. Al-Qur’an menekankan keesaan Allah, menegaskan bahwa Dia tidak memiliki keturunan, dan mengecam doktrin Trinitas (hlm. 440).

Louay secara gambalang mengkritik bahwa Injil-Injil sangat tidak akurat, kontradiktif, dan inkonsisten tentang masa kelahiran Yesus dan berapa lama dia hidup. Menurutnya Injil-Injil tidak bisa digunakan untuk menambah ketepatan apapun pada apa yang diimplikasinya bahwa Yesus terbunuh pada suatu waktu antara 26 dan 36 M, yakni tahun ketika Pilatus menjadi prefek Yudea (hlm. 666)

Kaitannya dengan penyaliban Yesus yang memilki peran terbesar dalam mendifinisikan Kekristenan, merupakan salah satu perbedaan utama antara kisah Yesus di dalam Al-Qur’an dan Kristen. Menurut Al-Qur’an, penyaliban Yesus merupakan fiksi yang meraih popularitas sebagaimana mitos-mitos lain. A-Qur’an menyatakan bahwa seseorang yang lainlah yang disalibkan menggantikan Yesus. Menurut Al-Qur’an, beberapa waktu setelah penyaliban, Yesus diangkat oleh Allah ke subuah tempat yang tidak disebutkan di surga tempat Yesus berada hingga mati (hlm. 667)

Buku ini cocok untuk pembaca awam maupun spesialis. Buku ini kental sekali diniatkan sebagai bacaan yang menarik bagi orang Kristen, Muslim, penganut keyakinan lain, maupun para atheis. Ditujukan bagi siapapun yang tertarik pada Yesus historis, karena pembacanya tidak dituntut untuk akrab terlebih dahulu dengan Al-Qur’an maupun Alkitab.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Kru LPM Zenith anggota CSS MoRA IAIN Walisongo Semarang

Lihat Juga

Penyebutan Kata “Mesir” di Dalam Al-Quran